Channel Teror

Channel Teror
Part 21


__ADS_3

"Saya ini angota Tim Khusus, Pak! Bukan pemburu hantu!" Tara tak percaya, atasannya menyuruhnya menangkap sesuatu yang disebut oleh Ellen sebagai Siluman.


"Saya kenal betul dengan Sersan Ellen! Dia adalah salah satu angota Elite Tim Khusus, yang mempunyai kemampuan! Dia tak mungkin salah terka, tentang keberadaan di desa itu!" jelas Tara. "Bukankah, orang tua Melinda dan Sersan Ellen setuju untuk mengubur khasus ini?!".


Tim investigasi langsung diluncurkan ke Desa Air Keruh, setelah mereka tak bisa mengkontak Batalion bersenjata milik Tim Khusus. Jadi para Tim Investigasi menyaksikan, sisa-sisa pertempuran antara Siluman di tempat itu. Meski mereka tak berhasil menemukan satu Siluman--pun di sana.


Hal itu membuat Kepolisian dan Negara, serta jajaran Lembaga Keamanan Negara lainnya, membuat kesepakatan. Bahwa kejadian di Desa Air Keruh kala itu adalah Rahasia Negara, dan akan menguburnya dalam-dalam.


Ellen dan Melinda dianggap telah meninggal, meski mereka tak bisa menemukan jasat keduanya.


"Ada sebuah laporan, jika beberapa warga Desa Air Keruh yang hilang saat kejadian itu. Ada yang kembali hidup-hidup, tanpa luka sedikit pun!" jelas Atasan Tara.


Tara terdiam, dia begitu kaget dengan kabar yang dibawa oleh Atasannya.


"Aku tak bisa mempercayai orang lain, Tara!" kata Atasannya. "Kau tau kejadian Hujan Teluh itu adalah Rahasia Negara, jika sampai bocor...?!" Atasan Tara tak bisa menyembunyikan ketakutan di dalam dirinya.


Pasalnya, jika sampai misteri Hujan Teluh itu terungkap. Nama baik Kepolisian juga akan tercoreng, karena setiap dua puluh tahun semenjak tahun 1960, selalu saja banyak warga di daerah Desa Air Keruh meninggal dengan mengerikan. Dan jumlah warga yang meninggal setiap Kutukan Hujan Teluh datang, bukanlah sedikit.


60 tahun lebih, Kepolisian tak dapat mengungkap tentang Kutukan Hujan Teluh. Bukankah itu sebuah aib, meski kejadian Goib bukanlah sepesialis mereka, namun tetap saja, menjaga setiap individual warga negara adalah kewajiban mereka.


"Aku perlu angota Tim yang tak mencolok, dan bisa diandalkan!" ujar Tara langsung setuju.


Senyum bahagia tak bisa pudar dari wajah paruh baya yang berwibawa milik Atasan Tara. Lelaki paruh baya yang memiliki aura kemimpinan itu langsung menunjuk dua orang di sampingnya untuk diperkenalkan pada Tara.

__ADS_1


"Kak! Jangan pergi, kak!" bayangan Alex bersimpun di dekat Tara, memohon agar kakaknya tak pergi ke desa terkutuk itu.


"Lex! Alex!" Amran menyentuk kedua bahu Alex dan lelaki jangkung itu langsung menoleh ke arah Amran.


Alex memandang ke arah Amran dengan tatapan bingung, hatinya masih terguncang dan seluruh kesadarannya belum sepenuhnya ia kuasai.


"Lex! Kau ndak papo?" tanya Amran, lelaki asli Palembang  itu sangat khawatir terhadap Alex, yang langsung terdiam membisu dengan mata memutih sempurna, setelah menggenggam kalung mata kanan pemberian seorang Kiyayi padanya.


Kiyayi itu bilang jika hanya dengan kalung ini, Amran bisa menemukan keluarganya yang hilang di Desa Air Keruh.


"Kalung apa ini?" tanya Alex, ia langsung mengangkat kalung mata kanan yang Amran berikan padanya. "Kenapa gue tiba-tiba bisa ngelihat masa lalu?!".


Setelah tak mendapat jawaban apa pun, ketika melihat kalung berliontin mata kanan itu. Alex beralih memandang ke arah Amran yang kini juga sedang memandangnya tajam.


"Ternyata kamu orangnya! Keturunan terakhir Insagi!" ujar Amran lirih.


Meski perkataan Amran lirih, Alex masih bisa mendengar, apa yang dikatakan oleh Amran.


"Aku keturunan Insagi?" Alex tentu saja kebingungan.


"Kau bisa mencari jawabanya dengan kalung itu! Lihatlah masa lalu, sebelum kamu dilahirkan, pada kalung itu!" ujar Amran.


Alex yang masih tak percaya dengan kekuatan kalung itu, segera melaksanakan perintah Amran.

__ADS_1


Seketika itu, tanpa aba-aba atau peringatan, Alex merasakan tubuhnya melayang dan mendarat di suatu tempat.


Tempat yang sangat asing sekali bagi Alex, tepatnya hutan belantara, yang tak pernah Alex jamah sama sekali.


"Kejar siluman itu!!! Jangan sampai lolos!" suara teriakan pria dengan suara keras tiba-tiba terdengar di telinga Alex.


Tak hanya teriakan, tetapi Alex juga mendengar suara langkah kuda yang berpacu kencang.


Alex tak bisa berkata-kata, sebab belum sempat ia bergerak, sebuah kereta kencana dengan empat kuda yang menariknya, melaju kencang ke arahnya.


Alex yang terkejut, sampai terjungkal ke tanah. Namun kereta kencana itu melaju ke arahnya, menembus tubuhnya, tanpa menyakitinya.


"Huhhhhh untung aja!" desah Alex lega.


Namun belum sempat kelegaan Alex selesai, langkah kaki kuda yang lebih banyak menggema dari arah yang sama, dari mana kereta kencana itu muncul. "Bangsat, gue dimana sih?!" Alex segera berdiri dan berlari mencari tempat perlindungan.


Meski dia tau, tak akan ada yang bisa menyakitinya di sini. Karena tak akan ada satu pun makhluk, yang akan bisa melihat keberadaannya. Tetapi Alex juga tak mau menaggung resiko, jika sekema aneh ini menjadi kacau.


Segerombolan besar, pasukan berkuda sampai juga di tempat Alex. Mereka tampak buru-buru sekali, sampai kuda-kuda mereka melesat cepat melebihi kecepatan motor.


"Jangan bilang, gue ada di jaman kerajaan," Alex tak bisa mengatakan apa pun lagi, dia hanya geleng-geleng tak percaya.


Kenapa juga, masa lalu kelahirannya, harus di mulai dari jaman kerajaan. Kan--tidak penting juga, bisa--kan dari keluarga kandungnya saja, ini sihhh terlalu jauh.

__ADS_1


__ADS_2