
ddrrrtttttt dering telpon gengam sahira.
"Ya" sahira mengangkat pangilan video dari alvin.
"calon istriku jutek sekali" Goda alvin.
"Aku malas berbicara" ketus sahira.
"Alvin sangat merindukan rara" goda alvin.
"Pulanglah secepatnya, aku bosan mengangkat 100 kali panggilanmu setiap hari" Sahira langsung mengakhiri pangilan video mereka "Aku juga merindukanmu vin" lirih sahira mengusap usap foto mereka bertiga di ponselnya.
3 bulan sudah kepergian alvin, sahira merasa sangat kesepian apa lagi alvin yang sangat sulit untuk dihubungi olehnya.
"Lebih baik aku pergi jalan jalan bersama zayn dan bibi" Sahira bergegas menghampiri zayn yang bermain dengan bi ima. mereka bertiga pergi ke mall yaang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal sahira.
"Bi ini uang pergilah berbelanja, kami akan menunggumu di anchor store itu" Sahira menunjuk anchor store toko ritell terlengkap di mall itu.
"Saya tidak akan meninggalkan kalian nona" jawab bi ima berbohong karna sebenarnya bi ima ingin sekali berbelanja untuk keperluan anak anaknya di kampung, dia menolak karna selalu tergiang ngiang pesan dari alvin untuk selalu berada di samping sahira dan zayn.
"Kami akan baik baik saja, bi ima bisa menelpon ku jika tidak menemukanku nanti" Sahira merebut stroller bayi zayn yang di pegang bi ima lalu meninggalkan bi ima yang sangat kebingunggan.
"Nona tunggu!!!" bi ima menyusul sahira. Sahira menoleh dan melambaikan tangan ke arah bi ima "Bersenang senanglah bi" sahira memasuki toko ritel itu.
"Terima kasih" bi ima meloncat kegirangan, pergi mengelilingi mall untuk berbelanja dengan uang cukup banyak yang di berikan oleh sahira tadi.
Sahira memilih pakaian anak laki laki seusia zayn, Zayn yang tertidur di stroller bayi menguntungkan sahira untuk lebih leluasa memilih pakaian.
"Telpon alvin ahh, ingin pamer hehehe" Sahira melakukan pangilan video, dalam hitungan detik alvin langsung mengangkat pangilannya.
"Tumben sekali" Dalam hati sahira karna biasanya sangat sulit untuk menghubungi kekasihnya itu.
"Dimana kalian?" Alvin sedikit kesal mengetahui sahira tidak ada di rumah.
"Menghabiskan uangmu hahaha" Sahira tertawa.
"Kamu bersama zayn?"
"iya bersama bi ima juga, kamu sudah makan siang?" tanya sahira
"aku merindukan masakanmu, membuatku tidak selera makan" jawab alvin mengoda.
"Aku tau kamu pasti merindukan semua tentangku kan?" Sahira dengan kepercayaan tingginya.
Alvin tersenyum "Bulan depan aku sudah pulang" mimik wajah alvin langsung berubah bahagia.
"cepat sekali" jawab sahira bahagia.
__ADS_1
"heeii apa kamu tidak merindukanku?" tanya alvin sedikit kesal.
Sahira mengeleng untuk mengodanya dan langsung memutuskan pangilan telponnya. Melanjutkan memilih banyak pakaian untuk zayn dan dirinya.
Sahira langsung melihat ke dalam stroller zayn saat mendengar zayn mengoceh tanpa henti, Putranya itu nampak menjulurkan tangannya ke arah seorang pria di depannya.
Sahira langsung mengendong zayn karna sahira tidak ingin zayn di pegang sembarangan oleh orang asing. Sahira semakin kebingunggan dengan sikap zayn yang menangis histeris dengan tangan menjulur ke arah seorang pria yang semakin mendekati zayn.
"Izinkan aku mengendongnya nona" pria itu tidak mengalihkan pandangannya dari zayn. Zayn semakin mengencangkan tangisannya dengan terpaksa sahira memberikan zayn pada pria asing itu.
Pria itu mengendong dan menciumi zayn tanpa henti, Tangisan zayn berhenti saat memegang hidung mancung pria itu.
"Mari nona kita duduk disana" tunjuk pria itu ke arah sebuah sofa santay, sahira mengikuti langkah pria itu melihat ke sekeliling "Dimana semua orang" gumam sahira dalam hati kebingungan.
Pria itu duduk di atas sofa itu dengan zayn di pangkuannya. "Duduklah" Pria itu melihat ke arah sahira lalu menepuk nepuk sofa yang ada di sampingnya.
"Saya duduk di sini saja" Sahira menarik sebuah kursi lalu duduk agak berjauhan dari pria itu.
"Siapa namamu?" tanya sahira tanpa basa basi.
pria itu tersenyum melirik sahira "Zeand" jawabnya singkat.
"Namaku sahira dan dia anakku zayn" Sahira dengan percaya dirinya.
"Zayn?? Sepertinya hampir mirip dengan namaku" zeand mengusap kepala zayn yang mengantuk.
"Zayn. Zeand. Zayn. Zeand ahh tidak mirip sama sekali" mengulanginya dalam hati.
"Kami bersama bibi nya zayn, bi ima pasti sedang berbelanja sekarang" Jawab sahira.
"Dimana suamimu?" Spontan Zeand. Sahira kebinggungan menjawab pertanyaan zeand.
Melihat sahira yang kebinggungan, zeand menyunggingkan bibirnya "Dimana ayahnya zayn?" tanya zeand semakin membuat sahira kebingunggan.
"Suamiku dan ayahnya zayn adalah orang yang sama, sekarang sedang bekerja di Luar negeri" jawab sahira gugup karna kebohongannya.
Zeand yang melihat kegugupan sahira merasakan kepuasan di hatinya "Suamimu pekerja keras ya?" tanya zeand, di balas anggukan oleh sahira.
"Berapa usia zayn?" zeand.
"7 bulan" jawab singkat.
"Maaf tuan zeand, anda sudah menikah?"
Zeand mengelengkan kepalanya. "Pria tua ini bujang lapuk hehhe" ejek sahira dalam hati.
"Untuk siapa anda membeli semua pakaian itu" Lirik sahira pada paperbag bermerek terkenal "Tuan ini kaya sekali" sahira melihat zeand dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Untuk anak saya nanti" jawab zeand. "Menikah saja belum sudah membeli baju sebanyak ini" lirih sahira.
"Saya pikir terlalu lama jika saya harus menyimpannya, Ini saya hadiahkan untuk zayn".
Sahira melonggo mendengar ucapan zeand "Terima kasih tuan, tapi maaf saya tidak bisa menerimanya suami saya bisa marah nanti" sahira tidak enak hati.
"Suamimu tidak akan marah jika dia tidak tau" geram.
"Tapi"
"Saya memaksa" zeand mengeluarkan aura dingin membuat sahira sedikit bergidik ngeri "Pantas saja belum menikah"Gumam sahira dalam hati.
"Terima kasih hadiahnya" sedikit menundukan kepala.
Zeand dan sahira berpindah ke tempat bermain untuk anak anak. "Dimana semua orang" lirih sahira terdengar oleh zeand.
"Mall ini milikku" Zeand.
"Sombong sekali" Bukannya kagum sahira merasa ifiel dengan pria yang senang pamer harta.
"Sombong? pasti suamimu hanya seorang tki kan?" Ejek balik zeand.
"Anda benar tuan" Jawab sahira singkat. Zeand hanya tersenyum smirk.
"Pria tua ini sangat berwibawa, tinggi rapi dan tampan. eh mungkin saja dia mengoperasi wajahnya mana mungkin ada orang setampan ini dari lahir" dalam hati.
"Mari kita makan siang" Zeand berhenti di depan restaurant seafood.
"Tidak tuan, suami saya melarang kami makan di tempat umum seperti ini" jawb sahira "Saya membawa makanan saya sendiri".
"Suamimu sangat hemat" Zeand.
"Anda benar tuan, suami saya memang hemat karna dia hanya seorang tki" jengkel sahira.
"Menikah saja denganku" Zeand melirik sahira.
"Anda murahan sekali" Menyungingkan senyuman.
Zeand sangat terkejut jawaban sahira karna sebanyak gadis yang pernah berkencan dengannya termaksud hoki besar,
"Saya hanya bercanda" ketus zeand.
"Zayn sudah tidur?"
hemm
"Berikan padaku, kami harus segera pulang" sahira mengambil stroller dari peganngan zeand.
__ADS_1
"Mari saya antar pulang" Zeand menarik kembali stroller zayn.
"Saya bisa pulang sendiri, berikan anak saya tuan" Sahira memaksa.