
Kegusaran tampak menguasai wajah Amran, ia begitu bingung. Dirinya sedang mempersiapkan diri, akan sebuah kemungkinan. Sebuah kemungkinan, jika Alex adalah keturunan dari Insagi.
Siluman Burung Garuda setengah manusia, yang mempunyai darah biru kerajaan Sriwijaya. Siluman yang sangat benci pada manusia, si penguasa Alam Buana, biang keladi, terbentuknya Kutukan Hujan Teluh di Desa terpencil, nan asri ini.
Siluman yang juga, membawa seluruh keluarganya ke Alam Buana, setahun yang lalu.
"Ada apa Mas?" tanya Alex dengan nada takut, tapi lelaki jangkung itu berusaha bertingkah tegar.
Alex mengingat apa yang tadi dikatakan oleh Bayu 'Meski Amran jahat, tapi tak ada warga desa ini yang menyakiti orang-orang luar secara terang-terangan'.
Posisi Amran menunggu Alex juga, bukan di tempat yang jauh dari rumah itu. Amran menunggu Alex di halaman rumah Sandi saja.
"Ada apa?" tanya Alex pada Amran.
Amran langsung berbalik ke arah Alex.
"Boleh tak, kalau aku jingok lengan kanan kau?" kata Amran nada bicaranya tak bisa luput dari kekentalan cengkok daerah kelahirannya.
(Boleh nggak kalau aku lihat lengan kanan kamu)
"Emang kenapa?" tanya Alex.
Lelaki jangkung itu masih menaruh curiga pada Amran, dia masih tak mau mengulurkan tangannya pada Amran.
"Tolong kami!" ujar Amran, wajah tegas yang biasanya hanya berekspresi kejam itu berubah memelas.
Alex cukup terkejut dengan apa yang dia lihat, meski baru sehari ini dia mengenal Amran, dia tak pernah membayangkan lelaki di depannya ini akan mengiba padanya.
"Maksutmu apa?" Alex benar-benar dilanda kebingungan, kenapa Amran meminta tolong padanya.
Amran yang memang memiliki perawakan tegap dan kekar serta berotot, segera mendekati Alex. Dia memaksa Alex menunjukkan lengan kanannya.
__ADS_1
Dengan paksa Amran menaikkan lengan hoodie yang dikenakan oleh Alex.
"Apa-apaan sihhh?!" Alex tentu saja berteriak.
Karena mendengar teriakkan Alex, Jihan dan Bayu segera berhamburan ke arah pintu. Namun Sandi sudah siap siaga untuk menghadang mereka berdua.
"Kak Amran nggak akan menyakiti Mas Alex, tenang saja! Saya mohon jangan ganggu mereka dulu Mas-Mbak!" meski memasang badan untuk menghalangi Jihan dan Bayu, Sandi berkata dengan nada selembut mungkin.
"Kalian pikir, kalian siapa? Berani-beraninya memperlakukan kami seperti ini?!" Jihan kembali berteriak pada Sandi.
"Saya mohon Mbak! Mereka harus bicara berdua, agar semua cepat selesai!" kata Sandi dengan nada yang amat putus asa.
"Jangan ngawur yaaa?! Kamu pikir kami nggak tau?! Kalau kalian sedang mencari tumbal!!!" akhirnya Jihan keceplosan juga.
Sandi terlihat begitu terkejut, saat melihat ke arah wajah marah Jihan.
Jegrekkkkkk
Alex bahkan tidak memandang kearah ketiganya, lelaki berparas paling tampan di antara mereka itu, segera berjalan ke arah kamarnya tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Pandangannya kosong dan ekspresi wajahnya tampak sangat kebingungan.
Jihan yang melihat ekspresi semacam itu keluar dari wajah Alex, segera menghampiri Alex sebelum Alex sempat masuk ke dalam kamarnya.
"Lex!!! Elu kenapa?" tanya Jihan pada Alex.
Alex masih berjalan lurus, meski Jihan meneriakinya. Lelaki bertubuh jangkung itu terlihat begitu linglung saat ini, persis seperti habis terkena mantra hipnotis.
Sandi yang melihat Alex menjadi aneh, segera berlari keluar untuk mencari Amran.
"Lex!" Jihan segera menarik salah satu lengan Alex. "Elu kenapa?" Jihan segera meraih kedua bahu Alex yang letaknya sejajar dengan wajahnya.
__ADS_1
"Ji...Ini nggak bener--kan?" tanya Alex dengan sangat menyedihkan.
"Apa yang Amran katakan ke elu sih?!" Jihan semakin kesal, karena keadaan temannya yang menjadi tak setabil karena ulah Amran.
Tanpa aba-aba apa pun, Alex memeluk Jihan dengan erat. Hatinya tampaknya sangat terpukul, sehingga membuat Alex begitu rapuh.
"Lex, elu kenapa? Cerita aja ama gue!" Jihan menurunkan nada bicaranya, mengelus pungung lebar Alex dengan tangan kanannya, mempererat pelukan lelaki jangkung itu. Jihan faham Alex sedang butuh ditenangkan.
Bayu bisa melihat Alex benar-benar terguncang saat ini, dan dia tak bisa diam saja, ketika adik paling bontot di Timnya, dibuat begini oleh seseorang.
Bayu segera keluar, dia harus memberi pelajaran pada Amran dan Sandi.
"Elu apa-in Alex?!" Bayu bertanya pada Amran, dengan tinju yang bersamaan ia layangkan, untuk menghantam wajah kejam Amran.
"Mas Bayu! Tenang dulu, Mas!" Sandi segera menghentikan Bayu, agar Bayu tak lanjut menghajar Amran.
Pria gagah perkasa itu, tersungkur juga karena tinjuan Bayu yang penuh dengan amarah.
"Elu berdiri! Jangan cumanya berani sama anak kecil!" Bayu menantang Amran dengan nada marah.
"Udah, Bay! Ini bukan salah Amran!" Alex dan Jihan sudah berada di dekat Bayu.
"Elu di apain, sama setan ini?!" Bayu tak bisa membendung emosinya lagi.
"Saat ini, itu nggak penting!" ujar Alex, membuat semuanya tertegun, dan memandang tajam ke arah sosok jangkung tampan itu. "Kita harus mikirin cara, gimana suapaya kita bisa ngebebasin semua orang dari Alam Buana!" lanjut Alex.
Amran segera berdiri, lelaki bertampang kejam itu segera bersimpuh di depan Alex.
"Trimakasih!!! Trimakasih banyak Alex!" Amran mengatakan itu dengan wajah penuh harapan.
Alex memberikan sebuah kalung pada Amran yang masih bersimpuh di depannya.
__ADS_1
"Sebaiknya, kau saja yang simpan!" ujar Amran. "Untuk orang lain, kalung itu hanya kalung! Tapi bagimu, kalung itu bisa memberi jawaban apa pun pertanyaanmu, tentang desa ini!" lanjut Amran.