Channel Teror

Channel Teror
Part 12


__ADS_3

"Diem aja lu, bro?!" Alex menegur Amran.


"Ehhhh ndak papo!" ujar Amran, sedikit kaget. Sebab Alex menegur dengan nada bicara yang cukup keras.


"Iya, dari tadi elu diem mulu!" Bayu ikut menegur Amran.


Raut wajah Amran kini berubah bingung.


"Ndak kok, aku cuma ndak ngerti be samo bahaso kalian tu! Heheheheh!" Amran mencoba mencari alasan.


"Ohhhh kamu nggak tau!" Bayu sih bisa mengerti dengan alasan yang dibuat oleh Amran.


'Lelaki asli keturunan Lubuk Linggau itu, pasti tak faham dengan bahasa gaul orang Jakarta' pikir Bayu. Tetapi Amran sebenarnya sangat paham, apa yang tengah dibicarakan oleh berapa orang di depannya ini.


"Nihhhh, cepat diminum! Berani-beraninya elu sakit!" cerca Jihan. Gadis keibuan itu menyodorkan segelas air putih ke depan wajah Alex.


"Maaf Nyai, kagak akan gue ulangin lagi dahhh!" celoteh Alex.


"Jangan pernah coba-coba, elu jatuh sakit! Sampai konten Misteri hilangnya Kak Tara selesai, elu nggak boleh sakit!" kata Jihan kepada Alex.


Alex adalah wajah satu-satunya di konten Noron mereka yang kini tengah melejit. Tak mungkin Jihan atau pun Bayu rela, jika Alex sakit pasti akan menimbulkan beberapa kendala saat syuting nantinya.


Alex hanya bisa diam membisu, dia bimbang lagi. Tetapi dia hanya bisa pasrah kali ini, jika mencari dua wanita tadi bisa membuatnya menemukan kakaknya. Bukankah itu juga adalah hal baik juga.


Tiba-tiba saja Alex bisa berpikir seperti orang dewasa pada umumnya. Dia sekarang bisa merasakan sedikit rasa simpati kepada kakaknya. Entah karena apa, yang pasti bukan karena dirinya lebih bodoh dari kakaknya.


"Saat abangku di sini, siapa yang menjadi pemandunya?" tanya Alex pada Amran.


"Itu...Sandi!" jawab Amran.

__ADS_1


"Bisa nggak suruh Sandi ke sini malam ini?" tanya Alex. "Hujannya juga sudah mulai reda!" tambah Alex sembari melihat ke arah luar melalui jendela kaca di depan.


"Biso cak nyo, kutelpon dulu lah yo!" kata Amran.


Lelaki berkulit cerah tapi cenderung kusam, karena terlalu sering berada di bawah sinar matahari itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Sandi.


"Biso, dio nak kesini!" ujar Amran setelah menutup panggilannya pada Sandi.


Sedikit banyak, Tim Alex bisa faham dengan cara bicara Amran yang masih berlogat. Mereka sama sekali tak risih, karena ya bagaimana pun mereka tak punya pilihan lain. Hanya Amran satu-satunya orang yang mereka temukan untuk memandu perjalanan mereka.


Tak berapa lama Alex bisa mendengar suara deru motor yang dikendarai Sandi tadi siang. Suara itu makin jelas, tanda kendaraan dengan suara besar yang khas itu mendekati kediaman mereka.


"Ada apa, Am?" tanya Sandi, padahal dia baru saja memasuki pelataran rumahnya yang disewakan kepada Tim Alex.


Amran yang langsung keluar saat mendengar suara kenalpot motor Sandi memasuki halaman rumah itu, segera mendekati Sandi. Mereka berbicara dengan nada lirih, tanpa diketahui oleh Tim Alex yang berada di dalam rumah.


Kedua lelaki muda itu memasang wajah yang serius saat bicara bedua. Apa pun yang mereka bicarakan saat ini secara rahasia itu adalah hal yang amat penting.


"Iyo-iyo kak!" kata Sandi menirukan logat Sumatra Selatan yang biasa digunakan oleh Amran. Wajah Sandi sedikit tegang, saat akan masuk kedalam rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya dua tahun yang lalu itu.


Mereka bedua pun masuk dan segera duduk di antara Tim Alex.


"Ada apa ya, mas?" tanya Sandi ke arah Bayu.


"Kamu bisa nyeritaain gimana keadaan di sini, saat abang gue belom hilang?" tanya Alex pada Sandi.


"Biasa aja sih, Mas! Nggak ada yang aneh!" ucap Sandi yakin. "Cuma pas itu... Pagi-pagi sekali sebelum Pak Tara hilang, dia kekeh ingin pergi ke perbatasan Desa ini dengan Desa Pilip!" kata Sandi.


Lelaki muda dengan tubuh sedikit gemuk itu, tampaknya sedang tidak berbohong kepada Alex dan teman-temannya.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Alex sedikit memaksa Sandi.


"Saya hanya menunjukkan jalan dan arahnya saja!" Sandi terlihat meninggikan manik matanya, dia sedang mengingat-ingat apa yang terjadi saat itu. "Lalu mereka pergi kesana, mas! Tapi mereka nggak pernah kembali lagi ke sini sampai saat ini!" ujar Sandi.


Alex masih bingung dengan pernyataan Sandi, penjelasan Sandi benar-benar sangat tidak jelas. Karena hal itu Alex merasa, Sandi sedang menyembunyikan sesuatu dari Timnya.


"Ohhh iya, malamnya Pak Tara tanya ke saya! Pak Tara bertanya tentang gadis cantik dengan gaun merah!" ujar Sandi.


"Gadis cantik dengan Gaun Merah?" gumam Alex.


Apa mungkin gadis cantik bergaun merah yang dimaksud oleh kakaknya saat itu, adalah gadis yang menemuinya di mimpinya barusan.


Alex terdiam karena memikirkan kembali bagaimana dia bisa bertemu dengan sosok gadis cantik bergaun merah.


'Kenapa gadis bergaun merah itu ngomong, udah nunggu gue sejak lama?' batin Alex.


'Apa karena Bang Tara?' Alex masih bicara di dalam hatinya.


"Kalau boleh tahu Pak Tara dan Timnya, menginap beberapa hari di rumah ini?" tanya Jihan pada Sandi.


"Sekitar semingguan, Mbak!" jawab Sandi.


"Lalu selama seminggu itu. Kamu tahu nggak Pak Tara dan timnya melakukan apa saja di desa ini?" Jihan melanjutkan pertanyaannya kepada Sandi.


"Pak Tara dan timnya mencari informasi tentang keberadaan dua wanita, yang berkunjung ke desa ini!


"Kedua wanita itu hilang sekitar dua tahun yang lalu!" ujar Sandi.


Raut wajahnya berubah menjadi sedih, perubahannya sangat jelas. Sehingga tak ada yang tidak menyadari perubahan ekspresi di wajah Sandi.

__ADS_1


"Kamu kenal dua wanita yang hilang itu?" kini giliran Alex yang mencecar pertanyaan kepada Sandi.


"Mereka berdua adalah ibu dan anak! Anak gadis itu bernama Melinda dan ibunya bernama Lastri!" kata Sandi, karena memang itulah yang diketahui tentang Melin.


__ADS_2