
Langit yang mendung berubah menjadi gelap, setetes demi setetes air hujan menyembur ke bumi. Detingan tak kasat mata seolah sedang berbunyi, mengalihkan pandangan Alex dari manik mata gadis yang ia tolong.
Tatapan gadis itu masih bingung, ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Alex. Tapi visual Alex yang sangat tampan membuat lidah gadis itu kelu tak bisa bergerak.
Sejak tadi sang gadis tak memperhatikan lelaki yang berjongkok di depannya dengan seksama. Alhasil setelah mengamati sekali, gadis yang bernama lengkap Indri Damayanti itu langsung terkesiap ke dalam lamunan fana.
Masih dikuasai oleh tegangan aneh di dalam dirinya, Indri di tarik lengannya oleh Alex.
Tak peduli lelaki ini akan membawanya ke neraka, Indri sama sekali tak melakukan penolakan saat Alex menarik salah satu tengannya dan mengajaknya berlari ke arah sebuah pos kampling.
Bangunan kayu kecil beratap genteng itu terletak tak jauh dari tempat mereka bertemu, sangat cocok didapuk sebagai tempat untuk berteduh.
Pandangan Indri tak bisa melarikan diri dari pesona Alex. Wajah tampannya yang basah terbingkai indah oleh rambut sedikit gondrongnya yang basah pula.
Dengan tangan kanannya Alex menyibakkan poni koreanya ke belakang, agar tetesan air hujan yang membasai rambutnya tak menetes ke wajah glowing putih mulusnya.
"Pake hujan segala lagi!" keluh Alex.
Pemuda kota yang tak tau seluk-beluk desa yang dikunjunginya, malah dihari pertamanya harus kehujanan dan tak mungkin menerjang hujan untuk pulang.
Gerakan bibir dan ekspresi kesal Alex menjadi tontonan menarik di mata Indri.
"Gimana caranya gue bisa pulang kalau begini!" Alex masih berkata dengan nada kesal, namun Indri tersenyum dengan senyuman tercerahnya saat melihat kemarin di wajah Alex.
"Emang mas tinggal di mana?" tanya Indri dengan suara lembutnya.
"Di sana!" Alex hanya menunjuk lurus ke arah kiri tubuhnya.
__ADS_1
"Nggak usah bohong mas, mas ini bukan orang sini--kan?!" ucap Indri yang masih memandang dengan mata berbinar ke arah Alex.
Alex yang dituduh berbohong segera merapatkan sorot mata elangnya ke arah si penuduh yang tak lain dan tak bukan adalah Indri. Gadis muda belia yang tadi akan ia tolong, namun kecantikan gadis desa itu malah mengalihkan dunia Alex dalam sekejap mata.
"Ngapain gue pake bohong sama elu, nggak ada untungnya!" ujar Alex, ia sedikit malu karena Indri yang masih saja memandanginya secara terang-terangan.
"Mas ini bukan orang sini--kan?" tanya Indri.
"Bukan!"
"Makanya saya pake bahasa indonesia, karena saya yakin mas ini nggak bisa bahasa asli sini!"
Alex kembali memandang ke arah Indri yang sudah tak menautkan pandangan ke arahnya lagi.
Alex memperhatikan gadis belia yang tingginya hanya setinggi ketiaknya itu. Dari arah matanya, Alex dapat melihat wajah cantik yang manis Indri.
"Mas nggak takut?" pertanyaan Indri membuyarkan lamunan Alex.
"Takut apa?"
"Hujan Teluh!" ujar Indri.
"Apa itu?" tanya Alex, dia binggung tentang istilah yang baru saja disebutkan oleh Indri.
"Ini bulan Maret tahun 2022. Setiap 1 tahun di bulan Maret, Bulan Merah muncul di desa ini!
"Dan setiap kemunculan Bulan Merah itu, maka akan ada bencana yang menerpa desa ini!" jelas Indri.
__ADS_1
"Bencana?" Alex masih bingung dengan pernyataan Indri.
"Iya tahun lalu, ada 3 polisi dari luar desa yang menyelidiki desa ini hilang begitu saja!" ujar Indri.
Alex terdiam, dia sama sekali belum pernah mendengar tentang Bulan Merah atau istilah Hujan Teluh. Padahal ia sudah mengumpulkan banyak informasi tentang desa ini sebanyak yang ia bisa.
"Beberapa warga desa yang sudah mati sejak lama, tiba-tiba hidup lagi!" lanjut Indri.
Mata elang Alex terbelalak membesar, ternyata ada hal semacam itu yang bisa terjadi di bumi ini.
"Elu ngarang ya?" tanya Alex.
Hal tak masuk akal, semacam orang mati yang hidup kembali. Bukanlah hal yang mudah dipercayai oleh Alex yang notabennya adalah seorang lelaki berpikiran logis.
"Orang-orang di desa ini nggak akan menceritakan hal ini pada orang luar. Saya bilang begini ke kakak! Karena saya nggak mau kakak celaka!" ucapan Indri semakin membuat Alex bingung.
Alex tersenyum mencibir ke arah Indri. Dia masih tak percaya dengan perkataan Indri barusan. Gadis di depannya ini masih terlalu belia untuk mengerti urusan semacam itu, dan gelagat Indri yang sudah bisa dibaca Alex.
Indri pasti hanya mencari perhatiannya saja, karena Alex tampan dan sangat menawan.
"Nggak percaya kakak ini!" Indri memasang wajah kesal karena dicibir oleh Alex
"Percaya dehhhh, biar nggak ribet!" ujar Alex santai.
"Kak! Kalau kakak mau selamat udah pergi aja dari desa ini sekarang!" ujar Indri dengan nada yang memaksa.
"Gue kesini karena ada urusan! Meski gue pengen balik, gue nggak bisa!" jawab Alex.
__ADS_1
"Kakak mau ngapain emang?" tanya Indri.