
Farah, Farah Haura Najwa Akbar, Dia besar disini namun kehidupannya dimulai saat dia bekerja di kota, sebagai sekretaris CEO, Farah menyukai Pria itu, Ya tidak lain adalah Adik bosnya sendiri, Tapi mana mungkin keluarganya akan menerimanya, sedangkan dia pria yang hidup di Kota,
"Bagaimana ini, Ingin aku pulang, Tapi kenapa perasaanku kemana-kemana" Kata Farrah
Kelvin Andreas Joshua Abraham, Pria berusia 29 tahun, Dia terkenal cuek, Dingin, dan Tentunya pemarah,egois ya dia sangat egois, mengapa Farah menyukainya padahal Kelvin tidak menyukainya, Farah dan Kelvin berbeda 7 Tahun, Tapi Baginya tidak masalah, Asalkan Kelvin dewasa dan bisa membimbingnya, Keenan Jack William dia adalah Kakak dari Kelvin yang berniat Menjodohkan Farah Dengan adiknya, Lidya Anya Julia dia adalah istri Keenan yang juga setuju dengan keputusannya.
"Lebih baik mas, Nyuruh Farah cepetan kembali" Kata Lidya
"Cutinya masih lama kali, kasihan dia kan rindu keluarganya" Kata Keenan
Farah mendapatkan Telfon dari kantor, katanya ada pekerjaan yang harus diselesaikan, bagaimana ini ingin sekali ia lama-lama dirumah, tapi kerjaannya tidak bisa ditinggalkan.
"Cepat sekali liburnya dek, Apa gak bisa ditunda " Tanya Hendry
"Maaf mas, tapi ada pekerjaan dari kantor" Kata Farah
"Mas mau tanya, apa kamu mempunyai pacar" Tanya Hendry
"Farah tidak punya mas, mana mungkin Farah mempunyai pacar, Kemungkinan Farah akan langsung menikah saja" Kata Farah
"Syukurlah, Abi dan umi mau menjodohkan kamu" Kata Henry
"Apa Maksud mas, Farah gak mau dijodohkan, Farah mau cari sendiri" Kata Farah
"Mungkinkah yang kamu cari, sudah bisa direstui Abi dan umi Farah, Pikirkan sekali lagi" Kata Hendry
"Aku minta pengertian dari mas, tolonglah mengerti adikmu ini" Kata Farah
"Bagaimana maksudnya kamu,Apa mas Kurang mengerti kamu, Sampai kamu bisa kerja di luar kota, dan mas yang disini, apa mas kurang mengalah, Suatu hari nanti , kamu yang disini dan mas akan membawa istri dan anak mas untuk tinggal di luar kota,kamu tunggu waktunya " Kata Hendry
"Mas gak bisa gitu, aku kan sudah diluar kota" Kata Farah
"Mas juga harus bagaimana,apa harus terus-terusan mas membela kamu di depan Abi dan umi Farah, Agar mereka bisa memaklumi keputusan kamu, apa keputusan kamu yang kurang mereka iyakan,apa kurang pengorbanan Abi dan umi" Kata Hendry
Sedangkan di luar sana, Anindita mendengarkan semuanya, Jadi Farah terlalu di kekang, dan sekarang harus menuruti kemauan keluarganya, Anindita pun segera mendekati mereka, walaupun rasanya tidak pantas dia ikut campur.
__ADS_1
"Maaf mas, bukanya Anindita ikut campur, tapi saya sebagai istri kamu, hanya menyarankan jangan terlalu mengekang Farah, bagaimana kalau dia tidak kuat dengan semua ini, lalu dia melakukan hal yang tidak kita duga, siapa yang akan malu, kita juga kan mas, Farah berhak menentukan pilihannya, Saya tau mas ingin yang terbaik untuk Farah, namun bagaimana kalau mas terlalu memaksakan kehendak mas, dan Farah tidak menyukainya, Pikirkan mas, mas juga mempunyai seorang putri, bagaimana kalau Ayra akan memberontak nantinya dan menentukan pilihannya sedangkan, Mas sendiri tidak merestuinya ataupun tidak menyukainya,dan Ayra memberontak dan melakukan hal yang tidak terduga " Kata Anindita
"Jangan ikut campur, Kamu gak tau hal ini" Kata Hendry
"Mas tolonglah mengerti,saya mohon,kali ini sampai benar-benar Farah menikah,lalu kamu akan terlepas kan, tanggung jawab abi dan tanggung jawab kamu akan berpindah ke suaminya nanti" Kata Anindita
"Oke Farah, kali ini mas menyetujuinya, Terimakasih Dita" Kata Hendry
Sepeninggal Hendry, Farah hanya berdiam diri menatap Punggung Anindita,dan Anindita segera membalikkan badannya menatap adiknya,ia memeluknya, bagaimanapun ia pernah diposisi Farah.
"Semangat far, Kalau ada apa-apa cerita ya sama aku, insyaallah aku bantuin, jangan sungkan anggap aku sahabat kamu" Kata Anindita
"Makasih mbak Andin, Farah pamit ya, titip Abi dan umi, dan bang Hendry beserta Ayra, Farah pulang akan membawa Calon suami mbak" Kata Farah
"Oke kabari mbak, Kamu punya kan nomer aku" Kata Anindita
"Nanti Farah kabarin ya mbak" Kata Farah
Kini Anindita dan Hendry menatap adiknya yang tengah membawa koper dan paperbag itu, kini mereka ada di bandara, Awalnya Banyak lika-liku yang Farah hadapi, Hendry menatap Anindita, Dan Anindita membayangkan di posisi adiknya itu.
"Mari pulang " Ajak Hendry
"Saya akan mempertimbangkannya, semoga pilihannya tepat, mari pulang, atau mau belanja dulu" Kata Hendry
"Kita belanja dulu, apabila mas tidak keberatan " Kata Anindita
Kini Anindita membutuhkan Stock camilan dan beberapa minuman, Karena beberapa hari menjadi istrinya Hendry,ia harus memendam emosi, jangan sampai mengetahui tujuannya, setelah selesai memilih beberapa camilan dan beberapa minuman, dan kebutuhan lainnya,kini giliran Hendry yang membayarnya, Anindita ingin membayarnya sendiri tapi Hendry mencegahnya.
"Sudah gak mau tambah yang lain" Tanya Hendry
"Ini saja cukup" Kata Anindita
Ayra dirinya sedang bersama umi, kenapa tidak bersama nenek satunya jawabannya, karena sekeluarga hilang entah kemana.
"Apa keluarganya mamanya Ayra tidak berada di kota ini mas" Tanya Anindita
__ADS_1
Hendry langsung menghentikan langkahnya,ia langsung menatap istrinya, Hendry lupa bahwa istrinya tidak tau bagaimana ceritanya.
"Mereka menghilang dan saya tidak tau dimana, sudah jangan dibahas yang penting keluarga kita kan" Kata Hendry
"Baiklah, sebaiknya kita pulang " Kata Anindita
Tapi ditengah perjalanan di Parkiran, Mereka bertemu dengan Mama Fina, Hendry aja diam saja, Anindita pun bingung siapa di depannya ini.
"Hendry dimana Ayra" Kata Mama Yulia
"Dirumah ma" Kata Hendry
"Ini siapa, cantik sekali" Kata Mama Yulia
"Istri saya ma, Permisi ma kami mau pulang" Kata Hendry
Anindita mengikuti langkah Hendry, Kini Anindita paham siapa ibu di depannya ini, ternyata mertuanya Hendry.
"Kenapa mas sangat cuek, dia kan neneknya Ayra kan" Tanya Anindita
"Tapi dimana saat saya membutuhkan mereka, Ketika Ayra lahir, mereka langsung meninggalkan saya, apakah saya harus bisa menerimanya lagi, sedangkan saya sudah mempunyai istri" Kata Hendry
"Jadi kamu membesarkan Ayra sendiri, Saya kira mereka sangat baik, tapi ternyata " Kata Anindita
"Ya begitulah, Sudahlah jangan dibahas" Kata Hendry
Anindita mengajak Hendry untuk makan diluar, Awalnya Hendry tidak mau tapi Anindita memaksa, Akhirnya Hendry pun mau makan bersama.
"Ayolah mas" Kata Anindita
"Baiklah,Kamu memaksa saya" Kata Hendry
"Lagian saya gatau daerah sini mas, Oh ya kita boleh gak sih pulang ke kota dulu" Kata Anindita
"Untuk apa" Tanya Hendry
__ADS_1
"Untuk ya saya merindukan rumah, Tapi gpp kalau mas gak mau yaudah Dita disini aja" Kata Anindita
Anindita dan Hendry kini makan bersama, dinner kedua sebagai suami-istri, Anindita bingung bagaimana jikalau dirinya luluh kepada Hendry, sedangkan perlakuan Hendry kepada dirinya sangat baik, sedangkan niatnya hanya sudahlah.