
Sore hari Aldi sudah datang untuk menjemput Andra dan Gendis.
Berbeda dengan Andra, Aldi sangat ramah dan tak mempermasalahkan kondisi rumah pakde dan bude Gendis.
Terlihat dari Aldi sangat menikmati secangkir kopi buatan bude dengan pisang goreng sebagai pelengkap dan tanpa rasa canggung dan bahkan jijik untuk duduk lesehan di dapur yang memang terlihat sempit.
"Wah, kopi buatan bude tiada dua nya pokoknya bakalan kangen terus saya jadinya." Kata Aldi sambil menyeruput secangkir kopi buatan bude.
"Aduh tuan Aldi bisa saja muji nya, kayaknya telinga bude jadi nyangkut di atas atap deh " Kata bude sambil tersenyum.
"Haa....bude kocak juga yah." Seru Aldi sambil tertawa.
"Tapi maaf nak Aldi ini rumah pakde nya kayak kandang ayam malah buat kotor baju nak Aldi." Kata pakde sambil memperhatikan Aldi yang duduk di hadapannya.
"Pakde tidak perlu merendah sama saja, siapa pun kita dan miskin atau kaya kita hanya kepada Allah kita kembali dan apa yang kita miliki di dunia ini tak berarti hanya amal ibadah kan yang kita bawa bukan kekayaan dan jabatan yang di bawa." Kata Aldi sambil menikmati pisang goreng.
"Wah nak Aldi ini sudah ganteng sangat santun orangnya." Kata pakde tersenyum.
"Bisa saja pakde ini, saya berusaha baik dengan siapa saja pakde tanpa harus memandang status sosial." Kata Aldi.
Aldi dan pakde terus bercengkrama hangat sampai datang Andra dari kamar bersama Gendis yang mengekor di belakang Andra.
Gendis yang sudah rapi memakai gamis warna lavender dan jilbab warna senada langsung menghambur memeluk pakde nya dan menangis di pelukan pakde nya.
Aldi begitu terharu melihat pemandangan syahdu di hadapan nya tapi tidak dengan Andra dia terlihat cuek saja.
"Sudahlah sayang kamu sekarang adalah seorang istri jadi kemana pun suami pergi kamu harus ikut dan tetap patuh terhadap suami dan yang utama adalah ibadah mu jangan pernah kamu tinggalkan." Bude berkata sambil mengelus bahu Gendis.
Sungguh pilu Aldi melihat ini dia tahu Andra tak mencintai Gendis tapi Aldi tak dapat berbuat apa pun.
Andra kemudian bersalaman dengan pakde dan bude Gendis lalu mereka keluar dan berjalan ke arah mobil.
__ADS_1
Aldi yang memegang kemudi dan Andra justru duduk di samping Aldi sedangkan Gendis duduk di kursi penumpang belakang.
Pakde dan bude melepas kepergian Gendis dengan sejuta perih karena mereka tahu bagaimana rasa hati Gendis dan dari sikap Andra pakde sangat paham apa yang terjadi.
"Semoga suatu hari nanti tuan Andra bisa menerima Gendis dengan tulus yah pak." Kata bude sambil berjalan ke dalam rumah.
"InsyaAllah bu kita manusia hanya bisa berdoa semoga Gendis bisa mendapat kebahagian." Kata pakde penuh harap.
Sementara mobil yang membawa Andra dan Gendis terus melaju dengan kecepatan sedang tak ada percakapan.
Sampai Aldi yang memulai percakapan karena dia merasa gerah padahal AC mobil menyala.
"Kenapa kamu duduk di depan sih An, ga kasian sama istri kamu tu." Aldi memperhatikan Gendis lewat kaca spion.
Andra bahkan tak menyahut dia cuek saja malah asik memainkan ponselnya.
"An, kamu bakalan menyesal kalau menyia-nyiakan Gendis kamu lihat dan perhatikan cantik banget loh dia." Aldi berkata sambil berbisik agar Gendis tak mendengar.
"Kalau kamu mau ambil aja ga peduli aku." Andra berkata sambil melihat sekilas ke belakang.
"Males aku mikir itu sekarang yang ku tunggu adalah kembalinya Reina." Andra berkata dengan lantang tanpa memperdulikan adanya Gendis yang duduk di kursi penumpang belakang.
Aldi yang mendengar jawaban menyakitkan dari Andra sangat merasa bersalah terhadap Gendis.
Hampir satu jam perjalanan dari rumah pakde kini mobil itu sudah masuk ke kawasan perumahan elite dan kini masuk ke sebuah rumah dua lantai yang terlihat berbeda dari yang lain karena bergaya modern minimalis dan sangat luas dengan taman dan kolam renang yang luas.
Setelah mobil masuk segera security menutup gerbang yang begitu tinggi.
Andra segera turun dan disusul Aldi lalu Gendis masuk kedalam rumah.
Gendis begitu takjub dengan suasana rumah milik Andra yang begitu besar dan luas.
__ADS_1
Sampai di dalam Andra disambut ibu Ajeng dan mbok Darmi.
Gendis yang melihat ibu Ajeng di atas kursi roda segera menghampiri lalu bersimpuh dihadapan ibu Ajeng dan mencium tangan nya.
Hal tak terduga pun terjadi, ibu Ajeng meraih pundak Gendis dan memeluk nya erat.
Gendis yang mendapat perlakuan lembut sang ibu mertua sangat bersyukur karena dia merasa masih ada yang mau sayang dengan nya.
"Ya sudah sekarang den Andra sama non Gendis bersihkan diri dulu setelah itu baru makan malam." Kata mbok Darmi.
"Den Aldi juga monggo bersihkan diri dulu." Kata mbok Darmi kepada Aldi.
"Baik mbok saya ke kamar dulu." Jawab Aldi berlalu ke kamar tamu yang memang sudah menjadi kamar Aldi apabila dia menginap di rumah Andra.
Kini Andra segera meraih tangan Gendis lalu menggandeng dengan kencang terlihat dari wajah Gendis yang meringis menahan sakit.
Andra tidak membawa Gendis ke kamarnya justru membawa Gendis ke arah belakang ke kamar pembantu.
Andra menarik Gendis dengan kasar dan mendorongnya masuk.
"Ini adalah kamar mu jangan bermimpi aku akan memperlakukan mu seperti istri aku anggap kamu sama seperti mereka para pembantu ku di rumah ini jadi selayaknya kamu tidur di sini, mengerti !." Gertak Andra.
"Dan satu lagi kalau di depan ibu dan kak Dimas kamu harus terlihat bahagia dan jangan sampai kau ceritakan tentang semua sikap ku padamu, paham !." Kata Andra sambil mencengkram pundak Gendis dengan kuat.
"Sakit mas, ampun mas !, saya akan patuh dengan semua perintah mas." Kata Gendis dengan air mata yang sudah bercucuran.
"Satu lagi kamu jangan pernah masuk ke kamar ku, kau boleh naik ke lantai dua hanya ke kamar ibu itu saja."Kata Andra sambil menyentil jidat Gendis dan berlalu pergi.
Setelah keluar kamar kini justru Andra mengumpulkan semua pembantunya dan mengatakan bahwa tidak ada satu pun yang ikut campur urusannya dan perlakuannya terhadap Gendis.
"Tetap bekerja dengan tugas kalian masing-masing tidak boleh ada yang ikut campur atau kalian akan kehilangan pekerjaan kalian." Kata Andra berlalu naik ke lantai dua menuju kamarnya.
__ADS_1
Gendis hanya diam berusaha menahan laju air mata yang terus mengalir deras sungguh semua butuh kesabaran dan ini hanya salah satunya, itu yang ada di pikiran Gendis sekarang.
"Aku akan berusaha sabar dan tabah, akan aku perjuangkan untuk mu berubah menjadi baik dan maafkan cinta yang mungkin salah tempat ini dan aku tahu takan terbalaskan tapi setidaknya ketika kau mengenal cinta yang kau damba kau sudah menjadi manusia yang memiliki hati hingga nanti wanita impian mu akan bahagia dan menjadi wanita paling kau cinta." Gendis berkata dalam hati sambil menghela napas dalam.