
Setelah semua persiapan dilakukan dan tibalah hari dimana seorang Andra Barata Prima mengucapkan ijab qobul.
Akad nikah dilaksanakan di rumah pakde dan bude Gendis.
Ini karena Gendis tak ingin ada resepsi dan hanya beberapa anggota keluarga yang datang.
Gendis begitu cantik dan anggun dengan kebaya abu yang tampak serasi dengan jas warna senada milik Andra.
Laras dan putri nya juga nyonya Ajeng tak kalah anggun.
Senyum kebahagian terukir di wajah ibu Ajeng, semenjak tahu Andra akan menikah kondisi ibu Ajeng mulai berubah.
Setelah seharian menerima tamu dari orang-orang sekitar rumah pakde dan bude, Gendis dan Andra terlihat begitu lelah.
Yah walau tak menyebarkan undangan tetapi karena lingkungan rumah Gendis masih pinggiran kota.
Maka ketika tahu atau mendengar ada tetangga atau kenalan yang hajatan maka dengan rela hati dan sukarela datang untuk sekedar memberi ucapan selamat.
Malam pun tiba dan semua sudah di bereskan oleh pihak WO yang di sewa oleh Andra.
Dimas dan istri juga putri mereka serta ibu Ajeng sudah pulang.
Kini tinggal Andra karena walau bagaimana kini Gendis adalah istrinya.
Andra sudah berada dikamar Gendis yang sudah di dekor selayaknya kamar pengantin.
Andra duduk ditepi ranjang dan memperhatikan setiap sudut ruangan kamar yang menurutnya hanya seluas toiletnya itu.
Sungguh dia tak bisa membayangkan jika dia harus berada di gubuk ini selama satu minggu lamanya.
Karena ini adalah permintaan dari pakde Gendis bahwa Gendis boleh dibawa setelah hari "sepasar" dalam adat jawa atau lima atau enam hari setelah menikah.
Andra pun harus mengikuti karena dia juga tak mau memperlihatkan sikap ketidaksukaan nya pada Gendis.
Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Gendis masuk dengan cover berisi semua perlengkapan Andra selama satu minggu.
"Apa itu." Tanya Andra sambil memandang Gendis tajam.
"Ini tadi barusan pak Aldi yang bawa mas, katanya semua keperluan mas." Jawab Gendis pelan.
"Mas sebaiknya bersihkan diri dulu, saya akan siapkan baju mas." Pinta Gendis.
"Tidak!!. Aku mau tidur." Jawab Andra ketus.
"Tapi mas?!." Jawab Gendis.
"Heh!!. Berani membantahku wanita rendahan." Kata Andra sambil mendekatkan wajahnya ke arah Gendis.
Gendis terdiam tak berani menatap mata Andra.
"Oh, aku tahu kenapa kamu mau saja menikah dengan ku pasti karena kamu miskin ya." Andra berkata sambil menunjuk wajah Gendis.
__ADS_1
Gendis hanya diam dan tampak bulir-bulir bening sudah membasahi kedua pipi nya.
"Tidak usah menangis di hadapan ku gadis munafik." Kata Andra seraya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang penuh dengan taburan bunga mawar.
"Gendis kini duduk dilantai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding." Kini semua akan dia lalui dengan hinaan dan makian Andra.
Gendis membuang napas kasar dan membaringkan tubuhnya di lantai.
Pagi sudah tiba dan seperti biasa Gendis sudah siap dengan sarapan pagi.
Gendis membuat omelette dan nasi goreng cornet juga teh hangat.
"Entah apakah Andra akan suka atau tidak yang penting dia sudah mencoba." Pikir Gendis dalam hatinya.
Jika mengingat kata-kata Andra semalam rasanya Gendis begitu enggan untuk membangunkan Andra.
Gendis masuk kamarnya dan melihat Andra yang masih berpeluk guling dan pakaian pengantin kemaren pun masih melekat di tubuhnya.
Duduk di tepi ranjang Gendis kemudian menyentuh lengan Andra dan menggoyangkan dengan pelan.
"Mas....mas....mas bangun mas ini sudah pagi !. Kita sarapan dulu yah, Gendis sudah buat nasi goreng sama omelette mas." Kata Gendis masih terus menggoyang lengan Andra dengan lembut.
"Heemmmm." Andra berdehem panjang sambil membuka mata perlahan kini dilihatnya Gendis yang sedikit membuat Andra terkejut.
Karena penampilan Gendis yang tak memakai kerudung dan hanya memakai daster lusuh selutut
Tapi terlihat begitu cantik dengan rambut panjang lurus sepunggung ditambah lagi kulit yang putih mulus.
"Andra hanya terbengong membuat Gendis memicingkan mata ke arah Andra. Mas lihat apa??." Tanya Gendis.
"Aku siapkan pakaian ganti mas. Nanti Jas nya biar Gendis yang cuci." Kata Gendis sembari membantu melepas jas dan juga kaos kaki Andra.
"Tidak perlu repot biar di laundry aku justru takut kamu dan sabun yang kau pakai malah merusak pakaian mahal ku." Kata Andra sinis.
Gendis hanya menarik napas dengan lembut agar Andra tak melihat rasa kesalnya yang tertumpuk di dada dan siap tergambar dengan air mata yang sebentar lagi jatuh.
Andra berlalu keluar sementara Gendis menyiapkan pakaian ganti Andra yang dia ambil dari cover dan dia taruh di atas ranjang.
Sementara Andra yang sudah berada dikamar mandi hanya berdiri mematung memandang ruang yang teramat sempit. Lantai yang tak di pasang keramik hanya berlapis semen dan bak plastik
"Sungguh menjijikan." Batin Andra.
"Bisa -bisa biduran aku berlama-lama di sini, hari ini juga aku harus pulang." Pikir Andra.
"Peduli amat sama kata pakde tua bangka itu, aku mah ga percaya." Ucap Andra kesal.
Selesai mandi yang diwarnai dengan sumpah serapah dan makian Andra.
Kini Andra sudah rapi dengan kaos oblong dan celana pendek bermerk ternama yang sangat pas di tubuhnya.
Sangat kontras dengan daster yang dikenakan gendis yang sudah begitu lusuh termakan usia.
__ADS_1
"Mana sarapan ku." Kata Andra sambil menggenggam ponsel mahalnya.
"Itu mas." Kata Gendis sambil menunjuk kearah dapur.
Karena memang dapur dan tempat makan menjadi satu.
Mata Andra beralih melihat kearah tangan Gendis.
Andra melihat di atas tikar sudah tersaji nasi goreng juga omelette dan teh hangat.
"Hah...!. Apa tak ada meja makan di sini." Tanya Andra.
"Menjijikan harus makan disini." Kata Andra.
Gendis hanya diam tak sedikit pun ingin membalas segala umpatan Andra.
Gendis tak dapat berbuat apa - apa memang begini keadaan nya.
"Saya bawa ke depan saja mas sarapannya yah." Tawar Gendis.
"Ga perlu !, lebih baik aku pesan sarapan lewat aplikasi, lihat dapurnya saja aku jijik apalagi sama makanannya." Kata Andra sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
Sungguh sepagi ini hati Gendis sudah remuk mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Andra.
Aku mau ke kamar nanti kalau pesanan ku datang langsung kau bawa ke kamar saja dan satu lagi tak perlu kau bayar karena sudah ku bayar juga." Kata Andra sambil menyentil jidat Gendis."
Gendis hanya tertunduk pasrah menerima segala hinaan yang dilancarkan Andra padanya.
Andra sudah selesai dengan sarapan yang sengaja dia pesan lewat aplikasi.
"Kalau nanti pakde sama bude pulang kamu harus cari alasan agar aku segera keluar dari rumah ini." Kata Andra.
"Jangan sampai malam ini aku masih berada di sini." Kata Andra sambil kembali menyentil jidat Gendis.
Gendis diam tapi air mata nya sudah menjawab semuanya betapa pilu hidupnya ke depan.
Baru sehari dia cap sebagai pengantin baru tapi beribu sayatan yang dia rasakan.
"Tak terbayang jika sudah berada di rumah Andra pasti akan lebih menyakitkan lagi." Gendis memandang pilu kehalaman rumahnya.
Gendis masih duduk melamun di teras rumah reot nya bermaksud menunggu pakde dan budenya pulang untuk segera merealisasikan permintaan Andra yang ingin pulang hari ini.
Tiba-tiba beberapa ibu ibu tetangga Gendis lewat.
"Wah pengantin baru kok malah melamun?!, kurang ya tadi malam." Kata salah seorang ibu dan disambut tawa mereka.
"Gendis !.Enak kamu punya suami kaya pasti sebentar lagi ini rumah berubah jadi istana." Kata ibu yang lain.
"Halah. Mana ada orang kaya yang mau sama orang miskin kaya kamu Gendis?!, kalau kamunya ga menggoda duluan. Emang kamu dapat bayaran berapa untuk puasin itu orang kaya. Hati- hati ntar kalau sudah bosan pasti kamu langsung di buang aja." Kata salah satu ibu lalu di sambut tawa mengejek dari mereka semua.
Membuat Gendis segera masuk kedalam rumah dan menangis di sana.
__ADS_1
Andra yang juga dengan jelas mendengar semua perkataan ibu ibu tersebut terllihat cuek saja di dalam kamar sambil memainkan ponselnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷