
Waktu menunjukkan jam 22:30 Bayu yang berada di teras rumah sandi, duduk-duduk sambil menikmati secangkir kopi hitam dan pisang goreng buatan Jihan yang dibantu oleh Amran.
Bayu tak henti-hentinya memandang ke arah Alex yang duduk manis di sampingnya sambil memaninkan ponsel.
Sebuah meja dengan empat kursi yang di tata sama sisi dan saling berhadapan.
"Bisa bolong wajah gue, karena elu pantengin dari tadi!" ucap Alex yang masih sibuk mengalahkan musuh di game onlinenya dengan tombak.
"Elu yakin nggak kerasukan?" pertanyaan Bayu terdengar seperti ledekan di telinga Alex.
"Setan mana yang mau ngerasukin Iblis kayak gue?!" ujar Alex.
"Tapi elu beda banget, Lex! Elu udah kayak orang lain!" ujar Bayu.
"Bacot lu, urusin tuh kamera elu. Kagak kasian apa lu ujan-ujanin dari tadi sore?" kata Alex.
Bayu bergantian memandang kamera yang ia pasang di pinggir jalan depan rumah Sandi.
Bayu ingin mendapatkan gambar jalanan Desa Air keruh ketika sore hari. Tetapi Amran mengatakan bahwa, semua orang harus masuk ke dalam rumah ketika hari memasuki waktu maghrib. Jika tidak maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada orang yang itu.
Alhasil Bayu memasang kameranya di pinggir halaman rumah Sandi, lengkap dengan penyangga dan payung di atas kameranya. Supaya kamera itu tetap menyala sehat, saat diterpa hujan deras, yang masih setia turun hingga saat ini.
Tanpa menjawab perkataan Alex, Bayu masuk ke dalam rumah. Lelaki bertubuh gempal tapi berotot itu menggambil payung lain.
Dia yakin kamera yang dia pasang pasti akan kehabisan batre, dan dia harus melepas kamera itu. Selain hujan tak kunjung reda, anginnya juga mulai bertiup tanpa kompromi.
Kadang hujan dengan tenang, tapi tiba-tiba langsung ada angin besar yang bertiup tak tentu arah.
"Bener-bener dah yaaa, musim ujan panjang banget tahun ini. Jakarta bisa banjir sepanjang tahun kalau kek gini ceritanya!" keluh Bayu, sembari melepas kamera dari penyangga dan juga alat-alat lainya.
"Lhooo dimana Bayu?" tanya Jihan.
Gadis itu baru saja keluar dari dalam rumah, mambawa sepiring pisang goreng. Dibelakangnya Amran juga menenteng dua cangkir kopi hitam di atas nampan.
"Tuh, lagi ngelepas kamera!" Alex menunjukkan keberadaan Bayu hanya dengan dagunya yang ia majukan ke arah samping, sebab posisi duduk Alex saat ini menghadap ke kiri rumah Sandi.
__ADS_1
"Elu beneran nggak mau makan Lex?" tanya Jihan.
"Kagak laper gue!" ujar Alex tanpa memperhatikan sekitarnya.
Jihan, Amran dan Bayu baru saja selesai makan malam, tetapi Alex malah duduk di teras sambil memainkan ponselnya dari tadi. Lelaki jangkung itu memang jarang makan.
"Kalau nanti elu laper pas malem-malem, udah gue sisihin makanan di rak paling atas!" ujar Jihan.
"Ya nanti gue cari sendiri kalau laper!" timpal Alex, yang melepaskan ponselnya untuk menyeruput kopi hangat di depannya.
"Amran, elu tau sesuatu yang disebut gerbang desa?" tanya Alex pada Amran.
Amran terdiam, padahal mulutnya dari tadi sangat aktif mengunyah pisang goreng.
"Nggak tau aku!" jawab Amran sedikit terbata.
Alex bisa membaca keanehan dari gelagat Amran. Laki-laki ini pasti sedang menyembunyikan sebuatu dari Alex dan kawan-kawannya.
"Kalau Hujan Teluh?!" Alex masih saja mau meneter Amran dengan banyak pertanyaan.
Mata Amran tak mau memandang ke arah Alex ataupun Jihan saat mengatakan hal itu. Alex yang tak pernah berprasangka buruk pada seseorang saja, bisa merasakan kejanggalan pada diri Amran.
"Emang elu tau istilah-istilah itu dari mana?" tanya Jihan pada Alex.
Kini giliran Alex yang kebingungan, dia tak mungkin bilang dirinya mengetahui semua hal itu karena sebuah mimpi.
"Dari vidio lain Bang Tara!" ujar Alex.
"Yang mana?" setahu Jihan hanya ada satu vidio Kakaknya Alex yang membahas desa ini, dan vidio itu adalah vidio yang viral kemarin itu.
"Elu belom lihat!" ujar Alex.
"Elu bawa Disknya?" tanya Jihan.
"Enggak, kenapa gue bawa-bawa!" Alex masih terlihat gelagepan karena pertanyaan-pertanyaan Jihan.
__ADS_1
"Harusnya elu bawa, bisa buat referensi!" Jihan sedikit kesal, jadi gadis manis itu percaya dengan kebohongan Alex barusan.
"Lupa gue!" ujar Alex.
Alex yang tak mau diberi rentetan pertanyaan lagi, segera pergi dari sana meski kopi hangatnya belom habis.
Alex masuk ke dalam kamarnya, tetapi dia membuka jendela satu-satunya dikamarnya. Sebab dia merasa sedikit mencium bau pengap di dalam kamarnya yang ukurannya cukup sempit.
"Gue harus bisa memecahkan misteri di desa ini!" kata Alex lirih saat melihat pemandangan kelam di luar melalui jendela kamarnya yang terbuka.
Alex tak betul-betul memandang ke arah luar dengan tatapan yang jeli, sebab di luar jendela Alex suasana sangat gelap. Tetapi Alex, mengkucek matanya dan mempertajam pandangannya ke arah luar.
"Apa tuh merah-merah?" tanya Alex pada dirinya sendiri.
Awalnya kelebatan kain merah itu diam di tempat, tetapi saat Alex memperhatikan dengan seksama kelebatan kain merah itu berjalan menjauh dari rumah Sandi.
Seperti ditarik oleh magnet, Alex malah mencari kursi sebagai pijakan. Alex keluar dari kamarnya melalui jendela yang terbuka.
Dia telah kehilangan urat rasa takutnya. Dibawah rintikan hujan yang masih menitik meski tak deras, Alex melangkahkan kakinya tanpa ragu.
Dia terus berjalan setengah berlari mengikuti sosok wanita dengan gaun merah. Hanya ada rasa penasaran di diri Alex, berbagai pertanyaan berputar di kepala Alex.
Tetapi tiba-tiba Alex merasakan sesuatu yang aneh dari tubuhnya. Dirinya, saat ini tak bisa merasakan angin kencang yang sedang bertiup ke tubuhnya.
Perhatian Alex segera tertuju pada wanita bergaun merah yang masih berlari menjauhinya.
"Tunggu, jangan lari!" teriak Alex.
Suara Alex tampaknya di dengar oleh wanita berambut panjang itu. Gadis bergaun merah panjang itu terdiam, lalu berbalik ke arah Alex yang berteriak padanya.
Jarak mereka hanya sekitar 10 meter, di tengah perkebunan pohon karet yang berjajar rapi. Angin malam yang berhembus lumayan kencang mengoyangkan setiap dahan yang menjulang, rintikan air hujan menetes lembut membasahi diri mereka berdua.
"Akhirnya kau datang juga!" kata wanita itu lirih.
Meski lirih, Alex masih bisa mendengar suara lembut dengan kosa kata yang amat indah itu.
__ADS_1