
Suasana resto sudah sangat ramai karena jam makan siang tiba, demikian juga untuk Gendis dia pun sibuk di lantai dua apalagi siang ini dia dengar ibu dan adik dari atasannya akan datang untuk makan siang.
"Ehh?, Gendis kamu di tugaskan bos ya untuk melayani adik sama nyonya besar." Kata Rahma.
"Iya?! emang kenapa !." Tanya Gendis.
"Ihh ?! kamu harus hati- hati salah dikit bisa kacau semua lho." Ucap Rahma.
"Maksudnya apa sih! mba?." Tanya Gendis heran.
"Itu adiknya pak bos orang nya sombong banget dan angkuh level akut deh, walau ada bagusnya dikit sih?." Kata Rahma sembari mengedipkan mata ke arah Gendis.
"Apa?." Tanya Gendis lagi.
"Penasaran ya." Kembali Rahma menggoda Gendis.
"Terserah lah, Gendis banyak kerjaan mba!." Ucap Gendis sambil melangkah meninggalkan pantry.
"Wooyyy, ntar dulu jangan marah donk sayang."
Ucap Rahma sembari mencubit dagu Gendis.
"Iya ! apa baiknya mba?." Tanya Gendis lagi.
"Baiknya adalah dia juga ganteng persis kayak pak bos kita." Ucap Rahma sembari tersenyum.
"Halaaahhhh mba?. Ingat anak ma suami di rumah yah." Kata Gendis berlalu meninggalkan ruangan pantry, ruangan dimana Rahma bertugas sebagai pantry section.
Kini Gendis sudah berdiri di sisi meja yang sudah di tata rapi dan memang sengaja di siapkan khusus oleh Dimas untuk ibu dan adiknya.
Gendis mendapat tugas khusus untuk melayani meja vvip tersebut dan jadilah kini dia harus menunggu sang tamu istimewa itu datang.
Dalam hati, Gendis bertanya-tanya kenapa harus dia yang kini harus berdiri bagaikan manequen untuk menjalankan perintah sang atasan.
Bahkan para pegawai yang lain justru merasa bersyukur bahwa bukan mereka lah yang menang undian ini.
Sungguh ini membuat Gendis semakin takut dan gugup ditambah lagi para pegawai yang lain terus saja menatapnya dengan senyum kemenangan.
Akhirnya setelah menunggu hampir satu jam, kini Gendis melihat dua orang lelaki tampan dan seorang wanita setengah baya di atas kursi roda keluar dari lift.
Dua lelaki tampan itu salah satunya adalah Dimas sang atasan Gendis dan sudah bisa di tebak siapa pria yang wajahnya begitu mirip bahkan seperti mereka adalah sepasang kembar.
Hanya saja wajah pak Dimas lebih terpancar kewibawaan dan pengayom berbeda dengan wajah lelaki di sampingnya yang begitu angkuh dan sombong tak terlihat senyum sama sekali bahkan terkesan wajahnya bagaikan seekor banteng yang siap menyerang apapun dihadapannya.
"Itu pasti adik dari pak Dimas dan wanita yang ada di kursi roda itu adalah ibu mereka." Batin Gendis.
"Tapi mengapa wanita itu terlihat sendu, tatapannya kosong seakan- akan jiwa wanita itu tak bersama raganya." Gendis bertanya dalam hatinya sendiri.
Kini Gendis segera memasang senyum terbaiknya dan sedikit membungkukkan tubuhnya tanda hormat karena tamu kali ini begitu penting.
Segera Gendis menarik kursi mempersilakan Andra duduk.
Tapi justru Andra menarik sendiri kursi dan duduk di tempat yang seharusnya untuk ibunya duduk.
Gendis menarik napas dengan lembut karena begitu kuat menahan emosinya.
__ADS_1
Kini Andra dan ibu mereka juga Dimas sudah duduk dengan santai sambil menunggu hidangan datang.
Tampak beberapa pelayan telah datang dengan membawa hidangan yang dari tampilannya saja sungguh berkelas.
Wagyu steak, salmon marsala, salmon and warm cannellini bean salad, juga tak lupa shabu shabu yang tentunya paling favorit untuk Andra.
"Ibu ayo makan, Dimas suapin yah?!, dulu ibu paling suka salmon kan." Kata Dimas sembari memotong daging salmon untuk dia berikan ke ibu nya.
"Dimas juga sudah buatkan beberapa dessert untuk ibu coba." Kata Dimas sembari terus dengan sabar melayani sang ibu yang hanya diam.
Gendis hanya diam sembari terus sigap apabila sewaktu - waktu tamu istimewa tersebut membutuhkan sesuatu.
Sementara Andra sudah asik dengan shabu shabu dan steak wagyu.
"Maaf tuan, apakah butuh bantuan?!." Tanya Gendis pada Andra.
Andra tak menjawab seakan-akan dia tak mendengar Gendis bicara.
"Ampuni aku Ya Allah, sombong sekali dia." Gendis hanya menggerutu dalam hati.
"Apakah ibu mau sup." Tanya Dimas pada ibunya.
"Gendis ! ." Panggil Dimas.
"Iya pak!." Jawab Gendis.
"Coba tolong kamu ambil sup untuk ibu." Kata Dimas kepada Gendis.
Gendis lalu segera mengambil sup yang tersaji di atas meja, sup dengan asap halus nan lembut yang masih menari-nari menandakan betapa panas hidangan tersebut.
Dimas tersenyum dan berkata silakan.
Kini Gendis duduk tepat di samping ibu Ajeng dengan semangkok sup di tangan.
"Apa-apaan berani sekali kamu." Kata Andra dengan tatapan tajam.
"Ga pa pa lah, kakak yang mengijinkan." Kata Dimas santai.
"Jangan kak walaupun dia pegawai pilihan tapi aku tidak mau ibu di sentuh orang sembarangan." Kata Andra dengan sedikit berteriak membuat orang di sekitar mereka melihat kearah mereka.
Gendis yang memang sedari awal memang gugup dan takut kini semakin gemetaran karena tatapan intimidasi Andra.
Kemudian Gendis menaruh kembali mangkok sup itu tapi sialnya Gendis meletakkan mangkok ditempat yang tidak kondusif.
Sehingga ketika Gendis kemudian berdiri dan tanpa sengaja menyenggol mangkok tersebut dan yang lebih parah lagi.
Mangkok tersebut terjatuh dan tertumpah di pangkuan ibu Ajeng.
Ibu Ajeng berteriak karena terkena kuah panas dari sup tersebut.
Seketika Andra begitu murka dan langsung manarik kerah baju Gendis.
"Kau apakan ibu ku gadis rendahan!." Teriak Andra yang begitu keras bagai petir di siang bolong yang seketika membuat suasana menjadi hening.
"Urusan kita belum selesai dan kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap ibu ku !." Kata Andra sambil menghempaskan tubuh Gendis ke lantai.
__ADS_1
Andra segera pergi menyusul Dimas yang sudah lebih dulu pergi membawa ibu mereka ke ruangan Dimas.
Gendis luruh dilantai tubuhnya lemas untuk berdiri pun dia tak mampu.
Gendis mengerti kenapa karyawan yang lain tak mau berurusan dengan tuan angkuh adik dari atasan mereka.
Kini dia lah yang jadi tumbal seorang Andra.
Kini Gendis harus siap dengan segala akibat dari perbuatannya walaupun tak terlintas sedikit pun untuk bermaksud mencelakai nyonya besar.
Rahma yang tergopoh-gopoh menghampiri Gendis setelah beberapa karyawan lain memberitahukan kepada Rahma tentang yang terjadi pada Gendis.
Rahma melihat Gendis masih terduduk dilantai dengan menitikkan airmata.
"Mbaa....?." Gendis ga sengaja mba?." Tangis Gendis pecah di pelukan Rahma.
"Iya, semua tahu kamu ga sengaja itulah kenapa kita semua disini selalu menghindari tuan Andra." Kata Rahma.
Tidak ada yang benar hanya dialah yang paling benar, sudahlah pak Dimas orang nya baik pasti dia tidak akan membiarkan karyawannya mendapat perlakuan yang tidak adil." Kata Rahma."
"Tapi ini menimpa ibu dari pak Dimas mba?." Kata Gendis sambil menyeka air matanya.
"Sudahlah kita tunggu pak Dimas aja nanti." Kata Rahma sembari membelai pundak Gendis.
Sementara beberapa karyawan yang lain tengah sibuk membersihkan semua yang berserakan.
Karena meja yang tadi sudah tertata rapi pun tak luput dari amukan Andra.
"Lebih baik kita turun ke bawah." Ajak Rahma.
"Tiba di lantai bawah, seorang karyawan menghampiri Gendis dan berkata." Gendis kamu di panggil pak Dimas ke ruangannya.
Gendis yang masih berlinang air mata semakin di landa ketakutan, dia sudah siap menerima segala konsekuensi yang harus di dapat setelah menumpahkan sup panas yang mengenai nyonya Ajeng.
Yang merupakan ibu dari atasannya sendiri.
Pikirannya kini melayang tak tentu arah apabila sampai di pecat mau kerja apa lagi karena untuk mendapatkan pekerjaan di kota besar sangatlah sulit.
Kalau pun hanya PHK yang dia terima mungkin masih sangat beruntung akan tetapi apabila ada tuntutan dan harus ganti rugi sungguh dia tak sanggup.
Hidup sudah pas pasan dengan gaji yang hanya cukup untuk makan dan biaya transportasi.
Rahma hanya menepuk pundak Gendis mencoba memberi semangat dan kekuatan.
Kini Gendis berjalan gontai rasa yang berkecamuk menjadi satu.
Dia melangkah menuju ruangan pak Dimas sang atasan dengan jantung yang seperti ingin lepas dari tempatnya.
Wajah Andra yang penuh amarah lah yang menjadikan Gendis begitu ketakutan.
Karena seumur hidupnya tak pernah dia melihat orang dengan amarah dan tatapan penuh intimidasi seolah Gendis adalah daging mentah yang siap di terkam seekor singa yang kelaparan.
Kedua orang tua nya dulu bahkan dengan pakde dan budenya sekarang dia merasa nyaman karena mereka memperlakukan Gendis dengan penuh kelembutan .
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1