Channel Teror

Channel Teror
Part 19


__ADS_3

Keesokan harinya


"Apaan ini?!" Bayu begitu terkejut saat melihat sebuah bangunan rumah dengan kerusakan yang cukup parah.


"Ini rumah Adrian, dio adalah Dukun Jawo! Tapi dio ngilang duo tahun lalu!" jelas Amran.


"Sahabat saya, Jendral dan Pak Jacson, Kades desa ini. Juga hilang! Beserta banyak warga lain, saat itu!" Sandi melengkapi penjelasan Amran.


"Gue ngelihat sebuah istana kuno yang dikelilingi kabut merah pekat, saat menggenggam kalung ini! Gue yakin mereka semua ada di sana!" Alex juga sedang memandang rumah Adrian dengan teliti.


Rumah yang masih berdiri kokoh, dengan kerusakan parah karena terbakar. Atapnya roboh, dengan warna menghitam di berbagai tempat, tanaman liar juga sudah mulai memenuhi setiap senti bangunan itu. Sebab sudah dua tahun, bangunan ini telah ditinggalkan oleh penghuninya.


"Setelah mereka menghilang, desa ini menjadi sangat tenang. Kabut di perbatasan juga menghilang.


"Namun itu hanya sementara, Mas! Tepatnya satu tahun yang lalu.


"Sebuah keluarga, yang mati karena dibantai...mereka semua hidup lagi!" Sandi begitu sangat sedih, saat menceritakan kisah tersebut.


"Bulek Arinda, yang gila...Tiba-tiba sembuh!" Sandi masih melanjutkan ceritanya. "Tapi dia berwujut seperti gadis 18 tahun, dan kehilangan semua ingatannya tentang keluarganya bersama suaminya dan anak-anaknya yang hidup kembali!".


"Semenjak hari itu, kabut tebal di perbatasan desa kembali muncul. Banyak orang luar desa yang datang kesini, hilang secara misterius, ketika bulan purnama!" Sandi menceritakan, apa yang dia tau pada semuanya. "Jika yang hilang 10 orang maka yang kembali juga 10 orang!".


"Jadi para warga desa yang kehilangan keluarga mereka, mengumpulkan orang luar. Menahan mereka tetap di desa ini sampai bulan purnama usai," kata Sandi.


"Lalu kalian ingin menahan kami sampai bulan purnama itu datang?! Agar keluarga kalian bisa pulang?!" Jihan benar-benar tak bisa sabar sedikit saja, untuk mendengar penjelasan panjang Sandi.


"Keluargo aku jugo jadi korban!" Amran mendekati Jihan dan berteriak ke arah wanita kota itu.


"Sabar Amm!" untung Alex menahan Amran, yang ternyata mudah terpancing emosi.


Emosi Amran langsung reda, padahal baru saja manusia berusia paling muda di sini, memanggilnya dengan tak sopan.

__ADS_1


"Kita harus fokus! Biar kita cepat dapat petunjuk!" kata Alex. "Kita harus masuk ke Alam Buana dan membebaskan semua orang, sebelum bulan purnama muncul!".


Bayu segera tepuk tangan, setelah mendengar orasi dari sahabatnya. Semenjak Channel Teror dibuat, tak pernah sekali pun, Alex bersemangat.


Melihat betapa seriusnya dan semangatnya Alex kali ini, membuat Bayu terheran-heran.


"Gue nggak mau ngatain elu! Jadi pertahanin ya semangat elu ini!" setelah bertepuk tangan sendirian, Bayu menepuk bahu Alex untuk memberi sahabatnya itu tambahan semangat.


Alex sebenarnya tak peduli pada celotehan Bayu, tapi dia juga merasa dirinya saat ini, mempunyai tujuan untuk hidup.


Kalung liontin berbentuk mata, yang diberikan oleh Amran pada Alex, telah membuatnya berubah.


Flashback


Alex mendorong tubuh Amran, sehingga lelaki bertubuh kekar itu terpental ke belakang.


"Gila Lu yaaaa!" Alex tentu saja marah, bagaimana tidak. Baru saja Amran, lelaki yang baru saja ia kenal hari ini itu, menaikkan lengan hoodienya dengan paksa.


"Ngomong apa lu?!" Alex masih marah.


Lelaki keturunan asli Sumatra Selatan itu menatap Alex dengan tatapan yang begitu tajam.


Alex jadi salah tingkah, dia mau marah, tapi wajah Amran yang memandang tegas ke arahnya terlihat lebih garang. "Kalau nggak ada yang penting, gue masuk!" kata Alex.


"Tunggu!" Arman menghentikan Alex.


Tangan kanan Amran meraih telapak tangan Alex, Alex bisa merasan ada sebuah benda yang coba Amran berikan padanya.


Seketika itu, Alex merasa tubuhnya terasa ringan, dan tiba-tiba cahaya terang menerpa wajah tampannya tanpa ampun.


Alex merasa tubuhnya terlempar ke suatu tempat, lalu cahaya menyilaukan itu berhenti menerpanya.

__ADS_1


Mata Alex perlahan-lahan terbuka, karena merasa cahaya terang yang menyilaukan matanya tadi sudah sirna.


Perlahan-lahan Alex membuka matanya karena takut, sebab cahaya di tempat, dimana ia mendarat tampak minim sekali. Dia hanya melihat kegelapan dimana-mana, padahal dirinya tengah membuka matanya lebar-lebar.


"Amran!" Alex mencoba memanggil orang terakhir yang bersamanya.


"Amran, woyyy keparat, anjing!!! Elu apa--in gue setan!" Alex menyumpahi Amran.


Alex hanya berpikir, bahwa saat ini dia, sudah masuk ke dalam perangkap tumbal Amran.


"Bajingan, kenapa harus gue sih!" Alex masih saja bersumpah serapah.


Namun di tengah-tengah teriakannya, Alex mendengar suara bayi yang menangis kencang.


"Suara bayi!" gumam Alex masih di dalam ruangan gelap yang amat menyiksanya.


Tetapi suara tangisan bayi itu makin lama makin membuat Alex penasaran, sehingga membuat Alex mengikuti arah suara itu.


Kedua tangannya berusaha meraih apa pun, untuk ia jadikan pegangan. Tetapi hanya angin kosong yang ia dapati.


Alex masih berjalan perlahan ke arah suara tangisan bayi itu, sampai ia melihat setitik cahaya, di ujung ruangan gelap yang ia tempati.


Alex segera menghampiri cahaya itu, dia berlari, namun dirinya terjatuh ke lantai yang basah, karena ternyata ada dinding tebal tepat di depannya yang menghalanginya.


Alex langsung mencoba berdiri lagi, ia kembali mencari cahaya kecil yang tampak seperti sebuah tanda kehidupan baginya, di tempat gelap seperti ini.


Karena lubang di dinding itu ukurannya cukup kecil, Alex hanya bisa membidikkan salah satu bola matanya, untuk melihat apa yang ada di balik tembok tebal itu.


Dia melihat seorang wanita setengah baya, yang memungut bayi di pinggir jalanan hutan. Alex memperhatikan wajah wanita paruh baya itu dengan seksaman.


"Mahhhh ini adikku?!" tanya sebuah suara anak lelaki kecil.

__ADS_1


Saat Alex melihat ke arah suara anak lelaki yang masih imut itu, tiba-tiba Alex mendapati dirinya berada di ruangan keluarga. Ruang keluarga yang sangat ia kenal, ini adalah ruang keluarga milik keluarganya.


__ADS_2