Channel Teror

Channel Teror
Part 9


__ADS_3

Persis seperti di dalam mimpinya barusan, mimpi buruk yang terasa amat nyata bagi Alex.


"Apa pemilik rumah ini bernama Sandi?" tanya Alex kepada Amran yang baru saja tiba di bagasi mobil yang dia tumpangi.


"Kau kenal orang tu?" tanya Amran dengan logat Sumatra Selatannya yang kental.


"Nggak sih, tapi bener--kan pemilik rumah ini bernama Sandi?!" kata Alex.


"Iyo!" Amran sedikit bingung, bagaimana bisa Alex yang baru pertama kali pergi ke desa ini mengenal Sandi.


Setahu Amran, Sandi tidak pernah pergi jauh dari Desa air keruh ini.


Alex termenung, dia masih memikirkan mimpi yang baru saja dia dapatkan. Kenapa dia mimpikan hal itu, apakah mimpinya adalah sebuah pertanda. Tetapi pertanda semacam apa, Apakah pertanda buruk atau pertanda baik.


Alex turun dari mobilnya, ia melihati pemandangan sekitar dengan seksama. Dia ingin mengingat setiap inci tempat ini, dia tak mau kehilangan jejak rumah ini lagi.


"Ada apa Lex?" tanya Jihan.


"Enggak ada apa-apa, hanya saja gue ngerasa tempat ini nggak asing aja!" Alex mencoba mencari jawaban paling tepat untuk pertanyaan dejavu Jihan.


"Aneh Lu!" Jihan tentu saja merasa aneh dengan jawaban Alex yang selalu berpikir logis.


Meskipun begitu wanita berambut panjang yang ditata rapi dengan model keriting gantung itu mendekati Alex.


"Bagus ya pemandangannya!" kata Jihan, sudah sedari tadi Jihan mengamati sekitar tempat ini. Sebagai seorang penulis sekenario Jihan memang selalu jeli dengan sekitarnya.


"Lumayan!" timpal Alex.


Mata Alex sama sekali tak peduli pada Jihan, dia terus menelisik dan menghafal sekitarnya.


"Al...!" seru Jihan, ada sedikit raut ketakutan di wajah Jihan.


"Emmm,"


"Sebebernya rumah ini...,"

__ADS_1


Alex terdiam sejenak, lalu memandang Jihan yang kehilangan kata-kata.


"Rumah ini, adalah rumah yang ditempati Bang Tara, sebelum dia hilang--kan?!" sahut Alex.


"Iya, elu...?" Jihan masih terbata-bata.


Meski Jihan tak tau pasti, tapi Jihan sangat tau jika Alex membenci tentang pencarian kakaknya Tara.


"Nggak papa, gue juga pengen nemuin Abang gue!" ujar Alex.


Jihan terkejut, bagaimana tidak. Dia sudah diwanti-wanti oleh Bayu supaya tak menyinggung tentang Tara di depan Alex, karena takut Alex marah dan nggak mau meneruskan pembuatan konten di Desa Air Keruh ini. Tetapi kenyataanya Alex sama sekali tidak keberatan tentang hal tersebut.


"Elu yakin Lex?!" Jihan masih tidak mempercayai indra pendengarannya.


"Bagaimana pun Bang Tara itu adalah kakak gue! Menemukannya adalah kewajiban gue!" jawab Alex dengan ekspresi yang excited.


Alex tidak mau memikirkan tentang perkataan gadis belia yang muncul di mimpinya. Kata-kata gadis itu pasti hanya halusinasi rasa takut di dalam dirinya saja.


Sebab ketika kita merasa ketakutan dan tertekan, maka kita akan menciptakan sebuah halusinasi untuk membenarkan setiap perbuatan yang kita lakukan.


Jihan tersenyum bahagia mendengar pernyataan dari Alex. Dia berfikir akan sulit untuk meyakinkan Alex, tetapi kebalikannya Alex malah dengan senang hati bekerjasama dengan dirinya.


"Gimana kalau kita masuk dulu ke rumah itu! Kita lihat-lihat dulu, lalu kita diskusi untuk pembukaan konten ini!" ujar Jihan.


"Ayo!" Alex berjalan duluan menuju rumah Sandi yang masih tertutup rapat.


"Yang punya belom sampai, bentar lagi pasti sampai!" kata Amran.


"Ohhhh!" Jihan terlihat kecewa karena ternyata pemilik rumah belum berada di tempat itu.


"Dua menit lagi, orangnya sampai!" kata Alex setelah melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.


"Hehhhh!" Jihan terkejut dengan tebakan Alex. "Sok tau lu!"


Alex tak mau banyak bicara, dia sebenarnya juga tak yakin dengan tebakannya. Apa iya semua berjalan sesuai mimpi yang didapatnya. Jika tidak, kan dia jadi malu karena udah sok-sok--an menebak.

__ADS_1


"Hanya ini rumah yang tersisa! Rumah warga lain yang kosong, sudah disewa orang semua!" ujar Amran."Agak kecil, nggak papa lah yaaa!".


"Disewa orang?" tanya Alex.


"Iya, karena vidio yang kau unggah di Youtube itu! Banyak warga dari luar kota datang ke sini, mereka ingin memastikan tentang misteri Desa ini yang dikato Kakak kau itu!" jelas Amran.


"Elu sih Lex, banyak alesan! Kita jadi didahuluin--kan!" Bayu seketika menyalahkan Alex yang awalnya tak ada niatan untuk datang ke Desa ini.


"Yaaa maaf!" sahut Alex.


"Gimana kalau kita ngambil gambar pas matahari mau terbenam, pasti suasana horornya dapet banget!" usul Jihan tiba-tiba.


Jihan memang paling tau mencari suasana yang bagus untuk setiap vidio yang direkam Bayu.


"Bentar lagi hujan, jadi kalian pasang aja kamera di depan rumah ini! Menghadap ke sana nohhhh!" kata Alex.


Dia mengarahkan jari telunjuknya ke arah kanan rumah Sandi. Arah dimana harusnya Pos Kampling tempat pertemuan Alex dengan gadis muda dimimpinya berada.


"Cuaca panas gini, mana mungkin hujan Lex-Lex!" bantah Bayu.


"Lihat aja nanti, jam lima lebih dikit pasti hujan deras banget!" kata Alex dengan penuh keyakinan.


"Sok sakti lu, Lex!" Bayu masih membantah perkataan Alex. "Gue ngerakit kamera dulu ya, Ji!" Bayu buru-buru menghampiri satu tasnya yang berisi peralatan perekamnya.


Bremmmmmm


Bremmmmmm


Bremmmmmm


Alex sudah bisa menebak suara kenalpot montor yang besar dan berisik itu pasti milik Sandi.


Benar sekali, dan pas sekali, dua menit sejak Alex mengatakan pada Jihan bahwa pemilik rumah akan sampai di tempat dua menit kemudian.


Sandi dengan gerak-gerik yang sama seperti di mimpi Alex. Alex seperti melihat rekaman ulang dari sebuah vidio. Lelaki tampan itu tak merasa bingung tapi malah tersenyum puas.

__ADS_1


Siapa yang tak mau mendapatkan penglihatan masa depan.


__ADS_2