
Dulu sekali, dia pernah merasa paling disayang dan paling dicintai. Tetapi perubahan itu terjadi begitu saja, entah karena apa Alex juga tak tau. Ternyata, karena dirinya hanyalah anak pungut.
"Tar!!! Jangan begitu! Berikan mainannya pada Alex! Dia adikmu kau harus mengalah!" suara wanita dengan intonasi yang cukup tinggi itu terdengar oleh Alex dari arah dapur rumah.
Lalu di dalam ruang keluarga itu, Alex dewasa sudah melihat, dirinya yang masih kecil. Yang ia lihat adalah dirinya saat berusia lima tahunan, sedang bermain dengan Tara kakaknya. Tara berusia lima tahun lebih tua dari Alex, pria itu sangat bijaksana sejak lahir.
Mendengar teriakan ibunya tadi, Tara kecil segera memberikan mainan yang ia pegang pada Alex kecil. Tara terlihat sangat sayang pada adik angkatnya tersebut.
Duarrrrrrrrr, Duarrrrrrrr, Duarrrrrrr
Tiba-tiba Alex mendengar suara petir yang menyambar, serta suara gemuruh yang menyelingginya. Suasana di ruang keluarga itu seketika berubah menjadi sangat dingin sekali.
Alex melihat dirinya yang lain membuka pintu rumahnya, usianya kini sekitar sembilan tahunan, sebab dia mengenakan seragam SD dan tubuhnya sudah tumbuh cukup besar.
Alex langsung menanggil-manggil ibunya. "Maaaa! Mama!".
"Astaga Alex! Kau hujan-hujanan! Ini belum waktunya pulang sekolah! Kamu mbolos lagi!" Ibu Alex berteriak pada Alex, namun Alex hanya tersenyum ceria ke arah ibunya tanpa rasa bedosa.
Alex dewasa hanya bisa tersenyum, meski dia tak begitu ingat. Tetapi dia tau betul jika sejak kecil sampai sebesar ini, hobinya masih sama, yaitu membolos sekolah.
Lalu tiba-tiba keadaan berubah lagi secara cepat, kini Alex melihat kakaknya yang sudah besar.
Hari paling menyakitkan di hati Alex adalah, hari dimana kakaknya lolos menjadi polisi.
Alex merasa telah kehilangan segalanya, teman bermain, kasih sayang ibunya bahkan kegalakan ayahnya.
"Mah, pah! selama aku nggak ada, jangan galak-galak ya sama Alex!" kata Tara, lelaki itu akan bersiap untuk tugas ke luar daerah.
__ADS_1
"Dia itu makin hari makin bandel Tar! Kalau dimanja terus, mau jadi apa dia nanti!" kata Ibu Tara.
"Mah!" Tara yang penyabar pada keluarganya, menggenggam salah satu telapak tangan mamanya dengan erat.
"Mah jangan terlalu keras pada Alex! Nanti kalau Alex jatuh sakit! Mamah sendiri yang pusing!" Tara masih saja membujuk ibunya agar tak menyulitkan Alex dengan berbagai kedisiplinan.
Keluarganya memang keluarga Polisi yang sangat disiplin dan menjunjung tinggi urusan negara. Namun Alex yang tak mempunyai darah keluarga ini, pasti sangat kesusahan dengan aturan-aturan berat yang kedua orang tuanya berikan. Jadi Tara selalu menasehati kedua orang tuanya agar mereka, tak terlalu keras pada adik angkatnya itu.
Alex mempunyai fisik yang gampang sakit serta jiwa yang bebas. Jika terlalu dikekang oleh kedua orang tuanya, Alex pasti jatuh sakit.
"Kamu benar Tar! Mama harus sedikit membebaskan adikmu! Dia tak bisa seperti kamu atau ayahmu, mama sangat mengerti!" kata Ibu Tara.
"Jadi ini alasan kalian?" tanya Alex dewasa.
Diri Alex memang berada di sana tapi, keluarga Alex tak bisa melihat dirinya.
Alex menyadari sesuatu, dia ingat betul hari ini. Hari dimana, ia terakhir kali bertemu dengan kakaknya.
"Mau kemana kamu?!" tanya Tara, lelaki gagah yang amat sangat berwibawa itu sedang duduk di salah satu kursi tamu, ruangan utama keluarga Sadewo.
"Keluar!" ucap Alex, tanpa melihat ke arah kakaknya.
Padahal sangat susah menemui kakaknya, tetapi Alex sama sekali tak tertarik lagi melihat wajah kakaknya kala itu.
"Bodoh! Harusnya kau tetap di rumah bego!" bayangan Alex memaki dirinya sendiri.
Mana dia tau, jika hari itu, adalah hari terakhir bagi Alex untuk melihat kakaknya.
__ADS_1
"Apa yang dia kerjakan? Dia terlihat sibuk banget!" Tara bergumam sambil melihati punggung adiknya yang sudah melewati pintu keluar. "Dia udah gede ternyata!" Tara tersenyum bahagia, melihat adik angkatnya yang dulu dia timang-timang, sekarang sudah tumbuh menjadi pemuda tampan yang digilai banyak wanita.
"Kak! Ini Alex, kak!" Alex segera mengambil duduk, di depan kakaknya yang sedang sibuk memeriksa dokumen di tablet pintarnya.
"Kak kemana kakak? Kakak masih hidup kan?" bayangan Alex masih saja bertanya pada Tara.
Tetapi semua itu tak ada gunanya, karena Tara tak bisa melihat Alex.
Tara terdiam, saat mendengar deru mobil yang memasuki halaman rumahnya. Baru saja dia kembali dari misi berbahaya, tetapi perintah tampaknya sudah datang kembali.
Ternyata tebakan Tara tak meleset, dia melihat atasannya dan beberapa angota polisi yang tak ia kenal, turun dari mobil dinas atasannya.
"Kau tampak sehat!" sapa atasan Tara, karena Tara kini menyambut mereka di teras rumah orang tuanya.
Tara hanya menanggapi sapaan atasannya dengan senyuman tipis yang manis.
"Apa orang tuamu di rumah?" tanya Atasan Tara.
"Tidak, Pak!" jawab Tara.
"Ada khasus mendadak! Dan kupikir kau bisa menyelesaikan ini!" kata Atasannya tanpa basa-basi.
Atasan dan dua polisi yang tak dikenal Tara masuk ke dalam rumah, lalu masing-masing dipersilahkan duduk oleh Tara.
"Kau masih ingat kasus di Desa Air Keruh, yang terletak di perbatasan Lubuk Linggau dan Bengkulu?!" tanya Atasan Tara.
"Bagaimana saya bisa lupa? Salah satu mantan anggota tim khusus, dan satu batalion pasukan bersenjata dari Tim kami. Hilang tanpa jejak di sana!" kata Tara.
__ADS_1
"Pergilah ke sana, dan ungkap misteri apa yang menyelimuti desa itu!" perintah Atasan Tara.