
Sementara di kantor Andra dan Aldi sedang berdiskusi tentang hasil meeting yang mereka lakukan dengan wakil pemerintah karena perusahaan Andra mendapat tender mega proyek tol di kalimantan.
"Berarti bulan depan kita ke kalimantan An." Kata Aldi bersemangat.
"Kenapa semangat sekali kamu Al." Tanya Andra dengan wajah sinis.
"Semangat lah hitung-hitung melepas penat apalagi di sana lagi musim durian An." Balas Aldi.
"Yah yah makan aja yang kau pikir." Jawab Andra sambil tersenyum.
"Aku juga senang Al." Andra berkata sambil tersenyum.
"Kenapa." Tanya Aldi.
"Mungkin aku akan mengajak Reina karena seminggu lagi dia kembali dan juga bulan depan dia ada tampil di salah satu club ternama di kota S." Kata Andra enteng.
"Maksudnya tampil apaan Ndra." Tanya Aldi dengan mata membulat.
"Semalam Reina mengabari ku kalau minggu depan dia kembali dan sekarang selain model dia juga jadi seorang DJ." Kata Andra dengan penuh semangat sangat berbeda saat Aldi selalu menanyakan Gendis, Andra selalu menjawab dengan wajah masam.
"Ampun deh Andra Barata Prima benar-benar sudah di buta kan oleh cinta." Keluh Aldi.
"Reina sudah meninggalkan kamu begitu dan tiba - tiba berkata ingin kembali dan kamu menerima begitu saja, selama ini kemana dia." Kembali Aldi berkata dengan wajah kesal.
"Harus nya kamu sadar cewek model gitu masih juga kamu harap mana kita tahu dia di luar negeri sana seperti apa apalagi sekarang jadi DJ. Terserah kamu lah, suatu saat kamu pasti menyesal." Kata Aldi berdiri dan melangkah ke luar ruangan lalu menutup pintu dengan kasar.
Aldi begitu kesal dengan sikap Andra apalagi sebenarnya Aldi tahu semua rekam jejak Reina selama tinggal di luar negeri tapi buat Aldi belum saat nya memberitahukan kebenaran nya sekarang.
Andra hanya tersenyum melihat sikap Aldi, kini di lihatnya ponselnya karena ada beberapa bunyi notifikasi WhatsApp masuk.
Di lihat nya WhatsApp dari sang kakak Dimas lalu Andra membuka ada beberapa foto yang di kirim Dimas pada nya. Foto yang memperlihatkan ibu nya sedang ditangani dokter ortopedi dan temani Gendis yang setia di samping ibu nya.
Lalu foto di mana mereka berada di restoran Dimas dan satu foto yang seperti nya di ambil tanpa sepengetahuan empunya.
Foto itu memperlihatkan pose Gendis yang duduk sambil memandang ke arah penjuru kota karena mereka ada di area lantai dua resto dengan tatapan sendu dan kosong tapi begitu terlihat anggun dan cantik sangat memperlihatkan usia Gendis yang baru menginjak 19 tahun.
"Andra tersenyum melihat foto itu sambil berkata." Seberapa kuat kamu akan bertahan perempuan rendahan.
******
__ADS_1
Setelah menunaikan sholat Isya bersama ibu mertua nya lalu makan malam dan di lanjut menonton drakor kini Gendis sudah berada di kamarnya, Gendis baru masuk kamar setelah benar-benar memastikan nyonya Ajeng tidur agar tak mengetahui di mana sebenarnya Gendis tidur.
Malam sudah semakin larut tapi Gendis tak merasakan kantuk sedikit pun karena hampir pukul 2 malam Andra juga belum pulang.
Sampai terdengar suara gerbang terbuka dan suara mesin mobil masuk ke garasi. Gendis segera bangun dan keluar kamar sambil memakai jilbab rumahan nya menuju arah pintu.
Belum sampai ke ruang tamu ternyata pintu sudah terbuka dan terlihat Andra yang sedikit kusut.
"Mas, dari mana kok musti pulang larut terus?." Tanya Gendis sambil menghampiri Andra yang berjalan ke arah tangga.
Tanpa berkata apa pun Andra langsung mencengkram tangan Gendis dan menyeret nya naik ke lantai atas menuju kamar nya.
"Sampai di kamar Andra berkata." Seperti yang ku katakan tadi pagi bahwa aku akan memberikan pelajaran pada mu.
Gendis yang berdiri gemetar melihat Andra melepas jas dan di lemparkan ke sembarang arah kemudian melepas dasi dari kepah kemejanya.
Andra duduk di tepi ranjang sambil menatap Gendis tajam seperti terbakar amarah dan penuh kebencian.
"Buka jilbab mu." Perintah Andra.
"Tap tap tapi mas." Tolak Gendis dengan terbata - bata.
"Malu kamu malu ya." Kata Andra berdiri menghampiri Gendis dan melepas paksa jilbab Gendis.
"Sekarang jangan kamu mencoba menolak lagi permintaan ku atau akibat nya akan lebih parah lagi." Andra berkata sambil menjambak rambut gendis yang terurai panjang sepinggang karena terlepas dari ikatan nya akibat jilbab yang di lepas paksa oleh Andra.
"Ampun mas , ampun mas sakit mas sakit Gendis mohon ampun mas." Pinta Gendis sambil meringis menahan sakit yang di ikuti dengan air mata yang mengalir deras.
"Andra lalu menghempaskan tubuh Gendis di lantai. Buka baju mu, cepat!." Perintah Andra yang kembali duduk di ranjang sambil memainkan dasi di tangan nya.
"Buka baju mu perempuan murahan ! berapa kakak ku membayar mu heh agar mau menikah dengan ku." Andra berkata sambil menginjak kepala Gendis yang lunglai di lantai dengan rambut yang berantakan.
"Berapa !!! berapa !!! cepat katakan !!!." Andra berkata dengan kaki yang masih berada di atas kepala Gendis.
Tak ada jawaban hanya terdengar isak tangis pilu dari Gendis yang tertelungkup di lantai.
"Sekarang bangun dan buka baju mu, cepat !!." Teriak Andra.
Jika di dalam kamar Andra bebas melakukan apapun walaupun dia berteriak sekencang-kencang nya tak bisa ada yang mendengar karena dia juga memasang peredam suara.
__ADS_1
Gendis bangun masih dengan tangisan pilu nya dia kemudian perlahan membuka daster panjang yang di pakai dan kini hanya menyisakan pakaian dalam saja.
"Bagus, buka semua." Kembali Andra berteriak.
"Jangan mas, saya mohon apa salah saya mas?! ampun mas." Gendis berkata seraya bersimpuh dan terus menangis.
"Salah mu apa ?! pertanyaan macam apa itu, dasar munafik !." Teriak Andra seraya membuang ludah ke arah Gendis.
"Salah mu adalah kamu mau menikah dengan ku perempuan kampungan heh !!." Berkata sambil kembali menjambak rambut Gendis yang masih dengan posisi bersimpuh.
"Jawab, ayo jawab ! berapa kakak ku membayar mu heh!! perempuan rendahan." Teriak Andra penuh emosi.
Kini Andra menyeret paksa Gendis mendekati nakas yang ada di samping ranjang lalu mengikat kedua tangan Gendis di kaki nakas dengan dasi milik nya.
"Kau tahu Gendis si gadis murahan walau kau memiliki tubuh molek dan indah ini tapi sampai kapan pun tak ada rasa nafsu ku pada mu, ingat itu !!." Andra berkata sambil menjambak rambut Gendis yang tangan nya sudah terikat di kaki nakas.
Sungguh pilu dan tak bisa tergambar dengan apa pun hinaan yang di terima Gendis bahkan tangisnya sampai tak bersuara lagi hanya deras nya air mata yang mampu membuat lantai marmer itu terasa licin dan basah.
"Satu lagi kekasih ku Reina akan kembali dan kamu harus bersiap bersiap pergi atau kalau kau mau bertahan silakan tapi jangan mengharap apa pun dari ku karena semua akan menjadi milik Reina." Andra berkata seraya menghempaskan tubuh nya di ranjang meninggalkan Gendis yang terikat di kaki nakas di samping ranjang nya.
Betapa hancur hati Gendis, entah sampai kapan hinaan dan caci maki harus dia terima dari seorang Andra lelaki pertama yang Gendis cintai karena sebelum nya Gendis tak pernah memiliki kekasih atau mantan.
Walaupun semenjak SMA ada beberapa lelaki yang mencoba mendekati tapi Gendis menutup rapat pintu hati nya. Sampai tatapan pertama nya dengan Andra lah yang mengubah segala nya sebenarnya ingin rasa nya Gendis mengungkapkan isi hati nya dan alasan dia menerima permintaan tuan Dimas apalagi setelah mendengar cerita pakde nya yang telah di tolong oleh tuan Dimas.
Kini Gendis terbaring di lantai dengan tangan yang terikat begitu kuat di kaki nakas sampai terlihat jari-jari nya sedikit membiru karena kurang nya aliran darah ke bagian jari-jari nya di tambah lagi terbaring di lantai marmer yang terasa basah karena air mata nya terus mengalir hanya dengan pakaian dalam saja.
Andra yang tanpa merasa bersalah sedikit pun kini sudah terlelap dengan deru napas yang teratur meninggalkan Gendis yang kedinginan merasakan hawa AC dan berpeluk lantai marmer yang basah.
Gendis terus menangis merasakan pilu hidup nya, berharap merantau meninggalkan kampung halaman guna merubah nasib dari belenggu kemiskinan.
Kini dia pun teringat ibu mertua nya yang depresi karena ayah Andra pergi dengan wanita lain dan dengan jelas dia dengar dari bibir Andra sendiri bahwa dia akan kembali bersama kekasih nya. Akankah dia harus bernasib sama dengan ibu mertua nya yang kini sedang berusaha kembali menata hati yang sebelum nya selama dua tahun menjadi serpihan-serpihan kecil.
Sungguh sekarang Gendis begitu merasakan rindu pelukan pakde dan bude nya yang sudah menjadi orang tuanya setelah kedua orang tua pergi kepada Sang Khalik.
Walau hidup dengan serba kekurangan dan tinggal di rumah kecil dan reyot tapi rasa bersahaja dan tentram itulah yang di rasakan Gendis.
Sampai kapan seorang Gendis kuat hanya dia yang tahu pasti, karena dia rasakan cinta nya pun tak pudar meski seorang Andra terus memberi sayatan sembilu di hati dan perasaan nya.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1