
Selesai menyusun semua belanjaan, sahira menyusul alvin ke dalam kamar.
"Baby zayn masih tidur?" tanya sahira. "Hemm" jawab alvin tidur di sebelah baby zayn.
"Kamu sudah mandi?" tanya sahira, hanya di jawab anggukan oleh alvin "beristirahatlah aku akan menyiapkan makan malam" sahira meninggalkan kamar.
Di meja makan.
"Dimana baby zayn?" tanya sahira
"Bersama bibi, selesai makan biarkan bibi tidur kita akan menjaga baby zayn" jawab alvin.
"oh ya, apa kamu pergi ke makam mareta siang tadi?" tanya alvin.
"Tidak, apa kamu kesana?" Sahira menyuapi alvin. Alvin mengangguk. "Kamu bawa mawar putih kesukaannya" dan di jawab anggukan oleh alvin.
"Tadi aku pikir kamu kesana, karna ada mawar putih baru di atas makam etta" Alvin bergantian menyuapi sahira.
"Mungkin kerabatmu yang datang kesana" jawab sahira alvin mengangkat bahu nya tidak tau.
Selesai makan alvin mengendong dan memberi susu baby zayn "Istirahatlah, aku akan menjaga putraku" Alvin.
Setelah baby zayn tidur alvin membaringkannya di samping sahira yang sudah tertidur pulas.
Alvin menelisik wajah manis sahira gadis yang baik hati "Ayah benar, aku sangat beruntung memilikimu" Alvin mengelus elus kening sahira. "Maafkan aku belum bisa menikahimu dalam waktu dekat ini" Alvin mengecup kening sahira lalu pergi meninggalkan rumah itu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Satu bulan kemudian sahira alvin dan baby zayn pergi mengunjungi makam mareta bersama, Ini pertama kalinya sahira membawa baby zayn keluar rumah. di depan makam mareta.
"etta kami datang bersama putramu" Sahira yang mengendong baby zayn.
__ADS_1
"kami merawatnya dengan baik dia memangilku mom rara, baby zayn juga mirip sepertimu dia juga suka menjahili dady nya alvin" Sahira menoleh ke arah alvin yang memayungi mereka.
"Etta lihatlah putrmu baik baik, kau pasti menyesal karna meninggalkanya" alvin mencoel pipi zayn, Sahira langsung menyenggol alvin "jangan bicara begitu".
"Maaf, hanya saja aku belum bisa menerima kepergiannya" alvin berjongkok mengusap nama mareta.
"Etta kau harus tau, zayn itu lebih senang di gendonganku daripada gendongan mom rara hahhaha" alvin mendongak keatas melihat sahira mengerucutkan bibirnya.
"Semenjak ada zayn aku merasakan jadi seorang dady seperti ayahku" ucap alvin.
"Etta kami akan menjaga anakmu sebaik baiknya" Sahira menaburkan mawar putih atas makam.
"Aku berjanji akan menjadi dady yang baik untuk zayn" alvin menyambung perkataan sahira.
"Kau pasti iri kan tidak bisa mengendong anakmu? kasian sekali dirimu hahahah" sahira menangis, Sama seperti alvin sampai saat ini sahira belum ikhlas melepas kepergian sahabatnya.
Alvin mendongak "Sahiraaa" sedikit penekanan "tidak boleh".
"Sekarang zayn akan mendapatkan orang tua yang lengkap, tidak seperti kita dulu hahhaha" alvin sedikit tersenyum getir.
"Sekarang pasti kau sudah menemui orang tua kita kan? sampaikan salam rinduku pada ibuku ya" alvin menyiramkan air di atas makam itu.
"Mareta aku berjanji akan menjaga anakmu selamanya, dimana dan dengan siapa zayn aku akan selalu disampingnya" ucap Sahira.
"Hari sudah sore kasihan baby zayn kelelahan" alvin memandangi langit sedikit mendung.
Kami pulang dulu ya, selamat beristirahat" ucap alvin
Sahira mengelengkan kepala mendengar ucapan alvin "Apa alvin selalu seperti ini padamu setiap hari ta?" Sahira tau alvin mendatangi makam mareta setiap hari "kau pasti bosan mendengarnya kan? kau pasti ingin mengusirnya kan? hahahha" Sahira menahan tawanya.
Alvin memayungi sahira yang mengendong zayn dan meninggalkan pemakaman bersama.
__ADS_1
Alvin sedikit melirik ke kanan "Sepertinya mereka mengikuti kami. ahh tidak mungkin!!" alvin mengacuhkan beberapa orang yang sepertinya memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Pulang lebih dahulu" Alvin menutup pintu mobil yang terdapat sahira di dalam nya. "Jaga mereka baik baik" Memberi perintah pada sopir pribadi keluarga pradifta.
Sahira menganggukan perkataan alvin, kepercayaannya pada alvin membuat sahira sangat mudah di bohongi.
Alvin masih tetap berdiri di tempat itu sampai mobil yang di tumpangi sahira menghilang.
Beberapa orang mengahampiri alvin "Dia berada di mobil" ucap salah satu orang pengawal bertubuh besar. alvin menyeringai licik memasuki mobil dan duduk di samping orang itu "Dua tahun kita menunggu hari ini" tawanya tergelak. "Sedikit demi sedikit kita akan menguasahinya" jawab alvin menyeringai licik.
"Tetaplah berpura pura" sahut mareta. "Wanita itu sangat menjijikan" Alvin menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita berambut lurus dengan makeup lebih mencolok dari sebulan yang lalu "Masih sakit?" tanya alvin mengusap ngusap perut datar mareta. Mareta mengelengkan kepalanya "Sudah lebih baik" jawab mareta mengusap lembut kepala alvin pria yang sangat di rindukannya.
"Cepatlah selesaikan aku sudah muak dengan gadis lemah itu!!" ucap alvin "Bukankah kau menikmati hari harimu bersamanya hahaha"Mareta mengejek "Kita membayar sangat mahal mayat itu" nada bicara mareta kesal.
"Aku harus pergi, besok aku akan menunggumu di bandara" Alvin menangkup wajah mareta, mencium lembut bibir wanita yang sangat dicintainya itu.
"Pergilah" mendorong tubuh alvin, alvin hanya tersenyum karna melihat hal lain yang diinginkan tubuh mareta "Jangan disini" bisik alvin semakin membuat mareta tersipu.
🍁🍁🍁
Alvin memasuki kamar mendapati sosok wanita yang tertidur memeluk bayi mungil di sampingnya, sosok keibuan pada sahira semakin membuat alvin tidak tega melakukan semua rencananya.
"Maafkan aku, selama ini kami selalu memperalatmu"Dalam hati, alvin melakukan semua keinginan mareta karna dia sangat mencintai wanita tersebut. apalagi semenjak mareta hamil darah daging orang lain membuat tekat alvin semakin besar untuk melakukan balas dendam.
"Kau disini vin?" tanya sahira terbangun dengan mata sayu, alvin mengembangkan senyuman lebar memasang wajah senduh dan tulus. "Aku harus pergi besok" ucap alvin. "Kemana?" tanya sahira risau "Newyork" jawab alvin.
"Bisakah kami pergi bersamamu?" tanya sahira penuh harap, alvin mengelengkan kepala "Aku berada di sana selama 6 bulan"ucapan alvin seketika melemaskan tubuh sahira.
"Jangan khawatir, bi ima akan menemanimu" alvin mengusap kepala sahira.
"Baiklah, bekerja keraslah" memberi semangat, alvin menarik dagu sahira lagi lagi mencoba untuk mencium bibir mungil itu namun yang terjadi sahira tetap Menghidariny "Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang berlebih" alvin kesal. "Kau sangat mencintaimu" berbisik di telinga berharap gadis itu akan luluh di tangannya.
__ADS_1
Sahira menunduk mengelengkan kepalanya "Kau harus menikahiku terlebih dahulu"ucap sahira, alvin yang sangat kesal meninggalkan sahira yang masih duduk di atas tempat tidur, membating keras pintu kamr itu meluapkan amarahnya.Sahira hanya tersenyum getir menatap kepergian alvin.
"Aku punya alasan tertentu menolakmu"