
setelah sampai dirumah terlihat buk Retno menunggu ditepi pintu dengan wajah gelisah, buk Mirna pun hanya tersenyum menatap kegelisahan yang terpancar di wajah buk Retno.
" maaf jeng...lama bawa anak gadisnya... karena asyik diajak ngobrol...." ucap buk Mirna tertawa kecil.
" gak apa-apa jeng malah saya senang kalau nay bisa dekat dengan calon mertua nya..." ucap buk Retno sambil mengajak duduk Kembali sahabat.
" hehehe....iya jeng...biar besok nayla gak sungkan lagi kalau dari sekarang sudah dekat..." ucap buk Mirna tertawa kecil.
"tok....tok...tok..." bunyi pintu diketuk dari luar walau pintunya tidak tertutup tapi terbuka separuh.
"siapa itu Nay....coba lihat kedepan..." perintah ibuk Retno pada anaknya.nayla pun mengangguk kemudian berdiri hendak melangkah.
"itu pasti anak saya.... tunggu nay...biar ibuk saja kedepan ya...." ucap buk Mirna menahan langkah nayla.
"biar nayla saja jeng yang menyuruh masuk..." ucap buk Retno kurang setuju.
" gak apa-apa jeng...." ucap buk Mirna tersenyum sambil melambaikan tangan nya dan langsung berjalan kearah pintu.
buk Retno dan Nayla duduk menanti dengan hati sedikit gelisah karena buk mirna agak lama dipintu seperti nya sedang berbicara namun suaranya tidak terdengar sedikit pun.
tidak lama buk Mirna datang bersama dengan seorang lelaki memakai jas berpenampilan seperti opa-opa Korea dengan postur tinggi berkulit putih dan berwajah tampan. kalau dicari lawan nya di desa itu tidak ada yang bisa menandingi betapa sempurnanya sebagai laki-laki.
Nayla cuma terperangah melihat laki-laki yang begitu keren yang hanya bisa ia lihat diposter dan majalah saja, sekarang muncul seperti nyata.
" nay....kenal kan ini putra ibuk nama nya Dion arga Mahendra....kamu cukup panggil Arga saja...." ucap buk Mirna memperkenalkan putranya. membuat lamunan Nayla buyar.
" ehhh...ya...nama saya Nayla kumala... panggil nay saja...." ucap Nayla gelagapan bercampur Malu karena tidak percaya ada makhluk sesempurna itu singgah dirumahnya.
"oohh...salam kenal...." ucap Arga dengan nada datar hanya melihat sekilas saja.
" nah ini ibunya Nayla teman dekat yang mama cerita kan namanya jeng Retno...." ucap buk Mirna dengan semangat menyeret putranya lebih mendekat kearah ibunya Nayla.
__ADS_1
"selama siang Tante... salam kenal...." ucap Arga dengan sedikit senyum tapi masih dalam mode datar.
setelah perkenalan selesai buk Mirna menyuruh anaknya duduk disamping nayla, sebenarnya Arga ingin berontak tapi dia tidak mau mempermalukan mamanya apalagi dirumah teman yang selalu ia banggakan.
"gimana jeng Retno....cocok kan dan amat serasi malah...." ucap buk Mirna dengan senyum sumringah.
"iya loh jeng gak nyangka...." ucap buk Retno ikut bahagia.
"mam....ini ada apa ya..." ucap arga dengan wajah bingung bercampur tidak nyaman menatap ibunya.
" nanti mama cerita kan dijalan ketika kita pulang nanti...." ucap buk Retno sedikit berbisik.
." oke deh kalau begitu saya permisi pamit dulu .... saya harus secepatnya pulang kekota karena pekerjaan saya banyak disana..... " ucap Arga berusaha sopan kemudian bangkit dari duduknya.
"aahh...iya jeng....kami pamit dulu....maaf loh jeng jadi ngerepotin... " ucap buk Mirna ikut permisi juga melihat putranya yang ingin pulang.
"gak apa-apa jeng...malah saya senang dapat bertemu kembali sudah ...saya kira jeng gak ingat saya lagi..." ucap buk Retno sambil mengiringi dan mengantarkan tamunya didepan pintu kebetulan rumahnya berada tepat tidak jauh ditepi jalan desa jadi bisa melihat dengan jelas sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir disana,dan dilihat bentuk dan mereknya bisa dibilang tidak ada warga desa yang bisa membeli mobil itu karena kalau ditaksir harganya berkisar lima ratus juta keatas.walau ada orang terkaya didesanya paling mahal mobilnya berkisar dua ratusan.
" nay...ibuk pulang dulu..." ucap buk Mirna sambil membelai pipi Nayla dengan lembut.
setelah sampai dimobil buk Mirna dan anaknya pun masuk, setelah berada dalam mobil buk Mirna melambaikan tangan kearah Nayla dan ibunya yang menatap dan ikut melambaikan tangan juga.
setelah mobil berjalan menjauh menelusuri jalan desa yang masih berbatu.terlihat putra buk Mirna yang akrab dipanggil Arga sedang menyetir dengan wajah masam terlihat ketika menggenggam setir dengan kuat.
" kamu kenapa sih Arga...kok wajah mu kusut kayak gitu sih..." tanya buk Mirna menatap putranya yang duduk disampingnya dibelakang kemudi tetap menatap lurus kedepan.
" tadi maksud mama apa sih waktu dirumah teman mama..." ucap Arga dengan nada kesal.
"gak ada maksud apa-apa....mama cuma mau mengenalkan kamu dengan anak teman mama yang akan jadi calon istri mu...." ucap buk Mirna santai sambil melirik putranya sebentar.
"mama.... jangan bicara omong kosong ...calon istriku adalah Clara....jadi tolong mama berhenti menjodoh-jodohkan aku...." ucap Arga dengan sedikit bernada geram sambil meremas setir kuat-kuat.
__ADS_1
"kalau kamu masih berkeras bersama wanita itu....kamu tunggu saja berita kematian mama.... bukan kah wanita itu lebih berharga dari mama mu ini..." ucap buk Mirna sambil melengos berpaling menatap keluar jendela kaca.
" mam....tolong jangan ngomong kayak gitu... Clara itu wanita sempurna dia pasti jadi menantu yang hebat untuk mama.... seorang model dan pemain film terkenal...." ucap Arga dengan nada membujuk.
"dari mananya sempurna hah .... calon menantu yang mama pilihkan jauh lebih sempurna akhlaknya....mama tidak butuh menantu ber karir tinggi.... apalagi si Clara itu selalu masuk hotel keluar hotel dengan om-om gak jelas ..." ucap buk Mirna bersungut-sungut.
" mam....dia itu pergi bertemu produser dan orang-orang besar yang mendukung karirnya...." ucap Arga menjelaskan.
" sekalian menservis nya dikamar kan sebagai imbalan nya.... mama tidak mau lahir cucu dari wanita itu... pokoknya wanita yang telah mama pilihkan itulah yang harus jadi istri kamu...." ucap buk Mirna dengan nada penekanan.
" mama.... kenapa mama keras kepala banget sih.... aku mencintai Clara ma....tolong mama mengerti...." ucap Arga dengan suara kecewa.
"kamu berapa kali tidur dengan nya...." ucap buk Mirna dengan tajam.
" mam.....kok nanya gitu sih....Arga gak sebejat itu tidur dengan perempuan tanpa ikatan..." ucap Arga tersentak dengan kata-kata ibunya.
" berarti kamu tidak tau perempuan itu bersih atau tidak.... dari pada tidak jelas begitu pokoknya kamu harus nikah dengan pilihan mama....titik..." ucap buk mirna dengan penuh keyakinan.
" mama...aku cinta nya sama Clara ma... apalagi wanita itu baru aku kenal gimana aku nikah sama dia...." ucap Arga menolak dengan halus.
" cinta itu akan tumbuh seiring waktu... kamu gak ingin melihat mama mati cepat kan.... jadi sebelum penyakit mama kambuh karena tertekan penolakan mu... Minggu besok kita kembali kedesa ini dan hari itu kamu harus menikahi gadis itu....itu saja permintaan mama ..." ucap buk Mirna mengusap-usap dadanya sambil mengatur nafas pelan.
" mama...mama gak apa-apa kan ...." ucap Arga cemas sambil menghentikan mobilnya ditepi jalan.
"gak apa-apa....ayo jalan...mama mau tidur sebentar...." ucap buk Mirna menyetel kursi miring kebelakang membuat tubuh buk Mirna setengah berbaring .
" mama... jangan bikin Arga takut gini....maaf kalau ada kata-kata Arga yang nyakitin mama... Arga janji akan ngikutin apa pun perintah mama...." ucap Arga dengan wajah cemas sedikit ketakutan.
"mama mau istirahat Arga..." ucap buk Mirna lemah.
" kita harus kedokter sekarang...." ucap Arga menghidupkan mobilnya dan memacunya agar mencapai rumah sakit terdekat karena Arga tau betul kondisi ibunya yang menderita sakit jantung setelah lima tahun lalu kepergian papanya memilih menikah lagi dengan mantan kekasih nya dulu dengan alasan pernikahan antara mama dan papanya adalah sebuah perjodohan membuat dia tidak bisa melupakan mantan nya yang sudah jadi janda , membuat dia merasa Tuhan memberikan dia kesempatan untuk memiliki kembali cinta nya dulu tak kesampaian.
__ADS_1
Arga pun menghela nafas menatap ibunya yang sedang memejamkan mata beristirahat , dia menyesal membuat ibunya menjadi seperti itu. dia tidak sanggup meninggalkan Clara yang sudah tiga tahun berpacaran dengan nya dan dia tidak sanggup kehilangan ibunya yang sangat ia sayangi.
Arga merasa dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit dia tidak mau kehilangan kedua-duanya tapi semua berlawanan arah.