Cinta Gendis

Cinta Gendis
Bab.19


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut hiruk - pikuk gemuruh nadi perekonomian ibu kota. Tampak seorang lelaki tampan tengah duduk di ruang kerja dengan setumpuk berkas di hadapannya.


Saat tengah asik menandatangani berkas - berkas Aldi di kejutkan dengan dering ponselnya.


"Hallo An." Tanya Aldi yang mengetahui siapa yang menelpon.


"Sudah di kantor." Tanya Andra.


"Sudahlah mau di mana lagi memang kamu yang asik liburan." Jawab Aldi ketus.


"Aku akan pulang dua hari lagi masih ada urusan bisnis di sini." Jawab Andra.


"Aku cuman mau pastikan kalau kamu sudah membeli motor yang ku minta untuk pakde Gendis." Andra berkata dari seberang sana.


"Astaga aku lupa An." Aldi begitu terkejut karena ternyata dia lupa apa yang Andra minta seminggu yang lalu.


"Maaf aku benar-benar lupa An urusan kantor terlalu padat minggu ini." Jawab Aldi memelas.


"Oke lah ku maklumi tapi hari ini kau harus kesana." Andra begitu memohon.


"Baiklah siang ini aku kesana." Jawab Aldi singkat.


Setelah sambungan telepon berahir Aldi terdiam sejenak merasa heran dengan sikap Andra yang sedikit melunak dan seakan akan sangat khawatir dengan keadaan Gendis.


"Pasti sudah eneg sama Reina jadi sekarang nyari-nyari Gendis." Aldi berkata sendiri.


"Kapan juga tu cewek ketangkap yah." Kembali Aldi berkata sendiri mengingat Reina yang dia ketahui memiliki profesi lain selain model dan seorang DJ Reina juga seorang pengedar dan pemakai sungguh Aldi bergidik ngeri mengingat seorang Reina yang begitu liar.


Seperti yang sudah Aldi janjikan pada Andra bahwa siang ini dia akan datang ke rumah Gendis untuk menjemput Gendis dan pakde nya untuk membeli motor yang Andra perintahkan.


Kurang lebih satu jam menembus kemacetan sampai ke pinggiran kota Aldi sampai ke rumah Gendis.


Rumah tampak lengang Aldi kemudian turun dari mobilnya melangkah menuju rumah berdinding kayu yang lapuk tersebut.


"Assalamualaikum." Ucap Aldi sambil terus mengetuk pintu.


Hampir berjalan 10 menit Aldi terlihat mulai kesal dia pun beranjak pergi karena tak ada balasan dari empunya rumah.


"Kenapa tak ada orang dan kemana Gendis." Aldi berkata sendiri.

__ADS_1


Saat hendak masuk ke mobil tiba-tiba ada seorang wanita setengah baya yang kebetulan melewati depan rumah Gendis dan Aldi pun bertanya pada wanita itu.


"Maaf ibu Gendis tidak di rumah ya." Tanya Aldi pada wanita itu.


"Saya tidak mau tuan karena sudah dua hari ini Gendis tidak kelihatan."Jawab wanita itu.


"Tapi pakde dan budenya ada kan." Balas Aldi.


"Loh memangnya tuan ga tahu ya kalau pakde dan bude Gendis sudah tiada karena kecelakaan sekitar 8 hari yang lalu, permisi tuan." Wanita berkata sambil berlalu pergi meninggalkan Aldi yang diam membeku mendengar perkataan dari wanita yang sekarang sudah menghilang dari pandangan Aldi.


Aldi masih termenung memandang rumah berdinding kayu yang sudah termakan usia itu. Pikiran kini tertuju pada Gendis yang entah kemana sekarang sungguh tak terbayang bagaimana perasaan Gendis bahkan tak ada seorang pun yang mendampingi nya melalui peristiwa berat itu.


Aldi segera meraih ponselnya dan mencari kontak Andra di sana.


"Hallo An sebaiknya kamu segera pulang ada kabar buruk dan ini mengenai Gendis." Aldi berkata dengan pelan.


"Maksud mu apa Al." Andra bertanya dari seberang sana.


"Pakde dan bude Gendis sudah tiada karena kecelakaan minggu lalu dan sekarang pun aku tidak tahu keberadaan Gendis dia bahkan tak di rumah nya."


Mendengar penuturan Aldi tubuh Andra lemah dia hanya terdiam dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.


"Kok malah diam kamu masih di sana An Andra!!." Seru Aldi dari ponselnya.


****


Andra masih terdiam sambil menggenggam ponselnya hatinya sangat menyesal dengan semua yang dia lakukan terhadap Gendis.


Kini dia teringat dengan pesan pakde Gendis agar dia menjaga Gendis dengan setulus hati karena dia hidup sebatang kara.


Andra segera beranjak merapikan koper nya karena dia memutuskan untuk kembali hari itu juga bahkan pertemuan dengan rekan bisnis nya dia batalkan.


Andra juga melupakan keberadaan Reina yang sudah seminggu ini entah kemana karena bukan liburan romantis yang di dapatkan justru pertengkaran - pertengkaran yang membuat Reina meninggalkan hotel.


Andra pun pulang dengan sejuta rasa bersalah dalam hatinya ingin dia menelpon kakaknya tapi dia pun tahu Dimas dan ibunya masih berada di Thailand.


Penerbangan yang di tempuh selama 15 jam lebih terasa menjadi dua kali lipat buat Andra karena hatinya di penuhi berbagai penyesalan dari segala penjuru.


****

__ADS_1


Sementara di tempat lain di sebuah rumah kontrakan yang kecil dan terletak di gang kumuh Gendis dan Rahma sedang beres-beres.


Gendis memutuskan untuk pergi setelah selesai tahlilan tujuh hari pakde dan budenya. Dia pergi dan mendatangi Rahma sahabat nya semasa bekerja di resto tuan Dimas dulu.


Gendis meminta Rahma mencarikan kontrakan dan Gendis pun sudah di terima bekerja di minimarket dekat kontrakan .


Gendis justru memilih menjual rumah peninggalan pakde nya dan uang hasil penjualan tanah beserta rumah akan di sumbangkan ke Mushola di dekat rumah.


Walau belum ada pembeli tapi Gendis lebih memilih pergi semua dia serahkan kepada pak Amran dan bu sukma.


Gendis ingin pergi dan memulai kehidupan yang baru walau dia dan Andra belum resmi bercerai tapi bagi Gendis untuk saat ini dia ingin menenangkan diri sampai dia siap bertemu Andra di pengadilan.


"Kamu yakin banget betah di kontrakan ini." Tanya Rahma sambil terus mengayunkan sapu.


"Memangnya kenapa sih mba lagian sesuai juga dengan harganya mba kalau mau yang bagus tempatnya bersih pasti mahal kan mana cukup gaji ku sebulan." Gendis berkata sambil terus menaruhkan pakaian nya ke dalam lemari plastik miliknya.


"Kenapa ga balik ke resto aja sih." Tanya Rahma.


"Ga lah mba aku mau mengubur semua tentang mas Andra."


Gendis menarik nafas panjang.


"Untuk saat ini aku belum siap bertemu mas Andra tunggu sampai aku siap dan aku akan menemui dia untuk proses perceraian kami." Gendis berkata sambil menjedot jedotkan kepalanya di dinding.


"Kamu cinta sama tuan Andra dan pasti akan sulit bagi mu untuk melupakan nya." Rahma pun ikut duduk di samping Gendis.


"Maaf yah ndis kalau pertanyaan ku lancang." Rahma menatap lekat ke arah Gendis.


"Tanya apa mba." Gendis memandang ke arah Rahma.


"Hmm, maaf yah kamu dengan tuan kan suami istri tu berarti sudah ???!." Rahma tak melanjutkan kata-katanya.


"Mba Rahma asal mba tahu yah sampai detik ini aku masih perawan yah walau aku pernah mengalami pelecehan dan itu bagi ku sangat menyakitkan." Gendis memandang ke arah langit kontrakan usang itu.


"Maksud mu." Tanya Rahma terkejut.


"Aku hanya di telanjangi bahkan mas Andra dengan tega meludahi ku mba, hiks hiks hiks." Gendis berkata di iringi isak tangis.


"Kejam sekali dia kalau begitu jangan kamu beri maaf lebih baik segera urus perceraian mu." Rahma berkata sambil meraih tubuh Gendis ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir aku akan menjadi sahabat dan menjadi orang yang dapat kamu andalkan kamu sudah ku anggap seperti adik ku sendiri." Rahma masih terus memeluk Gendis sambil mengusap punggungnya memberi kekuatan di sana.


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2