
Keesokan harinya sahira menitipkan zayn kepada baby sisiternya..
"Zeand tidak pulang?" Sahira bertanya pada risa saat berada di satu meja makan. Risa hanya mengelengkan kepala "Tidak pulang atau tidak tau?" tanya sahira lagi.
"Jangan bicara padaku kakak ipar sahira" risa.
"Kenapa kakak mu jes?" tanya sahira mengagetkan jesika.
"Kak risa akan dibunuh oleh kakak jika berani bicara padamu" jawab jesika keceplosan.
"Maksudmu?"
Jesika berlari meninggalkan meja makan karna takut keceplosan. "Tidak ada gunanya bertanya pada mereka berdua"gumam sahira dalam hati lalu pergi meninggalkan rumah menuju pemakaman.
Dipemakaman.
"Siapa yang datang kemari?" sahira melihat bunga baru di makam mareta. Sebelum mengunjungi makam kedua orang tuanya sahira mengunjungi makam mareta karna jaraknya jaij lebih dekat.
"Sudah lama aku tidak datang ya ta?" sahira tersenyum "Aku sudah menemukan ayah kandunh zayn dan maafkan aku harus menikah dengannya semua ku lakukan untuk menjaga zayn seperti janjiku padamu" tersenyum getir.
"Aku merindukan alvin" sahira tidak bisa menahan airmatanya. "Aku sangat merindukannya ta" sahira menangis terisak.
Lama sahira mengunjungi makam mareta selesai membacakan doa sahira pergi menuju makam orang tuanya.
"Ayah ibu" lirih sahira.
__ADS_1
"Rara kangen kalian, sekerang rara sudah menikah yah bu. sahira menikahi seorang monster tapi monster baik hehe"
"Monster itu tidak pernah menyakitiku yah, ayah ibu siapa yang mengunjungi kalian?" Sahira melihat bunga mawar putih bertaburan sama seperti di makam mareta.
"Ra" seseorang memanggil sahira lembut. sahira menoleh dan terkejut mendapati alvin yang berada di belakangnya.
Sahira memundurkan langkahnya menjauh dari alvin.
"Ra aku merindukanmu" ucap alvin dengan mata berkaca kaca.
"menjauhlah vin" sahira memalingkan muka menutupi kesedihannya.
"Ayo pergi bersamaku!" alvin mengulurkan tangannya "Aku masih sangat mencintaimu" mulai meneteskan airmata.
"Kita pergi ayo kita pergi meninggalkan mereka, zeand juga tidak mencintaimu kan? dia hanya menginginkan zayn berikan saja anak itu padanya" suara alvin meninggi.
"Kotor sekali mulutmu vin. kau ingatkan janji kita untuk mareta yang akan selalu menjaga zayn?"
"Janji? sampai kapan kita harus mengorbankan kebahagian kita untuk mareta?" Alvin langsung menarik sahira ke pelukannya "Aku merindukanmu" bisik alvin.
Sahira sempat memberontak karna pelukan dari alvin, tapi rasa kerinduannya pada sosok lelaki yang sangat di cintai membuatnya membalas pelukan itu.
Sahira mendorong pelan tubuh alvin "Aku harus pergi" alvin melepaskan pelukannya.
"Vin carilah sahira yang lain, aku bukan jodohmu semoga kamu bahagia tanpa ku suatu saat nanti" Sahira berlari penuh kesedihan meninggalkan alvin.
__ADS_1
"Setidaknya rasa rindu berkurang setelah memelukmu" alvin tersenyum getir melihat kepergian sahira.
Tanpa disadari sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan.
Sahira membersihkan tubuhnya dan sedikit memoles wajahnya untuk menutupi mata sembabnya.
"Kemari kau!!" zeand menarik paksa tangan sahira mendorongnya ke dalam bathtub kamar mandi dan menyalahkan air panas menyiramkanya keseluruh tubuh sahira "Panas panas tuan!!" teriak sahira memberontak namun kalah kuat dengan dorongan tangan zeand.
"Ternyata kau sama seperti wanita yang lain" Zeand meninggalkan sahira yang menangis sejadi jadinya menahan rasa panas di seluruh tubuhnya.
Sahira sempat di rawat oleh dokter pribadi karna luka lepuh di beberapa tubuhnya. Selama berhari hari Risa menjaga sahira dengan baik "Dimana zayn ris?" tanya sahira pelan. "zayn baik baik saja kak, jangan memikirkanya" jawab risa.
"Ris terima kasih" ucap sahira hanya di balas senyuman oleh risa.
"Ris"
"Kak kumohon padamu jangan bertanya apapun padaku, kakak menganggapku seperti adik kakak sendiri kan? ini demi kebaikan kakak dan risa" risa mengengam tangan sahira memohon.
Sahira tersenyum mengerti dan mengusap lembut pipi risa "Ve" dalam hati, sahira sangat merindukan valerie.
"Kak terima kasih telah menjagaku dan jesika, kakak mengingatkanku pada momy" risa tertunduk sedih.
"Setelah kepergian ayah dan ibuku hanya mereka yang selalu menemaniku sekarang aku memiliki kau dan jesika jadi anggaplah aku seperti kakak kandung kalian sendiri ya" sahira tersenyum ke arah risa.
Risa memeluk erat sahira meluapkan rasa rindunya pada sosok ibu kandung nya "kak zeand, risa menemukan ketulusan dihatinya" dalam hati.
__ADS_1