
Sahira aulia prayogo adalah seorang gadis ramah, periang dan sangat penyanyang berusia 23 tahun memiliki kulit putih dan bertubuh mungil dengan tinggi 155cm.
1 tahun yang lalu terjadi perampokan di rumah sahira, beruntung saat kejadian itu sahira masih di perjalanan pulang kerumah. Sesampainya di rumah sahira binggung melihat keadaan rumah yang berantakan saat mencari kedua orang tuanya sahira menangis histeris melihat keadaan orang tuanya dengan luka tembakan di kepalanya.
Setelah kejadian itu sahira sempat di Rehabilitasi psikiatri yaitu lembaga yang ditujukan untuk pasien yang mengalami masalah mental atau depresi.
Beruntung sahira mendapat dukungan dari kedua sahabatnya alvin dan mareta yang sama sama bekerja di perusahan property terbesar di pulau jawa perusahan Pradifta development adalah milik orang tua alvino pradifta.
Alvino pradifta biasanya hanya di panggil alvin adalah pewaris dari pradifta development, pria tampan berusia 25 tahun mempunyai sifat baik dan sangat bertanggung jawab.
Ibu alvin meninggal saat melahirkan alvin, selama 25 tahun ini alvin tinggal bersama adik tiri dan ayahnya bernama Padim pradifta. pak Padim pernah menikah satu kali setelah ibu kandung alvin meninggal.
Dari pernikahan kedua nya pak padim di karuniai seorang putri bernama Valerie pradifta. bu tiri alvin meninggalkan mereka saat umur velerie berusia 5 tahun, Stelah kejadian itu ayah alvin tidak pernah menikah lagi.
Mareta seorang gadis berusia 23 tahun cantik, tinggi, putih, baik dan pekerja keras.
Mareta seorang yatim piatu orang tua nya meninggal 2 tahun yang lalu, mareta tidak punya sanak saudara di jakarta, untungnya mareta dan sahira tinggal satu rumah yang di beli mereka bersama sama.
"Alvinn" panggil mareta dengan suara manja.
"apa??!!!" jawab alvin melotot tak suka pada mareta.
"Heeii sopan sedikit padanya!!!" sahira menjewer dan memutar telinga alvin, membuat alvin meringis kesakitan.
"Sakitt.... sakiitt... lepaskan" alvin meringis, memohon pada sahira agar melepaskan jewerannya. sahira melepaskan tangan nya dari telinga alvin yang merah.
"Kau mau makan apa etta sebutkanlah?" tanya alvin yang mengosok telinga nya yang pedes panas.
"kau tau saja jika aku ingin makan vin hahhaha" mareta tertawa puas melihat telinga merah alvin.
"Tentu saja aku tau, semenjak hamil kau sangat manja padaku" alvin mendengus kesal "apa kau punya cinta terpendam padaku?" alvin menatap kesal pada mareta yang memerintah seenaknya.
"entah kenapa aku dan bayiku ini sangat menyukaimu" mareta menggoda alvin, sementara sahira hanya mengeleng geleng melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Cepatlah katakan! kau membuatku emosi saja" entah kenapa alvin sangat geram pada mareta.
__ADS_1
"Aku ingin kau membelikan cilok di sebrang sana" Mareta menunjuk tukang cilok di sebrang jalan.
"Apa kau ngidam ratu yang rakus" alvin mengerutu sambil melangkah meninggalkan sahira dan mareta.
"Hahhahahhaha aku puas sekali, sebenarnya aku lebih suka mengerjaimu dari pada memakan cilok itu" mareta terbahak bahak. entah kenapa selama hamil mareta senang sekali mengerjai alvin.
mareta menoleh ke arah sahira dari tadi diam "Dia baik, perhatian dan tampan kan ra?" mareta menyenggol sahira yang dari tadi memperhatikan alvin.
Sahira menganguk "iya, dia calon suami idamanku etta" Sahira tersenyum menggingat wajah alvin.
"dia memang sempurna, baik dan selalu membantuku yah walaupun aku tau dia suka mengutukiku dalam hatinya" Mareta mengagumi alvin.
"heemm" jawab sahira singkat, entah apa yang dipikirkankanya. tanpa sadari alvin sudah suduk di di sampingnya.
"Berkediplah, aku sudah disampingmu" alvin menyegol sahira. Sahira yang terkejut langsung menunduk dengan pipi merona menahan malu.
"Ha ha ha ha ha pipinmu merona sekali ra " ucap mareta, alvin tertawa melihat sahira menahan malu.
"oh iya etta aku sudah mengurus cuti kerjamu, mulai besok kau istirahatlah di rumah" alvin mengalihkan pembicaraan dan menatap mareta.
"aku bosan di rumah tanpa pekerjaaan apalagi tanpa kalian" jawab mareta.
"kau benar ra, selama hamil dia menindasku seenaknya" alvin mengerutu.
"Terus dia bilang kayak gini kan vin" sahira berdehem menirukan suara mareta.
"alvin kau kan sahabatku jadi tolonglah pekerjaan ku ini dan belikan aku ini, jika aku yang melakukanya apa kau tega melihat keponakaan mu kelelahan?" sahira menirukan suara mareta. membuat mereka bertiga tertawa terbahak bahak.
"Ahh kalian memang tidak tulus menolongku" mareta melengos ke arah lain.
"Baperan!!!" alvin dan sahira serentak. keakraban ketiga sahabat ini membuat banyak orang iri.
"ohh ya etta, rumah sakit, perlengkapan bayi, perlengkapan untukmu melahirkan sudah selesai kami siapkan. aku juga sudah menghubungi dokter obgyn untuk membantumu melahirkan, dua minggu lagi kami akan mengantarmu periksa kehamilan mu itu" alvin menjelaskan panjang lebar hanya di balas anggukan oleh mareta.
"Kau baik baik saja ta?" tanya sahira melihat wajah pucat mareta.
__ADS_1
"aku ingin ke toilet umum" mareta berlari "Hati hati" sahira dan alvin serentak.
"Apa dia takut ra?" tanya alvin
"kurasa begitu vin" entah kenapa sahira sangat khawatir pada mareta.
"apa yang akan kita lakukan setelah etta melahirkan?" tanya alvin pada sahira duduk di kursi yang berhadapan dengan pintu toilet.
"apa kita akan menemuinya?" lirih sahira namun terdengar oleh alvin.
"jika di orang baik, pasti dari dulu dia akan mencari etta kan?"alvin melirih sahira yang menunduk "aku tau kekhawatiranmu ra"guman alvin dalam hati.
Setelah menunggu sekitar 15 menit alvin mondar mandir di depan toilet umum. entah kenapa kecemasaan alvin terjadi dari beberapa hari yang lalu, mungkin karna usia kandungan mareta sudah berusia 9 bulan.
"Aku khawatir padanya" alvin melihat pintu kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun. Sahira langsung menuju pintu kamar mandi.
gor gor gor
sahira mengendor pintu toilet umum "eta apa kau baik baik saja?" sahira terus mengedor.
Sahira menoleh ke arah alvin "dobrak saja pintunya etta gak jawab" sahira menarik tangan alvin.
dubrakk
alvin tekejut melihat mareta saat pintunya terbuka, alvin berlari keluar jauh dari toilet umum itu "dia begitu menjijikan" alvin mengatur nafas ngos ngosan.
"eettttaaaa" jerit sahira melihat etta yang bab menyetel musik full volume sambil ngupil. sahira menutup pintu dan berlari menyusul alvin
"Mataku ternodai oleh upil etta" alvin bergidik jijik melihat kejorokan mareta.
alvin dan sahira yang masih mengutuki mareta, dikagetkan oleh renggekan seseorang dari belakang ternyata itu mareta.
"Alvin minta maaflah padaku" mareta menjulurkan tangannya di wajah alvin. alvin menepis tangan mareta.
"males, tanganmu bau upil" alvin bersembunyi di belakang sahira.
__ADS_1
Ini novel pertama ku ya๐ bantu koreksi jika ada kesalahan๐
Bantu like, komen, dan juga vote nya ya Terima kasih ๐๐๐