Cinta Gendis

Cinta Gendis
Bab. 16


__ADS_3

"Mang Asep langsung pulang aja yah." Kata Gendis yang keluar dari dalam mobil saat mereka sudah sampai di depan loby kantor Andra.


"Tapi non nanti kalau nyonya tanya gimana." Kata mang Asep yang terlihat ragu untuk meninggalkan Gendis.


"Sudah mang Asep tinggal bilang saya yang suruh." Kata Gendis yang langsung melangkah masuk ke dalam loby.


Sementara mang Asep hanya menggelengkan kepala menatap punggung Gendis yang menghilang masuk melewati pintu kaca.


Sementara Gendis yang sudah sampai di dalam segera menuju meja resepsionis.


"Maaf mba saya Gendis mau ketemu pak Andra." Kata Gendis kepada resepsionis yang seorang wanita yang Gendis perkirakan usianya sekitar 25 tahun.


"Maaf mba apakah mba sudah buat janji sebelumnya." Tanya resepsionis yang di ketahui bernama Mita tersebut .


"Belum mba tapi saya istrinya pak Andra." Jawab Gendis


penuh keyakinan.


"Hah mba jangan main-main yah." Justru Mita terkejut dan tak percaya dengan kata- kata Gendis karena semua karyawan Andra tak ada yang tahu kecuali Aldi dan Della sebab saat menikah Andra tak mengundang karyawannya karena pernikahan mereka begitu sederhana dan Andra sendiri memang sengaja menyembunyikan statusnya dari karyawan dan para klien juga relasi.


"Mba saya istri pak Andra mana mungkin saya bohong." Ucap Gendis yang memelas.


Terus terjadi perdebatan antara resepsionis dan Gendis sampai muncul Aldi dari luar karena dia habis menghadiri rapat di luar kantor.


"Gendis?!." Ucap Aldi mengejutkan keduanya.


"Pak Aldi, tolong saya mau ketemu mas Andra." Kata Gendis menghampiri Aldi.


"Ayo ikut saya." Ajak Aldi tanpa menghiraukan Mita yang tercengang.


"Kenapa ga telpon ponselnya Andra aja." Tanya Aldi.


"Saya ga punya nomornya mas Andra." Jawab Gendis polos karena memang benar dia tak pernah bertukar nomor ponsel apalagi ponsel milik Gendis masih ponsel jadul.


Aldi terdiam mendengar kata-kata Gendis sungguh Andra sangat keterlaluan begitu isi hati Aldi, untuk memberikan ponsel saja Andra tak sempat sungguh miris rumah tangga macam apa yang mereka berdua jalani.


Sampai di depan ruangan Andra, Della yang terkejut melihat Gendis segera bangkit dan menyapa.


"Andra di dalam Del." Tanya Aldi.

__ADS_1


"Ada kok pak Andra silakan masuk aja bu." Kata Della sambil tersenyum.


"Ihh mba Della kok panggilnya ibu sih Gendis kan lebih muda dari mba." Kata Gendis merasa aneh dengan panggilan yang di sematkan padanya karena dia merasa begitu tua.


"Bukan masalah tua atau muda yang jadi patokan adalah status mu itu istri pak Andra, benarkan pak Aldi." Della berkata sambil melirik ke arah Aldi.


"Betulll." Aldi berkata sambil mengangkat jempolnya.


"Ayo." Ajak Aldi pada Gendis seraya membuka pintu perlahan.


"Istri lo An." Kata Aldi yang mengagetkan Andra yang tengah berdiri menghadap kearah jendela menikmati pemandangan seluruh penjuru kota.


Andra terdiam dengan ekspresi yang terlihat datar tanpa berkomentar apa - apa atau menyambut Gendis kini Andra malah berjalan menuju kursi kerjanya sambil bertanya tentang hasil rapat yang baru saja Aldi hadiri.


"Sudah masalah rapat aman kamu ga perlu khawatir saya mau ke ruanganku dulu rasa nya ga enak mengganggu pasangan suami istri." Kata Aldi seraya berjalan ke arah pintu sambil tersenyum mengejek.


Setelah Aldi keluar hanya ada keheningan antara Andra dan Gendis, terlihat Andra yang menatap tajam ke arah Gendis yang masih berdiri mematung.


"Ada perlu apa kamu datang ke sini." Tanya Andra tanpa mempersilakan Gendis untuk sekedar duduk.


"Maaf mas kalau kedatangan Gendis mengganggu pekerjaan mas." Gendis berkata sambil melangkah mendekati kursi yang berada di hadapan Andra.


"Maaf mas Gendis mau minta tolong ke mas Andra." Gendis berkata sambil menundukkan wajahnya.


"Apa." Tanya Andra.


"Gendis minta tolong mas Andra belikan motor untuk pakde ga usah yang baru soalnya motor pakde rusak sudah hampir seminggu ini kasian kalau berangkat kerja harus jalan kaki hampir sejam kan kalau subuh ga ada angkutan." Gendis berkata dengan perlahan karena sebenarnya dia sangat terpaksa melakukan ini.


"Memangnya kamu siapa berani minta dengan diriku." Jawab Andra dengan ketus.


"Gendis minta tolong mas nanti Gendis akan mencicil kalau kita bercerai Gendis akan cari pekerjaan mas." Gendis berkata sambil memohon di hadapan Andra.


"Sudahlah salahmu sendiri kan mengembalikan kartu debit yang aku berikan, harusnya kau gunakan kartu itu untuk kebutuhan mu walau aku kejam padamu tapi aku juga tahu kau pasti banyak kebutuhan." Andra berkata sambil membuka jas nya dan melipat lengan kemejanya sampai ke siku.


"Maaf mas bukan Gendis tak mau menerima kartu debit itu tetapi pada saat itu mas memberikannya untuk biaya ibu ke rumah sakit bukan khusus mas berikan untuk Gendis." Gendis berkata sambil menunduk tak berani menatap Andra.


"Wah-wah pintar sekali kamu berargumen dengan ku, kamu saya berikan kartu itu dengan perlakuan khusus atau dengan kata romantis gitu, ini sayang kartu debit untuk mu pakailah sesuka hati mu ?! begitu kamu ingin aku bersikap manis terhadap dirimu !? jangan harap." Andra berkata panjang lebar sambil tersenyum penuh hinaan.


"Sudahlah kau pulang saja karena nanti malam pesta ibu dan juga aku membawa Reina, permintaan mu akan aku pikirkan setelah aku pulang liburan bersama Reina." Andra berkata sambil melangkah ke arah pintu untuk membukakan pintu agar Gendis segera pulang.

__ADS_1


"Mas mau berangkat liburan." Tanya Gendis.


"Iya selama dua minggu aku dan Reina akan liburan ke Italy dan karena dia juga ada pekerjaan di sana." Andra berkata dengan santainya tanpa memikirkan wanita dihadapannya yang berstatus istrinya itu yang kini sudah mengeluarkan kristal bening dari kedua pelupuk matanya.


"Sudahlah tak perlu kau menangis seperti itu aku minta maaf tidak bisa membalas perasaan mu padaku aku sangat mencintai Reina." Andra berkata sambil memegang kedua pundak Gendis.


Gendis hanya terpaku memandang wajah Andra yang begitu tampan lelaki yang dia sebut suami tapi tak pernah mencintainya bahkan malam-malam yang di lalui Andra justru bersama wanita lain.


"Mas Gendis boleh minta sesuatu." Gendis berkata sambil memandang wajah Andra.


"Apa lagi." Tanya Andra yang terlihat kesal.


"Gendis boleh minta pelukan mas Andra hanya sebentar saja mas." Gendis berkata sambil menatap sendu wajah Andra.


Sungguh keberanian dari mana Gendis begitu berani mengemis untuk sebuah pelukan dari Andra karena memang selama ini tak pernah Andra menyentuhnya untuk sekedar cium tangan saja Andra selalu menolak.


Mendengar permintaan Gendis, Andra terpaku memandang wajah Gendis yang dipenuhi linangan air mata. Perempuan berjilbab itu seakan -akan begitu memohon itu terlihat dari sorot matanya yang sendu.


"Kemarilah." Jawab Andra sambil menarik perlahan tubuh Gendis ke dalam pelukannya.


Seketika tangis Gendis pecah di dada Andra membuat Andra membeku perasaannya aneh tiba-tiba datang di hatinya memeluk Gendis membuatnya merasakan hal berbeda yang dia sendiri tak mengerti.


"Mas maafkan Gendis yah setelah ini mungkin kita ga akan bertemu lagi semoga mas bahagia dengan mba Reina dan jaga ibu dengan baik mas." Gendis berkata sambil terisak di dalam pelukan Andra.


"Sudahlah hentikan tangisanmu." Andra berkata sambil mengelus bahu Gendis dengan lembut.


"Pulanglah nanti biar supir kantor mengantar mu pulang." Kata Andra sambil melepaskan pelukannya pada Gendis.


Sadar Andra sudah melepaskan pelukannya Gendis terdiam sambil menyapu air mata dan ingus yang bersamaan keluar dengan ujung lengan gamis nya.


Jauh di sudut hatinya Gendis ingin berlama-lama dalam pelukan Andra orang yang sudah dia cinta semenjak pandangan pertama tapi Gendis sadar dia tak mungkin memiliki Andra.


"Baik mas terima kasih." Ucap Gendis lalu melangkah keluar dan kemudian menutup pintu perlahan.


Andra masih berdiri memandang ke arah pintu hatinya terasa pilu mengingat Gendis yang tadi menangis dalam pelukannya Andra teringat ibunya yang juga melakukan hal yang sama ketika ayah Andra lebih memilih pergi bersama wanita pilihannya.


Ibu Andra tak henti- hentinya menangis dalam pelukan Andra dan hal ini sedikit membuat Andra tahu bagaimana perasaan Gendis yang hancur.


Tapi perasaan terhadap Reina begitu kuat membuat Andra bersikap acuh terhadap perasaan Gendis.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2