Cinta Gendis

Cinta Gendis
Bab.14


__ADS_3

Minggu pagi tepat jam 7.30 semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi setelah selesai dengan aktivitas mereka.


Dimas dan putrinya yang bersepeda di seputar komplek sementara Laras dan ibu Ajeng yang melakukan yoga di taman belakang berbeda dengan Andra justru dia bangun terlambat. Gendis sendiri setelah subuh lebih memilih membantu mbok Darmi menyiapkan sarapan walaupun semalam dia harus menelan pil pahit atas segala hinaan yang Andra ciptakan.


Sungguh perih hatinya merasakan perlakuan yang sangat tidak manusiawi dan sering menerima pelecehan sebagai seorang wanita. Andra sungguh membuat hidup Gendis menderita tapi Gendis selalu menyembunyikan pilu hati nya.


"Apa kegiatan mu hari ini Ndis." Tanya Laras.


"Kenapa mba." Balas Gendis.


"Hari ink kita berdua jalan-jalan yuk." Ajak Laras.


"Gendis mau ke rumah pakde nya mba." Jawab Andra ketus.


"Oh bagus donk sudah lama kan kamu ga pulang." Kata Dimas.


"Iya nak sebaiknya kamu tengok pakde dan bude mu pasti mereka juga kangen dan sebaik nya kamu yang mengantarkan Andra." Ibu Ajeng berkata sambil memandang tajam ke arah Andra.


"Iya iya Andra antar kan." Kembali Andra menjawab ketus.


Setelah sarapan Gendis pun berpamitan dengan ibu mertua nya dan Dimas serta Laras.


Karena ibu mengantarkan sampai ke mobil jadilah kini Gendis duduk di kursi penumpang samping Andra, sepanjang perjalanan tak ada kata hanya suara lagu melow yang Andra setel.


Sampai Andra berkata." Aku harus ke bandara untuk menjemput Reina kalau harus mengantarkan mu sampai rumah aku pasti akan datang terlambat dan aku tak mau Reina menunggu jadi kau naik angkot saja." Andra lalu menepikan mobil untuk menurunkan Gendis.


"Ambil ini." Andra memberikan uang 100 ribu sebagai ongkos naik angkot.


Gendis keluar dan berdiri di pinggir jalan melihat mobil Andra sudah menghilang entah kemana. Air mata kini kembali menghiasi perjalanan nya ke rumah pakde, Gendis lebih memilih naik ojek pangkalan agar lebih cepat sampai.


Sampai di rumah Gendis tak mendapati pakde dan bude nya karena memang ini masih sekitar pukul 11 sedangkan pakde dan bude pulang pukul 1 siang.


Gendis masuk karena kunci rumah di letakan di bawah keset seperti biasa.


Tak ada yang berubah semua masih sama walau rumah ini sudah lapuk di makan usia tapi bude sangat menjaga kebersihan nya.


Gendis masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuh nya di ranjang sambil menerawang langit-langit kamar, sudah 1 bulan usia pernikahan nya tapi tak ada tanda-tanda kebahagian Andra semakin jauh dan kini dia pasti sudah bertemu Reina.


Gendis kembali menumpahkan air mata nya mengingat setiap hinaan seorang Andra baik secara fisik dan lisan rasanya dia ingin menyerah saja, Gendis merasa lelah berjuang sendiri.


Gendis segera bangkit dari ranjang nya dan menuju dapur sudah siang dan cacing di perut nya sudah meraung-raung.


Seperti biasa hanya ada ikan asin, mie, telor sebagai persediaan makanan tapi kali ini di lihatnya ada dua ikat sawi.


Gendis segera mengolah bahan makanan itu menjadi hidangan yang luar biasa nikmat, Gendis sangat pandai memasak.


Sampai terdengar ucapan salam dari arah luar Gendis segera berlari keluar menyambut pakde dan bude nya.


"Kapan kamu datang nduk." Tanya bude sambil memeluk Gendis.


"Tadi pagi bude di antar mas Andra." Jawab Gendis berbohong.


"Loh tapi mana suami mu." Tanya pakde.


"Mas Andra langsung balik karena ada janjian sama klien pakde." Jawab Gendis.


"Klien?, kan hari minggu to nduk." Kembali bude bertanya.


"Gendis juga ga tahu bude mas Andra bilang gitu aja."


Sanggah Gendis yang bingung harus memberi alasan apa lagi.


"Ayo ah pakde sama bude bersihin diri dulu Gendis dah masak lo." Pinta Gendis.


Setelah selesai bersantap siang kini pakde dan bude juga Gendis saling bercengkrama hangat melepas kerinduan.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi ibu mertua nduk." Tanya bude.


"Alhamdulillah bude sekarang jauh lebih baik karena sebulan ini kembali berobat dan sudah mulai banyak kemajuan dengan kaki nya, kata dokter kira-kira 3 sampai 4 kali terapi kaki ibu bisa normal lagi." Cerita Gendis dengan semangat.


"Syukurlah, kamu harus menghormati dan sayang dengan ibu mertua mu nduk." Kata pakde sambil mengacak kepala Gendis yang tertutup jilbab.


"Pakde sama bude ga usah khawatir ibu mertua Gendis itu baik banget kok sama Gendis." Jawab Gendis tersenyum.


"Tapi tidak dengan suami kamu kan." Kata Pakde.


Gendis terdiam walau dia begitu gigih menyembunyikan tapi apalah daya pakde dan bude nya memang sedari awal sudah tahu.


"Pakde tidak mau membuat kamu terus menderita begini kalau memang kamu tidak bahagia pakde akan temui pak Dimas untuk membicarakan semua nduk lebih baik kalian berpisah saja." Pakde berkata seraya bangkit dan meninggalkan Gendis dengan bude nya.


"Jangan bude Gendis ga apa-apa kok Gendis saja yang belum berusaha jadi istri yang baik buat mas Andra, Gendis janji setelah ini Gendis akan mencoba mendekati mas Andra dan melayani dia bude." Kata Gendis mencoba meyakinkan.


"Iya nduk kamu memang harus bersabar dan terus berusaha masuk kedalam hati tuan Andra." Kata bude sambil memeluk Gendis yang justru menangis.


"Gendis sayang sama mas Andra bude Gendis cinta sama mas Andra tapi mas Andra yang ga suka sama Gendis." Gendis berkata sambil menangis di pangkuan bude nya.


"Bude tahu bagaimana rasa sakit hati mu kamu seorang istri yang di abaikan istri yang tak di anggap." Bude bicara sambil mengelus kepala Gendis.


"Gendis menunggu sampai ibu benar-benar sembuh setelah itu Gendis berjanji akan berpisah dengan mas Andra bude tapi tidak sekarang." Gendis berkata masih dengan air mata yang berlinang.


"Iya lakukan yang menurut mu baik bude dan pakde akan terus mendukung mu." Kata bude yang juga meneteskan air mata.


******


Sementara di tempat lain di sebuah apartemen mewah terlihat dua orang manusia yang saling melepas kerinduan sedang asik bercengkrama mesra layaknya suami istri karena mereka berdua berada di atas ranjang.


"Aku ga nyanka lo kamu masih mau terima aku dan sekarang kamu makin ganteng aja." Kata Reina yang memakai tank top dan celana pendek.


"Juga makin kaya kan." Jawab Andra tertawa.


"Iya lah jadi laki-laki itu harus ganteng dan kaya juga baik kayak kamu sayang." Kata Reina sambil merebahkan tubuhnya di dada Andra.


"Apa." Jawab Reina yang heran.


"Sebenarnya aku sudah menikah." Kata Andra sambil memeluk erat tubuh Reina.


"Hah, kamu bohong kan." Kata Reina yang kemudian menangis.


"Aku terpaksa ini semua kak Dimas yang memaksa ku."Jawab Andra yang masih belum melepaskan pelukannya.


"Aku kembali untuk memulai semua dari awal lagi aku ga bisa melupakan mu." Jawab Reina yang terus mengeluarkan air mata buaya karena semua hanyalah kebohongan semata.


"Aku akan segera menceraikan dia karena aku juga tidak mencintainya, kamu tunggu aja." Jawab Andra.


"Kamu berjanji." Tanya Reina.


"Kasih waktu tiga bulan." Kata Andra menatap wajah Reina.


"Aku pegang janji mu." Kata Reina membalas tatapan Andra.


"Yo ah aku kangen banget ni." Kata Andra seraya melepas kaos yang dia pakai.


"Ih ga sabaran sih pake pengaman yah." Kata Reina tersenyum.


"Iya sudah pasti." Jawab Andra seraya merebahkan tubuh Reina.


Akhirnya mereka melepas kerinduan yang telah lama di pendam apalagi untuk Andra yang sangat memuja Reina padahal tidak untuk Reina, andra hanyalah sebuah boneka yang akan di manfaatkan sesuai keinginannya.


Malam sudah datang dua sejoli itu terbangun dari lelapnya tidur setelah menuntaskan hasrat dunia mereka.


"Aku harus pulang." Kata Andra seraya bangkit dan memakai kembali pakaian yang berserakan di lantai.

__ADS_1


"Hmm, hati-hati sayang aku mencintai mu." Kata Reina yang begitu enggan membuka mata.


Andra yang sudah rapi lalu mengecup kening Reina dan berlalu keluar kamar.


Sepanjang perjalanan pulang justru Andra teringat Gendis entah kenapa wajah Gendis malah terus terlintas di matanya.


Andra lalu meraih ponselnya dan mengetik nomor di sana lalu memakai earpiece.


"Mbok."


"Iya den."


"Gendis sudah pulang."


"Maaf den non Gendis belum pulang."


"Ya sudah mbok biar saya menyusul Gendis."


"Aden mau nginep di rumah non Gendis."


"Iya mbok soalnya ini sudah malam."


"Baik den."


Percakapan berahir dan Andra berbalik arah menuju rumah pakde Gendis di pinggiran kota.


Sampai di halaman rumah Andra masih terdiam di dalam mobil melihat rumah mungil yang lapuk termakan usia dengan penerangan seadanya hanya lampu 5 watt yang menerangi membuat suasana menjadi remang-remang.


Andra keluar dan melangkah mendekati rumah suasana hening tapi samar-samar terdengar lantunan ayat suci Alquran yang lembut dan merdu dari dalam rumah.


Andra terdiam di depan pintu dia kemudian mengintip dari jendela yang gordennya sedikit terbuka.


Di dalam terlihat Gendis sedang mengaji seorang diri dengan memakai mukena.


Andra hanya tertegun melihat sosok perempuan yang selama ini dia abaikan bahkan sudah dia sakiti lahir dan batin nya karena segala hinaan yang kerap Andra berikan selama satu bulan pernikahan nya.


Tenggorokan nya terasa tercekat mengingat semua membuat Andra harus berdehem beberapa kali menahan batuk nya.


Deheman Andra membuat Gendis yang sedang mengaji terkejut dan bangkit dari duduk nya menuju pintu.


"Siapa itu." Tanya Gendis dari arah dalam.


Andra tak menjawab hanya terdiam mematung di depan pintu perasaan nya sulit di kondisikan setelah bertemu Reina justru rasa bersalah malah menghinggapi hati Andra.


Gendis membuka perlahan pintu rasa terkejut melihat siapa yang berdiri kini di hadapan nya. Gendis heran kenapa Andra menyusul padahal sebelumnya berkata terserah mau pulang atau tidak ga masalah.


"Mas kok kesini." Tanya Gendis yang heran karena dia tahu Andra sudah bertemu Reina dan seharusnya malam ini akan di lewatkan bersama wanita itu.


"Boleh masuk." Tanya Andra.


"Oh, maaf mas silakan." Kata Gendis sambil memberi jalan kepada Andra.


Andra kemudian masuk dan langsung duduk di lantai berhadapan dengan meja kecil tempat dimana Gendis mengaji karena di atas meja tersebut masih terbuka Alquran yang masih di baca Gendis.


Gendis berjalan ke dapur untuk membuatkan teh setelah selesai dia pun kembali dengan secangkir teh.


"Teh nya mas, maaf Gendis lanjutan ngaji nya yah sedikit lagi." Kata Gendis kembali duduk dan mulai mengaji lagi di hadapan Andra.


Andra hanya terdiam menikmati lantunan ayat suci yang di baca Gendis entah kapan dia terakhir membaca ayat suci apalagi menjalankan lima waktu.


Andra terus memandangi Gendis yang ternyata baru dia sadari begitu cantik kulit wajahnya yang putih mulus dengan hidung mancung nan mungil di tambah lagi Gendis memang tak pernah berhias berlebihan hanya pelembab dan bedak juga lips glos yang biasa dia pakai. Jadilah wajah nya tetap cantik alami tanpa terkontaminasi produk-produk make up yang beredar di pasaran.


Andra sebenarnya ingin membicarakan masalah hubungan nya dengan Reina, dia sadar tak mungkin terus menerus menyakiti Gendis tanpa alasan yang jelas.


Dia justru ingin melepaskan Gendis meski dia tahu akibat dari keputusan nya itu nanti nya akan kembali berimbas pada kesehatan ibu nya. Dia ingin Gendis mencari kebahagian sendiri mencari orang yang jauh lebih baik dari nya karena cinta nya hanya untuk Reina.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2