
Hari ini adalah hari pertama Gendis berada di rumah Andra, Gendis memulai aktivitasnya dengan mengurus ibu Ajeng karena Andra sendiri tidak mengijinkan Gendis menyiapkan segala keperluannya.
"Assalamualaikum ibu, saya boleh masuk." Tanya Gendis yang masih berdiri di muka pintu yang sudah terbuka.
"Silakan masuk saja nak." Pinta ibu Ajeng sembari tersenyum kecil.
"Ibu....!?" Gendis menghampiri ibu mertuanya lalu memeluknya.
"Bagaimana tidur mu semalam sayang, nyenyak?!." Tanya ibu Ajeng.
"Alhamdulillah nyenyak ibu." Jawab Gendis berbohong karena semalam justru dia tak tidur entah kenapa dia begitu sulit melupakan sosok Andra.
Dalam hati Gendis sebenarnya ingin sekali dekat dengan Andra, entahlah mengapa dia bisa secepat ini memilki rasa dalam hatinya.
Rasa yang mungkin selama nya hanya dia yang tahu dan tak terbalaskan.
"Ibu maaf kalau Gendis lancang." Gendis berkata sambil mengelus kaki ibu Ajeng.
"Kenapa sayang??." Ibu Ajeng balas bertanya.
"Kenapa ibu menggunakan kursi roda padahal kaki ibu tidak apa - apa kan ibu??!." Gendis menunduk karena takut ibu mertua nya itu akan marah.
"Kemudian ibu Ajeng tersenyum dan mulai bercerita.
"Dua tahun yang lalu sewaktu rumah tangga ibu di hantam badai, ibu begitu depresi sampai ibu mencoba bunuh diri nak!."
Hah." Mata Gendis membulat."
"Ibu minum cairan pembersih dan setelah itu menjatuhkan tubuh ibu dari tangga lantai atas karena ibu pikir setelah tubuh ibu jatuh dan pasti nyawa ibu pun melayang."
"Tapi Tuhan masih sayang dengan ibu hingga ibu masih selamat tapi setelah itu ternyata kaki ibu terkilir dan mengalami pembengkakan."
"Dimas dan Andra lalu membawa ibu ke rumah sakit dan di sana ibu rawat sampai kembali pulih, seharusnya ibu harus menjalani terapi agar kaki ibu dapat kembali normal tapi ibu yang tidak mau."
"Walau Dimas dan Andra memaksa justru malah ibu yang balik mengancam akan bunuh diri apabila harus menjalani terapi lagi."
"Jadilah ibu harus di kursi roda sebenarnya ibu masih bisa berjalan dengan bantuan tongkat tapi sangat sakit rasanya."
__ADS_1
"Akhirnya ibu menjalani hidup ibu dengan seperti ini dan membisu hampir dua tahun."
"Sebenarnya ibu merasa bersalah dengan yang ibu lakukan tapi ibu juga tak bisa membuang rasa sakit ibu atas semua yang ibu alami karena ayah Andra yang mengkhianati ibu."
"Apalagi Andra justru berubah menjadi liar, dia selalu ke tempat hiburan malam dan mabuk-mabukan."
"Keadaan ini semakin memperburuk suasana hati ibu nak." Ibu Ajeng mengelus pipi Gendis yang mulus."
"Sampai kakak mu Dimas mengatakan akan menikah kan Andra dengan perempuan sholehah yang dia pilih."
"Di situ ada harapan dalam hati ibu untuk kembali semangat karena rasa bersalah ibu pada Andra."
"Karena ibu tak mengurus nya lagi justru ibu larut dengan rasa sedih ibu sendiri." Ibu Ajeng lemas mengakhiri cerita panjang nya.
"Baiklah ibu kalau begitu mulai sekarang ibu harus terapi lagi supaya sembuh dan Gendis siap menemani ibu." Gendis memeluk ibu Ajeng erat.
"Baiklah ibu akan menuruti mu sayang." Ibu tersenyum sambil membelai kepala Gendis yang tertutup jilbab rumahan.
"Kalau begitu kita turun dan sarapan di bawah yah ibu dan Gendis akan kasih tahu mas Andra."Gendis lalu mendorong kursi roda ibu mertua nya keluar kamar menuju lift yang memang sengaja di pasang Andra untuk akses nyonya Ajeng.
"Loh nyonya turun." Tanya mbok Darmi yang terheran- heran karena tak pernah ibu Ajeng mau turun ke bawah apalagi sarapan di meja makan.
Setelah Gendis mendudukkan ibu mertua nya untuk sarapan di ruang makan dia lalu menyiapkan sepiring nasi dan teh hangat untuk ibu Ajeng.
"Ini ibu, makan yah biar tambah sehat dan semangat." Kata Gendis sambil mengulas senyum.
"Terima kasih sayang, sekarang kamu lihat dulu suami kamu di kamar." Perintah ibu Ajeng setelah menerima piring dari Gendis.
"Gendis terdiam, bagaimana mau melihat sedangkan ke kamarnya saja tidak boleh." Gendis berkata dalam hati.
"Maaf nyonya tadi malam den Andra sekitar jam 11 keluar dan baru pulang jam 5." Kata mbok Darmi sedikit takut apalagi dia melihat Gendis yang berubah sedih.
"Loh kok kamu ga ngomong sama ibu sayang?." Tanya ibu Ajeng pada Gendis.
Gendis hanya menatap mbok Darmi seakan akan mohon bantuan untuk menjawab pertanyaan ibu mertua nya.
Tidak mungkin dia bercerita apa yang sebenarnya terjadi bahwa dia ditempatkan Andra di kamar pembantu.
__ADS_1
"Anu ...nyonya tadi malam non Gendis sudah tertidur jadi tidak mengetahui kalau den Andra keluar." Mbok Darmi berusaha mencari alasan.
"Gendis, ibu mohon kamu sabar dan harus berusaha merubah suami mu menjadi baik yah." Ibu Ajeng mengelus pundak Gendis.
"Sudah sana kamu lihat dulu suami mu, cepat." Perintah nyonya Ajeng.
Gendis tak bisa menolak maka kini dengan langkah berat dia naik ke lantai dua menuju kamar Andra, orang yang berstatus suami nya itu.
Gendis membuka perlahan pintu kamar kemudian sedikit melongok ke dalam. Di lihatnya Andra yang terbaring di ranjang dengan keadaan yang sungguh berantakan.
"Mas, mas kenapa?!." Gendis berlari menghampiri Andra yang masih tertidur, tercium bau aroma minuman beralkohol yang begitu menusuk dan yang lebih membuat Gendis tersentak adalah di lihat nya bekas jejak lipstik yang bertebaran menghiasi kemeja putih panjang yang Andra pakai.
Sungguh perih rasa nya di saat dia membayangkan indah nya malam pertama dengan orang yang dia cintai tapi di saat yang sama justru orang itu bermesraan dengan banyak wanita di luar sana.
Gendis terdiam terpaku merasakan pilu yang menyayat hati lalu dia mencoba kuat. Dia lepaskan sepatu juga kemeja Andra dan mengambil handuk di lemari.
"Mas ?!, ayo bangun mas kan harus ke kantor ini sudah siang mas." Gendis menepuk tepuk pipi Andra.
"Hah, kamu !!!, berani sekali kamu masuk ke kamar ku tanpa seijin ku sungguh lancang!." Mata Andra begitu berkilat menatap tajam Gendis yang berdiri gemetar.
"Maaf mas, saya di suruh ibu membangunkan mas."Sahut Gendis penuh ketakutan.
"Aku sudah katakan apa pun yang terjadi jangan sekali-kali kamu masuk ke kamar ku perempuan rendahan." Kata Andra sambil mencengkram pergelangan tangan Gendis dengan sangat kencang bahkan meninggalkan bekas kemerahan.
"Oh!!, kamu marah kecewa dengan aku karena aku tak memberi mu malam pertama?!. Hah !!, kamu tahu aku jijik menyentuh perempuan kampungan seperti kamu." Kata Andra sambil menyentil jidat Gendis.
Gendis hanya terdiam tapi air mata nya sudah cukup menjawab semua yang ada dalam hati nya.
"Keluar !, dan ingat nanti malam kau akan ku beri pelajaran agar kamu tahu bahwa seorang Andra Barata tidak memiliki cinta apalagi belas kasihan pada mu perempuan rendahan."Andra berkata seraya membuang ludah nya tepat di muka Gendis.
Gendis tak mampu menggambarkan kan hinaan yang di dapat dari seorang Andra. Seandainya pakde dan bude nya tahu bahwa ini yang dia dapatkan niscaya detik ini juga pasti Gendis sudah di bawa kembali oleh pakde nya.
Gendis beranjak keluar kamar sementara Andra masuk ke kamar mandi sambil menunaikan segala sumpah serapah melampiaskan segala kekesalan terhadap Gendis.
Gendis segera bersiap merubah mode wajah nya menjadi ceria sebelum menuruni tangga dan menjawab segala pertanyaan dari ibu mertua nya.
Dia berpikir lebih baik menelpon tuan Dimas saja untuk memberitahukan perihal ibu yang ingin kembali mengikuti terapi.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹