Cerita Ghea & Dylan

Cerita Ghea & Dylan
BAGIAN 14: aku tidak akan sopan lagi padamu


__ADS_3

Jangan pernah berharap bahwa jalan hidupmu akan seperti jalan hidup orang lain. Perjalanan hidup yang kamu miliki merupakan sesuatu yang unik, seperti dirimu.


Fokuslah untuk mencapai tujuanmu, meskipun banyak hal yang menarik dalam perjalanannya.


Tidak peduli bagaimana kerasnya kehidupan yang kamu miliki di masa lalu, kamu selalu bisa memulainya kembali.


Impian tidak dapat terwujud dengan sendirinya, akan tetapi impian akan datang ketika seseorang berusaha untuk meraihnya.


Perjalanan akan menjadi jauh lebih muda, apabila kamu tidak membawa masa lalumu.


Berjalanlah jangan berlari, karena hidup adalah perjalanan dan bukannya pelarian.


Ghea dan ibu nya merasakan kecemasan dan ketakutan yang berlebihan karena tiga hari yang dijanjikan mereka pada rentenir belum juga mendapat uang ditambah lagi ibu harus kemo terapi, meskipun ibu Ghea lebih membaik dari sebelumnya Ghea terus memaksa agar selalu patuh pada jadwal kesehatan ibunya.


saat keheningan tercipta tiba tiba datang kedua rentenir yang berwajah sangar,


"sekarang sudah waktunya membayar hutang kalian," tegas


"ma maaf pak apa bisa kasih saya waktu?"


Ghea berusaha mengulur waktu, karena saat tadi Ghea ditelpon oleh Riri akan meminjamkan uang tapi riri belum juga ada kabar


"kurang baik gimana kamu sama kalian? bukankah saya sudah memberi waktu tiga hari lantas kenapa pula belum bisa bayar hah" marah marah


"kalau masih tidak bisa membayarnya terpaksa kami ambil alih rumah kalian ini" tambah rentenir itu sembari nunjuk nunjuk


saat keadaan semakin memanas, tiba tiba datang seorang pria tinggi berjas dengan wajah tampannya, tentu saja itu CEO Dylan



"apa saya boleh menyeka sebentar?" tanya Dylan sembari melirik Ghea


rentenir itu masih marah dan terkekeh ingin meminta bayaran, karena dirasa keadaan semakin tidak kondusif CEO menyeka tanpa ijin ,


"berapa uang yang mereka pinjam?" pertanyaan Dylan membuat Ghea dan ibunya terkejut


"RP***** kenapa? Anda pacarnya? mau bayarin hutang mereka?" meremehkan


lalu Dylan membuat membayar semua hutangnya, kertas putih yang berisikan jumlah uang tanpa basa basi mereka pergi, namun keheningan terjadi saat Dylan tiba tiba duduk di sofa rumah Ghea,


"apa saya diijinkan untuk duduk?" melepaskan kacamata


"saya tidak akan basa basi, Ghea sebelumnya saya meminta maaf karena telah memecat kamu dan tidak mendengarkan penjelasan kamu terlebih dahulu, saya kemari tentu saja dengan maksud seperti nenek saya pinta kemarin, bahwa saya akan menjadikan Ghea sebagai isteri saya, apa ibu Ghea setuju?" tanpa basa basi namun membuat ibu Ghea terperangah tidak percay kenapa begitu tiba tiba


"meskipun saya menikahi putri ibu tanpa rasa cinta saya berjanji akan memberikan hak saya sebagai suaminya, dan tolong setujui permintaa nenek saya karena sekarang dia terbaring sakit" tambah Dylan panjang lebar

__ADS_1


"a anu nak CEO tapi kenapa tiba tiba kmu bayar hutang kami tanpa bertanya terlebih dahulu? kalo ibu tidak bisa menjawab gimana Ghea saja" tergagap gagap


hingga pandangan Dylan tertuju pada Ghea yang sedang tertunduk, sepertinya ada rasa kekecewaan diwajah Ghea namun karena dia tidak bisa berbuat apa apa setelah hutangnya dibayar kerentenir itu, lalu Ghea memikirkan hal untuk kedepannya mungkin memang ini jalannya walau tau dia tidak mencintai Dylan, lalu Ghea menengadahkan pandangan kearah Dylan memberanikan diri


"b baik aku akan terima lamaran anda tapi sebelum pernikahan aku ingin bekerja menjadi asisten Oma itu karena waktu itu Oma punya usulan seperti itu, aku tidak mau dipandang sebagai manusia yang rendahan dan menjual diri" ujar Ghea panjang namun tidak bisa memaksakan pandangan kearah Dylan


"pernikahan tidak akan lama kamu tidak perlu bekerja sebagai asisten nenek," ujar Dylan sembari menatap Ghea


"tolonglah biarkan aku bekerja agar tidak terlalu berat untuk aku meskipun bekerja sampai sudah menikah aku akan lakukan itu untuk membayar hutangku meskipun aku tau gajiku tak sebanding dengan uang yang kau keluarkan untuk membayar hutang kami"


memang sebelumnya Ghea berbicara sopan tapi Ghea merasa kesal saat dipecat dengan secara tiba tiba, bukankah tak apa jika Ghea berbicara biasa saja karena dia sudah tidak bekerja untuknya


"terserah kamu, jadi saya anggap kmu menyetujuinya, untuk sekarang kamu ikut saya dan temui nenek karena dia terus saja memanggil namamu" berwajah datar


karena dirasa Ghea harus menurutinya Ghea akhirnya ijin untuk merapikan pakaiannya tidak mungkin dia datang dengan baju santai baginya akan sangat memalukan Dylan bukan?!


"ibu kemo terapi ibu kan hari ini tunggu aku ya Bu" ujar Ghea sembari memeluk ibunya


"kamu pergilah jangan khawatirkan ibu, lagian ibu udah baikan ko" mengelus pipi Ghea


akhirnya Ghea dan Dylan pamitan pada ibu Ghea karena ingin menjenguk nenek Jennifer,


diperjalanan Ghea hanya bisa memandang pemandangan dan tidak melihat kearah Dylan yang ada dipikiran Ghea,


Ghea hanya berpandangan kosong meskipun begitu yang dia lakukan demi ibu dan rumah penuh kenangan itu hingga sekarang ini Ghea tidak memikirkan harga diri karena setelah adanya pemecatan dari Dylan dia menganggap bahwa dirinya lah yang sudah bukan apa apa lagi dan tidak berguna


"apa kamu sangat terpaksa?" menghentikan kesunyian diantaranya


Ghea hanya bisa bernapas berat, sehingga Dylan melirik kearah Ghea yang berpandangan kosong


"saya tau kamu melakukan ini untuk orang tuamu, maaf jika sebelumnya saya berpandang buruk terhadap kamu, " membuang wajah kearah lain


"aku baru dengar kamu minta maaf, lagian bukankah seharusnya kamu puas jika aku begini kamu suka pandang aku sebagai manusia murahankan sebelumnya?, sekarang aku menikmatinya toh kamu mau bilang apa juga orang lain pun jika tau soal ini akan perpandangan buruk padaku entah itu menjual diri atau simpanan kamu lah, " "sekarang aku gak peduli lagi soal itu " tambah dalam hati Ghea


tanpa Ghea sadari Dylan menatap nya dan dalam hati Dylan "kenapa dia sedingin itu? apa di Ghea yang aku kenal saat bekerja jadi sekretaris ku? lalu kenapa dia tidak peduli keberadaan ku dan hanya berpandangan kedepan tanpa melihatku bukankah semua wanita tertarik padaku kenapa dia berbeda"


"mau sampai kapan kamu melihat ku? ingat ya aku tidak akan sopan lagi padamu karena aku sudah tidak bekerja untukmu mulai sekarang aku hanya bekerja untuk Oma aku memang berhutang padamu, tapi kau juga sudah mendapatkan ku bukan? jadi itu sudah impas" berwajah datar hingga membuat Dylan melotot


"dia? kenapa dia jadi seperti itu?" mengusap wajah nya


"baiklah berbuatlah sesukamu asal jaga sikap terhadap nenek"


"untuk apa aku menjaga sikap pada Oma dari awal aku baik padanya bukan dibuat buat olehku" melirik kearah Dylan menatap tajam


"kamu ini.." terpotong

__ADS_1


"anu CEO kita sudah sampai" ujar supir


mereka berjalan dan masuk kedalam rumah, meskipun sekarang ini nenek Jennifer sedang sakit entah kenapa dia tidak ingin menginap di rumah sakit,


lalu Ghea memberi salam pada nenek dan mencium tangannya, tanpa perpikir panjang Ghea mengambil kompresan untuk nenek Jennifer setelah tau badannya sangat panas.


"ka kamu setuju?" ujar nenek lemas


"iya Oma aku setuju, tapi sesuai janji yang Oma katakan saat itu, aku akan bekerja sebagai asisten Oma" jelas Ghea hingga membuat nenek bangun


"terserah kamu yang penting kamu istrinya Dwei" memeluk Ghea


dari apa yang neneknya lakukan pada Ghea begitupun Ghea seperti sangat peduli terhadap nenek ya membuat Dylan merasa tenang,


tak terasa waktunya mengantar ibu Ghea kerumah sakit untuk melakukan kemoterapi lalu Ghea berpamitan pada nenek Jennifer, namun saat dilawang pintu Ghea dikagetkan dengan suara Dylan yang tiba tiba mengajaknya naik kemobil sekalian untuk mengantar ibu Ghea kerumah sakit


mereka pun akhirnya sampai dirumah Ghea dan ibu terlihat sudah akan siap siap, namun saat Ghea pergi untuk melamarnya untuk ganti pakaian tiba tiba Dylan yang sedang duduk disofa dikejutkan dengan anak kecil yang tampan dan berkarisma menatap Dylan sontak Dylan bertanya


"siapa kamu anak kecil"


"jangan panggil aku anak kecil, kau bertanya tentu saja aku adik dari kakakku Ghea, justru aku yang tanya siapa kau?" melilitkan kedua lengan didadanya dengan wajah datar namun penuh tanda tanya


"aku? kamu anak kecil tapi cara bicaramu seperti orang dewasa ya, apa kamu tidak tau aku siapa?" ujarnya sembari meledek Boby


"ah sudahlah tidak usah jawab, toh akupun tidak penasaran kamu siapa" memutarkan kedua bola matanya


"aku ini calon kakak iparmu jadi sopanlah sedikit padaku ya anak kecil" mengelus puncak kepala Boby


karena Ghea keluar dan ibu Ghea merasa sudah harus pergi mereka akhirnya pergi dengan menaiki mobil CEO, sebenarnya Ghea tidak mau namu Dylan memaksa.


saat ditengah perjalanan, Riri menelpon,


"hallo Ghea, maafin aku ya aku telat ya, aku tadi harus pergi kerumah sakit karena papa tiba tiba serangan jantung dan harus dirawat inap" dengan suara yang gemetaran


"udah gapapa. ri yang penting utamakan dulu papa kamu aku udah bayar kok kamu gak usah minta maaf, oiya papa kamu dirawat inap dimana RI?" tanya Ghea


"ah dirumah sakit mawar"


"oh kebetulan aku juga mau kesana karena hari ini ibuku kemoterapi "


"oh iya aku lupa, yaudah nanti kita ketemu disini ya"


pembicaraan mereka sampai disitu, Boby yang sedari tadi memperhatikan Dylan dengan wajah yang penuh curiga, karena dirasa Ghea dan Dylan tidak sedekat itu


"jika memang pacarnya lalu kenapa tidak peduli satu sama lain, ingat ya kak nanti kakak harus beritahu aku tanpa ada kebohongan" ujar Boby dalam hatinya

__ADS_1


__ADS_2