Cerita Cinta Irene

Cerita Cinta Irene
Butik


__ADS_3

Seperti biasa setiap pagi Ivone dan Irene memasak, mandi, sarapan, dan bersih-bersih apartemen sambil bercengkerama. Hari ini adalah weekend. Hari ini wajah Irene lebih ceria, lebih manis menyunggingkan lesung pipinya dari sebelum-sebelumnya. Siapapun yang melihat pasti gemas.


"Kak hari ini aku ikut ketempat kerja kakak ya." Pinta Irene.


Ivone menyipitkan matanya.


"Aku janji ga akan mengganggu kakak. Kalau ngga nanti aku tunggu diluar aja deh, aku bosan disini terus kak." Timpal Irene lagi dengan wajah memelas.


"Ganti bajumu sana." Ivone


"Asyik.." Irene berlari kekamar.


Mereka naik taksi ketempat kerja Ivone. Mereka tidak punya kendaraan pribadi jadi kemana-mana harus pakai yang umum. Taksi berhenti di sebuah butik.


"Ohh jadi disini tempat kerja kak Ivone." Gumam Irene.


Ivone membuka pintu kaca butik, dia menoleh ke belakang.


"Ayo masuk." Ivone


"Ehh iya kak." Irene mengikuti langkah kaki kakaknya sampai ke sebuah meja. Ivone meletakkan tasnya dan duduk di kursinya sedangkan Irene berdiri di samping Ivone.


"Selamat pagi mba Ivone dan.. " Gadis yang baru datang itu melihat ke arah Irene.


"Irene, dia adikku. Ada apa?" Ivone


"Selamat pagi mba Irene.. Wahh mba Irene manis sekali. Tapi saya kok belum pernah lihat mba Irene ya." Gadis itu terpukau melihat Irene.


"Ehemmm." Ivone berdehem sambil melihat kearah gadis yang banyak bicara itu.


"Citra, kamu ada apa kesini?" Tukas Ivone.


" Ehh maaf mba, tadi calon pengantin yang akan menikah sabtu depan menelepon, katanya besok mau fitting gaun dan jas mereka." Citra gelagapan.


"Baiklah, kamu berjagalah didepan." Perintah Ivone.


Kok kak Ivone kasih perintah?


"Irene, kamu duduklah dulu disana." Tunjuk Ivone ke arah sofa dan dia beranjak ke sebuah ruangan.


"Kakak ngapain ya di dalam sana, lama banget." Irene mulai bosan karena sudah lebih satu jam Ivone tidak muncul-muncul juga.


Akhirnya Irene memutuskan untuk menemui Citra di depan. Dia memperhatikan semua baju-baju dan gaun-gaun yang terpasang di patung manekin.


"Bagus." Irene menyentuh gaun satu satu.


Irene menghampiri Citra yang sedang menjawab telepon.


"Mba Irene ada perlu apa kemari?" Tanya Citra setelah meletakkan gagang telepon.


"Saya bosan saja di dalam sana mba." Irene tersenyum.


"Mba Irene buka butik dimana?" Tanya Citra polos.


"Mba Citra ngomong apa sih, saya ga buka butik kok lagipula saya baru selesai kuliah." Irene

__ADS_1


"Panggil nama saya saja mba Irene, mba Irene ini kan adik atasan saya lagipula kalau dilihat-lihat mba Irene masih diatas umur saya." Citra


"Memang jabatan kakak saya disini apa ya mba?" Irene penasaran.


"Panggil Citra saja mba Irene, seperti mba Ivone memanggil saya." Citra


"Iya, Citra." Irene tersenyum.


"Ikhhh, mba Irene ini manis sekali. Beda sama mba Ivone yang selalu datar, pelit senyum kecuali kepada pelanggan saja." Citra keceplosan.


"Upss, maaf mba Irene saya tidak bermaksud untuk menjelekkan mba Ivone, maafkan saya mba." Citra menutup mulutnya dan membungkukkan badannya.


"Haha, kamu jujur sekali Citra. Tapi kalau kak Ivone dengar kamu bisa mendapat serangan tatapan tajamnya." Irene cekikikan.


"Mba saya benar-benar minta maaf." Citra bersungguh-sungguh.


"Santai saja Citra." Irene


Tiba-tiba pintu terbuka, ada pelanggan yang datang.


"Ada yang bisa saya bantu mba?" Tanya Citra pada pelanggan.


"Saya mencari blazer." Pelanggan.


"Di sebelah sana mba, silahkan!" Citra menunjuk dan mempersilahkan.


" Mba Irene saya melayani pelanggan dulu ya." Citra bergegas menyusul pelanggan tadi.


Irene memperhatikan keadaan sekitar, tidak ada tanda orang sebagai pemilik butik itu. Yang dia lihat hanya pegawai berseragam 4 orang yang sedang melayani para pelanggan.


"Citra, kamu belum menjawab pertanyaan saya yang tadi. Kak Ivone kedudukannya apa ya? Dan yang punya butik ini orangnya yang mana?" Irene menghampiri Citra yang sibuk menggantungkan blazer-blazer ke hanger setelah pelanggan tadi pergi.


"Aduh mba Irene ini gimana, mba Ivone kan yang punya butik ini." Citra


Irene tertegun sebentar.


"Apa..???" Irene sangat terkejut sampai matanya melotot.


"Mba Irene kok kaget gitu." Citra merasa aneh dengan mimik Irene.


"Ternyata kamu ada disini, ayo ikut kakak." Ivone berjalan ke mejanya tadi dan Irene mengikuti.


"Kakak kok ga pernah kasih tahu Irene kalau kakak punya butik?"


"Kenapa harus kakak kasih tahu, emang kamu mau kerja disini?"


"Kak, aku bangga banget sama kakak." Irene memeluk kakaknya.


"Kakak tau, kamu kan hampir tiap hari mengatakan itu."


"Aku sayang sama kakak."


"Kakak juga tau itu, kamu tiap hari mengatakannya."


"Ahh kakak ini.." Irene membuat wajah cemberut imutnya.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo kita makan siang." Ivone mengambil tasnya.


"Tapi ini kan masih jam sebelas kak, belum waktunya makan siang."


"Tuh perut kamu minta diisi." Perut Irene kebetulan bunyi.


"Heehe, kakak tau aja aku lapar." Irene pun mengambil tasnya.


Ivone menghampiri karyawan-karyawannya yang sedang berkumpul. Kebetulan tidak ada pelanggan.


"Kalian mau makan siang apa, biar nanti saya belikan." Ivone


"Apa saja boleh mba." Jawab mereka hampir bersamaan dan mereka sangat girang. Ivone memang sering mentraktir karyawannya karena cara kerja mereka bisa membuat Ivone puas tanpa harus disuruh-suruh.


"Baik. Kalian jaga butik dulu ."


"Beres mba." Mereka memberi hormat, Ivone geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis.


"Ayo Irene."


"Ehh Citra, itu siapa yang bareng sama mba Ivone? Tadi aku lihat kamu ngobrol sama dia." Tanya Riko setelah Ivone dan Irene keluar dari butik.


"Oh dia adik mba Ivone, mba Irene namanya."


"Oh.. Ternyata mba Ivone punya adik ya, cantik lagi." Riko


" Tapi aku ga pernah lihat dia disini." Anggi


"Katanya sih baru selesai kuliah, tapi ga tau deh kuliah dimana. Mba Irene lebih santai diajak ngobrol, ga tegang kayak mba Ivone." Citra


Mereka manggut-manggut masih bergosip ria membedakan bos mereka dengan Irene. Sampai pelanggan berdatangan acara gosip pun bubar.


Setengah jam berlalu. Ivone dan Irene datang sambil menenteng plastik yang tentu saja isinya makanan. Mereka meletakkan plastik diatas meja kaca yang ada di sudut ruangan.


"Irene, Anggi, Riko, Sita, kalian makanlah dulu biar saya dan Citra yang melayani pelanggan. Kamu tidak keberatan kan Citra?"


"Sama sekali tidak mba." Tentu saja aku harus berkata begitu, mana berani aku membantah kata-kata mba Ivone sekalipun aku sudah kelaparan. Citra


Irene berkenalan dengan karyawan kakaknya itu sambil berjabatan tangan. Lalu mereka duduk lesehan mengitari meja kaca dan membuka bungkusan plastik yang isinya nasi padang dan jus buah. Mereka pun makan.


Setelah selesai makan, mereka kembali bekerja tapi Irene tetap tinggal. Tidak lama kemudian Ivone dan Citra datang menghampiri lalu makan.


Drrrrtt... Drrrrtt.. Ponsel Irene bergetar.


"Hallo.." Irene


"Selamat siang, benar dengan nona Irene Lucia P?"


"Iya saya sendiri."


"Mohon hari senin datang ke perusahaan Central Group untuk melakukan wawancara."


"Baik, terima kasih banyak." Sambungan telepon pun putus.


"Kyaaakkk...... Kakak.... akhirnya aku akan interview." Irene berlonjak kegirangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2