
Ada tiga laki-laki selain Alex di rumah ini, yaitu Bayu, Amran dan Sandi. Siapakah di antara mereka yang kira-kira punya hubungan sepesial dengan Jihan.
Amran dan Sandi, mereka baru saling mengenal hari ini. Tak mungkin, Jihan akan dengan gampangnya bercinta dengan pria-pria yang ia kenal.
Bayu--kah???
Tetapi Alex ragu, dia tak mernah melihat ada keistimewaan dalam hubungan keduanya. Alex memang bukan sosok yang perhatian pada sekitar, tapi jika menyangkut Bayu dan Jihan. Alex tak mungkin tak perhatian, hampir setiap hari ketiganya bertemu untuk bekerja bersama.
Jika ada sesuatu, seperti Romansa di antara Jihan dan Bayu. Alex tak mungkin tak menyadarinya.
Suara itu makin jelas terdengar, jeritan rasa puas seorang wanita beradu bergantian dengan suara kepuasan seorang pria juga. Alex tampak risih dengan suara yang ia dengar.
Ada sebagian manusia yang terlahir tak menyukai mengintip aktifitas bercinta orang lain, dan Alex adalah salah satu manusia itu.
Bagi Alex aktifitas semacam itu adalah urusan pribadi, Alex tak peduli Jihan sedang bercinta dengan siapa. Gadis itu sudah cukup umur dan dewasa, dia pasti sudah bisa membedakan baik dan salah.
Alex mencoba mengalihkan perhatiannya, ia melihat ada cahaya redup. Mungkin itu cahaya dari luar yang menembus jendela. Jadi Alex mengikuti cahaya redup itu dengan langkah yang hati-hati. Selain ia tak mau mengganggu aktifitas bercinta di kamar Jihan, ia juga tak mau terluka karena terjatuh atau menghantam sesuatu.
Cahaya yang tak begitu terang itu memang cahaya dari luar, cahaya bulan yang setengah purnama. Karena merasa di luar lebih ada cahaya yang membantu penglihatannya, Alex memutuskan untuk keluar saja.
Rasanya sangat sesak sekali ketika berada di dalam ruangan yang gelap. Apa lagi berada di rumah Sandi yang punya aura mistis.
"Astaga! Ayam! Babi! Anjing! Gajah!!!"
Saat membuka pintu depan rumah Sandi, Bayu juga hendak membuka pintu itu dari luar. Sehingga Alex kaget dan latah, padahal biasanya Alex tak pernah latah begitu.
__ADS_1
Mungkin karena sorot lampu senter besar yang dibawa Bayu, langsung mengenai wajah Alex.
"Kampret, gue pikir elu hantu!" Bayu tak kalah kaget dengan sosok Alex yang tinggi menjulang di depannya.
"Ngapain sih lu??? Malem-malem keluyuran!!!" Alex malah memarahi Bayu.
"Gue lagi ngedit vidio, tiba-tiba mati lampu! Makanya gue ngebangunin Amran ama Sandi buat ngidupin genset!" jelas Bayu.
"Terus kenapa lampu belom nyala?" Alex heran, harusnya lampu sudah nyala jika mereka semua benar-benar menghidupkan genset.
"Ndak tau kak...Ngadat kayaknya! Kak Amran butuh obeng! Tapi saya ndak berani masuk rumah sendirian, jadi saya ditemani Kak Bayu!" tiba-tiba ada suara lain selain suara Bayu.
"Lalu siapa yang ada di kamar Jihan?" tanya Alex tanpa berpikir.
"Kagak ada, Jihan ada di gudang samping sama Amran!" ujar Bayu.
"Yakin--lah!" Bayu tampak sangat yakin dan dia tak mungkin membohongi Alex saat keadaan mendesak seperti ini.
"Ehhhh malah bengong!!! Minggir dikit napa, gue ama Sandi mau masuk nggambil obeng! Biar tu genset cepat idup!" Bayu sedikit membentak Alex yang masih di mode terkejut.
'Suara ******* pria dan wanita itu??? Milik siapa?' Alex masih saja terpaku dalam keterkejutan.
Sementara Bayu dan Sandi menggeser tubuh tinggi Alex secara paksa, hingga membuat lelaki itu terhuyun ke samping.
'Hantu???'
__ADS_1
Alex masih tak habis pikir, apa iya dia sedang berhalusinasi?
'Gue yakin suara tadi, suara manusia!'
Alex yakin sekali dengan telinganya yang tak pernah salah. Jadi Alex berbalik ke dalam rumah lagi, dia berjalan dengan ketakutan ke arah kamar Jihan.
Karena pintu depan terbuka, cahaya malam yang lebih terang dari cahaya di dalam rumah, dapat membantu penglihatan Alex. Tanpa kesulitan Alex dapat menemukan kamar Jihan.
Secepat kilat Alex membuka pintu kamar Jihan yang ternyata tak dikunci, karena sang empunya sedang berada di gudang sebelah rumah Sandi bersama Amran.
Tiba-tiba sorot senter menerangi kamar Jihan, yang ternyata masih rapi. Kelihatannya Jihan belum mengunakan ranjangnya untuk berbaring.
"Elu kenapa sih Lex??? Kalau ngerasa ada yang aneh, elu cerita deh ama gue!" sorot lampu senter yang menerangi kamar Jihan adalah sorot senter milik Bayu.
"Semenjak sampai ke desa ini, elu jadi kayak orang lain dah!" Bayu melanjutkan celotehannya.
"Tadi gue denger suara cewek ama cowok, sedang in the hoy dari kamar ini Bay!" Alex tak bisa menahan hatinya lagi.
Dia tak bisa lagi menyimpan semua kejanggalan yang ia alami semenjak berada di desa ini.
"Elu salah denger kali, siapa yang ***-*** kalau hanya kita berlima yang tinggal di sini? Dan kita semua ada di luar!" Bayu mencoba menjelaskan situasi pada Alex.
Dibelakang mereka, ada Sandi yang terdiam dan memasang ekspresi ketakutan. Namun entah apa yang dia takuti saat ini.
"Kak ini, saya sudah dapat obengnya!" Sandi mengagetkan Bayu dan Alex.
__ADS_1
"Udah deh, ayo keluar aja dulu!" ajak Bayu. "Gue yakin elu cuma ketakutan aja karena semua gelap!" Bayu mencoba menenangkan Alex.
Sebenarnya Bayu juga curiga dengan kesaksian Alex, tetapi dia tak mau membuat Sandi yang berada di sana tersinggung. Bagaimanapun saat ini mereka tengah tinggal di rumah Sandi, Bayu tak mau diusir karena lagak sok taunya.