
Sementara jauh di tempat lain di sebuah kawasan elite dengan gaya eropa klasik rumah yang begitu luas dan megah.
"Sayang?." Panggil tuan Yuda pada istri tercantiknya.
"Heem". Hanya deheman yang keluar dari mulut Gita.
"Kemaren kamu beli tas lagi ya." Tanya tuan Yuda sambil menyeruput teh hangat.
"Emang kenapa mas?!.Cuman 2 M aja kok." Sanggah Gita.
"Iya ga pa pa sih. Cuman mas minta kamu mulai agak berhemat, koleksi tas mahal kamu kan sudah banyak." Kata tuan Yuda sambil memandang ke arah Gita.
"Loh kok ngomong gitu Mas ?. Selama ini aku tukang menghambur hamburkan uang mas kah?." Menatap kesal kearah tuan Yuda.
"Apa yang aku beli itu adalah kebutuhan mas."Semakin menatap tajam tuan Yuda.
"Aku harus perawatan dan harus dengan salon terbaik, terus pakaian, sendal atau sepatu ku itu juga suatu kebutuhan mas saat aku temani mas dengan klien atau saat aku arisan dengan geng sosialita ku. Itu semua kebutuhan primer mas!.Semua yang melekat dengan tubuh ku harus berkelas.Gita berkata panjang lebar.
"Akhir-akhir ini perusahaan mengalami defisit." Tuan Yuda berkata sambil menarik napas kasar."
"Kalau bangkrut ga masalah kan mas!?, kita tinggal pulang ke Jakarta toh perusahaan mas masih ada kan di sana." Jawab Gita dengan entengnya.
"Semua yang di Jakarta sudah bukan milikku lagi, semua sudah atas nama Andra dan kini perusahaan Andra sudah berkembang pesat." Jawab tuan Yuda.
"Kok bisa jadi milik Andra semua sih mas!?." Bertanya dengan wajah berubah masam.
"Aku yang memberikannya karena biar bagaimana itu adalah hak Andra dan ibu nya. Jawab tuan Yuda."
"Oh. Gitu mas!?, terus kalau perusahaan kita disini jadi bangkrut kau tak menyisakan apapun untuk aku gitu." Menatap tajam kearah tuan Yuda.
"Aku ga mau hidup jadi gelandangan mas." Ucap Gita penuh emosi.
"Ya kalau kamu tak ingin jadi gelandangan maka berhemat lah." Tak perlu membeli barang atau hal-hal yang tak penting.
"Sekarang bukan sanjungan atau pujian orang yang kita harap atau menunjukan pada semua orang bahwa kita kaya dan berkelas, tak penting itu semua." Tuan Yuda berkata dengan nada tinggi.
"Wooww. Tua bangka sudah berani mengajari seorang Gita Anggraeni sekarang!!." Gita berdiri seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku ga perduli mas dengan perusahaan yang defisit." Ucap Gita enteng.
"Yang aku inginkan hanyalah terus hidup dengan harta melimpah dan selalu bersenang-senang." Berkata sambil mendekatkan wajahnya ke arah tuan Yuda.
"Kalau mas sudah tak mampu memberikan apa yang aku inginkan sebaiknya katakan! ." Menatap tajam ke arah tuan Yuda.
"Biar aku pun siap-siap mencari pengganti mu. Karena aku tak mau hidup dengan tua bangka yang rapuh." Berkata sambil menyilangkan kedua tangannya."
Gita kemudian menyambar tas mewahnya dan berlalu meninggalkan tuan Yuda.
"Mau kemana !." Teriak tuan Yuda.
"Aku mau ke butik G**** karena lusa waktunya arisan dan harus memakai drescode terbaik." Kata Gita sembari berlalu.
Tuan Yuda hanya termangu memandang punggung Gita menghilang ke arah luar.
Kini terlintas wajah seorang Ajeng Rahayu di benak tuan Yuda.
Sudah dua tahun dia tak bertemu bahkan tak bertukar kabar baik dengan Andra atau Dimas.
Dia pun teringat cucu nya Kemala yang dulu ketika dia pergi meninggalkan semua demi Gita, Kemala baru berusia sekitar setahun.
Entah sang cucu mengenalnya atau tidak. Kini tiba-tiba muncul rasa rindu yang menyelimuti hati tuan Yuda.
Apalagi dengan ibu dari kedua putranya nyonya Ajeng Rahayu.
Seorang wanita yang menemaninya berjuang dari nol dan dititik puncak seketika dia hempaskan begitu saja demi seorang wanita yang dia anggap berlian.
Tuan Yuda membuang napas kasar terasa begitu enggan dia beranjak untuk bangkit dan berangkat ke kantornya.
Sementara sang asisten sudah siap dengan mobilnya di halaman rumah.
__ADS_1
Saat ini baru tuan Yuda merasa begitu lelah seharusnya di usia ini dia sudah santai dan bercengkrama dengan cucu - cucu nya.
******
Pagi ini Gendis sudah siap dengan seragam kerjanya tak lupa jaket dusty yang selalu menemani.
Tapi entah untuk sarapan Gendis begitu enggan rasanya perutnya tiba-tiba sebah.
Hanya segelas teh yang juga dia rasakan begitu hambar.
Semalam pun dia tak dapat memejamkan mata, semua sudah dia ceritakan kepada pakde dan bude nya.
Kini hanya Gendis sendiri lah penentunya justru ada rasa aneh yang dia rasakan kala mengingat sosok Andra.
Sorot mata Andra yang tajam justru dilihat Gendis penuh dengan kehampaan dan ini yang membuat Gendis seperti terdorong ingin masuk kedalam nya.
Entah rasa apa ini tapi untuk Gendis ini aneh saat pertama melihat Andra, Gendis sangat takut tapi disisi lain Gendis juga merasakan teduh di hatinya.
"Ya Allah. Semoga ini adalah keputusan terbaik." Ucap Gendis dalam hati.
Kini Gendis siap berangkat menuju restoran pak Dimas.
Sungguh dia hanya bertekad untuk menolong tak lebih dari itu.
Mungkin dia justru sudah jatuh cinta kepada Andra tapi hatinya berusaha menolak dan mengusir rasa aneh yang terus ada sejak kemaren saat pertama kali bertatap dengan Andra.
Sampai di resto Gendis langsung masuk di ruang pantry tempat Rahma bertugas.
Selama ini hanya Rahma yang lumayan dekat dengan nya.
"Pagi hari harus dimulai dengan senyum, semangat dan tawakal." Kata Rahma sambil tersenyum.
"Apaan sih mba!." Balas Gendis.
"Terus itu kenapa muka sudah kayak lemper kelindes ban tronton." Kata Rahma.
"Iya kayak muka mu sekarang tu, ada apa sih neng?!." Tanya Rahma.
"Ntar lah mba pasti aku ceritakan kalau sekarang bingung harus susun narasi yang tepat biar mudah di mengerti dan di cerna oleh otak dan hati mba Rahma." Kata Gendis.
"Ih, segitu nya." Sahut Rahma.
"Sudah dulu mba, Gendis mau ke ruangan pak bos dulu." Kata Gendis berlalu ke luar pantry.
"Kok ke ruangan pak bos lagi."Rahma bergumam.
Langkah Gendis terhenti didepan ruangan pak Dimas karena kini dia pun ternyata harus berbarengan dengan Andra yang juga hendak masuk keruangan Dimas.
Tak ada kata yang keluar dari keduanya, Andra tetap dengan tatapan tajamnya sedangkan Gendis tertunduk seakan-akan dilantai yang dia pijak terdapat sebongkah berlian.
Andra segera membuka pintu dan terus masuk tanpa memperdulikan Gendis yang mengekor di belakangnya.
Tanpa basi basi lagi Andra menghampiri sang kakak sambil berkacak pinggang.
"Maksudnya apa kak ?." Tanya Andra.
"Apa?." Justru Dimas balik bertanya walaupun sebenarnya dia tahu maksud dari pertanyaan Andra.
"Kenapa kakak bilang ke ibu kalau aku harus menikah dengan pegawai rendahan kakak itu." Berkata sembari menunjuk kearah Gendis."
"Andra !, sekarang harusnya kamu berpikir baik-baik." Tekan Dimas.
"Kakak baru bilang bahwa kamu akan menikah saja ibu sudah mengalami perubahan.
Ibu tersenyum mendengar kakak bicara bahwa kamu akan kakak nikahkan dengan wanita pilihan kakak." Kata Dimas sambil menyandarkan kepala nya di sandaran kursi.
Flashback on
Dimas dan laras serta putri cantiknya sudah sampai di rumah Andra.
__ADS_1
Mereka sampai saat makan malam tapi seperti biasa tak ada Andra di rumah."
Andra akan pulang ke rumah tengah malam atau dinihari.
"Eyang uti !.Mala datang." Teriak Kemala yang segera berlari menaiki tangga menuju lantai dua tempat dimana kamar nyonya Ajeng berada.
"Sayang?!." Jangan lari kalau naik tangga ayahnya takut lho kamu nya jatuh." Segera menyusul sang putri naik ke atas.
Sampai dikamar nyonya Ajeng, terlihat Kemala sedang membelai tangan eyang uti sambil mengajaknya berbicara khas anak-anak seusianya.
Kemala adalah anak yang cerdas walaupun usianya baru tiga tahun lebih tapi cara berbicara dan tingkahnya sudah seperti anak usia lima tahun.
Kini Dimas dan Laras juga Kemala duduk di atas ranjang sambil memijat- mijat lengan dan kaki ibu Ajeng.
"Bu?." Dimas mau bicara." Dimas berkata sambil menggenggam tangan ibunya.
"Andra mau Dimas nikahkan dengan perempuan pilihan Dimas bu...!?." Kata Dimas masih memegang erat tangan sang ibu.
Seketika wajah ibu Ajeng berubah terlihat sedikit guratan senyum walau hampir tak terlihat.
"Bahkan terdengar suara begitu lirih dari bibir ibu Ajeng." Nikah...?.
Laras dan Dimas begitu terlonjak kaget tak percaya dengan yang mereka dengar barusan.
Setelah dua tahun lebih dalam kebisuan kini terdengar suara yang begitu Dimas rindukan.
Suara yang dulu selalu terdengar bagai radio soak yang membuat telinga dia dan adiknya panas.
Karena ibu Ajeng adalah sosok yang periang dan rame dan gampang akrab dengan siapa saja.
"Ibu setuju...?!." Tanya Dimas.
Dan hanya senyum kecil yang terukir di bibir ibu Ajeng membuat Dimas segera memeluk tubuh ibunya erat dan membenamkan tubuh ibunya yang kurus itu kedalam pelukannya.
Flasback of
"Dan kamu pun terkejut kan?!. Karena tadi pagi pun ibu sudah bicara dengan mu walau hanya dua kata." Kata Dimas sambil menatap tajam kearah Andra.
"Dari mana kakak tahu...?!." Tanya Andra.
"Yah mbok Darmi yang menelpon mba Laras." Kata Dimas sembari melangkah kearah Andra.
"Tolonglah !. Kali ini ikuti kakak mu ini." Dimas berkata sambil memeluk Andra.
"Baiklah kak...!?. Demi ibu akan ku lakukan." Kata Andra sembari memegang kedua pundak sang kakak.
Gendis yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia sambil duduk di sofa menundukkan kepala.
Terlonjak kaget dan mendongakkan kepalanya mendengar kata-kata Andra.
Sungguh sangat tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Baiklah sekarang semua sudah beres dan kakak akan mengurus semua." Kata Dimas.
"Gendis !?. Saya tak butuh jawaban mu karena saya yakin pasti jawabannya adalah, iya." Kata Dimas sambil tersenyum senang.
Andra dan Gendis hanya saling bertatap sesaat.
Andra kemudian pamit sementara Gendis masih termangu menatap kepergian Andra.
"Baiklah Gendis minggu depan saya akan datang ke rumah pakde mu." Ucap tuan Dimas.
Gendis hanya menggangguk anggukan kepala nya sambil menunduk menuju pintu dan membukanya perlahan.
Dimas tersenyum senang tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat perubahan sang ibu.
Terbersit harapan semoga kelak keluarganya bisa utuh lagi seperti sebelum ada sosok Gita Anggraeni.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1