Cinta Gendis

Cinta Gendis
Bab.7


__ADS_3

Siang hari pakde dan bude Gendis sudah pulang dari bekerja karena jam kerja mereka dari jam tiga dinihari sampai jam 1siang.


Setelah selesai membersihkan diri pakde dan bude duduk di dapur yah karena begitu kecilnya rumah mereka sehingga tak memilki ruang tengah atau ruang makan sekali pun.


"Loh ? , nduk kok sarapan nya ga dimakan, kenapa?." Tanya Bude.


"Maaf bude itu mas Andra ga suka nasi goreng jadi tadi pagi pesan di aplikasi aja." Jawab Gendis.


"Pakde?." Sapa Gendis yang hendak memulai pembicaraannya mengenai permintaan Andra.


"Mas Andra sepertinya tidak bisa harus sampai seminggu di sini pakde karena besok pun mas Andra ada kerjaan di luar kota." Kata Gendis sedikit berbohong dengan pakde nya.


"Kenapa kamu yang ngomong harusnya kan suami mu kan langsung menyampaikan." Kata pakde sedikit kesal karena dia mengganggap Andra sangat tidak menghargai dia sebagai orang tua.


"Maaf pakde." Kata Gendis.


"Mas Andra ga enak takut pakde marah nantinya." Sanggah Gendis.


"Pakde sama bude mu ini tahu sebenarnya suami mu itu ga suka sama kamu kan." Kata Pakde sedih.


"Kalau bukan karena balas jasa sama tuan Dimas pasti pakde ga mau kamu menikah dengan tuan Andra nduk?!." Kata pakde sambil merangkul Gendis.


"Maksudnya apa sebenarnya pakde Gendis ga mengerti." Terlihat wajah Gendis penuh tanya.


"Dulu sebelum kamu datang ke sini pakde pernah buat kasus nduk." Pakde menerawang menatap langit-langit rumah usang nya.


Pakde waktu itu menyerempet orang yang juga karyawan di restoran milik tuan Dimas dan naas nya orang tersebut terluka parah serta keluarga korban menuntut pakde untuk ganti rugi motor yang rusak serta biaya pengobatan yang mencapai puluhan juta."


Pakde jelas tak sanggup dan pihak keluarga korban mengancam akan membawa kasus ini ke kepolisian apabila keinginan mereka tak dipenuhi."


Maka datanglah tuan Dimas yang dengan suka rela dan ikhlas membantu pakde tanpa meminta imbalan apapun." Pakde bercerita panjang lebar."


Hingga sampai kamu bekerja di restoran tuan Dimas dan tentang semua yang kamu alami di restoran tuan Dimas." Pakde bercerita sambil menyeruput kopi panas nya."


Maka nya pakde dan bude langsung setuju saja karena kami mengingat jasa tuan Dimas pada kami walaupun tuan Dimas sendiri sepertinya sudah lupa dengan kami orang yang dia tolong."


Kami mohon maaf Gendis untuk ini semua seharusnya pakde dan bude tak menyetujui permintaan bos mu." Kata pakde."


Pakde dan bude, justru sekarang Gendis semakin semangat mendengar cerita pakde berarti ini kesempatan Gendis membalas jasa tuan Dimas kepada kita."

__ADS_1


Baiklah Gendis kalau memang tuan Andra harus pulang, silakan kalian pulang. Pakde hanya bisa berpesan tetap sabar menghadapi suami mu terus memohon agar hati suami mu luluh dan yang paling utama jangan kau tinggalkan ibadah mu." Pakde membelai pundak Gendis."


Iya, pakde Gendis akan ingat pesan pakde dan bude." Kata Gendis sembari mencium tangan pakde dan bude nya."


Segera Gendis menuju kamarnya menemui Andra yang justru tengah asik bermain game di ponselnya.


Mas, kata pakde kita boleh pulang mas sore ini." Gendis berkata sambil mengulas senyum namun hanya di balas wajah datar oleh Andra."


Tanpa berkata apa pun untuk membalas ucapan Gendis, Andra langsung menelpon Aldi.


"Andra *** ." Hallo Al, dimana ??!!."


"Aldi *** ." Lagi santai lah mumpung hari minggu kan!?."


"Andra *** ." Sore jemput aku pulang ."


"Aldi *** ." Loh kenapa?!, katanya semingguan di sana."


"Andra *** ." Males aku berlama-lama Al apalagi harus tinggal di gubuk yang sudah kayak kandang ayam aja."


"Aldi *** ." Keterlaluan banget omongan mu An !, ya harusnya itu nanti jadi tugas mu untuk membangun yang lebih layak donk masak mau sama ponakan nya tapi ga mau membahagiakan pakde sama bude nya Gendis."


"Aldi *** ." Oke memang bukan mau kamu An tetapi kamu juga tetap harus memperlakukan Gendis selayaknya seorang istri An."


"Andra *** ." Aku terpaksa karena ibu dan kak Dimas dan kamu pasti tahu perasaan ku dan hati ku tetap untuk siapa Al."


"Aldi *** ." Terserah kamu An, ntar sore aku jemput sekalian sama Gendis kan."


"Andra ***." Ya sama Gendis."


"Aldi ***." Oke, bay."


"Andra ***." Bay."


Gendis yang sedari tadi mendengar semua percakapan Andra dan Aldi hanya berdiri mematung merasakan perih yang teramat sangat sampai ke ulu hati nya, Gendis benar-benar merasakan luka yang tak berdarah.


Tapi di sudut hati nya yang lain Gendis merasakan sesuatu yang aneh tak kala memandang wajah Andra, ada getaran aneh dan merasa ingin selalu dekat.


Walau Gendis tahu apa namanya yang kini dia rasakan terhadap seorang Andra tapi Gendis berusaha menolak dan membuang perasaaan yang pasti tak akan terbalaskan dari seorang Andra.

__ADS_1


Apalagi setelah Gendis mendengar sendiri percakapan Andra dan Aldi bahwa, Andra akan tetap menjaga hatinya untuk seseorang yang Gendis tahu pasti wanita bernama Reina.


Mas!?." Sebaiknya temuin pakde dulu yah kan nanti sore mau balik." Ajak Gendis."


Iya, sebentar dan kamu segera bereskan cover ku aku tak mau ada yang tertinggal satu pun." Kata Andra sembari berjalan ke arah pintu."


Gendis hanya menghela napas, terasa sangat menyesakkan di sudut dadanya begitu ngilu." Sabar-sabar Gendis tetap semangat." Gendis berkata dalam hatinya."


Sementara Andra yang sudah keluar dari kamar mencari keberadaan pakde dan bude Gendis.


Oh, disini pakde." Kata Andra melihat pakde yang sedang duduk di samping rumah."


Andra segera menghampiri pakde dan kini ikut duduk di samping pakde.


Aduh tuan jangan kesini tempatnya kotor." Kata pakde sembari bangkit dari duduknya dan mengajak Andra masuk."


Ah pakde ga pa pa kok, di sini aja ga masalah." Sanggah Andra."


Jangan sebaiknya kita masuk saja." Ajak pakde yang kini sudah berjalan ke arah dalam rumah."


Kini pakde dan Andra sudah berada dalam rumah dan duduk di ruang tamu sempit yang hanya di lapisi karpet karena tak ada kursi di sana.


Maaf pakde, saya tidak bisa berlama lama disini karena banyak pekerjaan yang saya tinggalkan juga saya sangat menghawatirkan ibu saya yang sakit." Kata Andra."


Iya, tidak apa apa Gendis sudah kasih tahu pakde." Kata pakde ."


Terima kasih pakde atas pengertiannya." Kata Andra sambil menggenggam tangan pakde."


Saya titip Gendis tuan, saya tahu tuan sangat terpaksa untuk menjalani pernikahan ini tapi percayalah Gendis perempuan baik dan pasti akan patuh terhadap suaminya."


Gendis tak punya siapa siapa lagi selain saya dan bude nya dan jika suatu saat nanti kami harus pergi lebih dulu saya mohon jagalah Gendis, dia adalah berlian rapuh setelah orang tuanya tiada." Pakde berkata sambil menitikkan air mata."


Andra yang mendengar perkataan pakde Gendis begitu tercekat, tenggorokan nya seketika kering tak bisa berkata apa pun hanya tertunduk membisu.


Sudahlah tuan, saya tak meminta jawaban tuan Andra." Kata pakde sambil menepuk pundak Andra."


Maaf kan kami yang orang miskin ini tuan, inilah keadaan kami saya tahu tuan tidak betah di rumah saya yang seperti kandang aya ini." Pakde berkata sambil menepuk pundak Andra dan berlalu pergi."


Andra masih diam membisu sungguh ada sudut hatinya yang lain mengatakan sikap Andra adalah salah tapi rasa tidak suka terhadap Gendis yang lebih mendominasi hingga semua menjadi kabur.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2