
Keesokan harinya Andra dan Reina berangkat ke Itali untuk berlibur selama dua minggu.
Sedangkan di kediaman ibu Ajeng suasana rumah terlihat sepi sementara Gendis sendiri sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah pakde dan budenya.
Gendis seperti biasa setiap pagi selalu mendatangi ibu Ajeng di kamar nya dan hari ini adalah hari terakhir buat nya untuk bertemu ibu Ajeng dan pulang.
"Ibu ??." Panggil Gendis sambil membuka pintu perlahan.
Terlihat ibu mertua itu duduk di kursi menghadap arah balkon.
"Ibu ayo kita sarapan dulu." Ajak Gendis.
Ibu Ajeng terdiam dan hanya merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh Gendis ke dalam pelukannya.
"Sayang ?! maafkan ibu yah." Kata nyonya Ajeng sambil membelai kepala Gendis yang berada dalam pangkuannya.
"Sudahlah ibu jangan pernah menghawatirkan Gendis, saya akan berusaha kuat dan sabar bu saya tahu perasaan mas Andra bukan untuk saya dan saya tak berhak memaksa." Gendis berkata sembari menangkup kedua pipi mertuanya itu.
"Hari ini Gendis pulang bu dan Gendis pasti sangat merindukan ibu." Gendis menangis di dalam pangkuan ibu Ajeng.
"Ibu pasti akan selalu merindukan mu sayang." Ibu Ajeng berkata sambil terus membelai kepala Gendis.
"Gendis pasti akan mengunjungi ibu." Kata Gendis sambil terus terisak.
"Ibu harus jaga kesehatan dan jangan sampai stres yah, Gendis sayang ibu." Kata Gendis sambil menghapus air mata nya.
"Pulanglah ibu doakan kau akan mendapatkan kebahagian dan menemukan seseorang yang benar-benar mencintai mu nak." Kata ibu Ajeng sambil menghapus air mata Gendis.
"Gendis bersyukur mendapatkan ibu mertua yang begitu sayang dengan Gendis, ibu Gendis boleh minta sesuatu dari ibu." Tanya Gendis sambil menatap wajah ibu Ajeng.
"Apa sayang katakan saja ibu dengan senang hati akan memberikannya." Ibu Ajeng berkata sambil menggenggam tangan Gendis.
"Walau nanti Gendis dan mas Andra berpisah Gendis mau tetap menjadi anak ibu,boleh." Gendis berkata sambil tersenyum kecil.
"Kenapa tidak sayang seandainya saja jika kamu hidup sendiri ibu tak akan ijinkan kamu pergi kita akan tinggal berdua tapi kamu masih memiliki pakde dan bude kan." Kata ibu Ajeng sambil mengelus punggung Gendis dengan lembut.
Setelah berpamitan dengan ibu Ajeng dan seluruh asisten rumah tangga Gendis pulang di antar mang Asep.
Sepanjang perjalanan pulang Gendis hanya diam tapi air mata tak henti menghiasi perjalanannya.
Mang Asep merasa iba dengan apa yang Gendis alami sungguh tak terbayang olehnya bagaimana rasa perih di hati Gendis.
"Mang Gendis bisa minta tolong kan." Tanya Gendis sambil menyeka air matanya.
"Memangnya non Gendis mau minta tolong apa atuh." Jawab mang Asep.
"Saya mau titip ini tolong berikan ke mas Andra setelah nanti dia kembali dari liburannya mang." Gendis berkata sambil menyerahkan sebuah amplop surat.
"Baik non nanti pasti mamang kasih kan ke aden." Mang Asep mengambil amplop tersebut dan menyimpannya di saku kemejanya.
.
Sementara pakde dan bude Gendis yang sama sekali tak tahu kalau Gendis akan pulang justru sedang berada di pasar tradisional setelah pulang bekerja mereka tak langsung pulang kerumahnya.
Pakde entah kenapa malah mengajak istrinya untuk ke pasar tradisional untuk membeli baju koko dan kopiah untuk di berikan kepada Andra.
Setelah membeli apa yang di cari kini sepasang suami istri itu pulang dengan naik angkot.
Disinilah naas yang menimpa pakde dan budenya gendis angkot yang mereka tumpangi mengalami rem blong.
__ADS_1
Semua terjadi begitu singkat dan kabar buruk itu pun sudah sampai ke telinga Gendis karena semua kawan pakde dan bude sudah berkumpul di rumah.
Gendis yang baru tiba pun begitu hancur dan pilu, mang Asep pun setelah mengantar Gendis langsung kembali pulang jadi tak ada yang tahu peristiwa yang menimpa Gendis.
Gendis histeris dan berkali-kali pingsan hanya bu Sukma istri dari pak Amran yang juga seorang Ustadz dan menjadi imam di Mushola yang kebetulan berdekatan dengan rumah Gendis yang setia mendampingi dan mengawal semua proses sampai menghantarkan ke peristirahatan terakhir.
.
Tak ada kerabat dari keluarga Andra yang datang karena memang tak ada satu pun tetangga Gendis yang mengenal mereka hingga tak memberi kabar sama sekali.
Gendis terus menangis rasanya berkecamuk di saat yang bersamaan harus menerima hal menyakitkan.
Kini dia benar-benar sendiri tak ada pundak tempatnya bersandar di saat sulit seperti ini.
"Gendis apa kamu tak ingin mengabari kerabat dari suami kamu dan bahkan suami mu pun tak terlihat." Tanya ibu Sukma sambil memberi segelas teh hangat pada Gendis.
"Tidak perlu bu saya dan suami saya bahkan akan berpisah." Gendis berkata sambil menatap langit-langit kamar yang usang.
"Maksud mu." Tanya bu Sukma menyelidik.
"Dari awal mas Andra tak mencintai saya bu jadi buat apa di paksakan." Jawab Gendis yang entah kenapa tiba- tiba merasa justru timbul rasa rindu dalam hati nya sangat berharap seorang Andra menyediakan pundaknya untuk Gendis bersandar.
"Sudahlah Gendis sekarang kamu harus tetap semangat, hidup tetap akan kau jalani dan kamu jangan khawatir ibu dan bapak siap menjaga mu kami dengan senang hati akan membantu mu." Bu Sukma membelai kepala Gendis yang masih terbaring lemas di ranjang reotnya.
Sepanjang hari bahkan sampai malam datang Gendis masih terus menangis. Suasana rumah sudah mulai ramai karena para tetangga sudah datang untuk doa dan tahlil, pakde dan bude Gendis adalah orang yang ramah dan mudah bergaul hingga semua tetangga merasa begitu kehilangan.
"Maaf bu Sukma saya pak Dadang teman dari almarhum, saya mau ketemu dengan Gendis." Kata pak dadang.
"Gendis ada di kamarnya mari saya antarkan." Ujar bu Sukma berjalan mendahului pak Dadang menuju kamar Gendis.
"Gendis ada yang mau ketemu kamu." Kata bu Sukma masuk ke dalam kamar dan di ikuti oleh pak Dadang.
Sementara bu Sukma mengambil kursi plastik yang berada di depan meja rias sederhana milik Gendis.
"Silakan duduk pak." Kata bu Sukma mempersilakan pak Dadang untuk duduk.
"Maaf kan saya neng kalau kedatangan saya mengganggu eneng." Pak Dadang berkata sambil sedikit menunduk.
"Tidak apa-apa pak, begini inilah saya sekarang semua yang saya punya telah pergi tak dapat saya gambarkan bagaimana duka sekaligus luka yang bersamaan datang menghampiri saya." Gendis berkata dan air mata nya kembali tumpah untuk kesekian kalinya.
"Kita manusia hanyalah wayang neng." Ucap pak Dadang sambil memandang wajah Gendis yang sudah berlinang air mata.
"Maksud saya menemui mu adalah untuk memberikan ini karena waktu tadi siang saya rasa tak mungkin langsung memberikannya pada neng sebab neng masih sangat shock." Kata pak Dadang memberikan bungkusan plastik berwarna hitam kepada Gendis.
"Apa ini pak." Tanya Gendis sambil menerima bungkusan plastik pemberian pak Dadang.
"Sewaktu kejadian saya pulang bekerja dan kebetulan melintas dengan motor karena ada banyak orang berkerumun saya segera menghampiri karena selintas saya mengenali seragam yang di pakai oleh dua korban yang sedang di evakuasi oleh warga dan saya lah yang mengantarkan pakde dan bude mu kerumah sakit." Pak Dadang menghela napas panjang kemudian menangis dengan kencangnya.
"Saya dan pakde mu adalah teman sejawat sudah 10 tahun kami menjadi supir truk pengangkut sampah banyak suka dan duka yang kami lalui bersama." Suara pak Dadang terdengar parau karena menangis
"Sampai di rumah sakit pakde mu masih sempat bicara dengan saya beliau cuma bilang tolong berikan ini kepada Gendis karena baju ini dia belikan untuk suami Gendis tuan Andra." Pak Dadang berbicara sambil terus terisak.
Gendis justru makin terisak mendengar cerita pak Dadang sungguh dia tak percaya dengan apa yang dia dengar bahwa pakde dan bude nya begitu sayang dengan Andra sampai rela sepulang kerja justru pergi ke pasar hanya untuk membelikan baju koko dan kopiah untuk Andra padahal pakde dan bude tahu kalau sikap Andra begitu acuh dan tak peduli dengan mereka.
*****
Sementara jauh di belahan bumi yang lain seorang lelaki tampan sedang duduk di balkon hotel sambil memandang teduhnya suasana malam hari yang hangat.
Andra hanya sendiri di hotel karena Reina keluar menuju sebuah klub malam di mana dia akan tampil menjadi dj.
__ADS_1
Andra POV
Entah kenapa aku justru memikirkan Gendis seperti ada sesuatu yang membuat hati ku tak tenang. Wajah perempuan itu selalu ada di mataku, aku merasa dengan Reina seperti biasa saja tak ada rasa ingin selalu bersama.
Apalagi kini Reina seperti makin susah di atur sama seperti kejadian dua jam yang lalu sebelum dia berangkat ke klub malam.
Sungguh menjijikan ku lihat dengan pakaian yang hampir telanjang bahkan tidak layak di sebut pakaian.
Aku berusaha memberi nasehat padanya justru dia berdalih ini hanyalah sebuah costum jangan di permasalahkan.
Semakin lama aku makin curiga dengan sikapnya selama ini dia seperti menyembunyikan sesuatu dari ku.
Kadang tanpa sengaja ku lihat Reina sedang berbicara sambil berbisik dengan ponselnya dan sering sekali dia meminta uang bahkan dengan nominal yang cukup menguras dompet ku.
Haruskah aku bertanya pada Reina atau aku diam-diam akan menyelidikinya.
Hah ini ada apa dengan hatiku justru Gendis yang aku pikirkan.
Akhirnya aku putuskan untuk menelpon rumah sekarang sudah pukul 3 dini hari pasti di sana masih pukul 10 malam mbok Darmi biasanya belum tidur.
Aku menekan nomor rumah hanya terdengar bunyi sambungan tak ada yang mengankat, sungguh aku heran bukankah begitu banyak asisten di rumah tapi mengapa tak satu pun ada yang mengankat.
Sampai pada panggilan yang ketiga kalinya baru terdengar suara seseorang dari seberang sana yang sangat ku kenal.
"Assalamualaikum, dengan siapa yah." Kudengar suara mbok Darmi aku pun tersenyum.
"Ini saya mbok." Begitu pun dengan mbok Darmi yang langsung mengenali suara ku ketika dia mendengar suara dari ku.
"Ya Allah aden to, gimana liburannya den." Mbok Darmi bertanya padaku tapi entah aku enggan menjawab pertanyaan yang buat ku seperti menyesal.
"Baik mbok, bagaimana dengan di rumah maksud saya kabar ibu dan Gendis." Aku langsung saja bertanya rasa ini tiba-tiba berkecamuk.
"Nyonya baik den dan besok akan ikut dengan tuan Dimas ke Thailand katanya tuan Dimas mau lihat resto yang di sana sekalian ngajak nyonya liburan." Jawaban mbok Darmi semakin membuat ku penasaran apakah Gendis ikut??.
"Gendis ikut juga mbok."Tanya ku pada mbok Darmi sungguh tak sabar ku tunggu jawaban dari mbok Darmi yang tiba-tiba terdiam saat aku tanyakan soal Gendis.
"Den, non Gendis sudah pergi dia kembali ke rumahnya kan katanya aden dengan non Gendis mau pisahan." Ku dengar mbok Darmi berkata dengan nada yang begitu sedih.
"Ya sudah mbok besok saya telpon lagi." Aku sudahi begitu saja panggilan ini awalnya aku berharap ada Gendis di sana dan bisa mendengar suaranya tapi pupus sudah.
Aku memang menjijikan aku lelaki tak tahu diri setelah semua rasa sakit dan penderitaan batin ku berikan kepada Gendis tak mungkin dia dengan rela hati akan kembali pada ku.
Aku masuk ke dalam dan merebahkan tubuhku di ranjang walau kantuk tak kunjung menyapa ku harap bertemu Gendis di mimpi ku.
Ku pandang sekeliling kamar hotel sungguh aneh perasaan ini itu yang kurasakan lalu ku raih ponsel ku.
Ku coba melihat galery di ponsel ku yah semua hanya ada aku dan Reina juga Kemala terus ku gulir isi galery sampai pada folder foto WhatsApp.
Ternyata ada satu foto Gendis itu pun kiriman dari kak Dimas saat Gendis dan ibu makan siang di resto kak Dimas.
Aku tersenyum kecil memandang foto itu di sana terlihat Gendis duduk dengan begitu manis sambil memandang lepas ke arah kota dengan tatapan sendu dan kosong yah mata itu mengatakan segalanya bahwa memang tak ada kebahagian yang dia dapat.
Apa yang kurasakan sekarang di kategorikan sebagai apa kini rasa di hati ku tiba-tiba aku menyesal kah??. Aku bertanya pada diri ku sendiri walau tak dapat ku jawab tapi aku bertekad akan menemui Gendis dan minta maaf meski aku yakin dia tak akan memaafkan ku.
Aku pun teringat saat dia datang ke kantor tempo hari sungguh miris rasanya seorang istri yang meminta di peluk suaminya walau hanya sebentar, aku tahu dia begitu nyaman di peluk ku tapi betapa bodohnya aku yang mengabaikannya.
Andra tega sekali kamu sebaiknya besok aku telpon Aldi, aku ingat Gendis ingin aku membeli motor untuk pakde nya.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1