
Kini Gendis sudah berdiri di depan pintu ruangan pak Dimas.
Begitu berat tangannya meraih handle pintu, rasa yang terus berkecamuk akhirnya tangan nya pun meraih handle pintu lalu membuka pintu perlahan.
"Assalamualaikum. Maaf bapak panggil saya?." Kata Gendis menunduk tak berani dia melihat ke arah atasannya.
"Waalaikumsalam."
"Iya." Sahut Dimas.
"Duduk lah." Perintah Dimas.
Sementara terlihat di sofa seorang Andra duduk dengan angkuhnya dengan menyilang kan kedua tangannya di dada dan tatapan yang begitu marah melihat Gendis.
"Sudahlah kak ! ga usah pakai basa basi lagi tinggal pecat secara tidak hormat pegawai ga becus seperti dia." Kata Andra seraya berdiri dan menunjuk ke arah Gendis
"Atau Andra yang seret dia ke penjara karena perbuatan tidak menyenangkan dan membahayakan orang lain." Kata Andra sambil tersenyum sinis.
"Tolong kamu diam dulu, biar kakak yang selesaikan." Pinta Dimas pada Andra .
"Ibu saya tidak apa apa kamu tak perlu khawatir hanya lepuh sedikit di bagian tangan dan paha dan beliau sudah di bawa pulang oleh supir kami. Di rumah sudah ada dokter pribadi yang menunggu." Kata Dimas dengan tenang.
"Saya sangat minta maaf pak, saya tidak sengaja." Kata Gendis yang sudah menitikkan air mata.
"Hah ! tidak sengaja kamu bilang! dasar pegawai tak becus muak saya lihat dirimu. Simpan saja air mata munafik mu itu tidak usah berpura-pura simpati dengan ibu ku." Kata Andra dengan tatapan penuh kebencian.
"Andra! kakak mohon!?, biarkan kakak selesaikan untuk apa kamu terlalu mempermasalahkan ini.Ibu tidak apa-apa kan?!." Kata Dimas yang mulai terbawa emosi melihat sikap Andra yang keterlaluan.
"Kakak bilang ibu tidak apa-apa ?!." Selama ini aku yang menjaga nya bagaikan berlian rapuh kak!.
"Aku memang brengsek kak tapi untuk ibu tak mungkin aku diam saja jika ada yang membuat ibu sakit. Ibu sangat terluka dengan semua yang dia alami." Kata Andra dengan sorot mata tajam ke arah Dimas.
Gendis hanya tertunduk mendengarkan perdebatan kedua kakak beradik itu.
Dia tidak mengerti masalah yang dialami keluarga sang atasan.
Apalagi kini dia teringat sosok ibu Andra yang Gendis lihat memang sangat rapuh tak memiliki semangat hidup, tatapannya kosong.
Kini Gendis sadar tak semua hidup bergelimang harta akan indah seperti yang dia bayangkan selama ini.
"Sekarang aku tunggu kakak memberi keputusan untuk perempuan sialan ini !." Andra menunjuk ke arah wajah Gendis.
"Maaf kan saya Gendis saya harus memberi mu hukuman untuk membayar apa yang kamu lakukan terhadap ibu saya." Kata Dimas.
"Saya harap apapun keputusan yang saya ambil kamu dapat menerima dengan tulus dan ikhlas." Kata Dimas dengan tenang.
"Baik pak! saya siap apapun konsekuensi jika memang itu yang harus saya terima saya akan ikhlas." Gendis justru menjawab dengan lugas.
Dia pikir untuk apa membela diri apalagi dihadapan seorang Andra.
Begini ?! heemmm!. Dimas Berdehem sebelum melanjutkan kata-katanya .
"Hukuman ini bukan hanya untuk kamu Gendis tapi juga untuk Andra." Kata Dimas seraya berdiri dari kursi kebesarannya.
"Hah! untuk aku. Kata Andra seraya menunjuk dirinya sendiri."
"Apa maksudnya kak!. Tanya Andra yang masih terlihat bingung melihat tatapan Dimas yang misterius."
"Kalian berdua harus menikah!." Kata Dimas santai.
"Apaaa!. Gendis dan Andra bahkan terlonjak dan berbarengan mengucap kata, apa.Yang membuat Dimas tertawa."
"Hukuman macam apa ini!." Andra merasa begitu aneh dan geli.
"Maaf kak aku tidak mau ikut hukuman aneh dan tak masuk akal ini." Kata Andra.
"Ini adalah hukuman untuk Gendis, dia harus menjaga ibu dan merawatnya." Kata Dimas.
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan dia bekerja di rumah dan mengurus ibu dan tak perlu pake menikah dengan ku. Ucap Andra kesal."
"Kini Andra berdiri dan berkata. Andra tak pernah mau menikah dengan perempuan yang belum aku kenal apalagi perempuan itu membuat ibu ku sakit karena kecerobohannya."
"Maaf kak! simpan saja ide gila mu itu." Aku pergi!!.
Andra beranjak keluar pintu dan menutupnya dengan begitu kencang.
Sementara kini Dimas dan Gendis masih saling membisu di dalam ruangan kerja Dimas.
Sampai terdengar Dimas memanggil Gendis.
"Gendis....??." Panggil Dimas.
"Iya pak." Sahut Gendis.
"Saya harap kamu pikirkan ini, saya butuh kamu untuk menolong saya." Kata Dimas sembari melangkah kearah jendela.
"Maksud bapak apa ?." Tanya Gendis.
"Kenapa saya pak ?." Kembali bertanya.
"Keluarga saya dulu adalah keluarga yang harmonis sampai badai datang menghantam biduk milik orang tua saya." Dimas berkata sambil memandang keluar jendela.
Rumah tangga orang tua saya hancur karena orang ketiga dan seperti yang kamu lihat bagaimana sakitnya ibu kami sampai mengalami depresi.
Sudah dua tahun ini ibu kami hidup dalam kebisuan dan sama hal nya dengan Andra.
Andra juga melampiaskan ke hal yang negatif, dia senang mabuk -mabukan ke club malam.
Saya sudah berusaha memberikan contoh untuk Andra dan tak henti menasehati nya.Tapi semua tak pernah di respon.
Disisi lain memang Andra adalah sosok pekerja keras hingga dia bisa membuat perusahaan kami menjadi besar dan diperhitungkan di kancah nasional dan internasional.
Sebelum hubungan kedua orang tua kami hancur, Andra adalah sosok yang periang dan lucu dia selalu menjadi penghibur kami, di samping itu dia juga begitu ramah dan santun.
Andra membutuhkan seorang perempuan yang kuat dan sholehah untuk membawanya ke arah yang benar dan tepat . Dan hanya kamu Gendis yang saya anggap paling tepat mendampingi Andra.
"Tapi pak." Apakah tuan Andra tidak punya kekasih?." Tanya Gendis.
"Hemmm. Dulu Andra punya kekasih namanya Reina Kartika. Andra begitu menyayangi Reina tapi sayang hubungan mereka kandas karena Reina lebih memilih kariernya di luar negeri sebagai model internasional.
Dan itu juga salah satu faktor penyebab Andra semakin berubah.
"Gendis!?. Saya mohon kamu pertimbangkan permintaan saya ini."
"Ibu dan Andra butuh sosok seperti kamu." Dimas kembali memohon.
"Tapi pak?!. Bagaimana dengan tuan Andra sendiri bukankah tadi dia bilang tak ingin dan sama sekali tak mau ini terjadi." Kata Gendis.
"Urusan Andra biar saya yang selesaikan kamu tak usah pikirkan sekarang semua tergantung pada mu saja." Kata Dimas.
"Besok kamu sudah dapat jawaban nya bukan?." Dan saya harap jawabannya adalah iya." Dimas tersenyum.
"Sekarang silakan kamu keluar dan boleh langsung pulang saja, istirahat dan berpikir agar keputusan yang kamu ambil esok hari adalah yang terbaik.
Dimas tersenyum memandang Gendis yang kini terlihat begitu gamang.
"Kalau kamu setuju pasti saya akan datang ke rumah orang tua mu guna melamar mu untuk adik saya. Kembali Dimas berkata."
"Maaf pak, kedua orang tua saya telah lama tidak dan saya hanya tinggal dengan pakde dan bude saya." Gendis menjelaskan.
"Oh !. Maafkan saya." Ujar Dimas.
"Baik pak, saya permisi." Gendis beranjak sambil sedikit membungkukkan badan kemudian berjalan ke arah pintu lalu membukanya perlahan.
Dimas memandang punggung Gendis yang menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Ya Allah!." Semoga ini adalah keputusan dan pilihan yang tepat." Dimas menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya."
Tapi setelahnya segera dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menatap layar ponsel sambil mencari kontak yang akan dia panggil.
"Assalamualaikum. Sapa Dimas."
"Waalaikumsalam. Balas dr.Abdian Nugraha"
"Dimas *** Bagaimana keadaan ibu dok?."
"dr.Abdi *** Ga apa apa kok cuman melepuh sudah saya beri salep dan obat penahan rasa sakit."
"Dimas *** Syukurlah, terima kasih dok."
"dr.Abdi *** Sama - sama kayak dengan siapa aja kamu Mas." Ibu Ajeng ga pa pa fisik beliau sehat tapi memang psikis nya sangat drop, lebih bersabar saja."
"Dimas *** Itulah sampai detik ini kami tetap berusaha dan sabar."
"dr.Abdi *** Ibu mu perlu seorang teman untuk berbicara dan membagi keluh kesah nya dan obat yang paling mujarab adalah memohon Kepada Allah dan dari diri ibu mu sendiri untuk melawan kegundahan hatinya selama ini."
"Dimas *** Baik dok, terima kasih."
"Dimas *** Assalamualaikum."
"dr.Abdi *** Waalaikumsalam."
Dimas kembali menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.
Terasa begitu lelah dan penat dan hari sudah menjelang sore.
Tapi kemudian Dimas dikejutkan dengan suara yang sanggup membangunkannya walau tidur begitu lelap.
"Ayah!. Panggil seorang gadis kecil berkulit putih dan pipi gempil dengan rambut di kuncung dua dengan dres berwarna dusty yang masuk ke ruangannya."
"Hei!?. Anak ayah datang."
Dimas segera bangkit dan menghampiri bocah kecil itu yang datang bersama sang ibu.
Dimas segera merangkul putri cantiknya ke dalam gendongannya dan terus menghujani dengan kecupan di segala penjuru wajah sang anak.
Laras sang istri menghampiri Dimas dan mencium punggung tangannya.
Dan Dimas pun memberi kecupan di kening istrinya.
Aku sengaja pulang lebih awal mas langsung jemput Kemala kita mau ke rumah ibu.
"Kata Andra ada accident yang menimpa ibu tadi siang di resto ini mas?. Laras berkata sembari merapikan semua berkas dan beberapa benda di meja kerja suami nya."
"Dan kata Andra salah seorang pegawai mas yang melakukannya. Kembali Laras berkata."
"Heem!. Baiklah kita ke rumah ibu sekarang nanti di perjalanan mas ceritakan semua. Kata Dimas."
Laras hanya tersenyum mendengar jawaban sang suami.
"Ayah !!. Kapan kita bawa Uti ke mall." Tanya Kemala pada sang Ayah.
"Kenapa kok mau bawa jalan Uti ke mall ?. Malah Balik bertanya."
"Biar uti bisa ketawa ayah nanti Mala bawa uti main game yang dance terus kakinya pencet pencet gitu. Kata Kemala dengan wajah polosnya."
"Hah.Kamu mau bawa Uti mu main dance Revolution. Ampun DJ. Kata Dimas sambil menepuk jidatnya sendiri."
Laras yang berjalan dibelakang mereka justru tertawa durjana.
"Yank??. Ntar didengar karyawan aku lho.Kok ketawanya istri pak bos kayak mak lampir."
Laras segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷
.