Channel Teror

Channel Teror
Part 16


__ADS_3

Di gudang yang terlalu sempit bagi mereka berlima membuat Alex sesak nafas, ia memutuskan keluar setelah melihat Jihan dan memastikan jika Jihan yang ada dihadapannya adalah manusia yang ia kenal.


Berbagai pertanyaan yang hanya Jihan yang tau, ia tanyakan. Hal itu membuat yang lain merasa bingung apa lagi Jihan sendiri, dia merasa Alex semakin aneh saja.


"Elu kenapa sih Lex?!" Jihan mengikuti Alex keluar dari gudang dengan senter kecil di tangannya.


Sebagai wanita tulen, dia pasti tak bisa membantu Amran dan Bayu memperbaiki genset. Jadi mengintrogasi Alex menjadi sebuah pilihan tepat, bagi Jihan.


Teman pendiamnya, tiba-tiba berubah jadi banyak bicara dan melakukan hal-hal konyol diluar akal nalar manusia. Kondisi Alex sangat penting bagi Tim mereka, apa lagi kondisi kejiwaan lelaki jangkung itu.


Tak lucu, jika Alex jadi gila karena tertekan.


"Enggak papa!" Alex berkilah, ia jadi ragu untuk bicara panjang lebar tentang suara bercinta yang ia dengar tadi.


"Yakin lu nggak papa?" Jihan tampaknya juga tak ingin melepaskan Alex begitu saja.


"Mungkin gue halusinasi, atau entah kenapa!" ujar Alex akhirnya. "Tiba-tiba gue mimpi tentang hal-hal di masa depan! Bertemu dengan wanita cantik dengan gaun merah, lalu tadi...Gue mendengar suara aneh dari kamar elu!" jelas Alex.


Jihan hanya bisa melihat ke dalam manik mata Alex yang memandang kosong ke depan.


"Maksut kamu gadis bergaun merah, seperti orang yang dicari kakakmu sebelum dia menghilang?!" tanya Jihan.


"Mungkin," suara Alex melemah, dia begitu lelah saat ini.


Saat tertidur pun, ia merasa beraktivitas. Mimpi tentang masa depan yang ia dapat, terasa sangat nyata. Jadi tubuhnya terasa begitu capek.


Sudah hampir sebulan terakhir Alex sama sekali tak bisa tidur dengan nyenyak. Tepatnya semenjak Alex melihat vidio terakhir kakaknya.


Pikiran dan hatinya hanya memikirkan perihal kakaknya semenjak itu. Apa lagi setelah sampai di Desa Air Keruh, Alex mendapatkan mimpi-mimpi aneh setiap ia tertidur.

__ADS_1


Kurang tidur dan istirahat bisa menurunkan daya tahan tubuh seseorang. Alex adalah manusia biasa yang butuh tidur juga.


"Jangan-jangan hilangnya Kak Tara, ada hubungannya dengan gadis bergaun merah yang elu mimpiin," Jihan mulai menyimpulkan. "Sandi juga bilang begitu kan, tadi!" Jihan mengungkit kesaksian Sandi tentang Kak Tara, sore tadi.


"Gue juga yakin, sih! Cewek itu bilang, dia udah lama nunggu gue, dimimpi gue!" kata Alex.


"Terus?" Jihan begitu sangat penasaran tentang wanita bergaun merah, yang kini menjadi titik misteri desa ini.


"Cuma itu doank!" kata Alex.


"Elu bilang cewek itu muncul di mimpi elu, kan?!" Jihan yang sudah menghadap ke arah Alex yang berdiri di sampingnya, mulai menajamkan pandangan ibanya pada Alex. "Gimana kalau elu tidur, biar tu cewek muncul lagi! Lalu elu tanya tentang Kak Tara!" nasehat Jihan.


"Elu pikir setiap gue tidur, tu cewek bakal muncul gitu aja?!" Alex tentu saja tak suka dengan ide Jihan.


"Siapa tau!" kata Jihan lirih, dia tau tak semudah itu mendapatkan mimpi. Apa lagi mimpi yang sesuai sama keinginan kita, karena mimpi terkadang tak sesuai dengan kenyataan, kebanyakan malahan.


"Gue mau tidur! Tapi bukan karena pengen mimpiin si cewek bergaun merah. Tapi gue udah capek dan ngantuk banget!" kata Alex yang langsung ngeloyor, menuju dalam rumah Sandi. Tanpa mempedulikan Jihan lagi.


Setelah kepergian Alex, Bayu keluar dari dalam gudang, lalu menyapa Jihan yang masih dirundung rasa kesal.


Tangan Jihan lalu ditarik oleh Bayu, Jihan bertambah kesal karena ulah kedua teman cowoknya, yang sering seenak mereka sendiri.


"Apaan sih, Bay!" Jihan tentu saja berontak.


"Sini, bentar!" Bayu akhirnya mengungkapkan apa maksut pemaksaannya pada Jihan.


Bayu segera menarik Jihan menjauhi gudang dan masuk kedalam rumah mengikuti Alex. Karena Alex berjalan santai, sementara Bayu dan Jihan berjalan cepat. Membuat mereka bertiga bertemu di pintu depan rumah Sandi.


"Sini kalian semua!" Bayu malah menyeret Alex juga.

__ADS_1


Mereka bertiga masuk kedalam kamar Alex dan Bayu yang terletak di bagian paling belakang rumah ini.


"Apaan sih?!" Alex dan Jihan bertanya pada Bayu serentak.


"Kalian nggak merasa aneh sama Sandi dan Amran?" Bayu berbisik.


"Aneh gimana maksut elu?" tanya Jihan pada Bayu dengan nada yang cukup lantang.


"Sutttttttt!" Bayu menyuruh Jihan menurunkan suaranya, dengan menempelkan salah satu jari telunjuk di tangannya, ke depan mulutnya. "Pelan-pelan!".


"Maksut elu apa sih, Bay?" Alex juga penasaran dengan kata-kata Bayu, yang menyatakan bahwa Sandi dan Amran terlihat aneh.


"Mereka kayaknya bukan manusia!" kata Bayu.


"Mata elu rabun?!" Alex tentu saja langsung meningikan nada bicaranya.


"Gila!" Jihan juga mencemooh Bayu.


"Mana ada hantu muncul di siang bolong??? Mana ada hantu nyetirin mobil dari bandara ke sini?!" Alex mengungkapkan alasan yang masuk akal.


"Iya juga yaaaa!" tampaknya Bayu tak mempertimbangkan hal itu.


"Kalau mereka masih hidup, bukankah harusnya mereka takut gelap?" tanya Bayu dengan raut yang ekspresif. Sehingga membuat Alex dan Jihan mau-tak mau terdiam sejenak, untuk mendengar alasan apa yang membuat Bayu mempercayai hal konyol semacam itu.


"Pas mati lampu tadi! Gue keluar kamar sambil bawa senter.


"Lalu gue kaget pas nyampe di ruang tamu!


"Mereka berdua duduk di kursi ruang tamu, lalu saling bicara.

__ADS_1


"Gue hanya dengar sekilas, mereka tampaknya mencari seseorang! Mungkin mau dijadiin tumbal!" jelas Bayu dengan suara yang amat lirih, sehingga Alex dan Jihan terpaksa mendekat ke arah Bayu.


"Tumbal?" Alex juga berkata dengan nada yang amat rendah.


__ADS_2