Cinta Atau Tuan Ceo?

Cinta Atau Tuan Ceo?
Eps 3


__ADS_3

Sahira dan alvin merasakan sesak didada mendengar yang di katakan dokter risa.


"Bagaimana bisa terjadi dok?" suara alvin gemetaran.


"operasi caecar yang di lakukan ini bukanlah operasi seperti biasanya, operasi caecar ini harus mengunakan prosedur operasi dikarenakan terdapat emboli cairan di tubuh nona mareta" dokter risa menjelaskan pelan pelan karna kedua orang di hadapannya itu seperti kebingunggan.


"Emboli maksudnya?" tanya alvin menaikan kedua alisnya.


dokter risa menghela nafas panjang.


"Emboli cairan adalah kondisi dimana masuknya cairan ketuban,sel bayi atau bahan lain dari rahim menuju sirkulasi darah, selain itu kondisi jantung bayi nona mareta sudah melemah" dokter risa


"Pilihan pertama nona mareta akan mejalani operasi anestesi yang menyelamatkan hidupnya tapi tidak bayinya.


Pilihan kedua nona mareta menjalani beberapa prosedur opersasi yang dilakukan dengan kesadaraan penuh menyelamatkan anaknya namun akan mempertaruhkan nyawa ibunya" dokter risa melihat jelas ketakutan di wajah dua orang di hadapannya.


"Apa sekarang etta sedang merasa kesakitan?" tanya sahira.


"Nona tidak merasa kesakitan, semuanya sudah baik baik saja tapi operasi harus segera di lakukan" jawab dokter risa."Baby nya bisa bertahan lama dok?" tanya alvin.


"Sebaiknya kalian cepat mengambil keputusan" dokter risa menatap intens alvin.


Alvin melihat wajah pucat sahira.


"kami akan memberi keputusan setelah menemui etta dok" dokter risa menggangukan kepala.


Alvin dan sahira berlari menuju ruang bersalin.


kleekk


alvin membuka pintu ruangan itu, berdiri sejenak melihat seorang wanita duduk dengan senyuman lebar di atas tempat tidur menyambut kedatangan mereka. Alvin berlari menghampirinya dan memeluk gadis itu.


"Hei mesum minggirlah aku juga ingin memeluk nya" Sahira menarik telinga alvin, dan langsung memeluk sahabatnya itu.


"Kapan lagi bisa dapat kesempatan memeluk seorang gadis hahahha" gurau alvin sambil mengosok telinga nya yang panas.


"lepaskan ra, kau membuatku sesak" etta mendorong pelan tubuh sahira.


Hahahahaha gelak tawa terdengar di ruangan ini.

__ADS_1


"Kau baik baik saja kan?" tanya sahira dibalasan anggukan oleh mareta.


"Apa yang terjadi?" sahira meraih tangan mareta lalu mengengam erat.


Mareta menundukan kepalanya "Setelah rara pergi tadi aku melihat seorang pedagang balon, aku ingin membeli 2 balon untuk ucapan terima kasihku pada kalian, Saat aku ingin mengambil uang di dalam cas handphone ada seorang pria di samping ku mendorong dan merampas handphone ku, Karna takut di salahkan pedagang itu meninggalkan ku sendirian disana" jelas mareta.


"Jangan melakukan apapun akan lebih baik untuk kami" alvin mengangkat dagu mareta lalu tersenyum manis.


"Maafkan aku" Mareta dan alvin saling berpandangan. Sahira hanya tersenyum melihat kejadian ini.


"Aku akan di operasi sebentar lagi kan?" tanya etta.


"Dan aku akan segera mengendong anak pertamaku" sahira mengelus perut besar mareta "Semoga pilihanku ini yang terbaik" sahira dalam hati.


"Apa kami berdua akan baik baik saja?" tanya etta menoleh ke arah sahira.


Sahira tersenyum "iya kalian akan baik baik saja, kita berdua akan bergantian menjaganya setiap hari"


"baby ku laki laki kan? aku akan memberi nama Zayn setelah lahir nanti" Mareta merasakan tendangan di perutnya.


"Dia menyukai nama itu ta" Sahira kegirangan.


"Setelah kau melahirkan aku akan menikahimu" alvin menatap mareta lalu menoleh ke arah sahira.


Degg.


Yang diucapkan alvin sangat menyayat hati sahira.


"Aku tidak ingin anakmu tumbu tanpa sosok ayah" Alvin mengengam tangan mareta.


"Aku menyetujui yang di katakan alvin, Kau jangan memikirkan dirimu sendiri sebentar lagi kau adalah menjadi seorang ibu jadi pikirkan yang terbaik untuk anakmu" sahira tersenyum pada mareta untuk menutupi rasa sakit di hatinya.


"Tidak bisa vin" Mareta melepaskan tangan alvin. "Antara persahabatan dan cinta itu dua hal yang berbeda, aku tau alvin tidak mencintaiku dan aku juga tidak mencintai alvin, aku tidak bisa memaksakan perasaanku untuk mencintaimu begitu juga sebaliknya kan vin ?" Mareta Menoleh sekilas ke arah sahira lalu menatap alvin kembali.


"ini demi kebaikan anakmu ta" alvin menatap intens mata mareta.


"Tidak vin kamu adalah sahabatku dan selamanya akan menjadi sahabatku, aku tidak akan bisa menerima mu sebagai suami ku" mareta langsung menoleh ke arah sahira.


"Kau harus memikirkan anakmu" Sahira mengengam mareta yang duduk di sampingnya, Namun mareta melepaskan tangan sahira.

__ADS_1


"Pergilah, aku ingin istirahat" Mareta menaikan kakinya ke atas tempat tidur langsung berbaring di samping sahira" Mareta membelakangi kedua sahabatnya.


"Dengarkan kami dulu" ucap sahira namun tidak ada jawaban dari mareta. Sahira dan alvin pergi meninggalkan mareta dan kembali ke ruangan dokter risa.


Di dalam ruangan dokter risa...


Dokter risa menyerahkan kertas pernyataan persetujuan pasien kepada sahira, saat membacanya sahira tidak bisa berhenti menangis.


"Ku mohon dok selamatkan keduanya" Alvin


"Kami akan lakukan yang terbaik, semoga yang maha kuasa menyelamatkan nyawa nona dan baby nya" dokter risa menatap teduh kepada alvin.


Sahira menandatangani surat persetujuan tersebut "Alvin, semoga yang kulakukan ini pilihan yang terbaik" sahira memegang tangan alvin.


"Kau wanita yang bijak ra, aku yakin keputusanmu ini yang tebaik" alvin membaca pilihan sahira lalu menoleh ke arahnya.


"Kami akan segara melakukan operasi nya, berdoalah" dokter risa memasukan surat persetujuan itu ke dalam sebuah map.


"Terima kasih, kami permisi dulu dok" Alvin dan sahira berjabat tangan dengan dokter risa.


Alvin dan sahira berjalan gontai menuju ruang bersalin, dari pintu ruangan sahira melihat mareta meringis seperti menahan sakit.


"Maafkan aku ta, aku tidak bisa kehilangan mu" gumam sahira dalam hati, alvin memegang bahu sahira dari belakang mencoba saling menguatkan.


"Aku berjanji jika etta dan baby nya selamat aku akan menikahinya bagaimanapun caranya" Alvin melihat sekilas ke arah sahira "Maafkan aku ra" lirih alvin.


Sahira yang mendengar kalimat terakhur alvin tidak menghiraukanya, sekarang yang terpenting keselamatan mareta dan babynya.


"Permisi" suara dokter risa dari belakang alvin.


"Apa akan segera di lakukan dok?" tanya alvin. di jawab anggukan oleh dokter risa.


Dokter risa dan beberapa perawat masuk ke ruangan bersalin itu, tidak menunggu lama keluarlah mareta yang terbaring di atas brankar di dorong oleh beberapa perawat. Sahira dan alvin mendorong brankar dari samping dilihatnya wajah mareta yang selalu tersenyum menatap ke dua sahabatnya bergantian.


"Tidak perku khawatir aku akan baik baik saja" Mareta tersenyum ke arah sahira.


"Kalian harus kuat, aku selalu mendoakan kalian." Sahira menahan air matanya, lalu mengengam tangan mareta.


Sesampainya di depan kamar operasi mareta tersenyum dan melambaikan tanganya ke arah kedua sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2