Cinta Gendis

Cinta Gendis
Bab.17


__ADS_3

Sore ini di kediaman Andra sudah mulai berkumpul para kerabat dan sahabat dekat ibu Ajeng yang memang sengaja di undang oleh Dimas untuk merayakan ulang tahun ibunya dan sekaligus syukuran atas kesembuhan ibu Ajeng dari depresi dan kaki nya sudah kembali pulih.


Tampak juga para asisten rumah tangga sibuk dengan dekor dan berbagai menu makanan yang harus di siapkan. Konsep pesta kebun yang di siapkan Dimas dan Laras terlihat begitu indah dan elegan, halaman belakang yang begitu luas dan berdampingan dengan kolam renang serta pohon-pohon dan berbagai tumbuhan bunga di percantik dengan lampu-lampu hias yang menggantung cantik.


"Ini sangat berlebihan sayang " Kata ibu Ajeng sambil mengacak rambut Dimas."


"Ibu ini tidak seberapa dengan rasa kebahagian yang aku rasakan kala melihat ibu bisa kembali tersenyum." Dimas berkata sambil memeluk ibunya.


"Iya bu Laras juga sangat bahagia sekarang melihat ibu tersenyum dan ini semua karena Gendis dia yang sangat sabar merawat ibu." Laras berkata sambil mengulas senyum.


"Iya Gendis perempuan baik yang tak di anggap oleh suaminya." Ibu Ajeng berkata sambil melepaskan pelukan dari Dimas.


"Apa maksud ibu." Tanya Dimas yang terperangah mendengar penuturan ibunya.


"Dari mana ibu tahu rumah tangga Andra tidak dalam keadaan baik." Sambung Laras.


"Jadi selama ini Andra dan Gendis hanya pura-pura bu." Tanya Dimas.


"Kamu tahu Andra jarang pulang dan dengan siapa dia ibu pun tahu." Ibu Ajeng berkata sambil meneteskan air mata.


"Kita tidak bisa memaksa nak lebih baik kita lepaskan Gendis agar dia mencari kebahagian dan menemukan laki laki yang benar-benar mencintainya." Ibu berkata sambil menghela napas panjang.


"Andra kembali bersama Reina dan itu sudah menyakiti hati Gendis selama ini ibu hanya diam tapi melihat Gendis yang berusaha menyembunyikan semua membuat ibu merasa bersalah." Ibu berkata dengan pelan dengan air mata yang terus mengalir.


"Ibu sangat sayang dengan Gendis selama empat bulan ibu bersamanya dia begitu sabar dan sangat santun juga ibadahnya rajin dia tetap ceria di depan semua orang walau ibu tau setiap malam dia menangis." Ibu Ajeng terus bercerita.


"Ibu sangat tahu rasanya sakit hati untuk itu ibu tak mau Gendis terus bersama Andra kalau justru membuat hati gendis sakit." Ibu Ajeng terus berkata sambil sesekali menarik nafas panjang.


"Tapi juga tak serta merta setuju dengan hubungan Andra dan Reina jika mereka ingin bersama maka ibu yang akan keluar dari rumah ini ibu tidak sudi untuk tinggal bersama wanita siluman macam Reina." Kembali ibu Ajeng berkata dengan penuh emosi.


"Kalian tidak usah memikirkan Gendis karena Gendis sendiri sudah menceritakan semua pada ibu bahwa Gendis bersedia berpisah dengan Andra jika ibu sudah benar-benar pulih Gendis sangat kuat dan itu juga yang menjadikan ibu semakin tak kuasa melihatnya terus di abaikan oleh Andra." Ibu Ajeng berkata sambil memeluk Dimas.

__ADS_1


Dimas dan Laras hanya diam membeku tak percaya dengan yang sudah di sampaikan oleh ibu mereka.


Apalagi Dimas begitu lemas sungguh dia begitu merasa bersalah telah membawa Gendis masuk ke dalam masalah keluarganya.


Sementara di kamar Gendis tengah sibuk menjadi baby sitter untuk seorang Kemala yang begitu bawel karena sudah beberapa gaun yang harus bongkar pasang dari tubuhnya yang padat berisi di usia yang menuju empat tahun membuat Kemala sangat menggemaskan.


" Sayang cantik yang ini juga pas dan warnanya manis banget." Kata Gendis yang memperlihatkan gaun cantik selutut berwarna taro.


"Benelan Mala cantik kalo pake itu tante Ndis." Tanya Kemala.


"Pasti tante Ndis ga pernah bohong kan." Jawab Gendis dengan senyum di sudut bibir nya karena sudah hamir satu setengah jam memilih dan terasa lelah pula di tambah lagi semua gaun itu kini tergeletak di sembarang tempat.


Gendis terlihat berbeda karena sebelumnya Laras yang dengan senang hati merias Gendis. Wajah polos nan cantik milik Gendis di poles dengan make up ringan dan natural membuat kesan lembut dari wajah Gendis.


Dengan gamis bermotif bunga dengan warna dusty dan dasaran hitam di padu dengan kerudung segi empat nan elegan membuat Gendis tampak begitu anggun, penampilanya benar-benar bak seorang princes.


Pukul 8 semua tamu telah berkumpul tampak ibu Ajeng sudah siap dengan kue ulang berbentuk tas mewah dan dua tumpeng namun Andra sendiri belum tampak hadir di antara mereka.


Setelah acara tiup lilin dan potong tumpeng kini para tamu saling berbaur sambil menikmati hidangan yang di siapkan tuan rumah.


Termasuk Bakti yang merupakan keponakan dari ibu Ajeng dan berprofesi sebagai dokter kandungan.


"Kok si berandal ga kelihatan batang hidungnya." Tanya Bakti pada Gendis.


"Maksudnya siapa mas." Gendis bertanya sambil memandang Bakti penuh tanya.


"Siapa lagi lah kalau bukan suami mu." Jawab Bakti yang terlihat terus mengedarkan pandangan berharap mendapat apa yang dia cari.


Beberapa kerabat pun bertanya pada Dimas dan juga nyonya Ajeng mengenai keberadaan Andra tapi tak lama kemudian munculah orang yang sedari tadi di cari semua tamu bahkan kedatangannya mengejutkan semuanya karena Andra datang dengan menggandeng seorang wanita dengan pakaian kurang bahan.


Semua mata tertuju pada mereka termasuk Gendis yang masih berdiri dengan Bakti. Gendis membeku memandang kedua insan yang terlihat sedang mabuk kepayang itu walaupun dia sudah tahu semua tapi kali ini lebih menyakitkan baginya karena benar- benar harga dirinya sebagai istri seketika jatuh terhempas.

__ADS_1


Air mata nya jatuh tak terbendung, Bakti segera merangkul pundak Gendis dan membawa nya masuk ke dalam rumah.


"Ibu selamat ulang tahun panjang umur dan sehat selalu dan tetap menjadi yang terbaik untuk anak-anak nya." Ucap Andra sambil memberi pelukan dan kecupan di kening ibu nya.


"Tante ini hadiah dari Reina semoga suka." Reina memberi sebuah paper bag berukuran sedang.


Nyonya Ajeng hanya terdiam dia sungguh tak menyangka Andra akan berbuat sejauh ini, sementara Laras melangkah pergi menyusul Gendis dan Bakti yang masuk kedalam rumah.


"Apa sebenarnya yang kamu lakukan kamu tega merusak pesta ibu." Dimas berkata seraya menarik kepah kemeja Andra.


"Aku sudah lama bersabar untuk hidup dengan perempuan pilihan kakak tapi sekarang aku berhak mencari kebahagian ku sendiri." Jawab Andra yang terlihat sedang menahan emosinya.


Ibu Ajeng hanya terdiam dia sangat tahu cepat atau lambat ini akan terjadi dan yang ada di pikiran ibu Ajeng hanyalah Gendis.


"Kamu jahat sekali Andra kenapa kau lakukan ini pada Gendis sekarang apa bedanya diri mu dengan ayah yang sudah menyakiti ibu." Kata Dimas dengan lantang tanpa peduli lagi masih ada para tamu.


"Hah !! jelas beda aku dan Gendis tak pernah saling mencintai sedang ayah dan ibu mereka sejak awal saling mencintai hanya ayah lah yang tak menjaga cinta ibu kan." Jawab Andra tak kalah lantang.


Perseteruan antara Andra dan Dimas membuat para tamu satu persatu meninggalkan rumah Andra, mereka tetap berpamitan dengan ibu Ajeng dan Dimas.


Sementara di dalam rumah tampak Gendis yang duduk berdampingan dengan Laras dan Bakti.


"Sabarlah Gendis kamu harus kuat." Bakti yang terus memberi support untuk Gendis.


"Sudahlah kalian tak usah menghawatirkan aku semua akan baik- baik saja di sini aku lah yang salah diriku hadir di antara mas Andra dan mba Reina." Gendis berkata seraya tersenyum mencoba menutupi segala rasa sakit di dalam hatinya.


"Tapi biar bagaimana Andra tetap salah dia sudah jadi seorang suami dan harusnya dia berusaha membangun rumah tangga nya." Laras berkata sambil mengelus pundak Gendis.


"Sudah mba saya sudah siap untuk semua ini, maaf saya ke kamar dulu." Gendis berdiri dan beranjak naik ke kamarnya lebih tepatnya kamar milik Andra karena sang empunya kamar pun tak pernah lagi tidur di kamarnya sendiri, Andra hanya pulang sekedar mengganti pakaian lalu pergi lagi.


Setelah semua tamu pulang kini hanya Dimas dan Laras serta Bakti yang masih berada di ruang tengah sedangkan ibu Ajeng memilih mengurung diri di kamar lalu Andra dan Reina mereka kembali ke apartemen untuk mempersiapkan keberangkatan mereka berdua ke Italia.

__ADS_1


Andra benar-benar di butakan oleh cintanya hingga tak memikirkan lagi perasaan ibu nya sendiri apalagi Gendis yang menghabiskan malamnya dengan menangis.


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2