
Sementara di tempat lain dua orang suami istri sedang berbincang santai setelah menikmati makan malam sederhana mereka.
"Pak, kok tadi malam ibu mimpi Gendis menangis sendiri." Ujar bude sambil memijat kaki suami nya.
"Ibu lagi kangen aja itu kan Gendis sudah sebulan nikah nya." Kata pakde menghibur.
"Yo masak terus lupa sama kita pak." Bantah bude.
"Gendis tak mungkin lupa kalau suami nya tidak mengijinkan terus harus maksa gitu, tuan Andra kan orang nya super sibuk ya ga sempat mengantarkan istri nya." Pakde berusaha menghibur istri nya walaupun dia sendiri merasakan hal yang sama, bahwa Gendis memang ada masalah dan tidak bahagia.
"Kapan-kapan kita jenguk yah pak." Ajak bude.
"Tapi bu kalau kita ke sana apa di terima nanti yang ada malah di usir sama security di rumah tuan Andra." Pakde berkata sambil meraih pundak istri nya untuk dia pijat.
"Sini gantian bapak lagi yang pijat ibu." Kata pakde sambil tersenyum memandang istri nya cemberut karena keinginan untuk menjenguk Gendis tidak di ikuti.
******
Malam ini Dimas dan Laras yang mengantarkan ibu Ajeng terapi sedangkan Andra harus mengikuti keinginan Kemala untuk jalan ke mall bersama Gendis.
Jadilah sekarang Andra harus menemani dua perempuan cantik itu berbelanja dan bermain, di depan Kemala Andra begitu manis dan lembut bahkan terkadang dia tak malu menirukan kata dan tingkah Kemala agar keponakan kesayangan nya itu selalu tersenyum.
Hal ini justru semakin membuat Gendis kagum dan semakin jatuh cinta walau dia tahu bagaimana perasaan Andra pada nya hanyalah rasa benci yang semakin menggunung.
Setelah selesai bermain justru sekarang Kemala minta di belikan mainan, dia terus merengek di gendongan Andra.
"Princess mau beli apa." Tanya Andra sambil mengelus pundak Kemala dalam gendongan nya.
"Tante yok beli meapp kayak punya ibu di numah." Kata Kemala sambil menunjuk toko kecantikan sebuah merk ternama.
"Kalau untuk Kemala meapp nya ga di situ." Jawab Gendis tersenyum lucu.
"Jadi di mana tante." Tanya Kemala yang begitu bersemangat.
"Ayo ikut tante." Gendis segera mengambil langkah seribu naik ke lantai 4 karena dia memang pernah di ajak oleh Rahma ke mall ini untuk membelikan hadiah ulang tahun anak Rahma yang berupa peralatan make up yang aman untuk anak di bawah usia 5 tahun.
Tapi langkah Gendis terhenti setelah tangan nya di tarik dengan kasar oleh Andra.
"Mau kemana lagi sih." Bentak Andra pada Gendis.
"Di atas ada toko yang khusus menjual alat make up mainan mas dan ga berbahaya untuk anak seumuran Kemala." Jawab Gendis pelan.
"Om pangelan jangan malah-malah sama tante ndis, kasian om." Kemala berkata dengan raut wajah ketakutan karena dia tak pernah melihat wajah Andra yang penuh amarah dan kesal.
"Ga sayang om ga marahin tante kok, ini tante lo masih ketawa kan." Jawab Gendis tersenyum lebar di depan Kemala.
"Baik lah aku ikuti dan ingat ini karena Kemala kau jangan merasa GR." Kata Andra di telinga Gendis.
Gendis hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Andra , tak ada hal yang dapat di lakukan selain pasrah dan bersabar.
Akhirnya mereka bertiga naik ke lantai 4 dan langsung menuju toko yang di maksud Gendis. Setelah selesai menunaikan permintaan Kemala kini mereka bertiga sudah duduk manis di sebuah resto masakan korea.
Seorang pelayan sudah berdiri di hadapan mereka untuk mencatat apa yang akan mereka pesan.
Andra segera menyebutkan nama masakan yang dia pesan dengan santai tanpa bertanya pada Gendis apa yang ingin dia pesan.
__ADS_1
Tak berapa lama kini sudah tersaji 10 jenis masakan korea di meja mereka membuat mata Gendis terbelalak tak percaya.
"Aku sudah menghabiskan uang banyak untuk ini semua dan harus kau habiskan agar tak sia-sia." Andra berkata sambil menatap Gendis tajam.
"Mas ingin buat aku mati kekenyangan, manusia mana yang sanggup menghabiskan ini semua sendiri aku bukan food blogger yang sering muncul di YouTube." Batin gendis kesal.
Gendis hanya menatap Kemala yang sudah asik dengan jus strawberry dan pizza kesukaan nya karena resto ini juga menyediakan pizza ala korea, sama hal nya Andra yang begitu menikmati suap demi suap makanan yang dia pesan.
Akhirnya mereka bertiga makan dengan pikiran mereka masing-masing hanya terkadang Kemala yang memecah kesunyian di antara Andra dan Gendis.
"Om pangelan Mala mau dedek owok yah." Ucap Kemala sambil menggigit pizza di tangan nya.
"Kalau princess mau dedek ya bilang sama ibu lah." Kata Andra sambil tersenyum memandang Kemala yang belepotan saus dari pizza yang dia makan.
"Mala mau dedek dari tante Ndis om." Jawab Kemala polos.
Andra hanya diam mendengar perkataan Kemala sementara Gendis tertunduk pilu sungguh akan menjadi hal yang tidak mungkin untuk di gapai.
"Sudah yah kita pulang ini sudah malam pasti princess sudah ngantuk kan." Ajak Andra agar Kemala tidak terus berkata soal dedek yang begitu dia inginkan.
Setelah membayar tagihan makan malam yang membuat Gendis mengelus dada, mereka berjalan keluar menuju parkiran dengan Andra yang menggendong Kemala dan Gendis yang setia mengekor bagai seorang beby sitter yang ikut dengan majikan nya.
Sampai di mobil Andra lalu mendudukkan Kemala di kursi depan sedangkan Gendis memang bagaikan pembantu yang duduk di kursi penumpang belakang sama seperti saat mereka berangkat.
"Om Mala ngantuk mau bobo yah." Kata Kemala sambil terus menguap.
"Ya sudah bobo aja nanti om gendong kok." Jawab Andra sambil mengelus kepala Kemala.
"Tapi mau dipangku yah sama tante Ndis." Pinta Kemala.
Gendis lalu menyambut tubuh Kemala dan merebahkan tubuh bocah perempuan di pangkuan nya.
Gendis mendekap hangat tubuh Kemala menyalurkan segenap rasa sayang pada bocah perempuan kesayangan seorang Andra. Gendis memandang keluar lampu-lampu yang menerangi seluruh penjuru kota sedangkan Andra sesekali memandang Gendis lewat spion.
Belum juga mereka sampai terdengar dering ponsel Andra yang memecah kesunyian di antara kedua nya.
"Sayang?! kenapa." Tanya Andra pada seseorang dari ponselnya.
"Oke besok jam 9 kamu sampai, aku akan datang pagi tak apa aku harus menunggu." Jawab Andra kembali.
"Sampai besok, i love you." Kata Andra mengakhiri panggilannya.
Gendis merasakan hati nya remuk rasa sakit begitu berkecamuk hingga dia memilih memeluk erat Kemala dan membenamkan kepala nya di tubuh mungil Kemala dengan air mata yang membasahi baju Kemala, Gendis menangis dalam diam nya.
Sampai di rumah Gendis segera keluar dan menggendong sendiri Kemala masuk ke dalam rumah dengan Andra yang terpaku melihat Gendis yang hanya menunduk.
"Kenapa sih kok jadi aneh gitu." Gumam Andra.
"Ya ampun mana Andra Ndis kok malah kamu yang gendong Mala." Tanya Laras yang segera meraih tubuh Kemala berpindah ke dalam gendongannya.
"Masih di garasi mbak, Gendis ke belakang dulu ya mba permisi." Jawab Gendis sambil tersenyum.
Laras merasa iba melihat Gendis karena dia tahu apa yang di rasakan Gendis, walau tersenyum tapi mata tak bisa berbohong.
"Seperti nya besok aku harus bicara secara pribadi dengan Gendis." Kata Laras dalam hati.
__ADS_1
Sampai di kamar Laras membaringkan tubuh putri nya dan melepaskan baju Kemala menggantinya dengan piyama.
"Sampai ketiduran anak ayah." Ucap Dimas terbangun seraya memeluk tubuh putri nya karena Dimas memang lebih dulu tertidur.
"Kayak nya abis pesta mereka ini kalau ga kekenyangan Kemala ga bakalan tertidur." Kata Laras sambil mengelus pipi putri nya.
"Mas?!." Panggil Laras pada suami nya.
"Ada apa istri ku sayang?!." Balas Dimas sambil menjawil hidung Laras.
"Besok pulang nya sore aja yah soalnya aku mau ajak Gendis ke salon dulu sekalian jalan-jalan, boleh yah." Pinta Laras sambil menunjukan wajah polos nya.
"Silakan, apa sih yang ga buat istriku tersayang." Jawab Dimas sambil menarik selimut.
"Sudah ayo tidur besok mas mau ajak Kemala gowes." Dimas berkata seraya mengecup kening Laras.
Sementara di dalam kamar Gendis kembali menangis merasakan sesak dan sakit. Pertama kali merasakan jatuh cinta dan bersamaan pula merasakan sakit karena cinta nya bertepuk sebelah tangan.
"Apa besok aku minta ijin mas Andra untuk ke rumah pakde yah, aku rasa kalau aku pulang mungkin bisa sedikit mengobati luka hati ini." Batin Gendis.
"Ah atau malam ini saja jadi besok pagi-pagi bisa berangkat." Gendis berkata sendiri seraya bangkit dan keluar kamar menuju ruang kerja Andra karena sebelum masuk kamar Gendis melihat Andra masuk ke ruang kerja nya.
Sampai depan pintu Gendis terdiam sejenak ada rasa takut tapi dia pun sangat rindu dengan pakde dan bude nya.
"Assalamualakum." Sapa Gendis sambil melongok ke dalam.
Di lihatnya Andra sedang duduk di sofa memangku laptop nya sepertinya dia sedang lembur.
Andra hanya melihat sekilas tanpa berkata apa pun padahal Gendis sudah mengucapkan salam.
"Mas, maaf saya mengganggu." Kata Gendis sambil menunduk.
"Yah memang kamu sangat mengganggu ada apa langsung katakan jangan berlama-lama." Jawab Andra ketus.
"Mas, apa boleh besok Gendis ijin ke rumah pakde." Masih terus menunduk.
"Untuk apa pake bilang ke saya kalau mau pulang ya pulang aja sekalian ga usah balik ke sini lagi juga ga masalah." Jawab Andra sambil menutup laptop nya dan keluar meninggalkan Gendis yang masih berdiri mematung.
Gendis tersenyum getir lalu dia melangkah ke arah meja kerja Andra menaruh kartu debit yang beberapa hari lalu Andra berikan pada nya untuk membayar terapi ibu Ajeng.
Tapi tak lama Andra masuk kembali dan mengunci pintu membuat Gendis terkejut dan takut.
"Kalau besok mau pulang silakan pulang tapi malam ini kamu harus menghiburku dulu." Kata Andra seraya menghempaskan tubuh Gendis di sofa.
"Mas tolong jangan lakukan lagi." Gendis memohon karena dia tahu Andra hanya ingin menghina nya.
Andra menatap Gendis yang ketakutan sambil tangan nya membelai paha Gendis membuat Gendis sedikit terlena.
"Dasar kampungan?!." Bisik Andra yang melihat Gendis mulai terbuai.
Gendis tersadar dan segera berdiri hendak berlari keluar namun sayang kunci pintu sudah tak tergantung di sana.
"Kamu perlu ini yah." Andra berkata seraya menunjukan kunci yang ada di tangannya.
Gendis terdiam dia harus siap menerima hinaan yang akan dia telan untuk kesekian kali nya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹