
pagi-pagi Nayla sudah bangun sesuai kebiasaan nya waktu masih tinggal dikampung dulu langsung mandi agar tubuh segar dan tidak mengantuk, setelah membereskan tempat tidur nya sendiri baru lah Naila mulai bersih-bersih diruang tamu mengelap kaca-kaca dan perabotan disana dengan hati-hati karena Nayla tahu barang-barang dirumah itu pasti sangat mahal harganya dan tidak terbayangkan bila rusak dengan apa Nayla akan membayar nya sedang kan ia tidak punya uang sepeser pun.
setelah selesai bersih-bersih Nayla pun kembali kedapur untuk membantu bik sum menyiapkan sarapan pagi untuk Arga yang kebetulan masih dikamar nya belum turun dari lantai atas.
" non....gak usah kerja kayak gini....ini tugas bibik....non itu istri den Arga ....ini pekerjaan pembantu..." ucap bik sum menatap Nayla penuh rasa sedih.
" bik .... jangan panggil non gitu.... panggil nay saja....nay orang kampung gak pantas di panggil non .... panggil nama saja ya...." ucap Nayla masih sambil terus bergerak melakukan pekerjaan nya.
" iya non....ehh....nay...." ucap bik sumi kikuk dengan tatapan tidak lepas melihat Nayla dengan rasa bercampur aduk.
" makasih bibik...." ucap Nayla dengan senyum manis kemudian mengelus bahu buk sumi lembut.
"nay ....sedang sakit ya....kok wajah nya pucat gini....kok matanya sembab " tanya bik sum meraba pipi Nayla lembut ketika tersadar menatap lekat kewajah itu.
"nggak bik....nay cuma lupa pakai lipstik dan bedak saja...." ucap Nayla berbohong karena seumur hidup nya tidak mengenal benda seperti itu apalagi memakai nya dan Nayla sengaja tidak mau menjawab perihal matanya yang sembab.
" oohh gitu..." ucap bik sum tidak mau memperpanjang pertanyaan nya lagi. " nay harus tampil cantik loh sebagai istri...biar den Arga melupakan non Clara...dan beralih pandangan nya kepada nay...." ucap bik sum memberikan saran dan sedikit nasehat.
" hehehe....bibik ada-ada aja deh... orang kampung kayak nay kalah jauh... dibandingkan seperti nona Clara yang seorang artis terkenal...."ucap Nayla berusaha tersenyum kemudian mengalihkan perhatian nya ke arah lain dengan menyibukkan diri berusaha menutupi rasa pilu yang menghujam hatinya.
tidak lama terdengar suara Arga yang datang dan langsung duduk dimeja makan.
bik sum pun tergopoh-gopoh datang untuk menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Arga ,semua itu terlihat dari arah dapur karena jarak ruang makan dan dapur tidak begitu jauh .
Nayla sengaja tidak mau memperhatikan berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tidak memancing perhatian Arga dan tidak mau ada masalah atau kesalah fahaman.
__ADS_1
" nay... dipanggil den Arga tuh...." ucap bik sumi tiba-tiba dari arah belakang sambil menepuk punggung Nayla lembut.
" eehh....ada apa ya bik ...." ucap Nayla dengan wajah terlihat kaget menoleh kearah bik sumi.
" gak tau Nay...bibik cuma disuruh manggil saja..... mungkin ada yang penting mau yang disampaikan den Arga... nampak nya...." ucap bik sumi sambil angkat bahu.
"oohh.... kalau gitu Nay ke sana dulu ya bik ..." ucap Nayla sedikit semburat kecemasan diwajahnya seperti orang yang hendak diadili . ia pun membersihkan tangan nya dengan kain bersih agar tidak ada yang menempel kotoran atau debu.
Nayla pun melangkah dengan langkah agak ragu-ragu karena diselimuti perasaan tidak enak hati dan bertanya-tanya ada apa.
" ada apa mas...." tanya Nayla berdiri dihadapan arga dengan wajah menunduk dengan perasaan cemas.
" duduk...." ucap Arga singkat dengan pandangan tetap fokus ke tablet ditangan nya.
" ehmm....tanpa harus aku jelasin....kamu tahu yang harus dilakukan....kau bukan nyonya rumah ini....kau menikah dengan ku untuk membahagiakan orang tua mu kan.... begitu juga dengan ku...." ucap Arga dengan suara dingin.
" maksud mas .....nay harus bagaimana...mas tenang saja nay tahu kok posisi nya dimana...nay gak nuntut apa-apa kok..." ucap Nayla sambil menggigit bibir nya menyembunyikan perih hatinya.
" bagus kalau kamu sadar diri ...aku ingin kau berpura-pura menjadi istri yang bahagia didepan ibuku...ingat jangan sampai ketahuan kau harus pandai memainkan sandiwara ini ...satu lagi jangan ada orang dikota ini yang tahu kalau kau istri ku ..." ucap Arga dengan tatapan mengintimidasi.
" ya mas...nay faham...." ucap Nayla mengangguk patuh sambil menelan rasa pahit dihatinya.
"tugas belanja dipasar...kau yang ambil alih... karena pasar dekat dari sini kau pergi dengan kendaraan umum....ingat dirumah ini tidak ada hak istimewa untuk mu walau kita sudah menikah....lagi pula pernikahan ini hanya hitam diatas putih pada selembar kertas saja...." ucap Arga menaruh beberapa lembar uang di meja.
"baik mas...." ucap Nayla mengambil uang yang diatas meja bila dihitung cukup banyak baginya hanya orang kampung .
__ADS_1
" masalah belanja tanyakan sama buk sumi....apa yang hendak dibeli...satu lagi kamu jangan sesekali mencoba memanipulasi uang belanja.... karena aku paling benci seorang penipu...." ucap Arga menatap dingin seolah berusaha menekan mental lawan bicaranya.
"iya mas....mau akan ingat itu...." ucap Nayla meremas ujung bajunya yang kusam untuk menutupi luka hatinya karena tajam nya lidah orang yang sudah ia anggap suami.
" kalau gitu kau bisa kembali ke dapur...." ucap Arga mengibaskan tangannya sambil menyeruput secangkir kopi dengan santai.
Nayla cuma mengangguk tanpa sanggup mengeluarkan satu patah katapun dari lidahnya seakan terkunci, kemudian melangkah cepat kedapur ia takut nanti terlalu lama didepan Arga ,air matanya tidak dapat dibendung.
sesampainya didapur Nayla langsung menghampiri bik Sumi dan mengutarakan perintah Arga.
" nay....biar bibik saja...dipasar itu panas karena ramai orang....lagi pula nay baru disini gimana caranya nay kesan...." ucap bik sum menawarkan diri karena kasihan melihat kondisi Nayla yang terlihat lemah.
" gak apa-apa kok bik...nay bisa kok lagian dikampung nay juga kepasar...bibik cukup bantu nay menulis barang-barang yang akan dibeli...."ucap Nayla menatap bik sum mencoba meyakinkan.
" baik lah....tapi kalau nay gak kuat bisa suruh bibi saja... jangan sungkan-sungkan...." ucap bibi masih mencoba menggoyahkan keputusan Nayla.
" iya...iya...bibiku sayang...." ucap Nayla memeluk bik sum dengan hangat karena merasa bik sum gambaran ibunya yang selalu bersikap cemas pada anaknya.
bik Sumi mengambil selembar kertas dan pulpen dalam laci rak dapur,kemudian dengan sigap tangan nya mulai menulis barang-barang yang diperlukan sesekali mengingat apa saja yang diperlukan dan bahan yang sudah habis.
setelah selesai bik sum pun menyerahkan catatan tadi tidak lupa mengambilkan keranjang belanja untuk Nayla.
"perlu bibi Carikan taksi nay..." tanya bik sum masih menyimpan kekhawatiran dimatanya melepas Nayla belanja sendirian ditambah dia tidak bisa menemani karena masih banyak yang harus dikerjakan dirumah ini selain itu dia juga menjaga rumah karena bik sum yang paling dipercaya dari pada pekerja yang lain.
" gak usah bik...nay bisa kok...jadi bibik jangan cemas lagi ya..."ucap Nayla sambil melangkah keluar dari pintu belakang untuk menuju kejalan .
__ADS_1