
"Sini kamu, kamu itu sekali-kali harus diberi pelajaran!" Yoona geram saat mendengar Serra mencelakai Aluna dengan mengirimnya ke hutan. Ia pun ingin mencelakai Serra.
Saat Ia bertemu Serra di lorong menuju kantin, Yoona menarik rambut Serra menuju toilet wanita dekat kantin. Toilet disana kerap sepi karena terkenal angker.
Serra merintih kesakitan, ia meraih tangan Yoona dan berusaha melepaskannya, namun tidak bisa.
Sesampainya di toilet, rupanya ada Aluna dan Vie disana. Aluna terlihat terkejut karena Yoona menarik Serra dengan kejam.
"Yoona apa yang kamu lakukan?" Tanya Aluna
"Ini pasti kamu yang suruh kan?" Terka Serra sudah berpikiran negatif
"Hey jangan asal nuduh ya," ucap Vie tidak terima
"Astaga aku tidak menyuruhnya, Yoona hentikan," Aluna mengatakan yang sebenarnya
"Halah mana ada maling yang mengaku,"
"Diam jangan banyak omong, sini kau!" Yoona membuka penutup closet lalu menekan kepala Serra agar masuk ke dalam closet.
Serra berusaha membela diri, dia pun mengeluarkan kekuatannya dengan mengarahkan tangannya ke arah Yoona tetapi tangannya tidak mengarah betul kearah Yoona malah ke arah Aluna yang berdiri dibelakang Yoona. Dia ingin membantu Serra agar Yoona melepaskan.
Sreeetch
Aluna terkena sihir Serra tubuhnya melayang kemudian terjatuh keras dan melesat ke meja toilet yang terbuat dari keramik. Kepala Aluna berdarah mengenai tepi meja keramik.
"Aaahh," teriak Aluna dengan nyaring hingga suaranya terdengar keluar.
"Aluna?" pekik Vie dan Yoona bersamaan.
Serra berbalik dan langsung mendekati Aluna.
"Maaf Aluna aku tidak sengaja. Aku hanya membela diri, Aku ingin mengarahkan sihir ku ke Yoona, tetapi malah kau yang kena. Jika saja Yoona tidak melepaskanku dan tidak berbuat seperti itu padaku, mungkin aku juga tidak berbuat kasar,"
"Ahh tidak usah berputar-putar, lihat saja yang terjadi sekarang, itu karena ulahmu," ucap Yoona tidak mau disalahkan
Anak-anak berdatangan, termasuk Lionard yang saat itu sedang menuju kantin. Dia melihat kerumunan dan mendatanginya.
"Dasar penyihir! Kau melukai Aluna," desis Vie sembari membantu Aluna berdiri
"A-Aku hanya membela diri, aku tidak bermaksud mencelakainya. Yoona lah yang ingin ku beri pelajaran. Aku tidak tahu jika Aluna berada dibelakang Yoona," ujar Serra
"Kau ini bodoh, Aluna ingin membantumu,"
"Dasar anak penyihir! Jangan dekati Serra," ujar teman yang ikut menonton.
Semua saling berbisik dan bahkan mengungkung kisah lama Serra.
"Orang tuanya saja dia lenyapkan, apalagi kita!" ucap anak lainnya
"Kalian tidak tahu ya, kemarin saja Aluna dia kirim ke hutan! Gila kan? Serra itu berbahaya!" ucap Yoona memprovokasi membuat suasana semakin memanas.
"Sudahlah Serra pasti tidak sengaja, duh kepalaku pening," ucap Aluna.
"Kamu itu terlalu baik Aluna, jangan terlalu baik sama orang jahat seperti Serra," ucap anak lainnya
__ADS_1
"Aku hanya melindungi diriku," ucap Serra masih berusaha membela diri
"Lalu bagaimana dengan yang dikatakan Yoona, kamu mengirimnya hutan?" debat anak lainnya
"Kalau soal itu aku tidak sengaja karena memang saat itu tidak ada orang, Aku tidak seperti yang kalian pikirkan,"
"Ahh sekalinya penyihir jahat ya jahat! Orang tuamu saja kau bunuh apalagi kita? Kau bisa semakin berbuat seenaknya,"
"Apa-apaan ini," Lionard sedikit mendengar perdebatan di toilet wanita itu. Dia masuk dan melihat Serra menangis sementara disisi lain Lionard melihat Aluna berdarah dan sedikit pucat.
Serra mendekati Lionard menggenggam tangannya dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Yoona ingin memasukkan kepalaku kedalam closet, aku hanya ingin membela diri dan menyingkirkan Yoona karena aku tidak punya pilihan. Tapi yang ada kekuatanku mengenai Aluna. Sungguh L aku tidak sengaja," jelas Serra meminta perlindungan dari L
"Aluna kamu tidak apa-apa kan?" Lionard memandang Aluna dengan penuh kasih, kemudian dia menatap Serra dengan tatapan tajam dan tidak suka, "Serra, seharusnya kau bisa mengontrol emosimu!"
Lionard menepis tangan Serra dan mendekati Aluna, "Kita ke ruang kesehatan, obati lukamu dahulu ya? Jika ada luka dalam, aku siap bertanggung jawab," ucap Lionard.
Saat Lionard membawa Aluna keluar, Serra malah mendapat pukulan dari beberapa anak disana.
Plaaak
"Nih makan tamparanku! Apa? Mau nyerang hah?"
Lalu mereka pun bergiliran memukul, menjambak dan saat Serra terjatuh ke lantai dia terkena tendangan. Serra pasrah, hatinya terluka....
Hiksss L....Kenapa kau tidak mau mendengar penjelasan ku, apakah aku terlalu salah? apakah salah jika aku membela diri. Jika aku yang berada diposisi Aluna, apakah kau akan berlaku yang sama? Aku membencimu L.
Serra memejamkan matanya, menyeka bulir bening yang membasahi pipinya. Dikumpulkannya kekuatannya untuk terlepas dari amukan massa.
Semua anak yang berada didekatnya terpental, untung tidak ada yang terluka. Serra berdiri, dengan tatapan mengerikan dan penuh dendam. Kemudian keluar dari toilet yang sengaja di kunci oleh mereka.
"Serra, kau baik-baik saja kan?"
Serra hanya memandang sosok lelaki yang amat dibencinya, Hans.
"Kau terluka, bibirmu berdarah, rambutmu acak-acakan, pipimu lebam, apa mereka yang memperlakukan mu seperti ini? Jawab Ser,"
Kenapa? Kenapa harus pria ini yang membelaku?
Serra hanya melemparkan pandangan kemalangan tanpa menjawab pertanyaan Hans.
"Kurang ajar mereka, akan ku beri pelajaran dia," Hans melangkah ingin masuk kedalam toilet tetapi Serra meraih lengannya dan menjatuhkan dirinya ke tubuh Hans seraya memeluknya. Meminjam dadanya untuk menangis. Serra menuangkan air matanya.
Hans membalas pelukannya, dengan usapan lembut di punggung Serra. Kemudian ia melepaskan cincin mistis itu dan menghilang, membawa Serra ke tempat yang jauh dari sekolahan.
Hans dan Serra sudah melanggar aturan sekolah, yang tidak mengijinkan siapapun memakai kekuatan sihir.
Biarlah, yang terpenting jangan sampai hati Serra terluka semakin dalam.
Di sebuah tempat, di atap gedung.
Serra melihat ke sekeliling, melepaskan pelukan dan menghentikan tangisannya.
"Kau membawaku kemana?"
__ADS_1
"Aku sering kemari jika bersedih, aku berteriak sekencang mungkin. Tidak ada yang dengar,"
Hans kemudian duduk di pinggiran gedung.
"Enak jadi drakula seperti mu, bisa kemanapun yang kau mau,"
Serra duduk disamping Hans. Mereka pun berbincang tentang hal lain.
"Kemana Serra?" Tanya Lionard pada dirinya sendiri.
"Aku tidak ingin dia salah mengartikan ucapanku, aku hanya ingin dia tidak sembarangan mengeluarkan sihir, pasti dia bersama Hans" gumam Lionard
Lionard kemudian memejamkan matanya dan mencari tahu keberadaan Hans. Ia pun menghilang dengan kekuatannya. Tentu saja secara diam-diam.
Whuus
"Berteriak lah, ayo, luapkan kekesalan dalam jiwamu," seru Hans sambil memasang kembali cincin ditangannya.
Astaga aroma darah Serra sangat enak, untung ada cincin ini jika tidak, mungkin saja dia sudah menjadi santapanku hehe. -batin Hans tersenyum sendiri.
"Kau memikirkan apa? Kenapa tersenyum," ucap Serra kemudian teringat akan kelakuannya yang memeluk Hans
"Oh, aku tahu kau pasti merasa senang kan, karena ku peluk tadi. Aku tidak ada perasaan apapun. Aku hanya meminjam dadamu untuk menangis," jelas Serra karena tidak ingin Hans salah paham.
"Aku tahu, dan aku semakin ingin menjadi pelindungmu. Ijinkan aku mencintaimu,"
Hans menatap Serra lekat kemudian semakin mendekat, sedangkan Serra terpaku dia pun mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap Hans tetapi Hans membelai pipi Serra tiba-tiba, membuat gadis itu kembali menatapnya. Dengan lembut Hans mengecup bibir Serra.
Lionard yang sudah datang menyusul Hans harus melihat pemandangan didepannya, ia meremas bunga berduri yang merambat diatas gedung. Pria itu melihat Hans mengecup bibir Serra.
Kenapa aku tidak nyaman melihat pemandangan ini?- batin Lionard
Serra segera memundurkan wajahnya, "Apa yang kau lakukan Hans?"
"Aku hanya mengecupmu,"
"Tapi kau tidak kuijinkan untuk mengecupnya,"
"Maaf Serra, aku teramat mencintaimu,"
Semuanya terdiam, Serra juga tidak mengatakan hal lain selain diam.
"Lebih baik kita kembali ke sekolah," Serra kemudian berdiri.
Saat dia berbalik Lionard berada dihadapannya, menatapnya dengan tatapan aneh.
"L,"
Lionard mendekat dan mendapati luka lebam di wajah Serra serta luka darah di bibirnya.
"Kenapa dengan wajahmu?" Tanya L
__ADS_1
"Hemm kemana saja kau? Baru tau jika Serra korban Bullying? Kau tidak pantas menjadi pelindungnya," ucap Hans yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Lionard.