
Setelah selesai dengan segala ritual di kamar nya kini Andra sudah rapi dan begitu gagah dengan kemeja putih dan di balut dengan jas dan celana berwarna navy juga dasi warna senada.
Andra keluar kamar dan segera turun menuju ruang makan, sampai di ruang makan Andra memicingkan mata tak percaya dengan pemandangan yang dia lihat.
Ibu nya kini berada di ruang makan sedang sarapan bahkan bercengkrama hangat dengan Gendis.
Melihat Andra datang, Gendis langsung berdiri dan menarik kursi untuk Andra duduk tapi lagi-lagi justru Andra menarik kursi nya sendiri.
"Kamu ini sama sekali tidak menghargai istri mu." Ibu Ajeng berkata kepada Andra setelah melihat apa yang di perbuat Andra.
Andra tak perduli dengan ucapan sang ibu, dia kembali berdiri dan memeluk ibu nya dan mencium puncak kepala ibu berkali-kali.
"Andra senang ibu sudah kembali seperti dulu lagi." Kata Andra sambil menatap lekat sang ibu.
"Kamu harus nya berterima kasih dengan istri mu karena dia yang membuat ibu punya semangat lagi." Ibu Ajeng berkata sambil mencubit hidung Andra.
Andra terdiam, jauh di dalam hati nya berkata kenapa harus Gendis bukan Reina. Tapi dia yakin Reina akan kembali dan Reina pasti lebih baik dari Gendis.
Sementara Gendis yang melihat kemesraan ibu dan anak itu hanya mengulas senyum.
Sungguh dia tahu dalam hal ini seorang Andra juga telah mengorbankan perasaan nya demi memenuhi permintaan sang kakak untuk menikah dengan nya agar ibu mereka kembali pulih dari keterpurukan.
Gendis semakin paham akan rasa benci Andra terhadap diri nya karena hati dan perasaan tak bisa di paksakan.
Gendis harus tahu diri tak mungkin dia dapat memiliki seorang Andra yang sempurna di mata para wanita di luar sana dia yang gagah, kaya dan penyayang.
Tanpa di sadari bulir bening lolos dari kedua mata Gendis mengingat perlakuan Andra tadi, sungguh sangat bertolak belakang dengan yang dia lihat sekarang.
"Kamu kenapa sayang." Tanya ibu Ajeng yang melihat air mata Gendis terjatuh.
"Gendis segera mengusap nya dan berkata." Gendis tidak apa - apa kok ibu.
Andra hanya menoleh sekilas ke arah Gendis namun perhatian nya tertuju pada pergelangan tangan Gendis. Tangan yang putih mulus itu begitu kontras dengan bekas kemerahan di pergelangan tangan nya.
"Sarapan dulu ayo, malah pada melow." Kata mbok Darmi yang menaruh segelas teh hangat untuk Andra.
Andra kembali duduk dan menikmati sarapan nya tanpa sedikit pun melihat Gendis yang duduk tepat di hadapan nya.
"Sudah bu Andra harus berangkat." Andra berkata seraya bangkit dan mencium tangan sang ibu lalu beranjak ke luar.
"Andra !!." Teriak ibu Ajeng
"Apalagi ibu ?." Tanya nya pada ibu nya sambil berbalik ke arah ibu Ajeng.
"Kamu tidak lihat atau memang sengaja tak pamit dengan istri kamu." Kata ibu Ajeng kesal.
"Ibu tidak apa, mas Andra sudah terlambat biar Gendis yang ke depan bu." Gendis berkata sambil beranjak menyusul Andra.
Andra yang sudah siap tancap gas tiba- tiba dikejutkan dengan panggilan Gendis.
"Mas, mas Andra tunggu." Panggil Gendis seraya setengah berlari.
"Apalagi sih!." Andra mendengus kesal.
__ADS_1
"Maaf mas, Gendis cuma mau bilang kalau ibu mau terapi kaki nya lagi." Gendis berkata sambil mengulas senyum karena dia begitu bersemangat akan kesembuhan ibu mertua nya.
"Kamu antar kan saja, ibu tahu rumah sakit dan siapa dokter nya dan pakai ini dan pin nya tanggal lahir ibu kamu tanya sendiri." Andra berkata sambil menyerahkan kartu debit ke pada Gendis.
"Ada mang Asep suruh dia yang mengantar kalian." Setelah berkata Andra langsung tancap gas dan berlalu meninggalkan Gendis yang terpaku menatap benda tipis nan kaku di tangan nya.
"Baik lah mas setidak nya mas sudah percayakan ibu dengan ku." Gendis berkata dalam hati seraya mengulas senyum.
"Wah ada apa ini kok abis nganterin suami malah senyum-senyum sendiri." Goda mbok Darmi.
Gendis hanya menggeleng dan kembali duduk melanjutkan sarapan nya.
"Mas mu bilang apa sayang." Tanya ibu Ajeng.
"Mas Andra bilang Gendis yang antar ibu terapi dan suruh mang Asep bawa mobil bu." Gendis berkata sambil mengelus tangan ibu Ajeng.
"Kata mas Andra ibu tahu rumah sakit nya dan juga dokter yang menangani ibu." Kembali Gendis berkata.
"Terus ini juga mas Andra kasih kartu debit katanya pin nya tanggal lahir ibu." Gendis berkata sambil menyerahkan kartu debit tersebut.
"Kamu itu, di bawa Gendis saja kan suami kamu yang kasih terus nanti ibu telpon mba Laras biar dia daftarkan dulu." Ibu Ajeng berkata sambil menaruh kartu debit itu ke tangan Gendis.
Sungguh ada rasa bahagia dalam hati Gendis karena ibu mertua nya begitu menyayangi nya.
"Hah, seandainya saja aku dan mas Andra saling mencintai sudah pasti hidupku sangat beruntung." Gendis menghela napas.
Setelah selesai sarapan kini Gendis membawa sang mertua keluar untuk berjalan - jalan sekitar komplek. Gendis begitu bersemangat sambil mendorong kursi roda dia dan ibu Ajeng saling bertukar bercerita.
Lalu kaca mobil bagian kemudi terbuka dan tampak lah seorang lelaki tampan dengan senyum mengembang.
"Assalamualaikum ibu tersayang." Sapa Dimas .
"Waalaikumsalam." Balas Ibu Ajeng dan Gendis sambil tersenyum.
"Dimas lalu keluar dan menghambur memeluk sang ibu. Dimas senang sekali ibu." Kata Dimas bersimpuh di hadapan ibu nya.
"Kok tumben kamu pagi-pagi sudah ke sini." Tanya Ibu Ajeng.
"Tadi Andra telpon Dimas bu, katanya ibu mau terapi lagi." Dimas berkata sembari mengelus kaki sang ibu.
"Iya, kamu tahu ini karena Gendis yang memaksa ibu." Ibu Ajeng berkata sambil melirik ke arah Gendis.
"Iya lah, saya memang memaksa ibu tuan supaya ibu bisa sembuh memang ibu ga ingin jalan-jalan dan menikmati masa tua dengan tenang. Ibu harus tunjukan kalau ibu kuat dan tak menyerah dengan keadaan." Gendis berkata dengan lugas.
"Memang kamu ga salah pilih nak." Ibu Ajeng berkata seraya mengacak rambut Dimas.
Sementara dalam hati Gendis sendiri meratapi nasib bahwa dia menjadi istri yang tak anggap.
"Dimas yang akan antar ibu, Laras juga sudah ambil nomor antrian bu." Dimas berkata sambil tersenyum.
"Loh memang tuan tidak sibuk." Tanya Gendis.
"Ga kok dan tolong jangan panggil saya tuan dong, panggil nya samain kaya Andra aja." Dimas berkata sambil berlalu menuju mobil dan menuju rumah ibu nya.
__ADS_1
"Dengar sayang Dimas bukan atasan mu lagi dia sekarang kakak mu jadi selayak nya kamu panggil dia kakak." Kata ibu Ajeng sambil menatap mobil Dimas yang berlalu masuk ke halaman rumah nya.
"Iya bu." Jawab Gendis singkat walau dalam hati nya ada rasa canggung tapi tetap harus dia rubah.
Kini Gendis mendorong kursi roda untuk kembali ke rumah karena Dimas datang untuk menjemput dan mereka pun harus siap-siap.
"Sampai di rumah ibu Ajeng berkata pada Gendis." Kamu siap-siap sayang biar ibu sama mbok Darmi saja.
Gendis pun meninggalkan ibu nya dengan mbok Darmi yang langsung naik ke lantai atas.
"Gendis." Panggil Dimas.
"Iya tuan eh salah iya kak." Balas Gendis.
"Mau kemana kok ke belakang." Tanya Dimas.
"Mau mandi dulu kak, siap-siap." Jawab Gendis dengan enteng nya.
"Hah, bukannya di kamar atas ada kamar mandi nya." Kata Dimas menatap Gendis curiga.
Sementara beberapa asisten rumah tangga yang mendengar percakapan kedua nya hanya tertunduk dan mengunci mulut mereka masing-masing.
"Gendis segera memasang mode kebohongannya." Iya kak, Gendis cuman mau ambil pakaian yang di jemur di belakang aja kok.
"Oh, ya sudah kalau gitu cepatlah." Dimas berkata sambil menikmati segelas teh dan beberapa kudapan di meja makan.
"Gendis yang berjalan ke arah kamarnya menjadi galau bagaimana kalau sampai dia selesai tuan Dimas masih berada di sana pasti tambah curiga." Batin Gendis.
"Gendis masuk ke kamarnya dan berkata dalam hati ." Apa aku mandi di kamar mas Andra aja yah kan orang nya lagi ga ada juga.
Gendis lalu membawa pakaian ganti nya dan keluar menuju kamar Andra di lantai dua, dia mengulas senyum melewati Dimas.
"Sampai di lantai atas dan tepat di depan kamar Andra dia berkata sendiri." Maaf mas aku terpaksa mudahan di kamar mu ga ada cctv yah, maaf maaf.
Gendis masuk dan langsung menuju kamar mandi, sampai di dalam justru Gendis diam mematung.
"Ampun kalau kayak gini gimana cara mandi nya ya." Gendis membatin melihat kemewahan kamar mandi tersebut.
"Ini juga buat cukur kumis aja kaca nya lebar banget kayak lapangan putsal, lantai nya juga bisa buat ngaca Ya Allah terima kasih aku di ijinkan melihat ini semua." Kata Gendis dalam hati.
"Terus mandi nya harus berendam di bak ini, kayak nya jadi ga berani mandi ntar kalau ada yang rusak atau lecet bisa murka yang punya." Batin Gendis.
"Ya sudahlah sikat gigi doank sama cuci muka aja lah emang aku ga bakat jadi orang kaya, tapi di mana simpan nya pasta gigi sama pembersih muka nya Gendis mau minta dikit mas." Gendis berkata sendiri sambil melihat kesana-kemari mencari keberadaan pasta gigi dan sabun pembersih muka.
"Hah, dalam kamar mandi aja ada lemari apalagi laci nya banyak amat buat simpan apa ya." Gendis mendengus karena kesal apalagi dia sendiri tidak berani menyentuh lemari atau laci yang ada di sana.
Akhirnya Gendis hanya mencuci muka dan memakai gamis berwarna dusty dan jilbab segi empat warna biru pastel.
Dia pikir semoga tuan Dimas sudah tak berada di ruang makan agar dia bebas ke kamarnya di belakang untuk sikat gigi.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1