
Selesai mengaji Gendis menyimpan Alquran dan mukena nya di kamar lalu kembali lagi keluar duduk di samping Andra.
"Mas ga pulang." Tanya Gendis yang masih heran dengan sikap Andra.
"Mas mau nginap karena ada yang mau mas bicarakan dengan kamu." Kata Andra sambil memandang sayu wajah Gendis.
"Tapi mas lapar apa ada makanan." Andra berkata sambil tersenyum."
"Mau Gendis masakan mie instan aja ga pa pa mas." Tanya Gendis bersemangat.
"Boleh." Jawab Andra sambil berdiri dan berjalan ke arah dapur dan menuju kamar mandi.
Gendis kemudian mengolah mie instan rebus dengan sawi dan di campur putih telur. Sambil memasak pikiran Gendis terus bertanya ada apa seorang Andra tiba-tiba berubah lebih lembut terhadap dirinya dan bahkan sekarang ada di rumah pakde nya tanpa merasa canggung dan jijik seperti sebelumnya saat mereka menikah.
"Pakde sama bude sudah tidur." Tanya Andra yang keluar dari kamar mandi.
"Sudah mas pakde sama bude memang selalu tidur lebih awal karena jam 3 sudah harus berangkat kan." Jawab Gendis sambil menyiapkan mie instan di mangkok.
"Ayo mas ke depan ini sudah masak." Ajak Gendis dengan membawa semangkok mie instan dan segelas air putih.
"Silakan semoga enak." Ucap Gendis tersenyum.
"Terima kasih." Jawab Andra sambil memandang Gendis yang di lihatnya masih seperti anak kecil dengan daster lusuh nya dan rambut yang di ikat tinggi begitu menandakan umur nya yang begitu muda.
Andra segera melahap mie yang di masak Gendis yang dia rasa begitu nikmat mungkin karena dia sendiri sangat bahkan tidak pernah makan mie instan sejak lulus SMA. Karena jika di rumah ibu Ajeng tak pernah menyediakan mie instan jika ingin mie instan Andra dan sang kakak akan jajan di kantin sekolah.
Setelah selesai Andra masuk ke kamar Gendis dia merebahkan tubuh nya di ranjang sambil melihat sekeliling kamar. Andra tersenyum melihat poster-poster bintang korea yang menempel di dinding kayu yang sudah lapuk itu.
"Dasar anak belasan yang ada cuman drakor." Gumam Andra.
"Mas ga ganti baju." Tanya Gendis yang masuk tiba-tiba mengagetkan Andra yang masih memandang aneka poster drakor yang membuat diri nya merasa geli.
"Ga ada baju kan." Jawab Andra tanpa memandang Gendis.
"Kaos mas ada kok ternyata waktu itu ada yang tertinggal jadi di simpan sama bude." Kata Gendis sambil membuka lemari plastik milik nya dan mengambil kaos warna putih.
Andra meraih kaos yang di berikan Gendis lalu membuka kemeja nya di hadapan Gendis.
Gendis hanya diam karena saat Andra membuka kemeja nya Gendis tersentak melihat begitu banyak tanda merah di dada Andra. Gendis merasa pilu ingin rasa berteriak tapi apalah daya siapa dirinya apalagi Gendis tahu siapa wanita yang sudah membuat jejak kepemilikan itu.
"Kenapa." Tanya Andra.
__ADS_1
"Ga pa pa mas terus tadi bilang mau ngomong." Tanya Gendis yang masih berusaha mengokohkan bendungan berharap urat mata nya mampu menahan air mata nya agar tak jebol.
"Begini." Ucap Andra sambil meraih tangan Gendis untuk duduk di tepi ranjang dan bersebelahan dengan nya.
"Hari ini kamu pasti sudah tahu aku bersama siapa dan untuk itulah saya mau bicara dengan kamu." Andra berkata sambil memandang Gendis yang sudah mengeluarkan bulir-bulir bening dari kedua pelupuk matanya.
"Sebaiknya kita sudahi saja pernikahan kita ini saya tidak ingin terus menyakiti mu saya tidak mungkin menjalani ini tanpa ada rasa cinta terhadap diri mu." Andra terus bicara tanpa perduli perasaan Gendis yang tercabik-cabik yang begitu jelas tergambar dari air mata yang deras mengalir.
Gendis hanya menunduk menatap lantai sungguh perasaan nya sakit cintanya tak terbalas. Tapi dia juga tak memiliki hak untuk memaksakan semua nya.
"Baik mas Gendis mengerti, tapi saya minta waktu tiga bulan sampai ibu benar-benar pulih." Jawab Gendis berkata di iringi isak tangis pilu.
"Saya minta maaf sungguh bukan maksud saya membuat sakit hati mu seperti ini tapi saya tidak menduga Reina kembali dan mau mengulang dari awal lagi." Kata Andra tanpa merasa berdosa sedikit pun.
"Iya mas cinta tak dapat di paksakan apalagi cinta itu sendiri tidak pernah mau mencoba." Kata Gendis bangkit dari duduk nya dan beranjak keluar kamar.
Andra hanya terpaku memandang punggung Gendis berlalu ke arah ke luar kamar.
Malam semakin larut dengan hening dan dingin sebagai teman. Andra yang sudah terlelap dengan mimpinya sedang Gendis meratapi pilu hati nya yang tersayat pedih.
******
Andra tak perduli dengan kecurigaan kakak serta sang ibu dan hari ini adalah hari yang begitu di tunggu Andra dimana hari ini adalah hari ulang tahun sang ibu, Andra akan membawa Reina untuk memberi kejutan pada sang ibu dan meresmikan hubungan nya dengan Reina.
Tapi bagi Gendis ini adalah hari paling menyakitkan walaupun memang setiap hari dia juga merasakan sakit karena harus menjadi istri pajangan.
Sampai empat bulan pernikahannya tak pernah dia di sentuh Andra sebagai seorang istri. Andra pernah menyentuh tubuhnya ketika bulan pertama pernikahan mereka itu pun adalah sebagai bentuk penghinaan. Gendis di paksa membuka semua pakaian nya tapi dengan keji Andra menginjak-nginjak tubuh polos itu dan bahkan tak segan meludahi, mengikat tubuh Gendis di nakas dan terkadang memberi sentuhan yang tak biasa hingga membuat Gendis terbuai lalu tanpa berdosa Andra meninggalkannya begitu saja.
Masih banyak perlakuan miris yang Gendis terima dari lelaki yang selalu dia sebut suami nya itu.Tapi Gendis tetap sabar dan diam dia selalu berdoa dan terus memohon agar pintu hati lelaki yang dia cintai bisa terbuka dan sadar.
Hari ini adalah hari ulang tahun ibu Ajeng, Dimas meminta semua nya berkumpul untuk makan malam bersama.
Gendis sendiri sudah berkemas tapi hari ini dia berencana ingin menemui Andra di kantor, Gendis ingin minta tolong pada Andra untuk membelikan motor bekas untuk pakde dan bude nya karena motor butut milik pakde sudah beberapa hari rusak. Gendis kasian pada pakde dan bude yang harus berjalan kaki di tengah pagi buta selama 1 jam untuk sampai ke tempat kerja.
Gendis berpikir dia pun tak akan minta begitu saja setelah ini dia akan bekerja dan menyicil pada Andra, itu yang sekarang ada di pikiran nya.
Karena dia dan Andra akan berpisah akan memutus ikatan pernikahan mereka. Sesuai keinginan Gendis yang akan berpisah setelah nyonya Ajeng benar-benar sembuh dari sakitnya.
Kini semua sudah seperti yang Gendis harapkan nyonya Ajeng sudah dapat beraktivitas seperti biasa yah 4 bulan yang melelahkan untuk Gendis.
Selama itu dia yang dengan setia mengantarkan ibu Ajeng terapi begitu juga saat di rumah Gendis lah yang selalu menjadi penyemangat dan mentor berlatih untuk ibu Ajeng.
__ADS_1
Seperti pagi ini ibu mertua itu sibuk dengan para asisten rumah tangga menyiapkan pesta untuk nanti malam karena ibu mengundang beberapa kerabat dan juga para karyawan kak Dimas di restoran akan datang.
"Ibuuu, jangan terlalu sibuk gini kan sudah ada mbok Darmi sama yang lainnya." Kata Gendis sambil bergelayut di lengan ibu Ajeng.
"Ihh kamu memang adanya selalu melarang ibu nak, ibu itu sudah sembuh sudah kuat jangan menyepelekan ibu sayang." Ibu Ajeng berkata sambil terus mengaduk puding yang masih dia masak di atas kompor.
"Bukan begitu ibu, ibu kayak ga percaya sama mereka." Kata Gendis sembari memandang semua asisten yang sebenarnya sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Sudah lah non, dari dulu memang nyonya seperti ini dia selalu berbaur dengan kita bukan karena tidak percaya non ini adalah kebiasaan nyonya karena dari awal menikah sampai punya aden Dimas dan Andra nyonya yang menyiapkan semua." Kata mbok Darmi panjang lebar.
"Apalagi tuan dulu kalau minum teh harus buatan nya nyonya kalau bukan buatan nyonya tuan ga mau minum karena rasa pasti beda walau nyonya sudah kasih tahu ke kita resepnya tetap aja tuan kata rasanya beda." Tambah Siti yang dengan santainya berkata seakan-akan lupa bahwa keadaannya sudah tidak seperti dulu lagi.
Mendengar itu ibu Ajeng menghentikan aktivitas nya dan terdiam ini membuat Siti merasa bersalah dan menjadi takut.
"Nyonya maaf kan saya, saya tii..da...." Siti berucap.
"Sudahlah saya tidak apa-apa." Ibu Ajeng berkata sebelum Siti menyelesaikan ucapannya.
"Eh mau kemana sayang kok tumben rapi." Tanya ibu Ajeng berusaha mencairkan suasana yang sempat hening sesaat.
"Maaf ibu Gendis mau ke kantor mas Andra sebentar ada perlu bu." Jawab Gendis.
"Lo kenapa ga di bicarakan di rumah aja nak." Kata ibu Ajeng sambil mencuci tangannya di wastafel.
"Mas Andra kan selalu pulang larut terus pagi sudah berangkat jadi Gendis ga sempat ngomong bu." Jawab Gendis terus mengekor ibu Ajeng.
"Sudah sana berangkat biar di antar mang Asep yah." Kata ibu Ajeng.
"Ga usah ibu Gendis biar naik taxi aja soalnya mau singgah ke rumah pakde sebentar." Jawab Gendis.
"Ga boleh pokoknya biar di antarkan mang Asep." Jawab ibu Ajeng sambil menggiring Gendis menuju arah depan.
"Mang mang Asep tolong yah antarkan Gendis." Kata ibu Ajeng kepada mang Asep.
"Oh, iya nyonya siap." Jawab mang Asep sambil tersenyum.
Gendis hanya diam sepanjang perjalanan sambil menikmati pemandangan kota dia terus membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam saat Andra datang bersama Reina.
Yang Gendis pikirkan adalah ibu Ajeng dan perasaan bersalah nya pada Dimas karena dia tidak mampu membawa Andra menjadi lebih baik. Gendis menyerah dengan keadaan dia sudah berusaha selama 4 bulan untuk meluluhkan hati Andra tapi pada kenyataannya hati Andra bukan untuk nya.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1