
"Yang punya sedang dijalan, dio la nak kemari!" ujar Amran, dia mensejajarkan tas yang ia bawa di dekat koper-koper yang dibawa oleh rombongan Alex.
Alex nerasa janggal dengan rumah yang kini dia pijak, seolah-olah dia pernah melihat rumah ini sebelumnya. Atmosfer rumah ini begitu membuat Alex tak nyaman, jadi kedua netra Alex tak bisa diam.
Lelaki yang tingginya 175 CM dengan tubuh cenderung kurus itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut teras rumah di depannya.
"Ada apa, Lex?" tanya Jihan yang ternyata memperhatikan arah pandangan Alex yang meliar.
"Nggak ada apa-apa sih, tapi perasaan gue kagak enak!" ujar Alex.
"Tapi kayaknya elu kagak ketakutan?!" ledek Jihan.
"Mana ada!" desah Alex lirih.
Lelaki berusia 23 tahun itu memang tak mudah ketakutan, tetapi dia tak ingin dibilang menyukai aktifitas ini. Alex pergi ke desa ini karena dipaksa oleh keadaan, keadaan yang paling dia benci. Yaitu harus mencari keberadaan kakaknya.
Bremmmmm...Bremmmmm...Bremmmm
Sebuah sepeda motor buntut meliuk memasuki halaman dengan rumput jepang yang indah. Remnya berdecit melengking, sepertinya kampas remnya kering kekurangan minyak pelumas.
"Udah lama, mas?!" lelaki muda dengan tubuh agak gemuk turun dari sepeda motor yang lusuh.
"Belom, baru sampai!" ujar Amran.
"Ayok masuk-masuk!" pemuda yang terlihat sangat muda itu melangkah maju menuju pintu rumah duluan.
Pemuda dengan kulit sawo matang dan wajah bulat seperti telor rebus itu, membuka kunci pintu rumah lalu kembali mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumahnya.
"Ayo masuk, nggak usah sungkan! Anggap saja rumah sendiri...Tapi jangan dijual yaaa!" perkataan pemuda itu mengundang gelak tawa tamunya, hanya Alex yang tak tersenyum karena guyonan receh pemuda itu.
__ADS_1
"Silahkan Duduk, ohhh iya perkenalkan nama saya Sandi!" meski suka bergurau Sandi adalah pemuda yang sopan pada orang-orang yang lebih tua darinya.
"Saya Jihan!"
"Saya Bayu,"
Alex terlihat tak peduli dengan perkenalan antar penyewa dan pemilik rumah. Dia tampak masih asik memandangi seisi rumah milik Sandi tersebut.
"Dia Alex, Alex Samohe!" ujar Bayu.
Alex Samohe adalah nama panggung Alex, nama itu juga digunakan sebagai nama akun Youtube mereka.
"Bang Alex Samohe! Yang punya chanel Noron?" Sandi tampak sangat terkejut.
Alex tentu saja tersita perhatiannya saat ada orang dengan suara lantang menyebut nama-nama chanel keramat itu.
"Masa sih, banyak yang bilang gitu emang!" timpal Jihan.
Satu-satunya wanita di sana memang sangat bangga karena wajah Alex yang sangat menjual. Meski sifat Alex cenderung nyebelin, tapi Jihan sudah dua tahun menjadi penulis sekenario untuk Alex. Selain karena Jihan adalah gadis sunda yang penyabar, dia juga tak tega harus meninggalkan teman-temannya.
Meskipun banyak tawaran dari Youtuber lain atau TV, Jihan memang sangat lihai jika menulis sekenario Horor Misteri. Berkat tangan emas Jihan juga Noron terbentuk dan besar sampai seperti sekarang.
Baginya bekerja dengan Alex dan Bayu seperti tidak berkerja namun bermain. Bayu yang periang serta Mood Boster, sementara Alex yang aneh tapi tampan membuat Jihan seperti bermain dengan anak lelaki seusianya. Padahal Jihan adalah sosok paling tua di antara mereka semua.
Alex masih berusia 23 tahun, Bayu 24 tahun dan Jihan adalah 28 tahun. Jihan 1 tahun lebih muda dari Tara, kakak Alex yang sudah menghilang selama satu tahun terakhir.
Jihan sama sekali belum bertemu dengan Tara secara langsung, meski Jihan sudah cukup lama bergabung dengan Tim Alex. Alasanya tentu saja karena Tara yang hampir nggak pernah pulang ke rumah, karena selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya sebagai abdi negara.
"Jadi Mas Alex adiknya Pak Tara?!" ujar Sandi.
__ADS_1
Awalnya Alex sama sekali tak tertarik dengan arah pembicaraan yang dibicaran di sekitarnya. Namun saat Sandi mengucap nama kakaknya, seketika hati dan pikiran Alex tercubit. Dia tak tahan untuk tak menanggapi.
"Kamu kenak Bang Tara?" tanya Alex langsung.
"Saat Pak Tara dan teman-temannya di desa ini, mereka tinggal di rumah ini juga!" kata Sandi.
Cubitan menyakitkan itu berubah menjadi getaran yang lebih menyakitkan di hati Alex.
"Kenapa elu nggak bilang?!" bentak Alex pada Amran yang seketika memasang wajah kebingungan.
"Bukannya bagus? Kalian ke sini untuk menelusuri hilangnya Pak Tara, kan?" Amran sama sekali tak tau masalah pribadi Alex dan kakaknya.
Dia hanya berperan sebagai pemandu perjalanan. Amran memilih rumah Sandi untuk menjadi tempat tinggal sementara bagi tim Alex, juga karena dulu rumah ini ditempati oleh rombongan Tara.
Alex yang tak mau banyak bicara lagi, ia segera keluar dari ruangan itu.
Satu-satunya hal yang tak ingin ia bahas saat ini hanyalah tentang kakaknya.
Dia merasa sangat risih karena semua orang sangat perhatian pada kakaknya. Tetapi tak ada satu orang pun yang peduli akan perasaanya.
Kenapa dia harus dipaksa untuk mencari kakaknya, padahal menghilangnya Tara adalah sebuah berkah bagi Alex. Meski ia harus mendengar rengekan tangisan mamanya setiap hari, itu lebih bagus dari pada dia harus selalu disejajarkan dengan kakaknya yang tak punya kelemahan apa pun seperti Tara.
"Elu kekanakan banget sih!" teriak Jihan yang sudah di belakang Alex.
Jihan mengikuti Alex keluar dari rumah Sandi.
"Sampai kapan elu mau banci sama abang elu kayak gini?!" tanya Jihan lagi.
Alex menghentikan langkah kakinya, lalu dia berbalik ke arah Jihan. Wajah tampan Alex sudah memerah padam karena menahan amarah.
__ADS_1