Cinta Gendis

Cinta Gendis
Bab. 20


__ADS_3

Pagi ini Andra tidak langsung ke kantor nya dia menuju rumah Gendis bahkan untuk sekedar sarapan saja Andra tak sempat dia ingin segera tahu mengenai keberadaan Gendis.


Setelah satu jam perjalanan karena beradu dengan kemacetan Andra akhirnya sampai juga di depan rumah Gendis.


Rumah tampak sepi dan lengang Andra melangkah menuju pintu yang terlihat tertutup rapat.


Baru Andra hendak mengayunkan tangan nya untuk mengetuk terdengar suara seseorang menyapa Andra.


"Maaf den tidak ada orang nya." Suara pak Amran mengejutkan Andra.


"Oh pak ustadz." Sapa Andra yang mengenal pak Amran karena dulu pak Amran lah yang menjadi saksi dari pihak Gendis saat pernikahan mereka dulu.


"Cari Gendis ??." Tanya pak Amran.


"Iya pak maaf saya baru tahu semua yang terjadi pada Gendis karena hampir 2 minggu saya berada di luar negeri." Jawab Andra.


"Sebaiknya kita bicara di rumah saya saja den." Ajak pak Amran yang di ikuti Andra di belakangnya.


Pak Amran dan Andra melangkah beriringan menuju rumah pak Amran yang tak jauh dari rumah Gendis.


Sampai di rumah pak Amran lalu mempersilakan Andra masuk.


"Silakan duduk den maaf tempatnya tidak sebagus milik den Andra ya." Pak Amran berkata seraya tersenyum memandang ke arah Andra.


"Sama saja pak tidak perlu begitu." Balas Andra.


Andra lalu menyampaikan maksudnya mencari Gendis juga menceritakan segala permasalahan nya dengan Gendis. Tapi setelah apa yang terjadi dengan Gendis Andra merubah pikiran dan memilki rasa untuk melindungi Gendis.


Pak Amran mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa pakde dan bude Gendis.


Mendengar cerita pak Amran Andra tertunduk lemas tak dapat berkata apa pun perasaan nya di liputi rasa bersalah.


"Ini juga rumah peninggalan pakde Gendis akan di jual karena Gendis ingin mengubur semua kenangan tentang pakde dan bude nya lalu uang hasil penjualan rumah akan dia sumbangkan untuk mushola den." Pak Amran berkata seraya menunjukan kunci rumah berserta sertifikat.


"Maaf pak biar rumah ini jangan di jual ini satu satunya peninggalan milik pakde, saya yang akan mengurusnya dan besok saya akan membawa uang yang akan saya sumbangkan ke mushola atas nama pakde dan bude." Andra berkata dengan tegas nya entah dari mana dia spontan berkata demikian.


"Tapi den bagaimana nanti dengan Gendis?!." Tanya pak Amran.


"Itu urusan saya pak saya akan cari Gendis sampai ketemu." Andra menghela napas dalam.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan aden karena aden juga masih suami dari Gendis." Balas pak Amran.


Andra dan pak Amran masih asik dengan pembicaraan mereka dari arah dalam muncul bu sukma yang membawa dua cangkir teh.


"Loh ternyata mas Andra ya wah rumah kita kedatangan cowok ganteng pak." Bu sukma tersenyum pada Andra sambil meletakan secangkir teh di hadapan Andra.


"Oya pak titipan Gendis sudah di kasih ke mas Andra." Bu Sukma menatap pak Amran.


"Belum bu hampir saja bapak lupa." Pak Amran kemudian berdiri dan mengambil bungkusan plastik berwarna hitam dari dalam lemari.


"Ini den." Pak Amran menyodorkan bungkusan tersebut ke hadapan Andra.


" Apa ini pak." Tanya Andra.


"Ini baju koko dan kopiah pemberian almarhum pakde mas Andra." Bu Sukma menjawab.


Andra hanya terdiam menatap bungkusan tersebut raut wajahnya penuh tanya.

__ADS_1


"Sebenarnya pada saat itu pakde dan bude sudah pulang kerja tapi entah kenapa pakde malah menuju ke pasar untuk membeli baju koko dan kopiah ini untuk diri mu dan dari pasar kemudian naik angkot yang mengalami rem blong." Bu Sukma tertunduk lemas menceritakan kejadian itu pada Andra.


Setelah mendengar cerita dari bu Sukma Andra justru menangis memanggil manggil nama pakde dia begitu menyesal dengan yang sudah dia berbuat bahkan menolak permintaan Gendis untuk membeli motor buat pakde.


"Sudahlah den tak ada yang harus kita sesali semua sudah menjadi kehendak Yang Kuasa kita hanya menjalankan lebih baik kita cari Gendis bawa dia pulang dan perlakukan dia semestinya sebagai istri." Pak Amran menepuk-nepuk pundak Andra memberi semangat.


"Baik pak saya akan mencari Gendis." Andra menyeka air matanya.


"Sudah-sudah ayo di minum teh nya dulu." Bu sukma mempersilakan Andra dan sang suami minum teh.


Setelah mengobrol lama Andra lalu pamit kepada pak Amran dan bu Sukma.


Sepanjang perjalanan ke kantor Andra terus berpikir kemana Gendis pergi.


Selama empat bulan pernikahan dia dan Gendis memang tak saling peduli terutama Andra sendiri.


Jadi untuk sekedar tahu siapa sahabat atau teman Gendis sama sekali Andra tak tahu.


Sedang asik mengemudi tiba-tiba ponselnya berdering Andra melihat nama Aldi di sana.


"Jam berapa ini ?!, lupa atau tak ingat ada rapat penting !." Aldi sedikit kesal karena Andra tak kunjung datang ke kantor apalagi para klien sudah cukup lama menunggu.


"Iya sebentar lagi aku sampai kalau mereka tak sabar menunggu ku putuskan saja kontrak kerjanya." Andra berkata dengan gampangnya karena sekarang pikirannya justru fokus kepada Gendis.


"Harusnya kamu kan yang mengurusnya." Andra kesal karena seharusnya ini menjadi tanggung jawab Aldi sebab harusnya Andra saat ini masih ada di Italy.


"Iya itu kalau posisi presdir masih ada di Italy bro." Jawab Aldi singkat.


"Oke, kalau mereka mau menunggu kalau tidak aku sudah katakan putuskan saja." Andra berkata kesal.


"Gila kamu ini proyek besar mau di lepas begitu saja, kamu ini kenapa sih, ini masalah proyek di Kalimantan tuan Andra !." Aldi merasa aneh dengan sikap Andra yang tiba-tiba seperti tak punya semangat untuk mengurus perusahaan.


"Persetan dengan proyek itu." Andra berkata sendiri setelah kembali ponselnya berdering dan terlihat nama Aldi di sana.


*****


Sementara di kawasan perumahan mewah Dimas juga Laras bersama ibu Ajeng sedang menikmati sarapan pagi mereka.


"Kemala belum bangun Laras." Tanya ibu Ajeng pada sang menantu.


"Belum bu biarkan saja mungkin dia masih kelelahan dengan liburannya." Sambung Laras sambil menaruh secangkir teh untuk Dimas.


"Bu apa Andra ada menghubungi ibu." Tanya Dimas sambil menatap ke arah sang ibu.


"Ga ada dan biarkan saja ibu males untuk memikirkan dia apalagi setelah semua yang dia lakukan terhadap Gendis." Ibu Ajeng berkata sambil menyeruput teh miliknya.


"Nanti kalau Laras ada waktu kita jalan-jalan lihat Gendis bu, kita berdoa saja semoga Andra dan Gendis tidak sampai bercerai." Laras lalu menggenggam tangan ibu mertua nya itu.


"Iya itu yang ibu harapkan." Menghela nafas.


Dimas hanya terdiam menatap dua wanita di hadapannya dalam hatinya ingin rasanya dia menghajar Andra yang telah membuat ibu kecewa apalagi perasaan Gendis yang pasti hancur sekarang.


Dimas sangat merasa bersalah dengan keputusannya meminta Gendis menikah dengan Andra karena justru sekarang Gendis lah yang di rugikan.


Pekan depan sebaiknya kita ke rumah Gendis bu, Dimas harus menceritakan semua kepada pakde dan bude Gendis.


Dimas yang meminta Gendis dan Dimas pula yang harus bertanggung jawab dengan semua ini.

__ADS_1


"Iya mas saya setuju itu kita akan kembalikan Gendis secara baik baik dan bertanggung jawab dengan kehidupannya sampai nanti dia bertemu dengan orang yang benar benar menyayangi dia dengan tulus." Laras berkata sambil menatap lekat sang suami yang terlihat begitu merasa bersalah.


Dimas dan dua wanita kesayangan masih menikmati sarapan pagi mereka.


Tiba-tiba terdengar suara gerbang terbuka dan terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah.


"Siapa yang datang pagi-pagi begini" Laras berkata sambil saling melempar pandang.


Belum selesai dengan kebingungan di antara mereka bertiga muncul lah Andra dari arah ruang tamu.


"Kenapa kalian seperti melihat hantu saja." Andra tersenyum melihat raut heran ketiga orang di hadapannya.


Andra lalu menghampiri sang Ibu lalu mencium punggung tangannya kemudian mengecup kening ibunya.


"Sudah puas dengan liburannya tuan Andra Barata." Dimas tampak kesal melihat kedatangan Andra setelah apa yang dia lakukan.


Mendengar ucapan sang kakak Andra hanya tersenyum sambil menarik kursi untuk dia duduk.


"Maaf kan aku memang aku yang salah tapi setelah ini aku janji akan bersikap baik." Andra berkata sangat pelan dan membuat Dimas dan ibunya juga Laras terpaku.


"Aku salah pada Gendis maafkan aku kak, aku janji akan membawa Gendis kembali pulang." Andra berkata seraya menatap lemah pada Dimas.


"Ada apa sih kamu kok tiba-tiba melow gini." Laras berkata sambil menuangkan teh di hadapan Andra.


"Gendis sedang kena musibah mba." Andra berkata lemas lalu menggenggam tangan ibunya erat.


"Maksud mu apa Andra." Ibu Ajeng begitu terkejut mendengar kata kata Andra.


"Apa yang terjadi dengan Gendis Andra, cepat katakan." Dimas berkata sambil menggoyang goyangkan pundak Andra.


"Maafkan Andra ibu Andra salah." Andra justru menangis sambil bersimpuh di pangkuan ibunya.


"Sudahlah cepat katakan apa yang terjadi dengan Gendis karena sudah hampir dua minggu ini kita putus kontak."Ibu Ajeng berkata seraya mengelus elus puncak kepala Andra.


"Kami berencana untuk datang kerumah pakde Gendis untuk membicarakan masalah mu dan Gendis." Dimas berkata sambil menahan rasa kesalnya.


"Pakde dan bude Gendis telah tiada karena musibah mereka naik angkot yang rem nya blong." Andra kembali menangis dan justru semakin histeris.


Tangis Dimas dan ibunya pun pecah seraya memeluk Andra tubuh Andra yang lemas dan terus menangis karena merasa sangat menyesal.


"Kenapa bisa tidak ada satupun orang memberitahukan kepada kita." Ibu terlihat sedih sekaligus kesal.


"Sekarang bagaimana keadaan Gendis kenapa malah tak kau bawa Gendis bersama mu." Seru Dimas.


"Aku tak menemukan Gendis kata pak Amran justru Gendis pergi dan tak menjelaskan akan kemana." Andra berkata sambil terus memegang tangan ibunya.


"Andra Andra bisa-bisa nya jadi seperti ini, ini karena ulah mu yang kurang kerjaan sudah jelas kamu pria beristri malah pergi sesuka hati dengan perempuan macam Reina." Dimas masih saja berkata keras terhadap Andra karena begitu kesalnya dia terhadap adik nya itu.


"Sudahlah Dimas yang harus kita lakukan sekarang mencari Gendis dan bawa dia pulang." Ibu Ajeng berkata seraya bangkit dari duduk nya.


Setelah ibu pergi ke kamarnya tinggallah Andra dan Dimas di meja makan.


"Kak kakak pasti tahu siapa teman dekat Gendis saat masih bekerja di resto." Andra menatap Dimas penuh permohonan.


"Aku tidak tahu persis tapi kadang terlihat dia biasa pulang dengan Rahma."Dimas berkata sambil terus berpikir.


"Kalau begitu aku akan ke resto sekarang." Andra terlihat sangat antusias dan ini membuat Dimas merasa heran.

__ADS_1


"Sudahlah kau tenang saja nanti kakak akan bantu karena ini juga bagian tanggung jawab kakak terhadap Gendis karena kakak lah yang memintanya untuk menikah dengan mu." Dimas berkata seraya beranjak pergi menuju ke kamarnya meninggalkan Andra yang terdiam dan terpaku sendiri di ruang makan.


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2