
Kini Hendry dan Anindita resmi menikah,dan Anindita harus menyesuaikan diri Tinggal di pondok pesantren, Awalnya Anindita Ragu ia takut apabila dirinya tidak bisa menyesuaikan.
"Gus, Boleh saya beristirahat, saya capek di perjalanan" Kata Anindita
"Silahkan, Kamar saya ada disebelah sana" Kata Hendry
Ayra menghampiri Abi dan Ummi nya, Anindita menghentikan langkahnya ketika mendengar gadis kecil itu memanggil suaminya dengan sebutan Abi.
"Abi umi mau kemana" Tanya Ayra
"Umi mau istirahat nak, nanti aja ya main sama umi" Kata Hendry
Anindita segera memasuki kamar Hendry, Lalu siapa Gadis kecil itu, mungkinkah adalah putri Hendry, lalu mengapa dirinya menyembunyikan statusnya.
Anindita tertidur hingga menjelang Magrib, Hendry segera membangunkan istrinya dan mengajaknya untuk jamaah sholat magrib bersama.
"Dek, Bangun udah mau magrib mandi dulu, lalu kita sholat bersama " Kata Hendry
"Iya Gus, saya permisi " Kata Anindita
Anindita segera mandi dan bersiap-siap tak lupa dirinya mengenakan gamis yang ada di lemari beserta hijabnya, Yang ia lihat dimana Hendry ternyata sudah berangkat ke masjid terlebih dahulu, Dan umi Abi dimana mereka.
Setelah selesai sholat berjamaah, Anindita segera kembali kerumah, Dia melihat Farah Haura Najwa Akbar, Sepertinya dia baru saja sampai, Yang Anindita tau Farah juga gadis kota Sepertinya, walaupun dia putri bungsu pak kyai namun dia sudah lama menetap di kota.
"Mbak Dita, Masuk mbak, kenapa disitu" kata Farah
"Maaf tadi saya kira saya ganggu" Kata Anindita
Ayra segera memeluk Aunty nya, Mereka sangat dekat sebelum Farah berkerja di kota, Ayra Farah lah yang merawatnya, Hendry menatap ketiganya, Tumben kumpul dirumah tamu.
"Ada apa tumben disini" Tanya Hendry
"Maaf kalau begitu saya izin ke kamar" Kata Anindita
"Apa kamu tidak mau keliling, Ayo saya temani" Kata Hendry
"Tapi Gus, nanti banyak yang bertanya saya siapa" Kata Anindita
"Umi" Kata Ayra memeluk Anindita, Anindita hanya menatap gadis kecil yang tiba-tiba memeluknya, sontak dirinya kaget karena ia belum terlalu dekat dengan Ayra.
"Dia adalah putriku,saya harap kamu menerimanya, seperti anak kamu sendiri " Kata Hendry
Kini statusnya berubah,bukan Anindita yang manja, melainkan Istri dan ibu, berubah secepat itu bukan, mungkinkah Anindita menerimanya, Kini Umi mengajaknya untuk memasak, Anindita Ragu karena dirinya belum bisa memasak bagaimana jikalau nanti dimarahin.
"Tapi umi, maaf Anindita tidak bisa memasak" Kata Anindita
"Gpp sayang, yuk umi ajarin, Dita mau kan belajar" Kata Umi Siti
"Dita mau umi" Kata Anindita
__ADS_1
Kini Anindita diajarkan masak oleh umi Siti, Walaupun masih banyak umi Siti yang mengerjakannya, Kini masakan sudah siap, umi menyuruh Anindita memanggil suaminya.
Anindita memasuki kamar, ia menghentikan langkahnya ketika mendengar lantunan ayat suci Alquran, Ternyata suaminya sedang mengaji, Selesai mengaji Hendry menatap Ke arah belakang, betapa terkejutnya ia melihat istrinya yang dari tadi di belakangnya.
"Maaf Gus, Umi menyuruh saya untuk memanggil Gus untuk makan malam, Saya kira Gus sedang tidak melakukan apa-apa, ternyata Gus sedang mengaji" Kata Anindita
"Gpp, Saya sudah selesai, tunggu ya kita turun bersama" Kata Hendry
Menurut Anindita, Hendry adalah pria yang dewasa, yang tidak pernah menuntut dirinya untuk menjadi yang ia harapkan, Tapi Dirinya juga harus menyesuaikan tempat dimana dirinya tinggal.
Selesai Makan malam, Dan Anindita membereskannya, Dan seleksi melaksanakan sholat, dirinya langsung masuk ke kamar, bukan tidak ingin ikut kumpul bersama,tapi dirinya masih canggung, Hendry menyusul istrinya yang sudah memasuki kamar terlebih dahulu.
"Gus maaf, bukan maksud saya tidak mau berkumpul bersama, tapi saya masih canggung, dan maaf jikalau saya belum bisa menjadi wanita yang seperti gus harapkan, saya mohon bimbingannya Gus" Kata Anindita
Anindita menundukkan kepalanya,ia tidak berani menatapnya, Padahal mereka sudah suami-istri tapi masih saja terasa canggung.
"Panggil saya mas dek, Kamu istri saya" Kata Hendry
"Baik mas, maaf" Kata Anindita
"Kalau bicara tatap dong, orang yang ngajak bicara, jangan menundukkan kepala seperti itu, apa saya terlalu menakutkan hingga kamu tidak berani menatap saya" Kata Hendry
Kini Anindita memberanikan diri menatap suaminya,pertama kalinya mereka tatapan mata yang lama, Hendry tersenyum menatap wajah istrinya, cantik sayang pemalu dimana sifat bar-bar nya.
"Boleh saya memeluk kamu" Kata Hendry
Anindita menganggukkan kepalanya, Hendry pun langsung memeluk tubuh istrinya, Anindita merasakan desiran yang sangat hebat, ini bukan pertama kalinya dirinya dipeluk oleh seorang pria, tapi kini mengapa berbeda apakah karena mereka sudah menikah, Anindita pun mengeratkan pelukan Suaminya, Membuat Hendry tersenyum sendiri ketika walaupun hanya sebuah pelukan, artinya Anindita menerimanya.
Anindita pun segera melepaskan pelukannya, Bisa-bisanya dirinya Larut dan langsung mencintainya, nanti bagaimana sandiwaranya, tiba-tiba handphone miliknya berbunyi, yang tertera adalah Eliya, ada apa dirinya menelfon.
Eliya mengajaknya untuk kerjasama,ya kerja sama dia harus menjadi model majalah, Anindita pun bingung bagaimana caranya, mana mungkin suaminya mengizinkannya.
"Hemm mas, Saya minta izin, untuk pergi kerumah, saya ada kerjaan " Kata Anindita
"Kerjaan apa dek, biar mas antar" Kata Hendry
"Tapi mas, lebih baik saya sendiri " Kata Anindita
"Kamu kan tanggung jawab mas dek, gimana kalau kamu kenapa-kenapa " Kata Hendry
Bagaimana Jikalau Hendry tau, bahwa Anindita akan mengenakan pakaian yang kurang bahan, Mungkinkah dirinya akan memarahinya habis-habisan, Untungnya lokasinya dekat dari Rumahnya, ia bisa berasalan untuk mengambil uang, setelah mendapatkan izin dari suaminya, Anindita segera keluar.
Kini Anindita sudah berada di Ruangan untuk memotret, Dan dirinya juga sudah ganti baju menjadi baju yang kurang bahan, ia sangat takut bagaimana jikalau dirinya mengetahuinya.
Hendry curiga ada yang tidak beres dengan istrinya, dirinya pun mengikutinya, Hendry geram melihatnya mengenakan baju yang kurang bahan, Hendry pun langsung masuk ke ruangan itu, Anindita terperanjat melihat suaminya, Bagaimana ini.
"Apa yang kau lakukan " Tanya Hendry
"Mas ini, saya" Kata Anindita
__ADS_1
Hendry segera memberikan jaketnya,lalu ia menggendong tubuh istrinya dan memasukkannya ke mobil, ia keluar lagi mengambil pakaian dan tas istrinya, Anindita sangat takut ia akan terkena marah dengannya.
Hendry menyerahkan Gamis dan kerudungnya, Anindita segera mengenakannya, Dari tatapannya terlihat kemarahannya, Sesampainya di rumah, tidak ada sepatah katapun, Ia hanya memberikan kode agar Anindita pergi ke kamar.
Kini Anindita sudah berada di kamar, Disusul oleh Hendry, Hendry menatap Tajam Anindita, Bisa-bisanya membohongi dirinya.
"Ini yang kau maksud perkejaan, Sudah puas, seharusnya Kamu bisa berpikir bahwa kamu seorang istri,dan Seharusnya tidak seperti ini, Tidak ada yang boleh melihat Aurat mu,tapi apa kau mengumbarnya, Apa yang kau mau, saya tidak habis pikir Dengan mu" Kata Hendry
"Apa salahnya sih mas, sudah dari dulu saya seperti itu, Mengapa sekarang kau protes " Kata Anindita
"Apa kau lupa, statusmu siapa, dan saya siapa, dimana sekarang kau tinggal, apa kau lupa " Kata Hendry
"Saya sadar, Tapi Bagaimana Saya bisa melepasnya, sedangkan itu adalah impian saya, Saya bosan mas disini terus-menerus,saya dirumah saya bisa ngapa-ngapain saya bisa keluar, Apa saya salah, Jikalau salah saya minta maaf mas" Kata Anindita
Anindita sudah tidak bisa membendung air matanya, Pertengkaran ini membuatnya lemah, Dimana Anindita yang selalu kuat.
"Kenapa sih semua orang selalu menyalahkan saya, dan sekarang kamu mas yang notabennya adalah suami saya, ikut-ikutan menyalahkan saya, saya capek kemauan yang saya mau tidak pernah tercapai, semua gara-gara Ray dia merebut nya, apakah dia akan merebut suamiku ini" Kata Anindita
Sebelum pernikahan, Papa Dita sudah menceritakannya, Bagaimana sifatnya Dita, yang terkenal egois tak mau mengalah, bahkan selalu menang dan yang selalu mengalah dan tersakiti adalah Anindira.
"Apa yang kamu katakan, Saya sudah tau cerita yang sebenarnya, bukan Mbak Ray yang merebutnya,tapi kamu kan yang memberikannya, ini masalah kita jangan di sangkut pautkan dengan Mbak Ray ataupun siapa, Kamu harus bisa mandiri bertanggungjawab atas kesalahan mu sendiri, jangan selalu mengandalkan papa mama, yang selalu seenaknya menyuruh orang untuk mengalah demi kebahagiaan kamu" Kata Hendry
Hendry tidak tega melihat istrinya yang berkaca-kaca,tapi juga bagaimanapun Anindita harus tau bagaimana tanggung jawab atas kesalahannya.
"Sudah jangan dipikirkan, segeralah mandi, Kita makan diluar" Kata Hendry
"Saya mau berdua saja, apakah boleh" Tanya Anindita
"Iya kita berdua saja, Segeralah mandi dan berdandan " Kata Hendry
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap kini Anindita menunggu Suaminya yang tengah mandi, selesai mandi Hendry pun segera bersiap-siap, mereka pun selesai dan turun bersama, Hendry akan mengajaknya keliling kota lalu makan, Anindita menghentikan langkahnya, Hendry heran dengan dirinya kenapa apakah berubah pikiran.
"Mas, Ayra sebaiknya kita ajak,Gpp kan, biar saya lebih dekat dengan Ayra" Kata Anindita
"saya ke kamarnya dulu" Kata Hendry
"Boleh saya ikut" Tanya Anindita
"Boleh ayo" Kata Hendry
Sesampainya dikamar Ayra, Ayra ternyata sudah mandi dan sudah cantik, Anindita menghampiri gadis kecil itu.
"Ayra mau ikut umi sama Abi, Kita mau jalan-jalan" kata Anindita
"Boleh Abi" Tanya Ayra
"Boleh yuk berangkat" Kata Hendry
Diperjalanan Ayra duduk di depan, duduk dipangkuan Anindita, Hendry sudah melarangnya,tapi kata Anindita tidak masalah, setelah sampai di taman kota, mereka pun turun, untuk pertama kalinya setelah kepergian istrinya, Hendry keluar bersama Ayra dan ke taman kota ini.
__ADS_1
"Boleh fotokan saya bersama Ayra" Kata Anindita
Setelah selesai berfoto, kini Hendry tidak mau kalah, mereka Selfie bertiga, Tau aja kalau Anindita akan mempublikasikan Penikahannya.