
Alex jadi mengingat tentang perkataan gadis berhijab yang pernah muncul di mimpinya. Jika akan ada orang-orang luar yang berkunjung kedesa ini, yang hilang saat bulan-bulan Maret, tepatnya saat bulan purnama.
Alex kembali melihat ke arah langit dari jendela kamarnya, dia memandang bulan yang masih berbentuk sabit. 'Jika perkataan gadis berhijab itu benar, maka tak akan lama lagi!,' kata Alex dalam hati.
"Jangan-jangan Amran sama Sandi ada hubungannya dengan hilangnya Tim Investigasi Kak Tara dan beberapa orang yang hilang setelah mengunjungi desa ini, setahun yang lalu itu!" Jihan juga mengecilkan suaranya, dia mendekat ke arah Alex dan Bayu agar suaranya terdengar oleh sahabat-sahabat prianya itu.
"Gimana kalau iya?" tanya Alex, sudah merinding. Dia tak mau berakhir hilang juga, seperti kakaknya.
"Makanya kita harus pura-pura biasa aja!" usul Bayu.
Alex dan Jihan memandang bingung ke arah Bayu, mereka tak tau apa maksut perkataan pria Jawa itu.
"Kita biasa aja, jangan terlihat kalau kita curiga ke mereka! Dan elu, Lex! Ati-ati kalau mau cerita tentang mimpi elu!" Bayu menasehati kedua sahabatnya.
Akhirnya Alex dan Jihan mengangguk-angguk mengerti.
"Ya udah elu keluar! Kita mau tidur!" Bayu mengusir Jihan dari kamarnya.
"Gue tiba-tiba takut guysss! Gimana kalau gue tidur di sini, bareng kalian!" Jihan sama sekali tak kondisi.
"Ogah!!! Mending gue tidur sendiri! Sono Lex, elu tidur ama Jihan!" Bayu malah mendorong kedua sahabatnya keluar dari kamar.
"Bangsat lu Bay!" Alex mengerutu kesal.
Bayu benar-benar tak memberinya kesempatan untuk memilih. Tidur sekamar dengan wanita, tak pernah ia lalukan. Bagaimana bisa Alex bisa tidur malam ini.
"Ayo Lex, kekamar gue!" ajak Jihan tanpa rasa canggung.
"Elu yakin mau tidur ama gue?" tanya Alex.
__ADS_1
"Dari pada gue kagak bisa tidur, karena kepikiran!" Jihan memang tak sepenakut Alex. Tapi kemungkinan jika Amran dan Sandi adalah kaki tangan iblis, yang menumbalkan manusia. Pasti membuat siapa pun akan bergidik ngeri, bahkan Jihan juga diserang perasaan panik, saat ini.
"Kalau gue khilaf, gimana?" tanya Alex dengan nada lirih.
Jihan yang berjalan di depan Alex segera menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke arah pria jangkung di belakangnya.
"Tega lu, khilaf ama kakak sendiri!" celoteh Jihan.
Alex hanya diam, dia tak pernah berpikir jika Jihan itu kakaknya. Bagaimana bisa dia berpikir kalau Jihan adalah kakaknya, mereka tak punya hubungan darah atau ikatan persaudaraan apa pun.
Namun Alex juga merasa imannya akan berada di titik setabil, jika hanya dihadapkan dengan Jihan. Meski dia lelakiĀ normal dengan orientasi seksual yang tak menyimpang. Selama ini Alex tak pernah tergoda oleh Jihan.
Jihan bukan wanita jelek, dia tipe gadis pintar yang tak memikirkan penampilan. Atau lebih tepatnya, gaya pakaiannya cenderung gombor-gombor, meski ia tak tomboy.
Bagi Jihan yang bekerja di belakang layar sebuah chanel Youtube, membuatnya tak mementingkan penampilan. Yang penting, apa pun yang ia kenakan, nyaman baginya.
Saat akan memasuki kamar Jihan, Amran dan Sandi menegur Alex. Kedua warga Sumatra itu baru saja masuk ke dalam rumah, setelah sukses memperbaiki genset.
Alex dan Jihan langsung memandang ke arah Sandi dan Amran.
"Mau bicara apa?" Jihan langsung memasang badan di depan Alex.
Entah karena jiwa ke--kakak-annya atau karena menganggap Alex sebagai aset penting dalam pekerjaannya.
"Ikut ku keluar yo!" Amran lalu keluar.
Jihan dan Alex saling pandang, karena dilanda rasa takut dan kebingungan.
"Jangan Lex, kalau tu orang mau bicara, di sini saja! Kenapa harus ngajak keluar segala!" Jihan tak ingin membiarkan Alex pergi keluar dengan Amran yang mencurigakan itu.
__ADS_1
"Sebaiknya Mas Alex keluar! Ini tentang Pak Tara, Mas!" ujar Sandi mengompori.
"Kalau emang itu tentang Kak Tara, ya udah bicaranya di sini aja!" Jihan meninggikan suaranya.
"Mbak, hanya Mas Alex yang boleh tau tentang ini! Jika banyak orang yang tau...Maka, bisa-bisa kalian akan dalam bahaya!" Sandi masih menasehati Alex dan Jihan.
"Gue nggak peduli! Apa pun, harus dibicarakan bareng-bareng! Nggak ada rahasia antara Gue, Alex, sama Bayu, selama ini!" Jihan semakin ngotot.
"Apa sih kalian, ribut-ribut!" kata Bayu yang ikut keluar dari kamarnya, suara Jihan sangat keras sehingga tak mungkin bayu tak mendengar kegaduhan di ruang tamu itu.
"Mas Bayu, Kak Amran ingin bicara berdua saja sama Mas Alex!" Sandi langsung menjawab pertanyaan Bayu.
"Terus dimana Amran--nya?" tanya Bayu.
"Kak Amran, sudah diluar Mas!" jawab Sandi.
"Ya sono Lex, siapa tau penting!" Bayu langsung setuju begitu saja.
Jihan dan Alex memasang ekspresi tak terima ke arah Bayu, mereka menanyakan apa arti pembicaraan mereka bertiga tadi dikamar tadi, hanya dengan ekspresi di wajah mereka.
"Sono!" Bayu menghampiri dimana Alex dan Jihan berada. Dia mendorong Alex ke arah Sandi yang masih berada di depan pintu utama rumah itu. "Ya elahhhh, Amran nggak mungkin ngigit elu, elu--nya kurus gitu!" Bayu memaksa Alex untuk keluar dan berbicara pada Amran.
"Iya-iya! Kagak usah body shaming kenapa!" Alex paling males dibilang kurus, padahal dia memang sangat kurus.
Alex bukan tipe orang yang penurut, tapi dia selalu melakukan apa yang dikatakan Bayu padanya. Rasanya kata-kata apa pun dari mulut Bayu, terdengar seperti ada khodamnya di telinga Alex.
"Elu gila, Bay! Gimana jika Amran ngapa-ngapain Alex" bisik Jihan di dekat Bayu.
"Kagak akan, mereka nggak akan terang-terangan menyakitai kita!" ujar Bayu.
__ADS_1