Cinta Dalam Kecewa

Cinta Dalam Kecewa
berkemas


__ADS_3

Nayla masuk kedalam rumah masih menenteng ember kosong ditangan nya. Nayla berjalan melewati ruang makan seketika matanya tertuju melihat semua sudah duduk dimeja makan seperti hendak bersiap mulai makan.


" nay...sini makan..." panggil Bu Mirna sambil melambaikan tangan.


"iya ma ..." ucap Nayla mengangguk kemudian melangkah mendekat.


"kamu dari mana ...bawa ember segala...." ucap buk Mirna sambil mengerinyitkan keningnya.


" oohhh....ini ma habis jemur kain..." ucap Nayla tersenyum kecil.


" loh kok nyuci baju sendiri .... mama udah bayar orang sekali dua hari datang untuk mencuci dirumah ini ..." ucap buk Mirna menatap Nayla.


"ehhmm ...cuma sedikit ma...." ucap Nayla kikuk.


" ya udah sini duduk dekat Arga....kita makan bareng...." ucap buk Mirna menunjuk kursi kosong yang bersebelahan dengan Arga.


Nayla pun mengangguk kemudian menarik kursi yang telah ditentukan tadi dan langsung duduk disana.


acara makan bersama berlangsung dengan khidmat sehingga hanya terdengar bunyi dentingan sendok beradu dengan piring, semua asyik menikmati makanan siang ini tanpa ada perbincangan karena dalam tradisi yang ada memang melarang untuk makan sambil bicara bisa mengakibatkan tersedak atau dipandang dalam sudut etika tidak terlihat sopan.


setelah selesai makan dan semua peralatan makan yang kotor pun sudah disingkirkan kebelakang dan meja pun sudah dibersihkan. semuanya.


tanpa komando semuanya berjalan kearah ruang tengah untuk duduk santai di sofa panjang berwarna maron yang empuk dan lembut yang berbentuk elegan,sambil menonton televisi pelepas lelah.


"mam....aku akan pulang kekota besok pagi.... karena urusan kantor sudah banyak menumpuk.... tidak bisa ditunda lagi...." ucap Arga menatap ibunya dari samping karena duduknya bersebelahan dengan ibunya itu.

__ADS_1


" kenapa buru-buru pulang ....itu gunanya gadget diciptakan untuk mempermudah pengiriman data....jadi kan bisa dikerjakan disini ....gak perlu harus dikantor kan..." ucap buk Mirna cuek masih menatap layar televisi sambil memeluk bantal kecil.


" ma ....kalau kerjaan yang menggunakan gadget bisa dirumah ... gimana dengan pertemuan penting dengan klien-klien dan urusan lapangan lainnya gak bisa ma... besok pagi Arga pulang kekota....kalau mama mau pulang kapan nanti Arga jemput...ok...." ucap Arga bersikukuh.


" kenapa Nayla gak kamu ajak sekalian.... dia istri mu yang akan mengurus mu dikota..." ucap buk Mirna menatap sedikit kesal.


" Nayla biar disini dulu jagain mama .... Arga bisa ngurus diri sendiri kok... lagian kan Nayla masih nungguin kelulusan dan ijazah ma..." ucap Arga beralasan.


" nggak bisa....Nayla harus ikut kamu besok pagi... kalau gak bersama Nayla gak boleh kamu pulang....titik gak ada debat lagi ..." ucap buk Mirna sambil menatap tajam anaknya.


" terserah mama sajalah....Arga mau membereskan pakaian dulu dikamar..." ucap Arga bangkit dan langsung menuju kekamar dengan langkah cepat tanpa menoleh dan meminta persetujuan sedikit pun.


buk Retno menggenggam tangan anak nya Nayla dengan hati hancur dan sedih karena hati kecil seorang ibu dapat merasakan dan melihat sikap Arga yang cuma menghargai ibunya saja tanpa menatap Nayla sedikit pun yang sudah sah jadi istri nya, buk Retno merasa putri nya tidak ada dihati Arga sedikit pun walaupun Nayla selalu memuji Arga tapi buk Retno merasa ada sesuatu yang janggal dalam hubungan rumah tangga anaknya.


"Nayla....kamu siap-siap juga sekalian bantuin Arga berkemas ya....kamu gak keberatan kan ikut Arga kekota walau kamu belum menerima ijazah...." ucap buk Mirna menatap lembut menantunya yang cuma diam dari tadi.


"jeng Retno gak keberatan kan kalau Nayla ikut kekota sama suami nya kan...." ucap buk Mirna menatap buk Retno yang berwajah sedih menatap anaknya yang pergi kekamar.


"uuhhmm....gak lah jeng Mirna... namanya istri itu memang harus ikut kemampuan suaminya..."ucap buk Retno mencoba tersenyum.


"aku tahu jeng sedih berpisah dengan Nayla .... tapi mau gimana lagi jeng.... kita harus rela orang tua demi kebahagiaan anak..." ucap buk Mirna sambil mengelus lengan sahabat nya itu.


" hmm...iya jeng...." ucap buk Retno sambil tersenyum agak kikuk.


"andai ja jeng Mirna tahu bagaimana tatapan dingin Arga kepada Nayla mungkin jeng akan ragu apa mereka akan hidup bersama...aku merasa Nayla sekarang sedang tidak bahagia tapi dia selalu menutupi nya ..." keluh hati buk Retno sambil mengalihkan matanya kearah televisi berusaha melupakan pemikiran yang bermunculan dikepalanya.

__ADS_1


**********


tangan Arga sibuk memindahkan pakaian dalam koper dan mengambil barang-barang yang dianggap penting, Arga sengaja mengemasi dari sekarang agar tidak ada yang tertinggal barang-barangnya dirumah ini karena ia merasa malas dan enggan untuk kembali lagi kedesa ini.


" mas ....ada yang bisa nay bantu..." tanya Nayla duduk ditepi tempat tidur sambil memperhatikan Arga yang tengah sibuk.


" nggak usah....kamu kemasi barang-barang mu saja sana.... jangan banyak-banyak bawa barang...aku rasa pernikahan kita tidak akan berlangsung lama...." ucap Arga jutek sambil terus menyusun barang nya dikoper seolah-olah tidak memperdulikan keberadaan Nayla.


"degg....nyutt...." terasa nyeri hati Nayla mendengar kalimat yang meluncur bebas dari mulut Arga seolah tidak ada filter nya .


" iya mas...." ucap Nayla mengangguk dengan senyum kecut, kalimat Arga sudah cukup jadi tamparan keras baginya untuk tidak boleh berharap dan harus bersiap-siap kapan pun dicampakkan.


Nayla pun mulai memilah baju yang layak ia bawa karena memang tidak punya pakaian yang bagus, kebanyakan baju yang ia miliki diberi oleh orang-orang kaya di kampung nya lebih tepatnya baju bekas tapi masih layak digunakan.


Nayla pun hanya membawa beberapa pasang pakaian yang dianggap layak untuk dipakai dikota nanti lagian ini cuma formalitas ikut suami pulang padahal ini cuma sandiwara yang akan ada akhirnya.


Arga sudah selesai berkemas dan telah menepikan kopernya Kedinding dekat tempat tidur kemudian pergi keluar dari kamar begitu saja tanpa berkata apapun.


Nayla cuma tersenyum walau hatinya sakit tapi ia sadar posisi nya dimana membuat Nayla kembali bersemangat.


mata Nayla melirik jam yang tergantung di dinding menunjukan pukul empat sore.


" hmm....aku harus pamitan sama tari...kalau besok gak bisa lagi kan berangkat nya pagi-pagi...."gumam Nayla mengingat sahabat satu-satunya yang selalu baik padanya selama ini, rasanya kurang sopan kalau pergi begitu saja tanpa berpamitan.


Nayla pun keluar dari kamar setelah selesai berkemas-kemas ,Nayla sengaja menyelinap keluar dari rumah karena takut ketahuan oleh mertuanya yang super baik itu.yang ada Arga akan dipaksa untuk mengantarkan nya dan ini akan menambah kebencian suaminya yang dari awal memang sudah nggak suka nanti malah jadi berlipat-lipat.

__ADS_1


Nayla berhasil berjalan sampai ketempat ojek berbekal uang tabungan yang ia simpan selama ini akhirnya ia gunakan juga. Nayla pun naik ojek kerumah tari yang sudah jauh jaraknya dari rumah nya sekarang.


__ADS_2