Channel Teror

Channel Teror
Part 14


__ADS_3

"Bay, coba puter ulang!" Alex memerintah Bayu dengan nada yang cukup keras.


"Ada apa?" tanya Bayu, masih tak sadar dengan maksut temannya.


"Puter ulang aja deh!" Alex kekeh sekali.


Bayu segera menuruti perintah Alex, meski dia sendiri sangat bingung dengan permintaan Alex.


"Elu lihat, itu cewek berhijab yang naik sepeda?" tanya Alex pada Bayu dengan antusias.


"Mata gue belom rabun, Lex! Ya lihat--lah!" ujar Bayu dengan nada kesal.


"Apa warna Hijabnya?" tanya Alex pada Bayu.


Bayu memutar kepalanya dan menusuk Alex dengan tatapan tajamnya.


"Lex elu pikir gue buta?" Bayu malah menuduh Alex.


Wajar saja Bayu mengatai Alex begitu, sebab pertanyaan Alex itu benar-benar menyinggung Bayu. Bagaimana tidak, vidio di dalam komputer yang sedang berputar itu sangat jelas sekali.


Gadis berkerudung yang sedang terburu-buru naik sepeda, karena hujan hampir turun sebelum waktu maghrib itu, bahkan terlihat sangat jelas karena hari belum terlalu gelap.


Alex menunduk takut, saat melihat tajamnya pandangan lelaki jawa itu kepadanya. Alex tak mau lama-lama memandang Bayu yang sedang berekspresi seperti itu, karena Bayu terlihat sangat menyeramkan bahkan lebih menyeramkan daripada hantu.


Alex yang tak punya alasan untuk membela diri pun, segera kembali ke ranjang lalu merebahkan tubuhnya. Dia langsung mengeluarkan suara dengkuran, untuk mengelabuhi Bayu.


Tentu saja Bayu hanya melengos, menghadapi tingkah laku Alex.


Bayu tak punya waktu untuk meladeni Alex, karena dia harus mengedit video yang baru saja dia dapatkan dari gerbang masuk desa dan juga rekaman sore ini.


Dia harus memilah gambar mana yang akan ditampilkan di Instagram dan juga di YouTube.

__ADS_1


Meskipun kedua platfon media sosial itu sangat berbeda secara konsep, namun Bayu tidak pernah mengupload gambar yang sama di kedua aplikasi itu.


Agar para pengikutnya tidak bosan dengan vidio-vidio yang ia upload nantinya.


.


.


'Jadi gadis berhijab yang gue temuin di pos kamling itu, adalah manusia?' tanya Alex di dalam pikirannya.


Dia tidak mungkin menceritakan semua itu kepada Bayu. Bayu itu memang orangnya pemberani, saking beraninya dia sering melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.


Alex tidak ingin Bayu akhirnya melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh warga desa ini. Bisa-bisa hidupnya dan juga hidup teman-temannya akan berada dalam bahaya.


Tidak ada yang tahu rahasia apa yang disembunyikan oleh warga desa air keruh. Bisa saja apa yang dikatakan gadis berhijab di dalam mimpinya, adalah benar.


Sebab itu Alex merasa dia harus sangat hati-hati, ketika menghadapi orang-orang yang berasal dari Desa ini. Dia tak mau meletakkan teman-temannya dalam bahaya.


.


.


.


.


Mata Alex terbuka, ketika ia mendengar suara hantaman aneh.


Suaranya persis seperti tembok yang terhantam batu dengan konsistensi rendah dan jarak waktu yang hampir sama.


Suara itu tak mau berhenti, hingga Alex bangun dari posisi tidurnya. Matanya masih sangat perih, karena dia baru memejamkan matanya beberapa saat.

__ADS_1


Suara benda tumpul yang saling beradu itu masih saja bisa didengar oleh Alex.


Alex yang masih setengah kantuk, mencoba mengkucek kedua matanya agar matanya tidak terlalu perih. Setelah itu ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar yang ia tempati bersama Bayu.


Tetapi dia tidak bisa menemukan Bayu di dalam kamar yang ia tempati saat ini.


"Apa itu Bayu ya?" gumam Alex.


Suara itu benar-benar mengganggu Alex.


"Tapi ngapain, malam-malam Bayu mukulin dinding?" tanya Alex heran.


Lelaki bertubuh jangkung itu segera berdiri dari ranjangnya dan menuju pintu untuk keluar dari kamarnya.


Suasana di luar kamar Alex, gelap gulita. Padahal Alex sangat yakin, meski di antara mereka bertiga Alex yang paling penakut. Tetapi Jihan, biasanya tidak akan membiarkan lampu di dalam rumah mati begini.


Apalagi saat ini mereka menempati rumah yang asing di desa terpencil dan malam ini adalah malam pertama mereka berada di sini. Sangat tidak wajar jika Bayu dan Jihan memutuskan untuk mematikan seluruh lampu di dalam rumah itu.


Alex berjalan dengan tangan menyentuh dinding, dia berjalan saambil mencari letak sakelar lampu. Namun entah kenapa ia tak menemukan sakelar itu dimana pun.


Alex tiba-tiba terdiam di tengah ruangan yang gelap gulita. Karena suara hantaman benda tumpul yang ia dengar makin lirih, tetapi ada suara lain yang kini memcuri perhatiannya.


Alex mencoba untuk menebak, sebenarnya suara apa yang dia dengar. Suara rintihan seorang wanita, yang aneh.


Dari tempatnya berdiri suara itu memang terdengar kurang jelas, apalagi suara ketukan tadi masih dapat didengar. Hasil suara rintihan wanita itu, hanya samar-samar dengar di telinga Alex.


'Suara apa--an ya?' batin Alex.


'Masa iya hantu???' Alex sudah merinding ketakutan, tetapi rasa penasarannya membuatnya tidak ingin kembali ke kamar.


Dengan perasaan menahan takut Alex kembali melangkahkan kakinya untuk maju dan suara rintihan itu makin lama makin jelas saja.

__ADS_1


'Ini sihhhhh...!' Alex faham. Suara rintihan wanita itu, memang terdengar tidak familiar sama sekali. Tetapi Alex sangat faham, jika suara rintihan wanita itu, bukan di akibatkan oleh rasa sakit. Tetapi rasa nikmatnya bercinta.


Satu-satunya wanita di rumah ini adalah Jihan, dan Jihan sedang bercinta dengan siapa???


__ADS_2