Channel Teror

Channel Teror
Part 8


__ADS_3

Warna abu-abu menguasai seluruh hamparan langit di atas Desa Air Keruh. Hampir semua pasang mata memandang ke arah langit yang makin lama makin menghitam itu.


Raut khawatir tersirat jelas di setiap wajah yang menyaksikan fenomena di bulan Maret yang terjadi dua tahun belakangan ini.


Mata-mata para tetua mengedip perlahan, tak kuat rasanya memandang ke arah mega mendung yang semakin tebal. Mereka tampak menyembunyikan sesuatu di setiap ekspresi. Tak ada yang bisa menebak apa yang sedang mereka sembunyikan.


Bencana mungkin benar-benar akan terjadi di bulan ini, tetapi siapa yang tau bencana apa yang akan kembali menerpa desa ini.


Ranting-ranting kecil pepohonan bergoyang ria, air hujan masih terus membasahi bumi. Menyegarkan setiap senti titik di Desa Air Keruh.


Alex dengan tergesa berlari ke arah rumah Sandi, sesekali ia akan mendongak dan melihat pemandangan di sekitarnya.


Dia tak begitu hafal daerah yang dipijaknya, ini baru pertama kalinya ia melewati jalan ini. Namun Alex masih ingat betul bagaimana bentuk rumah yang direncanakan akan menjadi tempat tinggal sementara untuk dirinya dan teman-temannya tadi.


Rumah bergaya kuno dengan kayu papan sebagai bahan baku, entah untuk dinding atau jendela serta pintunya. Harusnya bangunan itu terletak di sebelah kirinya, karena waktu dia pergi dari rumah itu Alex pergi ke arah kanan.


Wajah tampan Alex masih menoleh kesana-kemari, dia berjalan cukup jauh tapi kenapa dia belum bisa menemukan rumah yang sama kriterianya dengan rumah Sandi.


"Harusnya rumah tadi ada di sekitar sini!" gumam Alex.


Lelaki itu berdiri di tengah jalanan yang masih dilapisi batu kerikil kecil yang tajam. Dari tadi dia berpikir, kenapa ada jalanan umum yang tak beraspal di negara ini. Tetapi pikiran itu seketika hilang begitu saja.


Sebab Alex merasa lebih bingung dengan keadaannya yang membingungkan, dari pada keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Dirinya tengah berdiri di tengah jalan, dengan kondisi diri yang basah kuyup dan kedinginan. Serta yang paling naas adalah, dia tak bisa menemukan rumah Sandi, rumah yang tadi menjadi tempat persinggahannya.


Alex masih mencoba untuk berpikir positif, dia berjalan kembali ke arah Pos Kampling. Dia berharap bisa menemukan rumah Sandi, siapa tau daya pandangnya melemah karena air hujan yang dari tadi menghantam wajahnya.


Ke kanan dan Ke kiri, Alex mengamati setiap rumah dengan sangat hati-hati. Tak ayal dia berdiri sebentar di depan setiap rumah yang ia temui, memandangi secara seksama lalu baru meninggalkannya.


Rasa menggigil yang menyerang tubuhnya, tak ingin dia rasakan. Tak ada jalan untuk kembali, meski dia berhenti mencari rumah itu. Dia juga tidak akan bisa melepas tersiksanya kedinginan di bawah hujan ketika matahari mulai memudarkan cahayanya.


Alex terus berjalan, seperti orang linglung yang hanya peduli pada rumah-rumah warga yang ia lewati. Sampai ia tersadar, jika ia telah melewati Pos Kampling tempatnya berteduh bersama seorang gadis cantik.


Matanya menyipit untuk menajamkan pandangannya ke arah bangunan dua kali dua meter persegi itu. Alex terdiam, dia mematung seolah tubuhnya sudah membeku karena dinginnya air hujan yang menguyurnya.


"Kemana cewek tadi?" Alex semakin dibuat bingung oleh tempat ini.


Alex memutar tubuhnya, ia kembali melihat sekelilingnya. Tetapi dia masih tak mendapati apa pun, gadis muda yang cantik yang ia temui, bekas sepeda jatuh milik sang gadis, bahkan rumah Sandi. Alex tak dapat menemukan satu pun hal itu.


Alex kebingungan sampai kepalanya terasa pusing, ia tak pernah menyangka akan berada di situasi semacam ini.


Situasi yang tak bisa dijelaskan secara akal sehat. Bagaimana mungkin dia bisa terjebak dalam situasi mengerikan seperti ini.


"Lex! Alex!!!" sebuah teriakan lirih menggema di telinga Alex.


Matanya membulat, dia kaget. Alex mengenali suara maskulin itu.

__ADS_1


"Bangun Lex!!!"


Alex terkesiap, dia langsung terengah ketika membuka matanya.


"Kenapa lu?" ternyata Bayu keheranan kepada Alex. Sementara Alex masih terdiam untuk mencerna keadaan yang baru saja ia alami.


"Bay?!" ujar Alex penuh tanda tanya.


"Napa? Kesambet lu?" Bayu segera menjauh dari Alex.


Alex mengedarkan pandangannya, dan keadaannya saat ini membuatnya semakin bingung.


"Apa yang terjadi ama gue?" tanya Alex lirih.


Saat ini kondisinya adalah duduk santai di dalam mobil, dan hari masih cerah. Mobil yang sama dengan mobil yang ia kendarai beberapa waktu lalu, mobil yang tak bisa ia temukan di tengah hujan lebat menjelang waktu magrib.


"Udah elu duduk aja di teras, biar gue ama Amran yang bawa koper-koper ini!" kata Bayu kepada Jihan.


Perkataan Bayu yang cukup kencang itu mengalihkan perhatian Alex, lelaki tampan itu memutar kepala dan badannya untuk melihat ke arah temannya berbincang. Kedua temannya itu sedang berada di belakang mobil, mengambil koper-koper yang di dalam mimpi Alex sudah dipindahkan oleh Amran ke dalam rumah Sandi.


"Rumah Sandi!" ujar Alex, dia baru ingat bahwa dia kehilangan rumah itu di dalam mimpinya.


Alex memutar kepalanya untuk mencari keberadaan rumah tersebut.

__ADS_1


"Ini aneh!" kata Alex dengan wajah super bingung.


__ADS_2