
"Gue mohon Lex!" Bayu yang baru saja keluar dari dalam rumah Sandi segera berlari. Lelaki keturunan Jawa Tengah itu segera menenangkan hati kawan karibnya yang sedang diselimuti amarah.
"Emang elu tau apa?!" Alex bicara kepada Jihan dengan nada tinggi. Seolah Alex siap menelan gadis cantik di depannya itu secara bulat-bulat.
"Gue emang nggak tau apa-apa tentang elu sama kakak elu! Tapi setidaknya elu punya sedikit empati!
"Kakak elu udah ilang selama satu tahun! Apa iya elu nggak ngerasa punya tanggung jawab buat nyari?" Jihan menjawab perkataan Alex dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Mau gue empati atau nggak itu bukan urusan elu!" Alex masih tak menurunkan nada bicaranya.
"Elu jangan sebut diri elu manusia, kalau elu nggak ngerasa sedih gara-gara kakak elu ilang!" manik mata gadis cantik itu sudah memerah.
Tak ada wanita yang akan kuat hatinya, jika dibentak oleh seorang lelaki. Apa lagi lelaki yang membentaknya adalah kawan seperjuangan yang sangat berarti baginya.
Perkataan Jihan tak ada yang salah, namun Alex masih tak bisa menerima keadaan yang kini telah menimpanya.
Dia seolah tak ingin mengatakan pada semua orang jika dia juga merasa kehilangan. Entah masa lalu apa yang telah dilewati oleh Alex dan Tara, sehingga Alex sangat membenci kakak kandungnya itu.
"Udah Jihan! Kita kesini untuk buat konten bukan berantem!" ujar Bayu.
Jihan dan Alex yang masih memendam amarah di hati masing-masing, sadar bahwa tak ada gunanya mereka bersitegang semacam itu.
"Gue nggak benci sama kakak gue! Gue muak dengan diri gue sendiri, karena nggak bisa sehebat dia!" kata Alex, amarahnya mereda namun matanya masih memerah namun sembab. "Elu puas!" hardik Alex pada Jihan.
Alex yang baru saja mengutarakan perasaanya segera berjalan ke arah jalan besar yang belum dilapisi oleh aspal. Bayu dan Jihan hanya bisa memandang punggung Alex yang menjauhi mereka.
__ADS_1
"Dia butuh waktu buat mikir, biarin dia sendiri dulu!" ujar Bayu.
Jihan hanya mengangguk pelan, dia merasa bersalah karena telah mengatakan sesuatu yang tidak enak didengar kepada Alex.
Meski Jihan sangat geram dengan sifat Alex yang suka semaunya sendiri. Tetapi Jihan sangat tak nyaman setelah menyinggung perasaan Alex. Dia merasa setelah menggorek luka tersakit di hati Alex.
Jihan adalah tipe wanita yang ceplas-ceplos, dia sering mengatakan hal-hal yang tidak semestinya kepada Alex. Tetapi lelaki berhati dingin itu tidak pernah terpancing amarah seperti hari ini.
Alex pasti sangat tersinggung dengan ucapanku Jihan, tetapi Jihan tidak berani mengejar Alex untuk meminta maaf. Dia takut Alex akan lebih marah lagi padanya.
.
.
Terlukis jelas di wajah Alex, rasa gusar yang bercampur dengan kesedihan. Langkah kakinya berjalan cepat di pinggiran jalan koral yang cukup lebar.
Suasana sepi kampung mistis ini semakin menjadi karena tiba-tiba kabut tipis mulai menyelimuti. Hari beranjak sore, dan udara menjadi semakin dingin. Untung Alex mengenakan hodie yang cukup tebal.
Namun udara dingin masih menusuk tembus ke area kulit telapak tangan dan wajah tampannya yang tak ditutupi oleh kain sehelai pun.
Alex terus berjalan dengan wajah menunduk, dia tak ingin ada orang yang melihat kegalauan di hatinya.
Jauh di dalam hati Alex, dia juga punya rasa kehilangan terhadap Tara kakaknya. Tapi Alex tak mau mengakuinya secara terang-terangan. Sebab selama ini dia sangat membenci Tara, alhasil rasa gengsinya telah menekan rasa sedih di hatinya.
Gubrakkkkkkkkk
__ADS_1
Sebuah suara benturan besi dengan benda tumpul terdengar amat keras, Alex seketika mendongak dan melihat ke sekitar tempatnya berpijak.
Matanya tertuju pada sebuah sepeda ontel yang terjatuh di tengah jalan. Beberapa sayuran berserakan di sana dan seorang gadis cantik yang terlihat meringis kesakitan.
Alex refleks berlari ke arah sepeda yang ambruk di tengah jalan itu.
"Elu nggak papa?" tanya Alex.
Bukan gadis cantik yang ia tolong duluan, tapi sepeda ontel yang terlihat tua milik sang gadis yang mendapatkan pertolongan pertama dari Alex.
"Huaaaaaaa...Sakitttttt!" gadis cantik itu malah berteriak dengan suara tangisan yang melengking.
"Oy, jangan nangis dong!" ujar Alex kebingungan.
Siapa yang tak panik, jika berada di situasi ini. Gadis itu langsung menjerit keras, padahal luka di tubunya tak begitu parah. Hanya goresan kecil di telapak tangannya, karena hampir semua tubuh gadis cantik itu tertutup baju serta jilbab yang membingkai wajah bulatnya.
"Sakitttttt massss!" tangis gadis itu semakin jadi.
Alex yang jarang sekali berhadapan dengan orang luar semakin bingung saja. Wajah tampannya hanya berputar-putar tak jelas seperti mencari sesuatu.
"Darahnya banyak banget ini!!!" gadis tadi masih menangis, bocah yang masih berusia belasan tahun itu malah menyodorkan tangannya yang terluka ke arah Alex.
Alex memandang luka di tangan gadis cantik itu, telapak tangan gadis itu hanya menderita luka kecil tak akan sampai merengut nyawanya yang masih belia.
Alex malah dengan polosnya memandang ke arah manik mata gadis kampung di depannya.
__ADS_1
Wajah bulat, pipi yang berisi, hidung mancung dan mata yang seperti bongkahan batu ruby yang memancar. Wajah gadis itu merah padam, tapi masih terlihat cantik di mata Alex.
"Akkkkk sakit!" gadis tadi berteriak lagi, karena Alex menyeka darah di telapak tangan gadis itu dengan ujung lengan hodienya secara kasar.