Cinta Gendis

Cinta Gendis
Bab. 2


__ADS_3

Seperti biasa sebelum berangkat ke kantor Andra selalu menemui ibu nya di kamar.


Karena kondisi sang ibu yang kian terpuruk tak pernah ada senyum semenjak sang suami pergi meninggalkannya untuk perempuan lain.


"Ibu ? sarapan dulu yah setelah itu minum obatnya." Kata Andra sembari mengambil sesendok bubur ayam dari mangkok dan mengarahkannya ke bibir sang ibu, berharap sang ibu menyecapnya.


"Ibu, Andra harus apa biar ibu ga kayak gini terus !. Andra bingung buu?!, Andra masih butuh ibu di sisi Andra?." Keluh Andra.


Kalimat itu lah yang setiap pagi selalu Andra ucap pada ibunya sembari membenamkan kepalanya di pangkuan sang ibu yang hanya menatap kosong ke arah balkon.


"Ibu harus kuat!!?, suatu saat nanti Andra pastikan ayah beserta wanita siluman itu akan datang dan bertekuk lutut di hadapan ibu, Andra mohon ibu bersabar bu." Kata Andra sambil menatap lekat ibunya.


Sungguh pilu yang dirasakan ibu Ajeng, wanita setengah baya itu sangat terpukul dengan semua yang dia terima.


Dari awal menemani sang suami membangun perusahaan dan usaha ritel mereka dari nol.


Hidup dengan perjuangan mati matian sampai pada titik sukses, harta melimpah dan di anugrahi dua putra tampan membuat ibu ajeng sangat bahagia, tapi disaat bersamaan badai datang menggoncang biduk rumah tangga nya.


"Ibu!!! please ?." Ucap Andra.


"Makan siang nanti kita makan di resto kak Dimas bu. Mau yah?." Ucap Andra sembari mengecup kening sang ibu dan mencium punggung tangannya karena Andra harus segera ke kantor.


Seperti biasa ibu ajeng hanya mengangguk anggukan kepala pertanda setuju, untuk sekedar berucap "iya" pun dia tak sanggup.


Andra menutup pintu perlahan dan segera turun lalu keluar menuju mobil yang di kemudikan Aldi sang asisten.


Sebelumnya dia terlebih dulu menemui mbok Darmi untuk berpesan menjaga ibu nya dengan baik.


Walaupun Andra tak berpesan sekalipun pasti mbok Darmi tetap menjalankan tugasnya dengan tulus dan ikhlas.


Karena mbok Darmi juga menjadi saksi perjuangan tuan Yuda dan ibu Ajeng sang atasan.


Di rumah besar nan mewah bergaya minimalis modern Andra memperkerjakan 15 orang asisten rumah tangga yang memiliki tugasnya masing-masing.


Mbok Darmi lah sebagai kepala asisten rumah tangga di rumah Andra.


"Siang kau handle jadwal ku Al." Kata Andra sembari memasang sabuk.


"Loh kenapa?."Tanya Aldi.


"Aku mau makan siang dengan ibu di resto kak Dimas, sudah lama aku tak mengajak ibu jalan-jalan." Kata Andra sembari mengambil kaca mata di laci dasboard.


"Saran ku sebaiknya kamu segera mencari istri, yah kalau bisa cari lah yang bukan wanita karier agar dapat selalu menemani ibu mu di rumah." Kata Aldi sambil melirik ke arah Andra."


"Tapi siapa Al perempuan yang dengan rela hati dan tulus mau merawat ibu ku yang depresi itu." Andra membuang napas kasar.


"Kalau perempuan itu tulus mencintai mu sudah pasti dia pun akan tulus menyayangi ibu mu." Ucap Aldi sambil menepuk pundak Andra.


"Tapi aku belum bisa buka hati untuk nama lain." Andra menghela napas."


"Hah!!! Reina !!! wanita itu tidak pernah perduli dengan perasaan mu!?." Aldi menggelengkan kepala nya.


Untuk apa masih saja memikirkan dia. Aldi begitu jengah dengan nama Reina, karena Aldi adalah orang yang paling tahu bagaimana hubungan Andra dan Reina.


Aldi adalah sahabat Andra sejak kuliah dan sekarang Aldi adalah asisten dan orang paling dipercaya oleh Andra untuk mendampinginya mengurus perusahaan.


"Belajar lah untuk membuang nama Reina."Kata Aldi tanpa menoleh ke arah Andra.


"Oya, memang ibu tak mau tinggal dengan kak Dimas. Bukannya mba Laras juga baik orangnya!." Tanya Aldi.


"Kak Dimas dan mba Laras sibuk apalagi semenjak ada Kemala mereka juga harus pintar membagi waktu.


Hanya setiap akhir pekan mba Laras datang untuk menginap." Kata Andra.

__ADS_1


"Nah itu dia kalau kamu dapat istri kayak kakak ipar mu juga percuma.


Mba Laras seorang dokter yang bekerja dari pagi sampai sore hanya punya waktu tiap akhir pekan untuk ibu mertua nya." Kata Aldi sambil tersenyum.


"Kalau aku ntar cari yang tulus mau jadi ibu rumah tangga aja jadi aku pulang kantor pasti selalu disambut dengan senyuman manis." Ucap Aldi sambil tersenyum tipis.


"Hayalan mu, Al makanya cari sudah biar ada yang ngurus dan ada yang bantu ngabisin tu uang mu." Andra berkata sembari tertawa.


"Ga usah pakai menertawakan aku An!.Lihat juga dirimu." Balas Aldi.


"Tapi setidaknya aku masih bisa menyimpan uangku untuk hal- hal yang bermanfaat timbang kamu An masih rajin menghambur hamburkan uang dan foya foya ga jelas." Kata Aldi.


"Aku cuman cari kesenangan untuk menghilangkan penat ku Al." Kata Andra membela diri.


"Tapi sampai kapan An, kamu begini terus?." Tanya Aldi.


"Entahlah!." Satu kata dari mulut Andra.


Mobil yang mereka tumpangi kini sampai di depan lobi kantor.


Andra dan Aldi kemudian turun dan langsung masuk kedalam lobi sementara mobil mereka telah beralih ke sopir kantor yang akan memarkirkan mobil milik atasannya tersebut.


Hiruk pikuk dalam gedung perkantoran begitu terasa saat semua karyawan mulai berdatangan menuju arah divisi mereka.


Untuk kembali bergelut dengan setumpuk berkas dan beradu kuat dengan layar komputer.


Andra dan Aldi sudah sampai di lantai 17 tempat di mana ruangan para petinggi perusahaan.


Berjalan menyusuri koridor berlantai granit kelas satu melewati ruangan demi ruangan dengan nama dan jabatan yang tergantung rapi.


Menunjukan identitas para empunya ruangan.


Sampai didepan ruangan Andra, sang sekretaris Della segera mengekor sang atasan setelah sebelumnya mengucapkan salam sembari sedikit menundukkan tubuhnya tanda hormat.


Della segera memberikan tab yang berisikan jadwal kegiatan sang atasan.


"Setelah makan siang semua akan di handle pak Aldi." Kata Andra sambil menyerahkan kembali tab tersebut ke Della.


"Baik pak ." Della berkata sembari melangkah keluar dan menutup pintu perlahan.


Sementara Aldi masih duduk di sofa sambil membaca berkas- berkas yang juga Della berikan padanya.


Perusahaan Andra adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang konstruksi dan real estate juga beberapa anak perusahaan di bidang otomotif dan suku cadang di tambah lagi usaha ritel.


Perusahaan Andra memiliki banyak anak usaha karena setelah pimpinan tertinggi berada di pundak Andra membuat " Prima Jaya Corp" berkembang pesat dan terus mengepakkan sayap kesuksesan.


Setiap tahun Andra selalu mendapat penghargaan sebagai pengusaha muda tersukses dan selalu masuk menjadi topik dalam berbagai majalah bisnis baik nasional dan internasional.


Berbeda dengan sang ayah yang lebih memilih menetap di Malaysia bersama istri kedua nya.


Karena di Malaysia pun tuan Yuda masih memiliki perusahaan yang bergerak di bidang kontruksi dan real estate.


Karena inilah akhirnya sang ayah terpikat dengan sekretarisnya sendiri, sering melakukan perjalanan ke luar negeri bersama.


Pertemuan yang intens di tambah lagi seorang Gita Anggraeni adalah wanita sosialita.


Yang gaya hidupnya begitu sempurna yang harus bergelimang harta dan kemewahan dan itu semua hanya bisa di penuhi oleh sang atasan tuan Yuda Anggara Prima.


Seorang Gita Anggraeni tak perduli diri nya di cap pelakor sekali pun.


Bahkan lelaki yang kini menjadi suaminya itu lebih pantas untuk menjadi ayahnya, tapi semua tak terlihat karena harta dan kemewahan adalah ambisi dan tujuan hidup seorang Gita Anggreni.


Kini Andra masih asik menandatangi berkas-berkas sampai terdengar ponselnya berdering.

__ADS_1


" Terlihat di layar kak Dimas."


" Hallo kak ! sapa Andra."


" Halla hallo aja!?, coba pake salam ketika menerima dan mengakhiri panggilan. Dimas berkata dari seberang sana."


" Assalamualaikum!!?? kakak ku yang paling ganteng???!! . Andra berkata penuh penekanan."


" Waalaikumsalam adik ku yang bandel"


"Andra ** Ada apa kak??."


"Dimas ** Bagaimana ibu??."


"Andra ** Masih seperti biasa kak?! masih jadi ratu diam!."


"Dimas** Ihh! kamu kok gitu sih."


"Andra ** Habis gimana lagi coba."


"Dimas** Kita masih harus bersabar, kakak sama mba Laras minta maaf akhir pekan kemaren ga bisa nginep karena kemala panas, dia demam!."


"Andra ** Ga pa pa kak, aman kok! terus my princess gimana sekarang."


"Dimas ** Udah baikan kok cuman ya tetap mamahnya yang musti bolos kerja."


"Andra ** Beda yah kalau sudah punya anak apapun akan kalah jika menyangkut anak."


"Dimas ** Ntar kamu juga pasti merasakan kok, makanya cepat cari istri atauuuu....?!."


"Andra** Atau apa kak??."


"Dimas** Atau kakak yang carikan ?!."


"Andra** Hahh! ga ahh pastinya ga cocok ma selera ku kak!."


"Dimas** Belum lihat sendiri sih???"


"Andra** Udah ah kak malah ngomong yang aneh- aneh, ntar pasti datang sendiri to jodoh ! kak ntar siang aku ma ibu ke resto kakak mau makan siang, siapin tempat!."


"Dimas** Yang bener kamu!!"


"Andra** Ya elaa! bener lah ! kapan aku bohong!"


"Dimas** Bohong kalau bilang kamu ga mabuk mabukan lagi."


"Andra** Kaakkk??!! please ?!."


"Dimas** Oke ! kakak tunggu dan vvip untuk ibu ku tersayang!."


"Andra** Sudah kak ! Assalamualaikum."


"Dimas** Alhamdulillah !!?? Waalaikumsalam."


****


Dimas tersenyum sumringah setelah menutup telponnya.


Sungguh bahagia dia mendengar ibu nya akan datang dan makan siang di resto nya.


Segera dia menyuruh pegawainya menyiapkan tempat dan dia sendiri lah yang akan memasak menu kesukaan ibu dan adiknya Andra.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


" tinggalkan kesan kalian untuk diriku yang masih belajar merangkai kata menjadi kalimat" 😍😍✌️


__ADS_2