Cinta Dalam Kecewa

Cinta Dalam Kecewa
penawaran


__ADS_3

setelah selesai menikmati hidangan itu,Nayla pun membereskan semua peralatan tadi kedapur dengan cekatan sementara buk Retno dan buk Mirna masih bercengkrama saling bercerita seperti orang melepaskan rindu. Nayla kembali keruang tamu mengambil sisa peralatan yang belum terbawa kedapi.


"nay.....tadi jeng Mirna mau menjadikan kamu istri anaknya ... gimana menurut Nay...." ucap buk Retno menatap Nayla yang sedang memegang piring kotor ditangannya.


"nay...terserah ibu aja...." ucap nayla dengan muka merah seperti tomat menggenggam erat yang ditangan nya takut lepas.


"loh kok....terserah ibu nay....kamu yang berumah tangga kok ibu yang memutuskan...." ucap buk Retno kaget .


"apapun keputusan ibu pasti terbaik untuk nay..." ucap Nayla sambil menunduk kemudian buru-buru lari kedapur menahan malu.


"gimana jeng Retno.... anaknya udah memasrahkan keputusan nya sama jeng loh...." ucap buk Mirna tersenyum menatap sahabatnya itu.


" kalau saya setuju saja.... karena yang akan menjadi mertuanya nay itu jeng Mirna.....saya tidak akan merasa khawatir jeng pasti menjaga dan menyayangi nay seperti anak sendiri...." ucap buk Retno tertawa kecil menatap sahabatnya itu yang menginginkan dari persahabatan menjadi berbesanan.


" ya pasti lah jeng.... apalagi aku sudah tidak punya anak perempuan.... kehadiran nayla dikeluargaku adalah suatu kebahagiaan...."ucap buk Mirna dengan wajah bahagia.


" tapi jeng.... gimana dengan anak jeng... apa dia sudah setuju dinikahkan sama nayla...." ucap buk Retno agak ragu.


"soal itu nanti saya yang atur...jadi jeng tenang aja ya...." ucap buk Mirna dengan mantap.


"syukur lah...saya khawatir nanti putra jeng gak suka sama nayla yang anak orang susah" ucap buk Retno lega.


"kalau boleh bisa saya bicara sebentar sama dengan Nayla...sambil jalan-jalan dikebun belakang ...saya ingin lebih mengenal Nayla...boleh kan jeng..." tanya buk Mirna berharap.


" boleh kok jeng... sebentar jeng saya panggil Nayla nya dulu...." ucap buk Retno langsung setuju. ia pun bangkit dari duduknya kemudian permisi pergi ke dapur ketempat Nayla sedang berberes peralatan makan tadi didapur.


"nay....jeng Mirna pengen ngobrol berdua dengan kamu sambil lihat-lihat kebun sayur kita dibelakang....kesana cepat biar sisa dari pekerjaan ini ibu selesai kan..." ucap buk Retno sesampai didapur dan berdiri didekat anaknya yang sedang mencuci piring.


" iya Bu... sebentar Nay cuci tangan dulu..." ucap nayla sambil mengucek tangan nya di baskom berisi air kemudian mengeringkan nya dengan kain.

__ADS_1


buk Retno langsung menyelesaikan pekerjaan yang tersisa setelah Nayla pergi keruang tamu menemui buk Mirna.


sesampainya diruang tamu buk Mirna pun menyambut Nayla dan langsung menggandeng tangan Nayla.


"ayo Nay...kita jalan-jalan sebentar...ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan..." ucap buk Mirna membawa Nayla berjalan keluar.


Nayla cuma tersenyum sambil mengikuti langkah buk Mirna. sesampai nya diluar agak jauh dari rumah tepatnya terletak dibelakang rumah yang ada kebun sayur kecil.


buk Mirna pun duduk beralaskan rumput disalah satu pohon rindang disana sambil menarik lembut Nayla agar duduk di sampingnya.


" Nay...ibuk bisa bantu pengobatan ayah Nayla bisa mendapatkan pengobatan yang jauh lebih baik dari sekarang...Nay kan sayang sama orang tua...ibuk bisa bantu menopang kehidupan keluarga Nayla jadi tidak perlu bersusah payah menjadi buruh...." ucap buk Mirna menatap lembut Nayla yang tidak faham tujuan Kalimat yang disampaikan itu.


"uhhmm.... maksud nya ibuk apa ya...Nay gak ngerti...." ucap Nayla bingung.


"Nay ibuk butuh bantuan Nayla... menyelamatkan putra ibuk satu-satunya dari wanita yang menggerogoti harta anak ibuk...lagi pula wanita itu membawa pengaruh buruk untuk putra ibuk...." ucap buk Mirna sambil menghela nafas berat.


" maksud nya Nay disuruh misahin mereka buk..." ucap nayla dengan polosnya.


"gimana nay jadi istri putra ibuk yang mencintai wanita lain.... apa Nay sanggup buk.." ucap Nayla wajah berubah muram dan mencoba menolak dengan halus.


"makanya ibuk minta tolong sama nay... setidaknya Nay sangat cantik dan pintar ...ibuk yakin cinta akan tumbuh seiring waktu...." ucap buk Mirna menggenggam tangan Nayla hangat.


"tapi buk...apa nay bisa dicintai....Nay gak berani ini mempertaruhkan masa depan Nay..." ucap Nayla menatap sayu dengan rasa tidak percaya diri.


"tujuan utama Nayla kan ingin membahagiakan orang tua ..... ibuk bisa bantu itu ....Nayla juga bantu ibuk menyelamatkan putra ibuk....gimana nay kita saling membutuhkan.....coba Nay bayangkan setelah tamat sekolah nay kerja dipabrik dengan gaji tidak seberapa ...apa cukup untuk berobat atau kehidupan sehari-hari...." ucap buk Mirna membayangkan masa yang akan datang.


"iya buk nay sadar hal itu... tapi Nay gak mau jadi parasit menumpang hidup sama ibuk..." ucap Nayla sambil menelan ludah seperti ada rasa campur aduk dihatinya.


" itu yang ibuk suka dari sifat Nay ....maka ibuk butuh menantu seperti Nay yang tidak serakah sedikit pun..." ucap buk Mirna tersenyum manis sambil membelai lembut rambut nayla.

__ADS_1


"ibuk terlalu tinggi memandang .....Nay tidak sebaik itu..." ucap Nayla menunduk malu.


"nay.... tahu kenapa ibuk mengajak nay berbincang berdua saja...." tanya buk Mirna menatap bola mata Nayla.


"gak tahu..." ucap Nayla menggelengkan kepalanya.


" ibuk gak mau apa yang ibuk tawarkan kepada nay menyinggung jeng Retno nanti....tentu saja pasti jeng Retno akan menolak nya .....ibuk kenal betul watak ibu nay gimana...." ucap buk Mirna menerawang kan pandangan nya menatap perbukitan khas desa yang asri.


"kenapa ibuk yakin berbicara berdua dengan nay....akan membuat nay pasti bisa menerima...." tanya Nayla menatap wanita berumur disampingnya yang masih terlihat cantik.


"nay anak yang berbakti kepada orang tua....ibuk yakin nay tidak akan mau melihat orang tua nay hidup seperti ini seumur hidupnya.....tapi itu terserah nay.... kalau nay tidak mau ibuk gak bisa memaksa...." ucap buk Mirna sambil mengangkat bahu dan menyandarkan badan nya dibatang pohon yang ada dibelakang nya.


"jika itu satu-satunya jalan....menjadi menantu ibu akan membuat orang tua nay bahagia...nay akan lakukan itu....ibuk janjikan mau membiayai pengobatan ayah sampai sembuh...." ucap Nayla menatap penuh pengharapan.


" tentu nay....lebih dari itu ibuk lakukan...ibuk pasti kan keluarga Nayla tidak akan kekurangan sedikit pun dan tidak perlu menjadi buruh lagi karena ibuk akan buat kan usaha untuk jeng Retno..."ucap buk Mirna menggenggam tangan Nayla dengan penuh semangat terpancar kebahagiaan disana.


" Nay percaya sama ibuk....nay akan terima terima permintaan ibuk agar orang tua nay dapat hidup lebih baik..." ucap Nayla menatap kan hatinya.


"bagus....nay anak yang pintar bisa mengambil keputusan yang tepat....ibuk butuh menantu yang baik dan nay orang yang tepat..." ucap buk Mirna sambil memeluk Nayla dengan hati yang lega.


"nay ..... ucapkan terima kasih karena ibuk mau berbaik hati pada keluarga nay..." ucap Nayla tersenyum membayangkan orang tuanya tidak kesusahan lagi dan tidak akan dipandang rendah oleh orang desa lagi.


" yuk nay kita kembali kerumah....jeng Retno nanti khawatir kalau kita terlalu lama diluar...." ucap buk Mirna beringsut berdiri sambil menepuk-nepuk bokong nya membersihkan dari rumput.


" iya buk...nay juga khawatir..." ucap Nayla mengangguk setuju.


"oh ya Nay....tolong pembicaraan kita tadi jangan sampai tahu ibumu....ibuk gak mau nanti dia kecewa...." ucap buk Mirna berhenti sejenak sambil menatap Nayla.


" iya buk....nay juga gak mau ibu jadi kepikiran... Nay juga gak mau antara ibuk dan ibu nay gak enak hati..." ucap Nayla sambil tersenyum.

__ADS_1


mereka pun melangkah meninggalkan kebun kecil itu melangkah kerumah .


__ADS_2