
Zeand masuk ke dalam kamar memberi isyarat ke arah risa untuk meninggalkan mereka. Risa mengengam erat tangan sahira dan tersenyum manis untuk memberi kekuatan menghadapi kakaknya.
Zeand menghampiri sahira duduk tepat di sebelah sahira menelisik wajah dan tubuh lepuh gadis mungil itu. ada rasa bersalah di hati zeand tapi kejadian pelukan antara alvin dan sahira membuatnya tersulut emosi, kedudukan nya yang tinggi membuat zeand merasa di injak injak harga dirinya.
"Tinggalkan Zayn dan pergilah bersama kekasihmu" Suara zeand memecahkan keheningan di antara mereka.
Sahira hanya diam tidak bisa menjawab apapun, Rasa takut terlihat jelas di raut wajahnya. Zeand mengengam tangan mungil yang gemetar mencoba untuk menenangkanya.
"Kau bisa menjawab pertanyaanku saat sudah lebih baik" zeand meninggalkan sahira. Sahira menghembuskan nafas lega oleh kepergian zeand "Zayn" lirih sahira menahan kerinduan pada putra kecilnya itu.
Beberapa hari telah berlalu luka lepuh di tubuh sahira mulai menghilang, seperti biasa sahira membuat sarapan dan selalu mengirim makan siang untuk zeand, risa dan mempersiapkan bekal makan jesika.
"Zayn" sahira mencium lembut kening zayn melepaskan semua kerinduannya.
"Zayn duduk disini, momy akan menyuapimu" Sahira sangat telaten menyuapi dan mengurus zayn dengan penuh rasa cinta.
"Kakak iparr!!" jesika memeluk sahira dari belakang, mengusel ngusel punggung sahira manja.
"Jes" sahira berbalik mengulurkan tangan kanannya "Maksudnya?" tanya jesika binggung.
"duduklah" sahira duduk berhadapan dengan jesika.
"jesika menganggap kak rara ini siapa? " tanya sahira lembut.
"Jesika menganggapmu sebagai kakak ipar, kakak kandung, dan seorang ibu" jawab jesika semangat.
"syukurlah, lain kali jika pulang atau pergi jesika wajib menyalimi orang yang lebih tua" sahira pelan menerangkan.
__ADS_1
"Menyalimi? kakak tidak pernah menyuruhku untuk menyalimi orang karna itu hal yang tidak penting dan akan menginjak harga diri kami sebagai orang kaya" jawab jesika polos.
"Jika jesi melakukan hal itu semua orang akan sangat menyukai jesi karna sudah melakukan attitude yang baik" sahira mencubit gemas pipi jesika. jesika tidak menghiraukan sakit di pipinya.
"Seperti ini?" Jesika menyalimi sahira. "kau memang sangat pintar"mengacak ngacak rambut jesika.
"Bolehkah jes menyalimi kakak zeand?" tanya jesika, sahira mengangguk mengiyakan dengan senyuman lebar.
Sahira dan zayn tidur siang dikamar mereka, tanpa di sadari zeand masuk mendekati sahira mengusap lembut rambut hitam dan panjang itu, memeluknya dari belakang hingga membuat zeand terlelap.
Sahira meneteskan airmata merasakan apa yang dilakukan zeand kepadanya, usapan lembut dan pelukan hangatnya sahira merasa itu adalah ucapan maaf zeand karna telah melukainya.
"Haruskah aku mencoba mencintai moster ini?" dalam hati.
Malam ini setalah hampir 2 bulan baru kali ini zeand berada di rumah setelah hari pernikahan mereka.
"kak" risa yang baru sampai menghampiri zeand mengulurkan tangan bermaksud untuk menyalimi kakaknya itu. zeand menatap ke arah risa tidak mengerti dengan apa yang di lakukanya.
"Seperti ini" risa menarik tangan zeand lalu menciumnya beralih menyalimi sahira dengan senyuman lebar. Langsung Duduk di sebelah jesika "Kakak langsung mempratekannya" bisik jesika mengacungi jempol.
"Ada apa dengan risa?" zeand bertanya tanya kebinggungan dengan sikap kedua adiknya, Selama makan malam risa dan jesika makan dengan sangat sopan sama persis dengan yang dilakukan sahira. Zeand melirik sahira sekilas lalu menyunggingkan bibirnya..
Di dalam kamar sahira meletakan zayn yang sudah tertidur, mencari cari keberadaan sosok monster dan menemukannya berada di sofa sedang menonton televisi dengan santainya.
Sahira menghampirinya duduk di sebelah zeand langsung meraih tangan memijit nya . Entah kenapa zeand tidak menolak dengan yang dilakukan sahira seolah olah tubuh sahira menarik jiwa zeand untuk selalu merasakan sentuhan gadis itu.
"Beristirahatlah" zeand meninggalkan sahira keluar kamar. sahira yang sudah terbiasa atas perlakuan zeand memilih untuk tidur bersama zayn.
__ADS_1
Braaakkk
Suara pintu yang terbuka keras mengangetkan sahira, dilihatnya sosok seorang pria masuk dengan langkah gontai sempoyongan.
"Tuan"sahira berlari menghampiri zeand memapahnya, namun karna dalam pengaruh alkohol zeand mendorong tubuh sahira hingga membentur dinding, menghimpitnya dan mengis*p kasar leher sahira.
Sahira memberontak tapi hanya sia sia, Zeand terus melakukannya hingga merobek paksa baju atas sahira.
Sahira semakin memberontak menangis histeris.
Zeand menyingkapkan rambut yang menutupi leher sahira tanpa di duga duga zeand menyodorkan rokok yang ada di tangannya berkali kali. sahira merasakan panas dan perih berteriak sekuat tenaga dengan tangis terisak.
"kau telah menghancurkan hidup sahabatmu apa ini yang kau inginkan wanita jalang" teriak Zeand mendorong sahira ke samping sampai tidak sadarkan diri.
Tangisan zayn menyadarkan zeand dengan apa yang dilakukanya. zeand menelpon risa untuk membawa zayn malam ini.
Zeand mengusap lembut wajah sahira yang sembab, memeriksa leher sahira yang terdapat beberapa luka bakar karna perbuatannya. "Maaf aku tidak sadar" lirih zeand memilih pergi meninggalkan sahira.
Berbulan bulan lamanya sahira tidak pernah lagi melihat kedatangan sosok zeand setelah apa yang terjadi malam itu.
Sahira tidak ambil pusing dengan keberadaan zeand karna sahra berfikir bahwa zeand menghabiskan waktu ke rumahh empat orang istrinya.
Sehari hari sahira mengurus semua kebutuhan zayn, ajaran attitude yang baik dari sahira menjadikan risa dan jesika berubah 180° dari yang sahira temui dari awal.
Terkadang sikap manja risa dan jesika yang berlebih membuat sahira selalu mengalah memilih untuk menuruti yang mereka mau.
"Aku sangat merindukan ve" lirih sahira menyelimuti zayn dan kedua adiknya yang memaksa untuk tidur bersama sahira.
__ADS_1