Cinta Gendis

Cinta Gendis
Bab.21


__ADS_3

Kini Andra sudah meninggalkan rumah kakaknya Dimas dan segera menuju resto milik Dimas berharap akan informasi yang dia dapatkan dari wanita bernama Rahma.


Sepanjang perjalanan menuju resto Andra larut dalam emosi nya sendiri kala dia mengingat sikap nya dan pernah memperlakukan Gendis dengan biadabnya.


Mengingat bagaimana saat dia menghina Gendis bahkan membiarkan dia tertidur di lantai tanpa sehelai benang pun membuat Andra merinding dan menyesali semua perbuatannya.


Andra terbayang wajah Gendis yang putih bersih dan sikapnya yang ramah dan polos sangat berbeda dengan para wanita yang sering di jumpai saat sedang asik minum dan mabuk di club malam.


Gendis sangat berbeda, kini Andra semakin menyesali perbuatan dan sikapnya. Harusnya dia bisa menerima dan belajar mencintai Gendis bukan malah memperlakukannya dengan buruk apalagi sekarang hanya sebatang kara.


Masih dengan pikiran yang tertuju pada Gendis tiba-tiba ponsel Andra berdering.


Andra melihat layar ponselnya lalu memasang earpiece karena Aldi yang memanggil.


"Al tolong kau urus kantor walaupun kau memohon pun aku tidak bisa datang ke kantor sekarang." Tanpa menunggu Aldi bicara Andra langsung mengutarakan alasan dia belum juga datang ke kantor.


"Al aku harus mencari Gendis." Andra menghela napas.


"Sudahlah urusan kantor sudah ku handle semua dan apa tadi kau bilang mencari Gendis??." Tanya Aldi.


"Apa telingaku tidak salah dengar." Aldi merasa heran tapi juga senang atas apa yang dia dengar.


"Oke jangan khawatir semua bisa ku handle." Jawab Aldi.


Sementara setelah melawan hiruk pikuk kemacetan akhirnya Andra sampai ke resto Dimas.


Andra tahu sang kakak bahkan belum sampai di resto karena mobil sang empunya resto pun belum terparkir di tempat biasa.


Andra langsung saja masuk ke dalam resto yang langsung di sambut oleh Faisal sang manajer resto.


"Tuan Andra, apa kabar??!!."Sapa Faisal karena dia tahu siapa manusia di hadapannya ini.


"Saya ingin bertemu karyawan yang bernama Rahma, apa dia ada."Tanya Andra tanpa basi-basi lagi.


"Rahma ada tuan, sebentar saya panggilkan." Balas Faisal yang masih berusaha sesopan mungkin dengan adik dari bos nya ini yang memang terkenal angkuh dan dingin apalagi dengan orang-orang yang tak dia kenal atau tak penting untuk nya.


"Cepatlah dan saya tunggu di ruang kak Dimas." Kata Andra yang langsung berlalu menuju ruangan kakaknya Dimas.

__ADS_1


Sementara Faisal langsung berjalan menuju ruang pantry tempat dimana Rahma bertugas.


"Rahma."Panggil Faisal.


"Iya pak, ada apa." Balas Rahma.


"Kau di cari tuan Andra, segera lah temui dia sebelum dia menunggu lama dan pasti murka."Kata Faisal yang sangat tahu sifat dari adik bos mereka ini.


Rahma cepat tanggap dengan apa yang di sampaikan oleh Faisal kenapa Andra mencari nya sudah pasti ingin tahu dimana Gendis sekarang.


Rahma bergegas menuju ruang pak Dimas dan dia sudah siap menghadapi Andra dengan segala pertanyaan yang pasti di lontarkan oleh si tuan angkuh.


Rahma sudah berdiri di depan pintu ruangan pak Dimas." Jangan harap anda bisa dengan mudah ketemu Gendis lelaki sombong." Monolog Rahma sambil mengayunkan tangannya untuk mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Permisi". Sambung Rahma.


"Masuk". Terdengar suara dari dalam ruangan.


Rahma mengayunkan tangannya untuk meraih daun pintu tapi tiba-tiba pintu itu sudah terbuka dan menampilkan sosok lelaki yang sangat terlihat lelah atau mungkin kurang tidur tapi samasekali tak menghilangkan wajahnya yang rupawan.


"Jangan harap". Batin Rahma setelah dia mendengar perkataan tuan angkuh di hadapannya ini.


"Bagaimana apa kamu tuli jadi tak menjawab pertanyaan saya." Kembali Andra berkata.


"Maaf tuan saya tidak tahu keberadaan Gendis bukankah dia istri tuan terus kenapa tuan justru tanya ke saya." Rahma mulai berani karena dia begitu gemas dengan segala prilaku Andra terhadap Gendis.


"Oh jadi kamu mau di pecat sekarang juga ya??". Andra mendekatkan wajahnya ke arah Rahma yang kini tertunduk tapi tak menunjukan raut ketakutan samasekali dari wajahnya.


"Silakan tuan pecat tapi yang lebih berhak memecat saya bukankah bapak Dimas yang jelas atasan saya". Kembali Rahma berkata tanpa melihat wajah Andra.


"Kamu....!!". Hampir tangan Andra melayang tapi belum sempat mendarat di wajah Rahma tiba-tiba pintu terbuka.


"Andra !! cukup, apa-apaan sih kamu dia karyawan kakak". Seru Dimas yang langsung memegang tangan Andra.


"Karyawan yang tak tahu sopan santun". Timpal Andra sambil berjalan ke arah sofa di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Hadeeeh!!! yang benar aja ini orang ngatain saya ga punya sopan santun". Batin Rahma kesal.


"Maaf kan adik saya Rahma." Tuan Dimas berkata seraya mempersilakan Rahma duduk menuju sofa.


"Tidak apa pak, saya memaklumi." Rahma berjalan menuju sofa dimana Andra sudah duduk dengan menyilangkan kedua tangannya di d***nya.


"Begini Rahma, maksud kami memanggilmu adalah untuk menanyakan apakah kamu tahu dimana keberadaan Gendis karena kami kehilangan kontak dengannya dan yang lebih parahnya lagi kami baru tahu kejadian yang menimpa Gendis." Tuan Dimas berbicara dengan sopan tanpa harus mengintimidasi tidak seperti sang adik.


"Maaf pak saya memang dekat dengan Gendis tapi saya pun tak tahu keberadaan Gendis sekarang." Rahma samasekali tak ingin Andra sampai bertemu Gendis karena perlakuan Andra membuat Rahma muak dan benci dengan lelaki angkuh itu.


"Kamu bohong!!!." Andra menunjuk wajah Rahma yang tertunduk.


"Hadeeehhh, ini orang kok curiga gede amat emang bener saya tahu dimana Gendis tapi maaf tak semudah itu tuan!!." Monolog Rahma yang masih saja tertunduk seakan akan ketakutan terhadap Andra.


"Andra!!, tenang dulu mungkin Rahma memang tidak tahu sebaiknya kita cari cara lain untuk mencari Gendis." Dimas meraih tangan Andra lalu menurunkan perlahan dari depan wajah Rahma.


"Kak aku tahu wanita ini bohong!!." Andra masih saja mengepalkan tangannya.


"Baik kalau kau memang tak tahu dimana istriku tapi ingat jika kau tahu dimana keberadaan Gendis tamat riwayatmu!!."Andra berkata seraya beranjak pergi meninggalkan ruangan kerja sang kakak.


Mendengar kata istri membuat Dimas dan Rahma terkejut tapi mereka berusaha bersikap biasa saja.


"Hah!! ga salah apa telingaku dengarnya istri dia bilang, istri yang bagaimana ninggalin begitu aja sama perempuan lain." Monolog Rahma.


****


Setelah meninggalkan resto milik sang kakak kini Andra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil menyetir tiba-tiba matanya beralih pada bungkusan plastik hitam yang bu Sukma berikan padanya.


Andra menepikan mobilnya diraihnya bungkusan itu lalu dia membukanya. Setelah melihat apa isi dari bungkusan plastik itu Andra justru histeris tangisnya pecah dia begitu menyesali semua perbuatannya terhadap Gendis juga pakde dan bude Gendis yang sudah dia abaikan.


"Maaf pakde maafkan saya, saya menyesal." Andra terus meracau sambil terus menangis memeluk pemberian pakde dan bude Gendis.


"Saya akan menemukan Gendis saya janji akan merubah semuanya pakde." Kembali Andra berkata sendiri.


Masih menikmati moment penyesalannya tiba-tiba ponsel Andra berbunyi dan terlihat nama kontak di layar 'my love' dan Andra justru membanting ponselnya hingga mengenai dasboard mobilnya.


Panggilan yang justru membuat Andra semakin menyesal atas segala perbuatannya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2