
Keesokan harinya di bandara
"Jangan khawatir aku akan kembali setelah pekerjaanku selesai" alvin mengusap airmata sahira yang tak henti henti mengalir. "Kau akan baik baik saja bersama zayn tanpa aku" mengusap usap lembut pipi pemilik wajah mungil itu.
"iya kau benat aku akan baik baik saja tanpamu" tersenyum "Ayah sudah tua jangan selalu membebaninya, dia memberimu tanggung jawab besar untuk mengembangkan pradifta development disana" Sahira mengengam erat tangan alvin.
Alvin berbisik di telinga gadis itu "Saat pulang nanti, aku akan segera menikahimu" alvin membisikannya dengan lembut "Terima kasih" jawab sahira memeluk erat alvin akhirnya setelah bertahun tahun alvin mengucapkan kalimat yang sangat dinantikan oleh setiap wanita temaksuk dirinya.
"Maafkan aku karna terlalu lama melamarmu" alvin menangkup wajah sahira dengan senyuman lebarnya. Sahira mengangguk "Tidak masalah" lama alvin memandangi sahira penuh cinta "6 bulan? entahlah bagaimana caraku hidup disana tanpamu dan zayn" alvin mencium lembut kening sahira. lagi lagi yang dilakukan alvin meluluhkan hati sahira.
"Maaf aku tidak bisa menunggumu lepas landas,meninggalkan zayn bersama bibi dirumah membuatku sangat tidak tenang" jawab sahira gelisah.
"Pulanglah, Rawat dengan baik anak kita" tersenyum memeluk erat sahira.
Sahira melepaskan pelukannya menyalimi alvin dan pergi meningalkan bandara tergopoh gopoh.
bruuk
Sahira menabrak seorang pria. mendongak ke atas karna sosok pria itu lebih tinggi dari nya bahkan melibihi tinggi alvin "Maaf maaf, Saya terburu buru" Sahira menundukan kepalanya berkali kali meminta maaf.
Pria itu sedikit membungkuk menatap manik mata sahira "Kau harus membayar kekotoran jas yang mahal ini!!" pria itu berbicara dengan sedikit penekanan dan mengancam.
"Heii!!! Saya hanya menabrakmu, bagaimana bisa kau memintaku untuk menganti pakaianmu yang kotor!!! " sahira menunjuk wajah pria di hadapannya itu tanpa di duga duga pria itu mencengkram tangan sahira dan mencium jari jari mungilnya.
__ADS_1
Sahira langsung menarik paksa tangannya "Saya akan melaporkan anda atas tindakan kekerasan dan pelecehan!!" teriak sahira mengelapkan tangan di bajunya merasa jijik.
"Pelecehan?" Pria itu berfikir "Kau!!!" melotot ke arah sahira, namun sahira lebih cepat melarikan diri menghindari pria itu.
Pria itu langsung memutar badannya kebelakang, Menyeringai pada asisiten pribadinya. "Anda benar tuan" jawab radit tersenyum.
"Atur dengan baik dit" perintah zeand pada radit. "Baik tuan muda".
🍁🍁🍁
"Sayang pelukanmu pada sahira kemarin erat sekali membuatku merasa cemburu"Mareta memeluk erat alvin. "hahahha itu hanya ungkapan perpisahanku padanya tidak lebih, setelah itu aku tidak akan menemuinya lagi kan?" Alvin melu*** bibir merah mareta penuh nafsu membaringkannya di sofa yang mereka duduki menangkalkan satu persatu pakaian yang dikenakan mareta "Aku lelah" bisik mareta mengoda semakin menguncang gairah alvin.
Gerakan alvin terhenti menyadari bekas luka operasi di perut mareta "Belum?" tanya alvin kecewa, mareta mengelengkan kepala tersenyum. "Bayi itu selalu menyusahkanku" geram alvin melemparkan vas bunga sampai pecah dan menuntaskan hasratnya dalam kamar mandi.
Flasback on
"Dengarkan aku vin!" teriak mareta "Hentikan ta, aku tidak bisa melakukan yang kau inginkan. sahira sahabatku dan dia juga sahabatmu rencanamu sangat berlebihan?" bentak alvin mengusap kasar wajahnya.
"Kau mencintaiku kan? dan kau lihat sekarang aku sedang hamil ?" perlahan berjalan mendekati alvin "Aku akan menikahimu dan mengurus anak itu" geram alvin dengan alasan mareta yang berulang ulang.
"kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia ta tanpa menganggu kehidupan sahira" alvin membalikan badannya mengusap perut datar mareta.
"Jika kau tidak mendukungku jangan pernah temui aku lagi" mareta berjalan ke arah pintu "tunggu!!" alvin mengejar mareta dan memeluknya dari belakang "Jangan pergi dariku"pintah alvin menciumi leher jenjang wanitanya itu. seketika mareta membalikan badannya menangkup wajah alvin "Benarkah?" tanya mareta "Iya"jawab alvin menganggukan kepala.
__ADS_1
Senyum lebar menghiasi wajahnya berjinjit sedikit mencium bibir tebal pria yang menjadi salah satu pion untuk mencapai tujuannya itu. "Buat dia jatuh cinta" bisik mareta, alvin menghela nafas kasar menganggukan permintaan mareta.
7 bulan kemudian mareta melakukan operasi caecar untuk melahirkan putranya, mereka berkerja sama dengan dokter risa untuk memalsukan kematian dirinya dan membayar sangat mahal keluarga pemilik mayat perempuan yang sekilas mirip dengannya itu.
Beruntung obat tidur yang di berikan pada sahira berfungsi tempat pada waktunya, dengan cepat alvin memindahkan tubuh mareta dari kamar mayat dan mengantikannya dengan mayat orang lain.
"Ternyata sahira memang menganggapku seorang sahabat" mareta menyaksikan bagaimana histerisnya sahira saat penguburan mayat yang dianggap sebagai dirinya bahkan sahira sempat pingsan berkali kali, mareta sedikit menyesal karna harus memperalat sahabatnya sendiri. "Kau menangis hahahah?" tanya dokter risa tertawa.
"Hahahaha jika bukan karna kakakmu, aku tidak akan menyakitinya" mareta mengusap ngusap ponselnya yang terhubung oleh kamera tersembunyi dari salah satu pengawal yang berada di pemakaman "Maafkan aku"
"Kita mengunakan sahira dan alvjn sebagai pion untuk menghancurkan kakak ku dan ayah kandung dari putramu" dokter risa menyeringai. "Kau tidak ingin menemui putramu?" tanya risa mengejek.
"Biarkan sahira yang merawatnya beberapa waktu yang akan datang, aku bukanlah ibu yang baik untuknya" kemudia kedua wanita itu tergelak tawa karnq satu persatu langkah untuk menghancurkan Lewis group telah berhasil.
"Kakak mu sangat bodoh hahahaha" ejek mareta. "dia memang bodoh tapi kita harus sangat waspada pada asisten radit" raut wajah risa berubah khawatir karna yang dia tau radit bukanlah lawan yang bisa di remehkan nya.
"Perlukah aku menidurinya?" tanya mareta dan mereka bersulang kemenangan. Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan gerak gerik mereka dari balik pintu rawat "Kalian pikir akan mudah menipuku" pria itu menyeringai meninggalkan ruangan itu segera.
Flasback off
"Kau sudah menuntaskannya? tanya mareta dihadapan alvin. "minggirlah aku harus menemui ayah" mendorong keras mareta sampai terbelanggak "Peruttku" meringis kesakitan "Kau tak apa?" tanya alvin yang sangat khawatir langsung mengendong mareta menidurkannya di atas tempat tidur mencoba untuk menenangkannya sampai akhirnya tertidur dalam dekapan alvin "Ck, kenapa aku selalu memikirkan sahira" geram alvin.
Alvin berdiri di balkon kamar menatap langit malam, kerinduannya pada sahira semakin mengebu gebu bagaimanapun sahira cukup lama mengisi hari harinya sebagai sahabat dan pernah menjalin kisah cinta walau hanya sebatas rencananya "Ck, mungkin ini adalah perasaan bersalahku padanya" mengacak acak rambutnya.
__ADS_1
Alvin membaringkan tubuhnya disamping wanita dengan hidung lancip dan bibir tipisnya, mengusap lembut pipi tirus yang berbanding terbalik dengan pipi chuby milik sahira "Jangan pernah pergi dariku" ucap alvin memeluk erat tubuh wanitanya itu.